
Mentari pagi mulai naik kepermukaan bumi menghangatkan makhluk hidup di bawah langit berhiaskan bayang-bayang benda yang terpantulkan oleh cahayanya.
Di perusahaan Putra Grup.
Dalam ruangan kerja yang luas, elegan dan mewah. Tampak seorang pria tampan tengah terduduk di kursi kebesarannya di balik meja di temani oleh seorang wanita cantik berbalut hijab warna senada dengan jas yang di pakai pria tampan itu. Wanita itu sibuk menatap sebuah buku cerita dengan mulut tak henti nya memasukkan camilan makanan.
Tok...tok.
Suara pintu di ketuk dari luar mengalihkan Annisa dari buku.
"Masuk."
Jhon memasuki ruangan dengan menenteng sebuah berkas, sejenak ia melirik pada wanita cantik yang tersenyum ramah padanya.
"Tumben kau mengetuk pintu terlebih dahulu. Biasanya nyelonong aja kayak ayam."
"Biar terlihat sopan dan berkarismatik di depan Nona Annisa." Sahut Jhon.
"Cih," decih Egi.
"Pantas di luar sedang ada keributan. Ternyata ada dalangnya si Nona Annisa adik angkat." Seloroh Jhon sambil berjalan ke arah meja kerja.
"Kak Jhon, saya dengar akan ke rumah sakit?" Annisa menimpali dengan mulut bergerak mengunyah makanan.
Tersenyum, Jhon meletakkan berkas ke atas meja dan berbalik menghadap pada wanita yang terduduk di sofa. "Apa berita tentang saya begitu terkenal sampe Nona pun mengetahui nya?"
"Ck," decak Egi menggoreskan tulisan pada kertas yang tengah di pegangnya. "Jelas Annisa mengetahuinya, aku suami nya." Timpalnya tanpa mengalihkan pandangan.
"Dan Rika adalah sahabat saya." Sambung Annisa.
Terkekeh melirik pria tampan di balik meja. "Ckckck, kerja sama yang bagus." Jhon menghela napas pelan, mengetuk pelan pada meja. "Izin sudah dapat izin juga sudah, giliran aksi nya saja."
"Hemm." Gumam Egi, melemparkan berkas lain ke bagian meja yang kosong. "Keluar, dan berikan berkas itu ke direk perencanaan."
"Sudah izin cuti pun masih saja di suruh kerja." Gerutu Jhon mengambil berkas, ia berbalik melangkah menuju pintu keluar.
Annisa tertawa pelan melihat wajah cemberut Jhon. "Semoga sukses Kak Jhon." Yang di balas kedipan sebelah mata dan senyuman.
Sepeninggalan Jhon berganti dengan seorang pria berjas rapih memasuki ruangan.
__ADS_1
Pria itu berdiri tidak jauh dari meja dengan sebelah tangan mengapit sebuah berkas di sisi badan, ia menundukkan kepala sebagai hormat.
"Tuan muda kedua."
Egi mengangkat wajahnya menatap pria itu, ia berdehem sejenak kemudian beranjak dari duduknya keluar area meja. Dia menghampiri sang istri yang tengah asyik membaca buku dan ngemil.
"Sayang, sepertinya kaki mu pegal kalo duduk di sofa ini. Gimana kalau di kamar, disana bisa sambil tiduran juga." Bujuk Egi mengusap puncuk kepala terbalut kerudung.
Annisa mendongak menatap dengan mata memicing curiga pada wajah tampan itu. Apa yang kamu sembunyikan dari ku? Sampai aku di suruh pindah.
Egi yang mengerti arti tatapan mata juga isi pikiran istrinya, ia tersenyum membungkukkan tubuhnya untuk mengecup kedua pipi gembil kemerahan Annisa. "Aku tak menyembunyikan apa pun dari mu, ini hanya masalah pekerjaan yang cukup sensitif."
Menghela napas pelan, Annisa membuang muka menatap lurus. "Tunjukkan dimana kamar istirahatnya," ucapnya beranjak dari duduk mengambil beberapa buku dari atas meja. "Dan bawakan snack ku."
Egi merangkul bahu Annisa dan menggiringnya ke arah sebuah pintu tunggal bercat putih dekat hiasan dinding. Sampai dua balikkan ia keluar masuk kamar hanya untuk membawakan snack camilan istrinya.
Setelah beberapa saat. Egi keluar dari kamar memasang wajah dingin melangkah ke arah meja kerja dan duduk. Ia menatap serius pada pria yang masih berdiri di tempatnya.
"Tunjukkan apa yang kau bawa."
Leon maju beberapa langkah meletakkan berkas ke atas meja. "Saya telah menyelidikinya soal dokter perempuan yang sempat menerobos ke ruangan Nona Annisa. Dia masih anggota keluarganya."
Egi membuka setiap lembar kertas itu, mengamati gambar yang terpampang. "Gila, tak tahu di untung rupanya." Egi mengangkat wajahnya menghembuskan napas kasar menatap dingin.
"Baik, tuan muda kedua."
Mengangguk tipis, Egi mengaitkan jemari tangan dan menyikunya ke atas meja ia memberikan tatapan isyarat mata tajam sebagai tanda bahwa Leon sudah boleh pergi.
Leon yang mengerti menunduk hormat, ia berbalik melangkah keluar ruangan.
Setelah kepergian Leon, Egi kembali memasuki kamar melihat apa yang di lakukan istrinya di dalam.
Terlihat Annisa tengah menonton televisi duduk selonjoran di sofa panjang ujung ranjang dengan kaki di atas meja juga snack menumpuk di setiap sisi tubuh dan atas meja.
Menggelengkan kepala beberapa kali. Egi melihat sekeliling kamar yang berantakan oleh bantal guling, dua bantal, yang sudah berserakan di atas karpet bawah ranjang. Juga sampah snack bekas ngemil yang menumpuk di bawah sofa.
Dia habis ngapain? Padahal di tinggal hanya sebentar tapi kamar sudah hancur bergini.
Egi mendekati sang istri menyingkirkan beberapa pack snack agar bisa duduk di sampingnya. "Nonton apa?" tanyanya, merangkulkan tangan ke bahu Annisa.
__ADS_1
Annisa menyuapkan keripik kentang ke mulutnya. "Film action," melirik sekilas pada pria yang bertanya. "Sudah selesai kerjaannya?"
"Hemm." Kemudian Egi merampas bungkus snack dari pegangan Annisa.
"Egi." Pekik Annisa menatap sebal.
Egi melemparkan bungkus snack itu ke atas meja. "Kau sudah memakan begitu banyak makanan sampah hari ini, jadi sudah hentikan jangan di teruskan lagi."
Annisa tak memperdulikan ucapannya, ia mengambil pack yang baru untuk di buka nya. Namun lagi-lagi di rampas kasar.
Menatap geram, "aku masih ingin ngemil."
Kembali melemparkan setiap bungkus snack yang berada di sekitar Annisa agar menjauh tidak terjangkau. Kemudian Egi memerangkap kedua tangan sang istri untuk di cekalnya. "Tidak baik untuk kesehatan tubuh, di tambah ada janin di perut mu jadi kau harus nurut, Annisa!" Sentak Egi tegas tak ada kelembutan lagi dari nada suaranya.
Sontak membuat Annisa diam menatap terpaku. Dia marah...
Hingga seperkian detik keheningan dengan suasana mencekam dari keduanya yang saling tatap terdiam, hanya suara televisi mewakili sekitar.
Grep.
Egi menarik dan merengkuh tubuh Annisa ke dalam pelukannya. Ia menghembuskan napas kasar, mempererat dekapannya ke tubuh Annisa seakan takut hilang. Memejamkan mata dan mencium bahunya. "Maafkan aku Annisa, maafkan aku." Gumam Egi terdengar serak nan parau di telinga Annisa.
Kedua tangan Annisa perlahan terangkat untuk di kalungkannya ke punggung tegap itu, ia menepuk pelan membalas pelukannya. "Kenapa kau terlihat kacau? Apa ada masalah Egi? Jangan sembunyikan apa pun dari ku lagi seperti dulu."
Egi terdiam tak menjawab, ia semakin mempererat pelukannya dengan sesekali menghembuskan napas kasar. Hingga beberapa menit keduanya terdiam dengan saling berpelukan.
"Sayang, kamu ingin makan apa? Jangan ngemil makanan seperti itu lagi." Egi memulai pembicaraan sambil melonggarkan pelukannya.
"Aku ingin keliling kantor, dan sekaligus makan di kantin pegawai. Bolehkan?" Bertanya dengan hati-hati dan menatap memohon.
Tersenyum, menangkup kedua sisi wajah dan mengecup bibir Annisa beberapa kali. "Boleh, asal di temani dua bodyguard mu juga sekertaris Leon."
"Kenapa harus di kawal segala? Kan ini kantor mu."
Egi kembali memeluk tubuh Annisa dan mengusap puncuk kepalanya. Karena nyawa mu dalam bahaya jika jauh dari pandangan mata ku.
Annisa melirik ke atas yang menampilkan rahang tegas sang suaminya. Ia menghela napas panjang mengetuk-ketuk pelan dengan telunjuk pada dada Egi.
Dia bersikap aneh, setelah berbicara dengan pria tadi. Sepertinya ada yang di sembunyikan dari ku. Tapi apa? Sampai dia tak mau memberitahukannya pada ku.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...