
Di ruangan utama rumah Egi.
Jhon menyambut datang nya tamu yang telah di tunggu Ayah Putra sejak tadi, yaitu tuan besar Atmadja, berserta para pengawal nya. Lalu Jhon mengajak tamu itu untuk menuju ke sebuah ruangan yang tertutup dan pas untuk membicarakan hal sensitif. Yang di mana di dalam ruangan tersebut telah terduduk Ayah Putra di sofa tunggal.
Tuan Atmadja di perbolehkan memasuki ruangan tersebut setelah para pengawal nya di tahan oleh Jhon agar tidak ikut masuk. Begitu memasuki ruangan, Ia langsung di hadapkan dengan tatapan dingin dan senyuman tipis dari wajah Ayah Putra. Ia duduk di sofa sebrang Ayah Putra setelah Jhon mempersilahkan nya untuk duduk.
Seketika suasana dalam ruangan itu, sedikit mencekam dengan keheningan membentang, hanya tatapan keseriusan dari kedua nya menyiratkan untuk memulai pembahasan topik mengenai penculikan Annisa.
Sementara di lantai dua. Di kamar Egi.
Egi terduduk di kursi putar meja belajar yang terletak di pojok ruangan kamar nya, Ia tampak sibuk berbicara dengan seseorang di sebrang telpon untuk memberikan perintah.
Dan setelah sibuk menelpon yang di penuhi perintah gertakan, Egi beralih kembali menatap layar laptop yang ada di hadapan nya. Ia terlihat sangat serius mengutak atik memencet setiap tombol keyboard dengan tatapan fokus ke layar laptop, tanpa memperdulikan rasa sakit dan ngilu yang berasal dari tangan nya yang terluka terus mengeluarkan darah sampai menetes ke keyboard laptop. Juga perih di bagian pipi kiri yang sedikit mengeluarkan darah akibat tergores serpihan kaca.
"Sial! Rupa nya dia cukup pintar mengecoh ku, dimana dia menyembunyikan istri ku," geram Egi sembari terus berkutat dengan laptop.
Tok...tok...tok. Pintu kamar Egi di ketuk dari luar, namun egi tidak menggubris nya dan fokus dengan apa yang di kerjakan nya.
Beberapa kali dokter frans mengetuk pintu kamar Egi, dan alhasil pintu nya tidak di buka kan oleh sang pemilik kamar, atau pun suara perintah masuk dari dalam.
Karena rasa khawatir dan tugas nya sebagai dokter. Ia memberanikan diri memutar kenop pintu kamar egi lalu membuka nya, sedikit mengintipkan mata ke celah pintu yang telah terbuka sejengkal.
Dia sibuk sekali, sedang apa dia?
__ADS_1
Kemudian membuka lebar pintu itu dan masuk ke dalam kamar. "Ekhem...," dehem dokter frans yang baru memasuki kamar, namun lagi lagi egi tak menggubris kehadiran dokter frans dan memilih fokus dengan apa yang di cari nya.
Menatap lurus ke arah Egi yang tampak sibuk dengan laptop. "Tuan Egi, obatilah luka anda," ucap dokter frans mulai bersuara.
"Buat apa anda kemari!" tegas Egi.
Berjalan mendekat ke arah Egi dan berdiri tidak jauh di belakang kursi yang Egi duduki. "Saya kemari untuk mengobati luka anda," ucap dokter Frans dengan nada tenang.
Egi tidak menanggapi ucapan dokter frans dan fokus dengan kegiatan nya.
Merasa di abaikan dan melihat tangan Egi yang terluka cukup parah, dokter Frans memutar dengan kasar kursi yang di duduki Egi.
"Kau!" Teriak Egi geram dan menatap tajam ke dokter frans.
Terkekeh pelan. "Maafkan saya tuan Egi, hanya saja tangan anda terluka. Dan saya sebagai dokter yang di tugaskan oleh tuan besar untuk mengobati luka anda, sudah seharusnya anda sedikit menurut," tutur dokter frans.
Hah... menghembuskan napas kasar. "Tuan Egi, apakah anda tidak tahu jika di lantai bawah, sedang ada tamu. Seorang Ayah dari musuh anda saat ini," tutur dokter Frans membuat gerakan jemari Egi yang tengah mengetik terhenti.
Egi menolehkan kepala mendelik tajam ke dokter Frans. "Buat apa dia kemari, Apa dia tidak punya muka menginjakkan kaki kemari, sementara anak nya yang gila telah menyembunyikan istri ku," seloroh Egi dengan nada muak.
Dokter frans tersenyum kecil. "Anda akan tahu setelah urusan tuan besar selesai dengan nya, dan menurut saya buat apa anda berkutat di depan laptop mencari keberadaan Nona, sedang tuan besar tengah berusaha mengoyak informasi keberadaan Nona Annisa lewat tuan Atmadja. Sia sia tuan Egi, sebaiknya anda obati luka di tangan dan wajah anda. Agar bertemu Nona nanti, setidaknya tidak akan membuat Nona merasa bersalah karena melihat keadaan tuan Egi yang seperti ini," tutur panjang dokter Frans membujuk Egi.
Menghela napas panjang kemudian melirik tangan nya yang terluka. "Baiklah...," Pasrah Egi meletakkan tangan nya ke atas meja agar terlihat oleh dokter Frans.
__ADS_1
Dokter Frans tersenyum lalu menyeret satu kursi lain dan melangkah maju, mendekati meja Egi dan menempatkan kursi nya tepat di samping kursi yang di duduki Egi. Ia mulai membuka tas medis yang di bawa nya lalu mengeluarkan beberapa obat dan alat medis untuk mengatasi luka dan mencabut beberapa serpihan kaca yang tertancap di sela jemari Egi.
Dokter frans mengobati luka di tangan dan pipi kiri Egi dengan fokus, sedang egi yang di obati tampak sibuk dengan ponsel yang ada di genggaman tangan kiri nya.
Selang beberapa lama, dokter frans tengah membalut kain kasa ke telapak tangan egi.
Kriing...kriing. ponsel yang di genggaman egi berbunyi. Segera egi mengangkat panggilan telpon itu.
"Katakan!" Suara tegas dan tajam, egi mengintruksi agar suruhan nya yang tengah menelpon mengatakan apa yang di harapkan nya.
Alis egi berkerut menajam setelah mendengar apa yang di katakan oleh orang di sebrang telpon. "Pulau cemara! Cukup jauh laki laki sialan itu menyembunyikan istri ku...," ucapnya kemudian tersenyum kecil.
Egi hendak mengucapkan perintah kembali ke orang suruhan nya yang ada di sebrang telpon. Namun bersamaan dengan itu, tiba tiba pintu kamar egi di ketuk seseorang dari luar. Membuat fokus Egi teralihkan.
Dan masuklah laki laki berjas hitam dan rapih, setelah Egi mengucapkan kata masuk.
Menunduk hormat sebagai salam kemudian menengadah menatap lurus ke arah Egi. "Tuan Egi, pemberangkatan ke pulau tempat Nona Annisa berada telah di siapkan," suara tegas bodyguard Ayah nya itu membuat Egi yang tengah menelpon menoleh menatap ke arah nya.
Ternyata Ayah telah bergerak satu langkah lebih cepat di depan ku.
Pria berjas itu, yang mengerti arti tatapan mata Egi kembali bersuara. "Dan pesawat jet pribadi anda telah di siapkan. Penuturan tuan besar, sebaiknya tuan Egi segera ke sana saat ini juga, sebelum terlambat jika menunggu hari esok," jawabnya.
Mengangguk mengiyakan kemudian bangkit dari duduk nya setelah dokter frans menali kan kain kasa itu dengan rapih di tangan nya.
__ADS_1
Kemudian tanpa mengeluarkan sepatah kata, Egi menyambar mantel yang tersampir di ranjang. Ia melangkah kan kaki keluar dari kamar di ikuti pria berjas tadi dan dokter frans di belakang nya.
BERSAMBUNG...