
Beberapa hari telah berlalu hingga hari tasyakuran empat bulan kehamilan Annisa di selenggarakan dan sejak acara lamaran itu juga, Rika dan Jhon tidak saling bertemu hanya berupa komunikasi lewat telepon saja.
Di rumah Rika begitu ramai dan sibuk oleh kegiatan ibu-ibu komplek yang diminta oleh ibu Asih untuk membantu membuat kue pesenan. Sedangkan Rika sudah jauh hari cuti dari pekerjaannya agar bisa mengikuti kegiatan amal yang akan di adakan di setiap kafe Annisa.
"Kang Asep yang kotak nya berwarna merah itu, masukin ke kursi belakang aja," titah Rika sembari merapihkan kotak-kotak kue berwarna putih ke dalam bagasi mobil.
"Iya Neng, terus yang ijo itu mau di masukin kamana?"
"Yang ijo siniin aja Kang, masih muat nih."
Asep pria tetangga yang biasa membantu Ibu Asih mengantar orderan pun menuruti mengambil dan mengangkat susunan kotak kue berwarna ijo dari teras rumah.
"Eh," terperanjat Asep saat berbalik yang ternyata mendapati pria tampan berjas navy berdiri tegap menatapnya. "Si ujang kasep saha? (Si tampan kamu siapa?)" Herannya.
Jhon meletakkan telunjuk ke bibir nya sebagai tanda agar diam. Lalu ia mengambil alih kotak-kotak kue itu dari tangan Asep.
"Kang Asep mana kotaknya? Ika sudah rapihin nih bagian tempatnya." Rika berceloteh di balik pintu bagasi yang terbuka lebar menutupi pandangan ke arah depan.
Jhon yang berjalan pelan menghampiri, berdiri tepat di belakangnya. Ia menyodorkan kotak kue itu ke arah samping tubuh Rika.
"Kok lama ngambil kotak saja." Omel Rika mengambil kotak dan meletakkannya untuk di susun ke dalam bagasi.
"Punten atuh Neng, di lebet na masih acan di pack ku ibu-ibu na. Jadi nya lama. (Maaf Neng. di dalamnya masih belum di pack sama ibu-ibu)." Sahut Asep yang baru keluar dari pintu keluar rumah.
Rika menoleh menatap bingung. "Lah, Kang. Buk-bukannya Akang Asep ada di belak...ang," kemudian ia menolehkan kepala ke arah belakang. "Jojo." Kaget Rika mendapati pria lain di belakangnya.
"Oh si ujang eta teh namina Jojo. Kasep pisan Neng, wios atuh di kenalkeun ka ra'i na Akang? (Pria itu namanya Jojo. Tampan sekali, boleh di kenalin sama adiknya saya). " Goda Asep sembari meletakkan kotak kue ke tangga atas teras.
"Enak aja," menatap sinis. Lalu Rika merangkul sebelah lengan Jhon. "Dia itu calon Ika Kang, jelas atuh paling kasep sakomplek ieu malah sanagara malahan."
Asep terkekeh geli merapihkan kotak ke dalam kursi belakang mobil. "Oho, calon si Neng ternyata. Bisaan si Neng meunangkeun na. Tapi sanes aya nyah calon si Neng teh, itu nu kasep dokter tea. Anu sok bawa mobil bodas sama beureum nyah. (Pintar juga dapetinnya si Neng. Tapi bukannya calon si Neng yang dokter tampan itu, yang suka membawa mobil putih sama merah). "
"Ah, itu...," Rika terdiam sejenak menatap Jhon yang terlihat bingung. "Eta mah bukan Kang. Hanya teman saja."
"Ngomong bahasa apa dia?" Tanya Jhon dengan alis terangkat sebelah menatap bingung.
Rika tersenyum melepaskan rangkulannya di lengan Jhon. "Masa kamu tinggal di indonesia tidak tahu bahasa sunda."
Jhon meletakkan sisa kotak kue di pegangan tangannya ke dalam bagasi. "Aku lahir di jerman dan pindah saat sekolah SMA ke indo. Jadi tak tahu bahasa daerah indonesia hanya tahu bahasa negara nya saja."
"Wah pantesan si ujang kasep pisan siga bule sampe eta panon herang mencrang warna silver." Timpal Asep yang membawa kotak kue warna putih.
Jhon mengambil alih kotak kue dari tangan Asep, ia menatap semakin bingung pada gadis manis yang menahan tawa. "Ngomong apa lagi dia?"
Rika menepuk sebelah bahu Jhon. "Dia bilang kamu jelek dan bau." Bisiknya menahan tawa geli.
"Benarkah?" Jhon mengendus badannya membuat Rika tertawa geli.
"Neng, atos sebagian yah. Kalo gitu Akang ka lebet deui bade konfirmasi sama si bunda."
Rika mengangkat sebelah tangan membentuk sebuah huruf 'O' oleh jemarinya dan anggukkan kepala. Yang berarti oke.
Sepeninggalan Asep.
Rika beralih melihat Jhon yang melepaskan jas kantornya untuk di endus baunya. Ngerjain orang itu memang asyik juga. Pantas dia senang menjahili orang. Rika semakin tertawa geli melihat tingkah Jhon. "Kenapa di lepas jas nya?"
"Kau bilang bau, jadi di lepas saja untuk di ganti."
Rika menyambar jas yang ada di tangan Jhon lalu menutup pintu bagasi mobil. "Pakai kembali, aku hanya berbohong saja tadi." Kemudian ia memakaikan kembali jas ke tubuh tegap Jhon.
Pletak.
Jhon menyentil kening Rika.
"Aww," Ringis Rika mengusap keningnya yang terasa panas.
"Otak mu sudah mulai pintar ternyata. Tapi pintar membodohi orang."
"Hehe...," Nyengir, ia merapihkan jas yang sudah terpasang di tubuh Jhon. "Aku belajar dari mu."
"Ck," decak Jhon beralih menatap mobil berwarna biru langit di hadapannya. "Mobil siapa? Aku baru lihat?"
"Ah ini." Rika berbalik memegang body belakang mobilnya. "Ini mobil ku, hadiah dari Papa. Bagus kan?"
"Mobil mu? Jadi kau akan berkendara dengan ini untuk ke kafe?"
__ADS_1
Rika tersenyum berjalan dan membuka pintu mobil bagian kemudi. "Iya, mulai sekarang aku akan mengendarai mobil jadi tak perlu naik kendaraan umum lagi."
"Tidak! Tidak boleh!" Tegas Jhon sedikit menyentak membuat Rika terperanjat berdiri mematung di pintu mobil yang sudah terbuka lebar itu.
"Ke-kenapa?" Gagap Rika lemah.
Jhon menghembuskan napas kasar, melangkah mendekati gadis manis itu. Lalu menarik sebelah tangannya dan menutup kembali pintu mobil. "Kau tidak boleh mengendarai apa pun, jika kau mau keluar berangkat kerja atau main. Aku bisa menjadi supir mu."
"Tapi Jojo, ini pemberian Papa. Dan aku tak mau jika terus merepotkan mu."
"Aku tak merasa di repotkan."
"Lalu kalo aku nggak mengendarai, ini mobil mau di kemanain, masa di jual lagi. Kan sayang pemberian Papa loh Joe. Jadi tak apalah aku mengendarai mobil, lagian aku sudah ahli dan punya sim untuk berkendara."
"Rika!" Sentak Jhon tegas menatap dingin.
Seketika membuat Rika tertegun diam dan menundukkan pandangan. Kenapa dia begini?
Hingga keheningan seperkian detik menguasai kedua nya.
Jhon menghela napas panjang, memegang kedua bahu Rika ikut menundukkan kepala merasa bersalah. "Baiklah." Terdengar parau terselip kesedihan dari ucapan Jhon.
Rika mendongak menatap dengan mata sedikit melebar senang. "Itu artinya aku boleh berkendara?"
Terdengar helaan napas pelan dari Jhon sebelum berucap, ia menatap cemas dan takut pada gadisnya. Kemudian ia mengangguk pelan mengiyakan. "Sekarang kita berangkat ke kafe."
"Hemm." Rika mengangguk semangat. "Jojo mau bareng aku." Menarik kembali pintu kemudi mobil.
"Iya." Mengusap sebelah pipi Rika dengan pelan. Terlihat sorot mata tak rela penuh kecemasan dari Jhon. Setelahnya Rika menduduki kursi kemudi dengan senang.
"Pakailah sabuk pengaman mu, dan berkendara dengan pelan, hati-hati." Yang dibalas anggukkan kepala.
Rika memakai seat belt kembali menatap Jhon. "Aku sudah siap."
"Hemm." Jhon mengusap puncuk kepala Rika lalu menutup pintu mobil, ia melangkah keluar pagar menuju mobilnya dengan perasaan hati di liputi kekhawatiran dan ketakutan.
Semoga baik-baik saja, aku hanya takut kejadian yang menimpa Sanny terulang kembali dan merenggut dia dari hidup ku.
"Gadis bodoh." gumam Jhon menoleh sejenak pada mobil biru yang sudah melaju keluar area rumah. Lalu ia memasuki mobil nya.
Tin... tin.
Jhon segera ikut menyusul melajukan mobilnya untuk membuntuti mobil biru langit itu.
Di dalam mobil biru langit.
Rika berkendara dengan riang sembari bernyanyi mengikuti suara penyanyi dari musik yang di setelnya. Karena jalanan terlihat lengang cukup sepi, ia sengaja menambah kecepatan laju mobil ketingkat sedang. Namun langkahnya itu salah saat ponsel yang berada di dashboard berdering nyaring.
"Haish siapa yang telepon," Gerutu Rika mengecilkan volume musik dan memasang earphone ke telinga.
"Hallo." Sapa Rika menatap fokus ke depan.
"Turunkan kecepatan mobil mu." Suara pria yang di kenal Rika memerintah dengan nada tegas nan dingin.
"Hah! Tapi kan ini sudah batas minimun loh. 60 km/jam."
"Turunkan, atau berhenti."
Si Jojo kenapa sih kok jadi ngatur gini setelah melamar ku? Alis Rika tertaut sebal, ia akhirnya menuruti menurunkan kecepatannya. "Sudah."
"Fokus ke depan dan matikan musik."
"Apa pengaruhnya musik yang di dengar telinga sama mata melihat ke depan."
"Gadis bodoh." Terdengar geraman dari suara Jhon.
Huft... menghela napas pelan mencekal erat pada kemudi mobil. "Ya, iya baiklah aku matikan musik nya."
Dan tidak terdengar lagi perintah dari Jhon yang panggilan telepon nya masih tersambung menyala, hingga selama perjalanan Rika berkendara di penuhi perintah dari Jhon saat ia mulai kembali menambah kecepatan laju nya.
Sampai beberapa saat kemudian kedua mobil itu telah melaju lambat untuk berparkir di area depan kafe brandal milik Annisa.
Rika keluar dari mobil yang langsung di sambut oleh Rayhan yang baru keluar dari mobil merah yang kebetulan terparkir di sampingnya.
"Wah, wah... Mak. Kagak ketemu seminggu udah punya mobil aja lo. Dapet darimana nih, rampok apa begal?"
__ADS_1
"Sembarangan aja kalo ngomong, dapet dari yang halal lah, gue kan anaknya rajin menabung." Bangga Rika sembari membuka bagasi.
"Menabung dimana? Di wc?" Celetuk Ray di sertai kekehan geli.
"Malas ladenin lo." Ketus Rika melirik malas. "Bantuin nih bawa ke dalem."
"Ah, siap lah." Ray menghampiri untuk bergabung.
Sedang Jhon setelah keluar dari mobil langsung mendapati panggilan dan sejenak menjauh dari mereka berdua.
Saat Rika mengambilkan kotak kue untuk di keluarkan, Ray tak sengaja melirik jemari tangan Rika yang terselip cincin putih yang berkilau. Ia tersenyum pahit nan kecut. "Ternyata benar kata si Egi. Lo udah di lamar oleh si Jhon tua."
Rika tersenyum melebarkan telapak tangan yang terdapat cincin. "Bener nih buktinya." Memperlihatkan cincin dengan senyuman lebar.
"Pameeer." Sinis Ray menurunkan tangan Rika dan di genggamnya.
Rika tertawa menarik tangannya yang di genggam beralih merapihkan kembali kotak-kotak kue. "Tapi kok lo tau, padahal gue belum cerita deh sama siapa pun kecuali sama Papa."
Ray melambaikan sebelah tangan pada pegawai kafe agar menghampirinya. "Karena gue sudah sehati sejiwa sama lo." Ucapnya tersenyum mengedipkan sebelah mata.
"Ck, kumat lagi jiwa playboy nya." Rika menyodorkan setiap susunan kotak ke para pegawai untuk di bawa ke dalam.
Ray tertawa pelan, ia mengusap gemas puncuk kepala Rika. "Gue nggak playboy gue setia hanya pada satu wanita."
"Yayaya, modus jangan sama gue. Gak bakal mempan." Manggut-manggut tak acuh sembari merapihkan kotak untuk di susun. "Oh, iya. Annisa udah dateng belum?"
"Lagi di perjalanan kata nya." Mengambil susunan kotak untuk di berikan pada pegawai.
"Asyila?"
Seketika gerakan tangan Ray terhenti sejenak, ia menghela napas pelan. "Gue kagak tau, emangnya gue bapaknya."
"Ya lo kan Kakak angkatnya, banci."
"Sudah selesai." Jhon bersuara yang baru datang bergabung dengan keduanya.
"Kagak lihat masih berjibun gini nih kotak, malah nanya sudah selesai. Abang buta yah?" Sahut Ray ketus.
"Ray." Peringatan Rika menatap sebal yang membuat Ray diam pura-pura sibuk merapihkan kotak.
Jhon melirik sinis pada Ray lalu ia beralih menatap Rika dengan tatapan hangat. "Aku ada pertemuan penting di kota X, tak apakan di tinggal mungkin sore atau siang baru bisa kemari."
Rika mengangguk mengiyakan. "Tak apa, kabari aku saat sudah sampai sana."
Tangan Jhon terulur mengusap pipi mulus Rika dengan lembut. "Jangan terlalu dekat dengan bocah tengik ini, nanti kau ketularan tidak waras."
"Huh, abang tuh yang gak waras. Kempesin ban mobil gue ampe semuanya."
"Itu karena kamu pantas di hukum atas kesombongan mu, bocah."
"Yang sombong sapa yang ngajak sombong sapa. Kan abang sendiri yang ngajak sombong."
Rika terkikik geli melihat perdebatan kedua nya. "Jojo, Ray. Sudah ih, malu di lihatin para pegawai."
Jhon menatap gadis manis di hadapannya sedang Ray sudah mendengus kesal membuang muka ke arah lain.
"Aku berangkat sekarang," kembali mengusap pipi Rika dengan lembut.
"Ck, jangan sok manis lah bang di depan gue yang jomblo." Sindir Ray.
"Bilang aja IRI," ketus Jhon menatap sebal.
"Humph...," dengus Ray lalu berbalik. Emang iri karena lo bisa dapetin si Mak, panas bang hati gue tuh.
"Cepet masuk Mak, lo harus ganti kostum, acara amal sudah mau di mulai." Ujar Ray sambil lalu.
"Iya banci, bawel amat dah." Timpal Rika kesal kemudian beralih menatap Jhon dan tersenyum.
"Jaga diri mu baik-baik selama aku pergi." Ucap Jhon yang di balas anggukkan kepala, lalu ia berbalik berjalan ke arah mobil nya.
Rika melambaikan sebelah tangan pada pria yang sudah membuka kan pintu mobil.
"Maaak." Teriak Ray yang lantang dari kejauhan.
"Iya, iya bawell." Sahut Rika berbalik dan melangkah menghampiri.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...