Pejuang Move On

Pejuang Move On
Pisah Kamar


__ADS_3

Di dalam kamar Egi.


Egi terduduk di sofa, sambil menghadapi sebuah kotak hitam di atas meja yang titipan dari Alan untuk annisa.


Dengan gerakan kasar, egi merobek pita pink yang melilit di kotak lalu membuka penutup kotak tersebut. Alis Egi terangkat ketika melihat isi yang ada dalam kotak, tangan nya mengulur mengambil sebuah buku album dan setumpuk amplop merah.


"Sepertinya nasib pria gila itu sama dengan ku sewaktu terhadap Misa, cinta nya terlalu lama di pendam dan berakhir penyesalan akibat telah di miliki orang. Malang juga nasib nya," oceh Egi setelah melihat isi buku album yang ternyata isi nya foto foto annisa, juga membuka setiap isi amplop merah yang ternyata surat ungkapan isi hati Alan terhadap Annisa.


Egi melempar dengan kasar semua amplop merah ke dalam tong. Kemudian kembali melirik isi kotak hitam itu, yang ternyata masih ada sebuah kotak kecil di dalam nya. Ia mengambil kotak kecil tersebut dan membuka nya yang ternyata ada sebuah kalung berliontin permata biru. Tersenyum kecut menutup kembali kotak kecil. "Bukannya ini adalah perhiasan yang hanya di milik keluarga Atmadja. Apa dia mau menyogok istri ku dengan barang seperti ini, itu tidak akan pernah bisa. Karena annisa telah menjadi milik ku dan selama nya akan begitu."


Menghela napas panjang, lalu menyenderkan punggung nya ke sofa. Egi memejamkan mata sejenak, kemudian melirik jam dinding yang jarum jam nya telah menunjukkan pukul pertengahan malam. "Apa dia sudah tertidur jam segini?" tanya nya pada diri sendiri.


Egi bangkit dari duduk nya, membereskan kotak hitam tersebut untuk menyembunyikan nya. Lalu berjalan ke arah ranjang dan mengambil ponsel. "Lebih baik aku telpon dia."


Di dalam kamar Annisa.


Annisa masih berkutat dengan laptop mengerjakan tugas kuliah nya. Dan sebuah dering ponsel yang nyaring menghentikan pergerakan annisa yang tengah fokus menatap layar, dan mengetik keyboard.


"Assalamualaikum," sapa Annisa setelah menempelkan ponsel ke telinga tanpa melihat siapa si penelpon.


"Walaikumsalam. Datang ke kamar ku sekarang!" Suara Egi yang tegas memerintah dari sebrang telpon. Lalu secara sepihak langsung mematikan panggilan tanpa mau mendengar jawaban dari annisa.


Annisa terlongo menatap layar ponsel untuk melihat siapa yang menelpon nya tadi. "Hah... bocah ini, buat apa aku di suruh ke kamar nya segala. Ganggu aja," gerutu annisa dan bangkit dari duduk nya lalu berjalan ke arah pintu keluar.


Sesampainya di kamar Egi.


Annisa memasuki kamar Egi dan pandangan mata nya langsung bersirobok ke arah ranjang, yang dimana Egi telah terduduk setengah terbaring di ranjang. "Aku ingin tidur," ucap Egi menginstruksi Annisa agar mendekat ke ranjang.


Menghela napas pelan. Annisa menurut berjalan menghampiri Egi. "Kalau mau tidur ya tinggal merem aja, apa susah nya kenapa harus memanggil ku kemari segala," omel Annisa yang sudah berdiri berada di samping ranjang.


Puk... puk. Egi menepuk bagian sebelah yang kosong, agar annisa menaiki kasur. "Karena susah tidur aku meminta mu kemari, untuk menidurkan ku," sahut Egi menarik ujung baju piama annisa dan memasang wajah polos.


Kenapa harus memasang wajah seperti itu sih, membuat ku lemah untuk menolak saja, dan jantung ku serasa mau copot. Kenapa pria bocah imut ini bisa jadi suami ku. Hah... sungguh menggemaskan.

__ADS_1


"Kau ini ada ada saja, susah tidur meminta bantuan pada ku, memang nya aku babysitter mu apa," oceh Annisa sambil menaiki kasur dan duduk di samping tubuh Egi.


Egi langsung berhambur memeluk pinggang annisa dan meletakkan kepala nya di pangkuan annisa.


Annisa reflek mengelus lembut rambut Egi yang ada di pangkuan nya. "Hey bocah, benar benar seperti bayi gede saja. Malu pada umur dan badan mu yang udah tua," omel Annisa di sela elusan tangan nya.


"Hemm...," gumam Egi sembari mencari posisi nyaman di dalam pangkuan annisa. "Memang aku big baby mu," sahut nya pelan karena sudah merasa kantuk.


"Ya...ya..ya big baby. sudah cepat tidur, aku juga sudah ngantuk sudah larut malam," ucap Annisa memberikan tepuk an pelan pada punggung dan elusan lembut di rambut kepala egi.


"Hemm...," gumam Egi pelan yang sudah memejamkan mata untuk bersiap tidur dengan menikmati usapan lembut dari jemari annisa.


Selang beberapa waktu.


Napas Egi telah teratur dan pelukan tangan di pinggang annisa pun telah mengendur lemas, menandakan jika Egi telah tertidur pulas bergelut dalam mimpi.


Annisa menghentikan gerakan tangan nya yang tengah mengelus rambut Egi. Lalu menunduk untuk melirik wajah Egi yang sudah damai dalam tidur.


Terurai senyuman dari bibir annisa dan dengan gerakan pelan penuh ke hati hatian, annisa memindahkan kepala egi ke bantal yang ada di samping nya, Kemudian menyelimuti sampai ke bahu. "Dasar bocah, selalu bikin aku bingung dengan sikap nya yang berubah ubah. Tapi sikap manja nya membuat ku gemes dan semakin menyukai mu. Good night Egi," ucap Annisa pelan kemudian mengusap lembut pipi egi.


-----------------------


Pagi hari telah tiba. Annisa perlahan terbangun dari tidur nya karena mendengar suara gema adzan subuh. Membuat nya mau tak mau harus ketarik ke dunia nyata.


Annisa meregangkan otot otot nya yang kaku akibat tidur semalam, lalu dengan gerakkan pelan, menjulurkan kedua kaki nya untuk turun dari ranjang dan berjalan dengan gontai menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Beberapa waktu kemudian.


Annisa telah memakai pakaian seragam dinas dengan rapih dan lengkap dengan kerudung nya yang senada. Mata nya melirik jam dinding yang menempel di tembok. "Sebaiknya aku bangunkan si Egi dan kak Jhon untuk shalat berjamaah," gumam Annisa lalu mengarahkan kaki menuju pintu keluar.


Annisa keluar kamar, dan tangan nya baru saja menutup pintu tiba tiba...


"Nona Annisa," panggil Jhon yang sudah berdiri tidak jauh di belakang annisa.

__ADS_1


Annisa terhenyak kaget dan menoleh ke arah suara. "Eh, kak Jhon. Rupa nya sudah bangun," ucap nya dan tersenyum.


"Hendak kemana nona?" tanya Jhon yang sudah berdiri di dekat annisa.


Menunjuk ke arah pintu kamar Egi dengan lirikan mata. "Ke kamar Egi. Mau membangunkan untuk subuh berjamaah, kak Jhon udah shalat?"


Jhon menggelengkan kepala. "Belum, jika sudah siap subuh, kabari saya nona. Saya mau ke kamar kembali."


Annisa mengangguk mengiyakan. "Baiklah," ucap nya menunduk salam dan berbalik menuju pintu kamar Egi. Sedang Jhon berbalik kembali ke kamar nya.


Annisa memasuki kamar Egi yang kebetulan pintu nya tidak terkunci.


"Dia masih tertidur," ucap Annisa menggeleng beberapa kali, lalu berjalan menghampiri ranjang yang dimana egi masih tertidur pulas di bawah selimut.


Annisa duduk di sisi ranjang, kemudian mengulurkan sebelah tangan untuk mengusap rambut egi. "Hey, bangun. Sudah subuh," seru Annisa.


"Hemm...," igau Egi menggeliatkan tubuh menghadap Annisa.


Mencolek colek dengan telunjuk ke pipi Egi. "Bangun tidak. Jika tidak bangun sekarang, aku shalat nya di imami kak Jhon saja yah," ucap Annisa.


Perlahan bulu mata lentik Egi bergerak dan terbuka, yang langsung bersirobok dengan wajah annisa. "Kau bilang apa tadi! Hanya aku yang boleh mengimami mu," ucap nya dengan suara serak.


Annisa menarik selimut yang di pakai egi juga menyingkirkan bantal guling. "Maka nya cepat bangun, aku dan kak Jhon tunggu di mushola lantai bawah."


"Hemm, jangan menunggu seruangan dengan si Jhon. Tunggu aku di sini saja," ucap Egi lalu dengan gerakan malas bangun dari tidur nya.


"Iya tapi cepatlah. Keburu habis waktu subuh nya," Annisa menarik lengan Egi agar turun dari ranjang.


Egi kembali menarik lengan annisa sehingga tubuh annisa jatuh dalam pelukan nya. "Bagaimana aku bisa turun sedangkan kau menempel seperti ini."


Mendorong tubuh Egi. "Siapa juga yang menempel. Kau yang menarik ku, cepat mandi aku tunggu 10 menit."


"Baiklah," ucap Egi turun dari ranjang. Lalu mencium kilas pipi annisa. "Dasar cerewet," ucap nya dan melangkah menuju kamar mandi.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2