
Dering telepon menarikku dari alam mimpi, memaksaku membuka mata dan kembali ke alam nyata. Dengan mata yang masih sedikit tertutup, aku meraba-raba meja, di samping ranjang. Kuraih ponselku dan kutempelkan di telinga, tanpa melihat siapa peneleponnya.
"Hallo," sapaku dengan suara yang masih serak.
"Hallo, Ra, kamu masih tidur, ya?" tanya suara cempreng yang kuyakini milik Mayra.
"Iya, masih pagi, May. Ada apa?" Aku mengucek-ucek mata, lantas bangkit dari tidurku.
"Aku mau tanya soal semalam," jawab Mayra bersemangat.
"Semalam?" tanyaku.
Aku tidak mengerti apa yang dimaksud Mayra. Semalam, kami memang berbincang lewat chat, namun itu tidak lama dan menurutku tidak ada hal yang terlalu penting.
"Iya. Katanya kamu akan bekerja di butiknya Reza."
"Oh, soal itu. Kenapa emangnya?" tanyaku masih tidak paham.
"Ishh, kok kenapa sih, kamu masih nggak lupa 'kan sama perasaan aku?" Kini, Mayra yang balik bertanya padaku.
Aku menghela napas panjang, sebenarnya bukan lupa, hanya saja sekarang aku ragu, masihkah perasaan Mayra sama seperti dulu.
"Iya, aku ingat kok," jawabku.
"Bantuin aku ya, Ra. Sekian lama usahaku masih sia-sia lho, padahal aku cinta banget sama dia," pinta Mayra.
Belum sempat aku menjawab ucapan Mayra, tiba-tiba sambungan telepon terputus. Kutatap layar ponselku sambil mengernyitkan kening, ternyata low bat. Aku menggeram kesal, karena kerap kali melupakan hal penting ini.
"Nanti lagi ya, Ra, aku hubungi," ucapku pada layar ponsel yang padam.
__ADS_1
Aku pergi ke kamar mandi setelah mengisi daya ponselku. Aku membersihkan diri sambil menenangkan pikiran yang sedikit penat. Aku berharap bebanku luruh bersama air hangat yang mengguyur tubuh dan rambut.
Usai membersihkan diri, aku membalut tubuhku dengan seragam. Celana panjang hitam yang dipadu dengan kemeja panjang warna putih. Kutatap pantulan diriku di dalam cermin, semakin hari perut ini semakin berisi. Aku mengambil napas dalam-dalam, kehamilan memang bukan sesuatu yang bisa disembunyikan.
"Aku akan tetap merawat dia, apapun konsekuensinya." Aku berkata sambil mengusap perutku dengan pelan.
"Aku ingin dia tumbuh menjadi anak yang tegar, jadi aku pula harus tegar. Aku harus kuat menghadapi apapun di kemudian hari. Aku sendiri yang memilih jalan ini, jadi aku pasti bisa," ucapku menyemangati diri sendiri.
Setelah menguncir rambut dan mengoleskan sedikit make up, aku melangkah keluar. Aku langsung berangkat, tanpa menyantap sesuap makanan. Kendati ada nasi, buah, dan juga roti, namun perut ini masih enggan untuk diisi.
Aku berjalan menuju butik yang baru saja dibuka. Alena menyapaku dengan anggukan dan senyuman.
"Bersihin kacanya, aku akan menyapu!" ucap seseorang yang entah siapa namanya. Dia memberiku lap dan ember.
"Ren! Jangan memberikan perintah padanya!"
"Al, dia juga karyawan, 'kan? Dia masih baru, apa salah kalau aku ngajarin dia?" protes gadis yang dipanggil 'Ren'.
"Lakukan saja pekerjaanmu seperti biasa, jangan membebani dia!"
"Kenapa sih dia dibedakan, apa jangan-jangan___"
"Rena!" bentak Alena.
"Mbak Alena, tidak apa-apa kok, aku akan membersihkan kacanya," ujarku menengahi mereka. "Mbak, salam kenal, ya," sapaku pada Rena.
"Kirana, jangan! Masuk saja dan benahi pakaian yang mungkin terlepas dari gantungannya," kata Alena.
"Tapi, Mbak."
__ADS_1
"Jangan mempersulit keadaan, Kirana. Menurutlah!" Alena mengusap pundakku sambil menatapku, entah apa maksudnya.
Aku melirik Rena yang sedang memasang wajah kesal. Dia memicingkan mata sambil menghentakkan kakinya, lantas ia pergi meninggalkan kami tanpa sepatah kata.
"Mbak Alena, sepertinya___"
"Aku hanya menjalankan amanat, Kirana. Dia melarangmu bekerja terlalu berat. Kau sedang hamil, kau tidak boleh memanjat seperti ini." Alena menunjuk kursi yang sudah disediakan. "Jadi ... lakukan saja pekerjaan yang ringan, nanti biar Kyla yang membersihkan kacanya," sambungnya.
"Dia? Apakah yang Mbak maksud itu Daniel?" tanyaku dengan cepat.
Alena tak sempat menjawab ucapanku, karena dia buru-buru mengangkat telepon. Cukup lama aku menanti, namun Alena tak kunjung mengakhiri perbincangannya. Lantas aku melangkah masuk, dan melakukan pekerjaan, agar Rena tidak semakin kesal padaku.
"Kalau di film-film, mereka yang diperlakukan istimewa, itu adalah mereka yang mau naik ke atas ranjang. Apa kira-kira kamu juga menggunakan trik itu?"
Rena, tak kusangka dia bermulut pedas. Begitu mudahnya melontarkan kalimat menyakitkan sambil tersenyum lebar.
"Apa maksudmu!" bentakku.
Serapuh apapun diriku, aku tak ingin terlihat lemah di hadapannya. Aku tidak mau, jika nantinya dia lebih berani menginjak harga diriku. Sejak pergi dari rumah, itu artinya aku sudah tak memiliki perlindungan. Aku tak akan menunjukkan kelemahanku pada orang asing. Aku harus bisa melindungi diriku sendiri.
Kelak, jika anakku sudah lahir, aku yang harus menjadi benteng untuk dia. Aku tak akan bisa melakukan itu, jika tidak memulainya dari sekarang.
"Jika emosi, berarti iya." Rena melipat tangannya di dada, ekspresinya benar-benar meremehkanku.
"Iya atau enggak, itu urusanku. Kamu tahu kenapa seseorang mengusik urusan orang lain? Alasannya karena iri dan tidak mampu. Mungkin ... dulu kamu pernah mencoba trik itu, tapi ditolak mentah-mentah. Benar, tidak?" Kunaikkan kedua alisku, kutampilkan ekspresi menyebalkan seperti dirinya.
"Kau___" Rena menggeram sambil melayangkan tangannya.
Bersambung....
__ADS_1