Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 33


__ADS_3

Di pertengahan malam.


"Emmh," igau Annisa menggerakkan kepala, lalu tangannya bergerak bebas hingga jatuh dalam pangkuan suaminya.


Egi yang kala itu masih terjaga mengerjakan pekerjaan kantor, ia melirik Annisa dan membelai rambutnya dengan lembut.


Merasakan sentuhan tangan yang lembut, perlahan pejaman mata Annisa terbuka yang langsung bersirobok dengan cahaya terang dari layar laptop. "Egi," ucapnya serak dan parau.


Sontak pergerakan jemari tangan yang tengah membelai rambut Annisa, juga yang menari di atas keyboard laptop terhenti. Ia menoleh pada Annisa. "Sayang, kau bangun?"


"Haus," rengek Annisa masih dengan suara serak.


Segera Egi mengambilkan gelas minum dari atas meja nakas. "Bangunlah," Dia membantu Annisa untuk terbangun dengan merangkul pinggangnya, lalu menempelkan bibir gelas ke bibir istrinya hingga langsung di teguk air nya sampai habis setengah.


Egi mengusap pelan, mata Annisa yang menyipit khas bangun tidurnya. "Malam masih panjang, tidur lagi."


Menggelengkan kepala. "Nggak mau tidur," Annisa membuka mata nya lebar-lebar. "Aku ingin makan mie ayam."


Alis Egi berkerut bingung, ia melirik jam weker di atas meja nakas yang menunjukkan pukul sebelas malam. "Sayang, tapi ini sudah larut malam, mana ada tukang mie ayam yang buka jam segini."


Annisa memberenggut sebal seakan menangis. "Tapi aku pengen makan mie ayam sekarang, mie ayam yang dekat dengan kampus ku dulu."


Egi menghembuskan napas kasar, ia terdiam sejenak menundukkan pandangan.


Apakah ini yang di namakan ngidam? Kalau begitu aku harus mau tak mau mengabulkannya.


Annisa menggoyangkan lengan Egi dengan manja. "Apa kau tidak mau membelikannya? Aku ingin makan mie ayam di kedai Pak Toto yang dekat kampus ku dulu."


"Sayang," seru Egi menatap diam.


Apa iya kedai itu masih buka jam segini?


"Kalau kamu tidak bisa, ya sudah. Aku bisa pergi sendiri." Ucap Annisa, sambil menyingkapkan selimut.


"Sayang!" Ujar Egi menarik lengan Annisa. Sehingga pergerakannya terhenti. Dia menatap diam sejenak, dan menghembuskan napas pelan. "Baiklah, aku akan membelikannya untuk mu. Sekarang kau tidur kembali," pasrah Egi menyelimuti kembali tubuh istrinya, kemudian beranjak untuk turun dari ranjang.


Annisa tersenyum girang, memegang sebelah tangan Egi yang sudah berdiri di sisi ranjang. "Kalau aku ikut boleh."


"Tidak boleh!" Seru Egi cepat.


Terlonjak kaget dengan sentak an Egi. "Ka-kamu marah sama aku, gara-gara di suruh beli mie ayam."


Segera Egi mendekat kembali dan menangkup sisi wajah Annisa. "Sayang, bukan begitu, hanya saja sudah larut malam, tidak baik untuk seorang ibu hamil terkena angin malam. Jadi kau di rumah saja," tuturnya lembut sembari mengusap pelan kedua pipi gadis cantik di hadapannya.


Annisa mengerjapkan mata nya beberapa kali. Ia mengangguk patuh.


"Ya sudah, aku pergi dulu sayang. Jika kau merasa mengantuk, tidurlah dulu," ucap Egi mengecup cukup lama kening istrinya.


"Hemm, hati-hati saat membawa mobil nya." Yang di balas anggukkan kepala, setelahnya Egi berbalik berjalan menuju ruangan walk in closet. Ia mengambil mantel panjang yang tergantung di lemari, lalu berjalan keluar sembari mengambil kunci mobil yang tergantung di tempatnya.


"Sayang, jangan keluar kamar selangkah pun. Sebelum aku kembali memasuki kamar ini." Ucap Egi sebelum keluar kamar.


"Hemm," gumam Annisa mengangguk kecil.


--------------------------------------


Mobil putih itu sudah melaju berputar bolak balik di jalanan sekitar kampus kebidanan, hingga akhirnya terparkir di sebuah pusat perbelanjaan yang buka 24 jam.


Seorang pria tampan, yang berada di dalam mobil tersebut, sudah berapa kali menghembuskan napas kasar mendesah kecewa. Ia memegang stir dengan kedua tangannya, menjatuhkan kening pada stir mobil.


"Sudah mencari kedai itu di sekitar sini selama setengah jam, tapi tak ada kedai mie ayam Pak Toto. Sayang, kau menyiksa ku."


Di saat merenung, terlintas dalam pikirannya untuk menghubungi seseorang. Segera Egi merogoh ponsel yang berada di saku mantel, lalu mendial nomer untuk di teleponnya.


"Hallo, ada apa tuan menelpon tengah malam begini?" Suara serak khas bangun tidur dari sebrang telpon.


"Jhon, segera hubungi temannya Annisa untuk menanyakan kedai Mie Ayam yang biasa Annisa kunjungi, selain kedai Pak Toto. Aku tak punya nomer ponselnya jadi kau hubungilah untuk menanyakannya."


"Hah! Kenapa tuan bertanya soal makanan di larut malam begini? Tak ada kedai mie yang buka jam 12 malam lewat begini."


"Ayolah Jhon, Annisa mengidam ingin mie ayam. Cepat hubungi aku setelah mendapatkan kabar darinya." Egi memutus panggilan secara sepihak.


"Semoga tidak lama, si Jhon mendapatkan infonya." gumam Egi menghembuskan napas panjang, lalu kembali melajukan mobil nya untuk mencari kedai mie Ayam yang masih buka.


Di Rumah Rika.


Dalam sebuah kamar yang gelap temaram, seorang gadis manis tertidur cantik di bawah selimut, ia menggeliat pelan mengganti posisi tidurnya berbalik ke kiri.


Kriing...kriing.

__ADS_1


Suara ponsel berdering nyaring di atas meja nakas, membuatnya sedikit terusik dari mimpi indahnya dan dengan mata masih terpejam linglung dalam tidurnya, ia meraba-raba malas ke sekitar meja nakas untuk mengambil ponselnya dan meletakkannya ke atas telinga.


"Assalamualaikum," salam Rika dengan suara serak lemah dan mata terpejam.


"Walaikumsalam, gadis bodoh." Suara pria yang sangat ia kenal dari sebrang telepon membuat gadis itu mengernyitkan alis namun masih memejamkan mata lelap.


Tersenyum bahagia. "Ah, Jojo. Kau datang dalam mimpi ku juga. Hemm, indahnya mimpi ku di datangi olehmu."


"Hey, kau mengigau yah gadis bodoh."


Rika terkikik geli, memeluk boneka keropi namun mata masih rapat terpejam belum tersadar dari mimpi nya. "Jojo, meskipun dalam mimpi kenapa kau masih sama berlidah tajam. Panggil aku gadis manis atau gadis cantik milik mu."


Jhon mendesah tersenyum kecil, ia memijit pangkal hidungnya. "Bodoh, sadarlah ini aku nyata, bukan mimpi."


Rika masih enggan membuka mata nya, dan masih menganggap semua itu adalah mimpi. "Aah Jojo, jangan mengacaukan mimpi ku. Karena ini mimpi kau harus menuruti mau ku." Celotehnya, dengan suara kecil nan manja.


Jhon di sebrang telepon menggeleng beberapa kali, dan tersenyum geli. Dasar gadis bodoh...


"Baiklah, apa yang kau inginkan dari ku."


"Aku ingin kau membawa ku dan menik-"


Nut...nut.


Panggilan telepon itu berakhir.


"Menik? Menik apa, gadis bodoh?" Seru Jhon bertanya-tanya. Ia melihat layar ponselnya yang sudah meredup.


Hah... menghembuskan napas kasar, ia kembali mendial nomer Rika namun hanya jawaban dari operator yang mengatakan jika nomer itu sedang dalam luar jangkuan.


"Sepertinya ponselnya mati," Jhon tersenyum geli, menatap layar ponselnya. "Gadis bodoh ini, ia ingin aku melakukan apa? Menik, menik, menik apa? Apa maksudnya menikmati makanan? Atau menikmati pemandangan?" Bingung Jhon memutar ponsel dalam genggamannya.


"Aarrgh, aku lupa menanyakan poin utama dari si Egi. Biarkan saja kali yah sudah lewat juga," Jhon tersadar dengan tujuan ia menelpon Rika.


--------------------------------------


Di dalam mobil Sport Putih.


Egi menatap layar ponselnya dengan pandangan tajam yang penuh dengan sorot mata amarah. Karena di biarkan menunggu hingga 15 menitan lama nya, masih saja tidak ada kabar dari orang yang di suruhnya tadi.


"Aarrgh, Jhon kau kemana. Sial, awas kau Jhon. Aku akan mencabik mu jika bertemu." Geram Egi, menekan tombol untuk mendial seseorang.


Terlihat Egi terdiam sejenak mendengar jawaban dari wanita di sebrang teleponnya.


"Mie Ayam, Bi! Mie Ayam! Jadi pakai daging Ayam bukan daging sapi! 15 menit saya sampai di sana. Jangan membuat keributan yang membangunkan orang rumah, terutama Ayah." Setelah mengucapkan perintah itu, Egi mematikan panggilannya lalu melempar ponselnya ke dashboard dengan perasaan kesal.


"Si Jhon benar-benar tidak bisa di andalkan. Annisa pasti sudah kelaparan, hah sial, menyita waktu ku saja si Jhon," oceh Egi mulai menyalakan mesin mobil untuk melajukannya.


Sesampainya di Rumah Putra.


Egi langsung keluar mobil, dan berlari dengan sedikit tergesa memasuki rumahnya, menuju dapur utama.


"Malam Tuan Egi." Sapa Bi Ane juga beberapa pelayan dan para koki membungkukkan setengah badan


sebagai tanda hormat.


Egi mengabaikannya langsung melewati begitu saja, berjalan menuju meja makan yang sudah tersedia semangkuk besar mie Ayam.


"Bungkus dalam mangkuk makan biasa yang biasa dari kedai!"


"Maaf tuan, seperti apa jenis mangkuk dari kedai biasa itu?" tanya Bi Ane.


Egi mengusap kasar wajahnya dengan sebelah tangan. Aku bahkan tidak tahu bentuk mangkuk nya seperti apa.


"Sudahlah, bungkus dalam plastik makanan saja. Cepat! Istriku sudah kelaparan menunggu lama."


"Baik tuan," seorang koki maju untuk membungkus semangkuk besar mie Ayam itu ke dalam plastik makanan berwarna putih.


Selang beberapa menit.


"Silahkan tuan," menyodorkan beberapa bungkus mie Ayam.


Egi mengambil bungkusan itu dan menelisiknya sampai di putar-putar. Apa ini sudah mirip mie Ayam dari warung-warung biasa?


Hah... menghembuskan napas kasar, Egi memasukkan 3 bungkus mie Ayam itu ke dalam paper bag bekal.


"Hey, salah." Mengeluarkan kembali bungkusan mie ayam dari dalam paper bag. "Kantung, kantung kresek mana?"


"Hah! Kresek?" Bingung para koki.

__ADS_1


"Iya! Kantung kresek yang tipis dan berwarna warni itu. Cepat aku membutuhkannya!"


"Ah, baik tuan, akan kami cari?" Segera beberapa koki sibuk membuka beberapa lemari yang berada di dapur.


Beberapa menit kemudian para koki kembali dengan tangan kosong dan menundukkan pandangan.


"Mana!" Geram Egi.


"Maaf tuan kami tidak mempunyai kantung kresek yang di maksud tuan. Hanya ada kantung plastik yang berukuran besar saja."


Hah... dengan kasar Egi menghembuskan napasnya, ia melirik kembali bungkusan mie Ayam dan dengan terpaksa memasukkannya ke dalam paper bag bekal.


"Baiklah, jangan katakan apa pun pada Ayah jika aku mampir kemari tengah malam." Ucap Egi sambil lalu berjalan meninggalkan sekumpulan orang itu.


"Baik tuan." Serempak mereka menundukkan kepala.


Dari sebuah ruangan yang dekat dengan dapur, keluarlah seorang pria paruh baya yang di kawal beberapa pengawal di belakangnya. Dia tersenyum menatap pintu keluar yang menghubungkannya ke basement. "Sepertinya menantu kedua ku sedang mengidam. Hehe, anak itu harus merasakan rasa nya di repotkan." Ayah Putra berucap di akhiri kekehan geli.


------------------------------------


Di Rumah Annisa.


Egi memarkirkan mobilnya di garasi rumah yang berlantai dua itu. Ia langsung keluar mobil berhambur melangkah cepat menuju pintu kembar rumahnya.


Sambil menenteng paper bag berisi mie ayam, ia mengambil peralatan makan lengkap sebotol air putih sebelum berjalan menaiki anak tangga menuju kamar.


Ceklek.


Ia membuka pintu kamarnya dengan pelan, lalu masuk ke dalam kamar. "Sayang," panggil Egi membalikkan badan melihat ke arah ranjang yang ternyata sang istri sudah terlelap dengan posisi


setengah terduduk menyender ke kepala ranjang.


Egi tersenyum, menyimpan bawaan tangan ke atas meja sofa. Lalu melangkah mendekati ranjang dan duduk di sisi ranjang. Ia mengusap lembut pipi mulus Annisa. "Sayang, bangunlah. Mie ayam nya sudah ada."


"Hemmh," igau Annisa menggerakkan kepala, dan perlahan membuka mata nya. "Egi, kau sudah pulang," ucapnya serak.


Egi mengangguk kecil mengecup kening juga kedua mata istrinya. "Bangunlah, bukannya kamu ingin mie Ayam. Aku sudah membelikannya."


"Benarkah kamu mendapatkan mie ayam nya?" Annisa bertanya dengan tatapan sayu yang tidak percaya.


"Iya, lihatlah di atas meja." Mengedikkan dagu ke arah meja.


Annisa menyingkap selimut, dan menjulurkan kedua kaki ke bawah untuk turun dari ranjang di bantu oleh Egi. Kemudian ia berjalan dan duduk di atas sofa panjang.


"Eh, kok pakai paper bag bukan kantung plastik?" Bingung Annisa sambil membuka isinya dan mengambil satu bungkus mie ayam. "Dan di bungkus dengan plastik bukan mangkuk."


Apa benar ini mie Ayam dari kedai Pak Toto? Kok janggal yah?


"Karena terlalu malam beli nya, jadi di berikan bungkus seperti itu, sayang." Alasan Egi sembari melepaskan mantel dari tubuhnya untuk menyelimutkan ke kaki Annisa yang terbuka.


Annisa menumpahkan mie Ayam itu ke dalam mangkuk. "Egi, kamu membeli berapa bungkus untuk siapa?" tanyanya, dengan gerakan tangan mengaduk mie.


Egi beranjak mengambil ikat rambut dari atas meja nakas dan kembali duduk di samping istrinya. "Untuk mu semua, sayang." Sahut Egi sembari menyisir rambut panjang Annisa dengan jemarinya untuk di ikat.


Annisa menghirup aroma mie Ayam itu sebelum menyuapkannya ke mulut. Aromanya kok beda, ini lebih harum dari biasanya. Mungkin resep baru.


Alisnya mengernyit heran, saat suapan pertama memasuki mulutnya dan mencecap rasa mie itu.


Eh, kok rasa nya beda. Nggak seperti mie ayam buatan Pak Toto.


"Gimana? Enak sayang?" Egi mengusap sudut bibir Annisa yang basah oleh kuah.


Annisa tersenyum kepaksa, mengangguk mengiyakan.


Lebih baik aku iya in aja. Kasihan suami bocah ku sudah mencari hampir 3 jam lama nya hanya mencari mie ayam.


Egi menghela napas lega, dan mengusap puncuk rambut istrinya. "Syukurlah jika kau suka, habiskan semua nya."


Menyuapkan kembali satu sendok mie ke dalam mulut dan melirik dua bungkus juga semangkuk mie dalam pegangan tangannya. Annisa speechless mengunyah makanan dalam mulutnya.


Dia mau membuat ku gendut dengan makan mie sebanyak ini tengah malam.


Egi tersenyum, masih menatap lekat wajah istrinya.


Syukurlah dia nggak curiga jika mie itu bukan mie buatan kedai Pak Toto.


BERSAMBUNG...


Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...

__ADS_1


__ADS_2