Noda

Noda
Pengakuan Luna


__ADS_3

Kaivan mengalihkan pandangan dan menatap kekasihnya dengan lekat. Namun, Luna tak balas menatap, justru memalingkan wajah dengan napas yang terdengar memburu.


"Luna, kenapa kamu diam saja? Tidak beranikah mengakui semua ini di hadapan calon suamimu? Apa kau takut dia kecewa dan meninggalkanmu?" Arsen kembali bicara. "Andai itu terjadi ... sepertinya hal wajar. Mengingat dulu, kamu dengan tidak tahu malu merebut kekasihnya kakakmu," sambungnya.


"Diam!" teriak Luna dengan tatapan nyalang.


"Kenapa? Aku hanya bicara apa adanya, apa itu salah?" Arsen tertawa lebar.


"Mas, sudah. Ayo turun saja!" ajak Nadhea. Dia sekilas menatap Kaivan, lalu kembali menunduk. Entah apa yang sedang dipikirkannya.


"Soal materi kamu boleh mengalah, tapi soal harga diri jangan pernah, Sayang! Memberikan aset atau tidak, tapi mereka seharusnya mengakui keberadaanmu. Kamu juga darah daging mereka, bahkan kamu lebih dewasa darinya." Arsen menatap Nadhea dan kemudian melirik Luna sekilas.


"Pergi kalian dari sini!" bentak Luna dengan tangan yang makin mengepal.


"Seangkuh itukah kamu? Padahal, ini adalah rumah Pak Prawira. Mau mengakui atau tidak, tapi aku tahu kamu juga paham bahwa ada hak Nadhea di sini," jawab Arsen.


"Pergi!" Suara Luna makin meninggi.


Arsen tersenyum miring, lalu menggandeng tangan Nadhea dan mengajaknya melangkah. Ketika melintas di samping Kaivan, Arsen berhenti sejenak dan menepuk bahu Kaivan.


"Jadilah pribadi yang sempurna, maka kehadiranmu akan disambut baik. Jika tidak ... kamu akan dibuang tanpa belas kasih," ujar Arsen.


Kaivan masih tertegun, bahkan sampai Nadhea dan Arsen sudah menuruni anak tangga pun dia masih bergeming. Di sampingnya, Luna menunduk sambil memejam, berusaha meredam emosi yang beberapa detik lalu sempat tersulut. Selain itu, Luna juga berpikir keras, mencari kalimat-kalimat yang tepat untuk menjelaskan kepada Kaivan.


"Kai!"

__ADS_1


"Luna!"


Keduanya mengulas senyum kaku karena saling memanggil dalam detik yang sama. Kaivan masih tenang walau dalam batinnya berkecamuk banyak pertanyaan. Namun, Luna tak demikian, dia amat gugup saat menyadari tatapan Kaivan yang amat lekat.


"Ayo, kuantar ke kamar!" Luna berusaha mengalihkan topik.


Kaivan bergumam pelan sembari mengikuti langkah Luna yang menuju ruangan paling ujung. Setibanya di sana, Luna langsung membuka pintunya dan mempersilakan Kaivan.


"Aku ke kamar dulu," pamit Luna ketika Kaivan sudah melangkah memasuki kamar.


"Tunggu, Luna!" sahut Kaivan sembari membalikkan badan.


Luna terdiam, keringat dinginnya kembali bercucuran. Wajah yang biasa memancarkan keanggunan, sekarang tampak pias dan gugup. Dengan terpaksa Luna menolah karena Kaivan mengulangi panggilannya.


"Aku ingin bicara." Kaivan kembali mendekati Luna. "Sebenarnya siapa___"


"Sepertinya aku tak bisa menghindar. Daripada terus berlarut-larut, mungkin ada baiknya kujelaskan sekarang. Semoga kamu bisa mengerti, Kai," batin Luna di tengah ketegangan.


"Kenapa kamu menyembunyikannya?" tanya Kaivan.


"Dia pemalas. Sejak dulu sampai sekarang tak pernah mau berusaha. Jangankan berprestasi, mendapat nilai cukup saja sangat jarang. Mama dan Papa sudah membiayai hidupnya, dan itu tidak sedikit, tapi dia tak tahu balas budi. Sedikit pun tidak pernah membuat Mama dan Papa bangga. Dalam keluarga, dia tak lebih dari parasit," terang Luna.


"Jadi itu alasannya?" Kaivan bertanya pelan.


"Iya." Luna mengangguk dan mengembuskan napas kasar. "Papa adalah orang yang terpandang, banyak menjalin kerjasama dengan beberapa pihak. Jika menunjukkan Nadhea kepada publik dengan keadaannya yang seperti itu, maka mereka akan memandang rendah. Lantas, aib itu akan menjadi penghalang dalam bisnis Papa," sambungnya.

__ADS_1


Kaivan belum memberikan tanggapan, sekadar menatap Luna dengan ekspresi yang sulit diartikan.


"Pembisnis seperti Papa butuh anak yang cerdas dan tangkas untuk mencari relasi. Sewaktu kecil, kami diberi kesempatan yang sama. Namun, Nadhea tak mau memanfaatkan. Dia justru bermalas-malasan dan membuang waktu dengan hobi yang tidak berguna. Jadi, bukan salahku bila akhirnya Papa mengabaikan dia." Luna kembali bicara.


"Tapi, aku bukan publik. Aku calon suamimu, Luna, bukan orang lain. Kenapa kamu tidak jujur padaku?" tanya Kaivan.


"Dia hanya beban hidup. Tidak penting untuk kamu ketahui," jawab Luna.


Kaivan tersentak, ingatannya kembali pada beberapa waktu lalu, ketika dia membaca nama kontak 'Beban Hidup' di ponsel Luna.


"Aku tidak ada maksud membohongimu, Kai. Tapi ... ah, apa pentingnya Nadhea? Dia sudah menikah dan tinggal jauh dari sini. Jadi, kupikir itu bukan hal besar," sambung Luna.


Kaivan bergumam pelan. Ada luka yang tiba-tiba menganga di dadanya. Untuk pertama kali, dia sedikit kecewa dengan kekasihnya.


"Aku mencintaimu, Kai, percayalah! Aku tidak ada maksud bohong atau apa. Aku hanya___"


"Aku mengerti, Sayang. Pergilah, aku akan istirahat!" Kaivan memungkas ucapan Luna dengan senyum yang mengembang.


Luna tertegun sejenak. Kendati suara Kaivan amat lembut, bahkan lengkap dengan senyuman, tetapi sorot matanya memancarkan kemelut yang sulit dipahami.


"Pergilah! Kamu juga lelah, kan?" Kaivan bicara sambil mengusap pipi Luna.


"I-iya," jawab Luna. Lantas, dia melangkah menuju kamarnya yang berada di sebelah kamar Kaivan.


Kaivan menatap punggung Luna yang makin menjauh dari jangkauannya. Dia tak mengalihkan pandangan sampai Luna menutup pintu kamarnya.

__ADS_1


"Andai kamu tahu masa laluku, apakah kamu akan mengatakan hal yang sama, Luna?" batin Kaivan.


Bersambung...


__ADS_2