Noda

Noda
Sah


__ADS_3

Daniel terus mendekat dan berhenti tepat di hadapanku. Ia tersenyum sembari duduk di samping Kak Darren. Aku makin salah tingkah, apalagi saat melihat Kak Darren membuang pandangan.


"Da ... Daniel," sapaku dengan gugup.


"Aku datang untuk menyaksikan pernikahanmu, Ra. Selamat ya, aku turut bahagia," ucap Daniel dengan senyum yang mengembang.


"Terima kasih." Aku menjawab sembari menunduk.


Dalam senyuman itu, aku tak melihat gurat kepalsuan. Justru sikap tulus yang ia tampilkan.


"Syukurlah jika dia baik-baik saja. Semoga perpisahan ini menjadi awal yang baik untuk kami. Aku pun berharap dia bahagia," batinku.


"Sayang." Suara Kak Darren membuatku mendongak seketika.


Baru saja hendak membuka suara, netraku sudah disuguhi pemandangan yang tidak mengenakkan. Mata Kak Darren memicing dan kedua alisnya nyaris bertautan. Mungkin ia melihat kegugupanku dan menyimpulkan hal lain. Ah, keadaan. Mengapa menjebakku seperti ini. Tidak bisakah Daniel duduk lebih jauh, agar aku nyaman dan tidak salah tingkah.


"I ... iya, Kak." Lagi-lagi suaraku terbata.


"Maaf, tidak ada maksud apa-apa. Aku datang untuk memberi ucapan selamat dan ... sedikit hadiah untuk kalian." Daniel menyerahkan kotak warna biru kepada Kak Darren.


Kak Darren tak menjawab, tetapi tangannya terulur dan menerima hadiah itu. Ukurannya tidak terlalu besar, entah apa yang Daniel bungkus di dalam sana.


"Terima kasih," ucapku.


"Tidak perlu berterima kasih, itu tidak sebanding dengan hadiahmu, Ra." Daniel tersenyum lebar.


Kak Darren menoleh dengan cepat. Ia menatap Daniel dengan pandangan menelisik. Mungkin penasaran dengan maksud Daniel, karena aku pun demikian. Apa yang telah kuberikan? Mungkinkah Daniel mengungkit tentang Dara?


"Berkat penolakanmu, aku sadar jika keyakinan di atas segala-galanya. Kamu mengubahku menjadi pribadi yang lebih baik, Kirana. Bagiku, itu adalah hadiah yang tiada duanya," ujar Daniel.


"Bukan aku yang mengubahmu, tapi dirimu sendiri. Jika dalam dirimu tak ada kemauan, tidak mungkin jalan ini yang kamu pilih," jawabku.


"Mungkin iya, tapi ... ada peranmu juga. Aku sangat berterima kasih akan hal itu."

__ADS_1


"Dara sedang bermain di sana, kamu tidak merindukannya?" ucap Kak Darren dengan tangan yang menunjuk ke arah Dara.


"Sangat rindu," jawab Daniel. Lantas ia menepuk bahu Kak Darren sambil mencondongkan kepalanya.


Aku mengernyit heran. Aku tahu ia sedang berbisik, tetapi entah apa yang dibisikkan. Wajah Kak Darren pun tetap datar, membuatku tak bisa menduga apa yang kira-kira didengar.


Daniel beranjak dan meninggalkan kami. Ia menuju sudut ruangan tempat Dara bermain. Kulihat Kak Darren menatapnya dengan tajam, aku makin penasaran dibuatnya.


"Kak Darren," panggilku.


Belum sempat Kak Darren menjawab, penghulu dan hakim sudah datang menghampiri kami. Mereka dipersilakan duduk dan menikmati jamuan yang telah disediakan.


Usai meneguk teh hangat dan berbincang sebentar, penghulu mengajak kami untuk melangsungkan ijab kabul. Seketika hatiku berdebar keras. Terselip rasa waswas dalam benak.


Bu Fatimah membimbingku duduk di samping Kak Darren. Bersamaan dengan itu, seluruh keluarga dan saudara mendekat dan berkumpul. Tak terkecuali Daniel. Ia memangku Dara dan duduk di belakang penghulu, di samping Mas Denis.


Dalam pernikahan ini, hakim-lah yang menjadi waliku. Masa lalu yang suram membuatku dibedakan. Namun, aku tak mempermasalahkan hal itu. Dengan jalan apa pun aku ada, itu sudah takdir. Aku yakin itulah yang terbaik untukku.


"Apakah sudah siap?" tanya penghulu. Beliau memandang kami secara bergantian.


Penghulu beralih menatapku, yang kemudian kutanggapi dengan anggukan. Setelah semuanya siap, penghulu membaca doa dan basmallah. Lalu menjabat tangan Kak Darren dan mulai menikahkan kami.


"Saya nikahkan engkau Darren Alfando Bin Fadil Alfando dengan Kirana Mentari Binti Farida Wijayanti dengan mas kawin dua puluh lima gram emas dibayar tunai."


"Saya terima nikahnya Kirana Mentari Binti Farida Wijayanti dengan mas kawin dua puluh lima gram emas dibayar tunai."


Suara Kak Darren terdengar lantang ketika mengucapkan ijab kabul, membuat debar hatiku makin menjadi. Benarkah aku telah memiliki suami?


"Bagaimana, Saksi, sah?" Penghulu jua bersuara lantang.


"Sah!"


Jawaban serempak dari para saksi beriringan dengan air mataku yang mulai berlinang. Rasa haru dan bahagia mengacaukan perasaan. Membuatku tak bisa berkata-kata, sekadar menangis belaka. Mulai detik ini, ada imam yang membimbing langkahku, menyayangiku, juga menjagaku. Berkaca dari kesalahan masa lalu, sungguh besar kasih sayang Tuhan padaku.

__ADS_1


Di saat aku masih menata hati, tiba-tiba Kak Darren meraih tengkuk dan mengusap ubun-ubunku. Lantas lantunan doa keluar dari bibirnya.


"Allahumma inni as 'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltahaa 'alaih."


Kecupan hangat mendarat di keningku. Seketika aku memejamkan mata dan meresapi sebuah rasa yang teramat indah.


"Ini hari bahagia kita, jangan ada air mata," bisik Kak Darren.


Aku membuka netra kala hangat jemarinya menyentuh pipiku. Dengan mata yang masih berkaca-kaca, kuulas senyum termanis untuknya.


"Ini air mata bahagia," jawabku, juga dengan bisikan.


Kak Darren tak menjawab. Ia justru memelukku dengan erat dan memberikan beberapa kecupan di puncak kepala. Mungkin ia pun merasakan haru dan bahagia seperti diriku.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah menerimaku sebagai imammu," bisik Kak Darren tepat di telinga. Begitu dekat bibirnya, hingga kurasakan hangat napasnya menembus kerudung.


Belum sempat aku menjawab bisikannya, tiba-tiba ia sudah melepaskan pelukan. Aku tersenyum sembari meraih tangannya. Lantas kucium dalam waktu yang lama.


"Aku mencintaimu, Kak," batinku, sebelum melepaskan ciuman.


"Biarkan aku memasang cincin di jarimu," ucap Kak Darren sembari mengusap pipiku.


Kulepaskan tangan Kak Darren dengan pelan, lalu kuseka air mata yang menitik tanpa jeda. Kemudian, kupandangi jemari Kak Darren yang meraih cincin permata dan menyematkannya di jari manisku. Hangat tangannya, juga teduh tatapannya, membuat tubuhku gemetaran. Bahkan, untuk mengucap terima kasih pun aku tak mampu. Lidah ini rasanya kelu dan bibir pula ikut beku.


"Aku mencintaimu, Istriku. Aku berjanji akan menjagamu dan membahagiakanmu. Namun, tak setiap detik aku selalu di sampingmu. Jika nanti jarak kita berjauhan, biarlah ia yang menemanimu. Jangan pernah dilepaskan, ini adalah wujud dari cinta kasihku," ucap Kak Darren yang membuat air mataku kian berderai.


"Aku juga mencintaimu, Kak. Terima kasih sudah memilihku sebagai istrimu," bisikku dengan penuh haru.


Senyuman Kak Darren mengembang lebar, kala aku mengucap kata cinta. Lantas ia menyeka air mataku karena penghulu mulai memimpin doa dan shalawat. Sembari melantunkan doa, aku menata hati yang sedikit bergejolak.


Di saat hati mulai tertata, netraku menangkap pemandangan yang tak biasa. Di antara banyaknya orang yang menjadi saksi, kulihat satu wajah dirundung sendu. Ia sedikit menunduk dan mengusap setitik air yang membasahi pipi. Ada apa dengannya?


"Daniel, kenapa dia menangis?" ucapku dalam hati.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2