Noda

Noda
Asa Yang Kembali Hirap


__ADS_3

"Nak, kamu tidak apa-apa?" tanya Bu Fatimah, ketika aku diam dalam waktu yang cukup lama.


"Saya ingin duduk." Aku berusaha bangkit, namun rasa nyeri di punggung membuatku kesulitan melakukannya. Lantas Bu Fatimah beranjak dan membantuku.


Aku duduk sembari bersandar di tumpukan bantal. Kutatap wajah Bu Fatimah yang lembut nan teduh. Aku berusaha menyelami manik hitamnya yang jernih, aku ingin meraba apa yang ada dalam hatinya.


"Nama kamu siapa, Nak?" tanya Bu Fatimah.


Aku tak langsung menjawab, aku masih terpaku pada sekelumit luka yang terpancar jelas di sudut netranya.


"Nak!"


"Saya Kirana," jawabku, tanpa mengalihkan pandangan.


"Di mana tempat tinggalmu?" tanya Bu Fatimah, yang lantas membuatku diam tanpa kata.


Tempat tinggal, aku sudah tidak memilikinya. Ahh, jangankan tempat tinggal, baju pun hanya yang melekat di tubuhku. Yang kumiliki hanyalah nyawa, sesuatu yang sebenarnya juga ingin kulepaskan.


"Saya tidak punya rumah," jawabku, lirih.


"Lalu di mana keluargamu?" Bu Fatimah kembali bertanya.


"Tidak ada," ucapku, diiringi tetesan air mata.


"Lantas, rencanamu apa, Kirana?"Bu Fatimah menatapku lekat-lekat.


"Rencana saya pulang kepada Tuhan, tapi gagal," jawabku, sinis.


"Apa kamu masih berpikir untuk melakukan tindakan bodoh? Kamu tidak kasihan dengan bayi ini? Sebentar lagi dia lahir, apa kamu tega merampas hidupnya?" Bu Fatimah kembali menyentuh perutku.

__ADS_1


"Dunia ini kejam, akan lebih baik jika dia tidak pernah menatapnya. Dia tidak punya Ayah, dunia pasti menghinanya. Aku pun tidak punya keluarga, juga tidak punya apa-apa. Dunia sudah membuang kami, jadi untuk apa kami bertahan di sini." Kututup wajahku dengan telapak tangan, kusembunyikan tangisku yang kian tak terkendali.


"Menangislah, jika itu bisa meringankan bebanmu, tapi ... jangan berpikir yang tidak-tidak. Semua orang pasti punya masalah, punya kesulitannya masing-masing. Namun, selalu ada hikmah dalam setiap kejadian. Ambil sisi positifnya, dan berpikirlah dengan jernih, dengan begitu, kamu akan mendapatkan ketenangan. Dekatkan diri pada Sang Pencipta dan memohonlah petunjuk kepada-Nya." Bu Fatimah mengusap lenganku dengan lembut.


"Saya sudah mendekatkan diri, saya sudah bertobat. Namun bukan petunjuk yang saya dapatkan, melainkan hinaan. Jalan hidup saya bukan lebih baik, tapi lebih buruk. Saya kehilangan pijakan untuk melangkah, apa salah jika saya menginginkan kematian?" Kuangkat wajahku, dan kutatap wajah Bu Fatimah.


Beliau menghela napas panjang, "Kirana, boleh Ibu tahu, apa agamamu?"


"Saya___" Cukup lama aku memberikan menjeda. "Islam," sambungku, lirih. Seharusnya perempuan Muslim sangat mudah dikenali, tapi aku mengabaikan kewajibanku, sehingga orang lain tidak mengenali keyakinanku.


Bu Fatimah mengambil napas dalam-dalam, lantas beliau beringsut, dan duduk lebih mendekatiku.


"Boleh ceritakan apa masalahmu, kenapa kamu sampai menginginkan kematian?"


"Atas dasar apa saya harus bercerita!" sahutku dengan intonasi tinggi.


"Ibu hanya ingin membantumu, Ibu___"


"Apa saya terlihat jahat?" Bu Fatimah mengulas senyum tipis.


"Tidak." Aku menggeleng. "Justru karena Ibu terlihat baik, jadi saya sama sekali tidak percaya. Saya capek berhadapan dengan orang baik, semuanya palsu, semuanya pengkhianat!" jawabku, masih dengan suara tinggi.


Aku tidak peduli meskipun beliau akan marah, kenyataan memang demikian. Nindi, Reza, Ibu-ibu di bus, mereka terlihat baik, tapi mereka adalah pengkhianat. Mereka menjelma kawan, padahal mereka adalah lawan yang kejam. Aku tidak percaya dengan Bu Fatimah, aku tidak mau jatuh ke lubang yang sama untuk kesekian kalinya.


"Terkadang, kejadian yang telah lalu membuat kita lebih berhati-hati di kemudian hari, sangat wajar, Ibu paham apa yang kamu rasakan. Kirana, kendati Ibu tidak tahu apa masalahmu, tapi ada sedikit petuah yang ingin Ibu sampaikan sama kamu." Bu Fatimah menatapku tanpa kedip.


"Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Dia tidak akan membiarkan hamba-Nya terlarut-larut dalam kesalahan. Jika Allah mengambil apa yang kita punya, itu karena Allah akan menggantinya dengan yang lebih indah. Jika Allah menurunkan ujian, itu karena Dia merindukan keluh kesah kita. Kebanyakan, manusia akan ingat dengan Tuhannya di kala kesusahan. Bukan siapa-siapa, Ibu sendiri juga begitu. Ibu mendapatkan hidayah, setelah terhempas di titik terendah," sambung Bu Fatimah dengan panjang lebar.


Lagi-lagi aku terdiam, mencerna setiap kalimat yang beliau lontarkan. Selama ini aku memang jauh dari-Nya, aku terlena dalam kenikmatan dosa, tanpa memikirkan dampak dan akibat. Akan tetapi, aku sudah berusaha memperbaiki diri. Lalu mengapa ujian itu enggan berakhir?

__ADS_1


"Kirana, tobat yang sebenarnya, tidak cukup dengan berhenti melakukan satu dosa yang pernah kita jalani, tapi juga harus diiringi dengan peningkatan iman. Kita jalankan semua perintah-Nya dan kita jauhi semua larangan-Nya. Sebagai wanita Muslim, kita diwajibkan menutup aurat dan menjaga diri dari sentuhan lelaki yang belum halal." Bu Fatimah masih tak mengalihkan pandangan.


Aku menunduk, tenggorokanku tercekat mendengar kalimat yang terakhir. Menutup aurat dan menjaga diri dari sentuhan lelaki yang belum halal, dua hal yang selama ini belum mampu kulakukan.


Apakah ini alasannya, mengapa Allah masih menurunkan ujian untukku?


Kutatap wajah Bu Fatimah, tidak ada gurat kepalsuan di sana. Entah karena beliau benar-benar baik, atau karena beliau sangat pandai menyembunyikan ekspresi. Aku berada dalam dilema. Kendati kata-kata dan sikapnya sangat tulus, namun aku masih enggan menerima kehadiran orang lain.


"Maukah kamu tinggal bersama Ibu?" tanya Bu Fatimah dengan tiba-tiba.


Cukup lama aku diam, tanpa bicara dan tanpa bergerak, hanya seperti patung yang bernapas. Aku tak punya rencana, aku tak memiliki secercah asa untuk menyambung hidup. Namun, haruskah aku percaya padanya?


"Ibu tinggal seorang diri, Ibu tidak punya keluarga," ucap Bu Fatimah.


Aku masih diam, namun aku memberikan tatapan yang lekat. Seolah lewat netra ini, aku menanyakan di mana keluarganya.


"Pernikahan Ibu kandas di tengah jalan, dan anak Ibu ... dia sudah berpulang ke hadapan Allah." Bu Fatimah memijit pangkal hidungnya, ada sebongkah luka yang tersirat dalam ucapannya.


"Maaf," ucapku, pelan.


"Tidak apa-apa, sudah takdir. Jadi ... bagaimana?"


"Ibu tinggal di mana?" tanyaku sebelum mengiyakan tawarannya. Aku ingat beliau tadi sempat berkata bukan asli orang sini.


"Malang kota," jawab Bu Fatimah.


Jantungku berdetak cepat, seolah ia hendak meloncat dari tempatnya. Aku berusaha keras meninggalkan tempat itu, haruskah sekarang kembali ke sana? Tidak, aku tidak mau lagi berurusan dengan masa lalu.


Baru saja kutemukan setitik jalan untuk bermimpi, namun jalan itu kembali buntu. Aku kembali terombang-ambing pada nestapa yang entah di mana batasnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2