Pejuang Move On

Pejuang Move On
Kesalah Pahaman


__ADS_3

Annisa menghela napas panjang, dan mengalihkan pandangan menatap lurus ke depan. "Bahkan dia tidak setia sehidup semati terhadap ku, aku belum mati sama sekali hanya koma 5 tahun tapi dia sudah menikah lagi... hah," gumam nya, dan mendesah kecewa.


Kenapa nona Annisa mudah percaya saja dengan ucapan saya... tapi sepertinya akan ada pertunjukkan menarik setelah ini.


Jhon menahan tawa nya, melihat ekspresi kekecewaan di wajah Annisa. Lalu...


Ceklek.


Pintu kamar mandi terbuka dan memunculkan Egi yang sudah berpakaian santai yang rapih. Ia baru keluar dari kamar mandi dengan tangan mengusak rambut basah nya menggunakan handuk kecil, dan pandangan menunduk melangkah ke arah ranjang.


Mendengar suara pintu terbuka, Annisa yang sedang menggerutu termenung, sontak menoleh ke arah nya.


"Eg... Egi." Celetuk Annisa menilai penampilan Egi dari atas sampai bawah.


Dia terlihat sama seperti sebelum nya, benarkah ini suami bocah ku yang sudah dewasa? Tapi kenapa wajah dan penampilan nya masih sama seperti dulu tidak ada perubahan sama sekali?


Gerakan tangan Egi yang tengah mengusak rambut terhenti, begitu pun dengan langkah kaki nya ikutan terhenti. Kemudian dengan gerakan perlahan Egi mengangkat kepala nya menatap ke arah suara yang amat di kenal dan sangat ingin di dengar nya.


"Annisa." Mata Egi melebar terkejut, melemparkan handuk kecil yang ada di pegangan tangan nya ke sembarang, dan segera berhambur mendekat ke arah ranjang. "Annisa? Sayang? Kau sudah sadar?" Seloroh Egi lalu merangkul dan memeluk tubuh Annisa cukup erat.


Apa segitu bahagianya kau melihat ku terbangun dari koma, agar bisa mengajukan perceraian dengan mudah.


"Eg... egi, jangan terlalu erat, aku tidak bisa bernapas, dan jangan menyentuh kepala ku rasa nya berdenyut sakit," oceh Annisa dalam dekapan Egi.


Egi melepaskan pelukan nya dan menangkup sisi wajah annisa dengan kedua tangan. "Maaf, aku terlalu bahagia melihat mu membuka kan mata. Bagian mana yang sakit? Tunjukkan pada ku sayang?" tanya Egi sambil menggerak gerakan kepala Annisa yang ada di tangkupan tangan nya.


Hati ku yang terasa perih Egi, membayangkan mu memeluk wanita lain seperti ini saja membuat hati ku rasa nya seperti teriris.


Annisa memegang jemari Egi yang ada di sebelah pipi nya. Lalu menarik sebelah tangan egi dan menurunkan, meletakkan nya ke dada. "Bagian ini yang lagi sakit," ucap Annisa menunduk kan pandangan.


Jhon yang berdiri di belakang Egi menahan tawa nya, asyik menyaksikan drama di depan nya.


Alis Egi menaut bingung melihat daerah yang annisa tunjukkan.


Bukannya yang cedera itu kepala nya kenapa yang di tunjukkan Annisa adalah bagian dada.


"Sayang di sini ada yang sakit tidak? Biar ku lihat," tanya Egi menangkup kembali wajah Annisa dan menggerakkan, memeriksa bagian kepala Annisa.


Wajah Annisa telah berubah merah padam tersulut api cemburu juga emosi. Menggigit bibir nya kesal.


"Kau tidak mengerti juga! Aku bilang yang sakit itu hati aku Egi!" ucap Annisa meninggikan suara satu oktaf, lalu melepaskan dengan kasar tangan Egi yang ada di wajah nya, dan mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Hati?" Bingung Egi.


"Iya!" Sahut nya cepat dengan suara menyentak menoleh ke Egi.


Egi terlonjak oleh sentak an suara Annisa yang ketus, dan tatapan penuh amarah dari sorot mata Annisa. "Ada apa dengan mu Annisa? Kenapa kau terlihat begitu marah pada ku?" tanya Egi masih bingung dengan sikap Annisa.

__ADS_1


"Bagimana aku tidak marah padamu Egi!... Kau memadu ku tanpa seizin dari ku! Segitu nya kau tidak sabar menunggu ku dari koma sampai menikah lagi! Meskipun aku koma 5 tahun. Tapi setidaknya kau harus setia menunggu ku dahulu sebelum aku dinyatakan mati baru kau menikah lagi! Aku masih hidup Egi! Hati aku benar sakit Egi... kau bilang kau akan mencintai ku sampai 30 ferbruari itu di adakan dalam kalender! Tapi tanggal itu tidak ada sampai kapan pun... dan kau tidak setia...kau mengkhianatiku...," cerocos Annisa menumpahkan isi hati nya yang sudah terlanjur sakit oleh kesalah pahaman yang di buat Jhon.


Egi terlongo menatap tak berkedip ke arah Annisa, menelan ludah nya kasar mencerna semua yang di tuturkan Annisa. "5 tahun? Menikah lagi?" Beo Egi heran.


Mata Annisa memerah sembab, lalu dengan satu tangan yang tidak di infus Annisa memukul bahu Egi. "Iya! Kenapa kau tega Egi! Padahal aku mencintai mu! Dan kau tidak mencintaiku lagi!" Oceh Annisa, yang sudah di kuasai api cemburu.


"Annisa," Egi menangkap tangan Annisa yang tengah memukul bahu nya. "Sayang lima tahun apa maksud nya? Dan kau koma? Lalu aku menikah lagi kata siapa Annisa? Siapa yang mengatakan hal itu?" tanya Egi menangkup wajah Annisa dengan sebelah tangan.


Annisa menghela napas kasar, lalu mengarahkan bola mata nya melirik ke belakang Egi.


Dan Egi yang melihat lirikan mata Annisa, mengikuti arah pandang nya. Seketika mata egi menajam geram menatap Jhon yang nyengir kuda tanpa merasa bersalah.


"Jhon!" Teriak Egi menggeram.


Jhon memundurkan langkah sambil mengangkat kedua tangan dan melebarkan telapak tangan ke depan. "Se...sepertinya saya akan menyiapkan makanan untuk anda tuan Egi dan Nona Annisa. Saya permisi pamit dulu, untuk mengecek pekerjaan para koki," tutur Jhon tersenyum lalu berbalik, berjalan menuju pintu keluar.


"Mau kemana kau Jhon! Aku belum memukul mu!" Geram Egi, mengkeratkan gigi menatap tajam.


Jhon berjalan cepat ke pintu keluar. "Kabuur," seru Jhon sebelum keluar ruangan.


Egi menghela napas panjang, memejamkan mata sejenak. "Hah... kenapa orang gila itu bisa di pilih Ayah untuk ku," gumam nya kesal.


Lalu kembali menatap Annisa. "Annisa, jangan dengarkan omongan si Jhon tengil itu. Kau telah di bohongi sayang... aku tidak menikah lagi, dan tidak akan pernah. Bagaimana mungkin aku menikah lagi sedangkan hati ku telah terikat kuat oleh mu," ucap Egi mengusap pipi Annisa dengan lembut.


Jadi kak Jhon membohongi ku...


Mata Annisa menengadah menatap Egi. "Be...benarkah? Kau tidak menikah lagi?" tanya Annisa yang di balas anggukkan kepala oleh Egi.


Annisa tersenyum merona mendengar ungkapan Egi, menundukkan kepala, lalu berhambur memeluk Egi. "Terimakasih ternyata kau masih setia pada ku meskipun aku telah koma selama 5 tahun," gumam Annisa dalam dekapan Egi.


Alis Egi terangkat sebelah, dan usapan pelan di punggung Annisa terhenti. "Annisa, kau tidak koma bahkan sampai 5 tahun begitu."


Annisa mendongak menatap Egi. "Tapi kak Jhon bilang aku telah terbaring di sini selama 5 tahun."


Egi menggertakkan gigi nya geram dan menolehkan kepala ke arah belakang. "Jhon! Kenapa kau meracuni otak istri ku! Tunggu hukuman mu Jhon!" Teriak Egi menggema di dalam ruangan.


Annisa terkekeh pelan, menutup telinga nya. "Jangan teriak teriak gitu Egi, ini rumah sakit. Orang lain bisa terganggu." Lalu melepaskan diri dari pelukan Egi dan kembali merebahkan punggung nya ke ranjang.


"Terus sebenarnya aku terbaring tak sadarkan diri di sini berapa lama?" tanya Annisa melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 10 malam.


Egi mengambil ponsel di atas meja nakas dan menyalakan layar nya untuk menunjukkan angka jam, tanggal, bulan dan tahun ke Annisa. "Kau terbaring sekitar setengah harian, bagaimana bisa dikatakan koma 5 tahun. Si Jhon benar benar kelewatan." Kesal Egi.


Annisa tertawa pelan menutup bibir nya. "Kak Jhon memang suka becanda, nyebelin... hampir saja aku kemakan omongan nya."


Egi meletakkan kembali ponsel nya, lalu mendekat, menangkup wajah Annisa dan akhirnya melabuhkan bibir nya mengecup kening Annisa cukup lama. "Jangan terluka lagi sayang," ucap Egi.


Annisa mengangguk kecil dan tersenyum. "Kau harus menjaga ku terus agar tidak terluka."

__ADS_1


Tersenyum dan mengusap pipi Annisa. "Tentu," ucap nya.


Ceklek.


Pintu kamar di buka.


Dua orang perawat dan dokter Erika memasuki kamar Annisa.


"Nona Annisa waktu nya pemeriksaan." Instruksi dokter Erika sambil melangkah.


Egi menghela napas panjang menatap Annisa sejenak. "Kau di periksa dulu, jika ada yang sakit keluh kan pada nya. Aku memantau mu di sofa," ucap nya yang di balas anggukkan kepala oleh Annisa. Lalu Egi berjalan ke arah sofa.


Dokter Erika berjalan menghampiri ranjang dengan ulasan senyum ramah ke arah Annisa. "Malam Nona Annisa," sapa nya.


Annisa membalas tersenyum ramah. "Malam juga dok," jawab nya.


Dokter Erika telah memasang Earpieces stetoskop ke telinga nya dan mulai memeriksa Annisa. Sementara dua perawat wanita melakukan tugas nya, melihat keadaan luka luka yang terdapat di tubuh, kepala Annisa dan memeriksa selang infus juga kantung infusan nya.


"Nona, Apakah ada yang sakit sekitar luka kepala?" tanya dokter Erika sambil memeriksa denyut nadi juga bola mata Annisa.


Annisa menggelengkan kepala sebagai jawaban tidak. "Hanya pusing dan sedikit buram saja saat melihat, dan perut ku sed ...," ucapan Annisa terhenti dan tangan nya langsung bergerak memegang kepala nya yang terasa sakit berputar. "A... hiisss," desis Annisa merasakan gejolak pusing, pandangan kabur kembali.


Egi beranjak dari duduk nya dan berhambur melangkah mendekati ranjang. "Annisa apa yang terjadi?" Panik Egi yang sudah berdiri di samping ranjang menyingkirkan dokter Erika dari dekat Annisa.


Egi merangkul bahu Annisa, lalu melirik tajam ke dokter Erika. "Anda apakan istri ku!" tanya nya.


"Tidak apa tuan Egi jangan panik, ini hanya sebuah respon akibat luka cedera nya."


Egi mengusap pelan bahu Annisa. "Jika tugas memeriksa anda telah selesai, segera tinggalkan ruangan ini." titah Egi tajam.


Dokter Erika tersenyum tenang dan melirik Annisa. "Tenangkan diri nona. Sebaiknya nona beristirahat kembali, sudah larut malam. Besok pagi saya akan kemari lagi untuk pemeriksaan," tutur dokter Erika lalu memberikan isyarat ke salah satu perawat nya untuk menyuntikkan sesuatu ke infusan Annisa dan meninggalkan botol obat.


Kemudian dokter Erika melirik ke arah Egi yang tengah merangkul memeluk bahu Annisa. "Dan tuan Egi, jika ada waktu luang bisa bicara sebentar di ruangan saya."


Egi menangguk kecil. "Hemm...," mengiyakan.


"Baiklah, jika begitu saya permisi dulu. Obatnya jangan lupa di minum sebelum tertidur kembali. Selamat beristirahat nona, semoga lekas sembuh," ucap nya ramah dan menunduk salam.


Lalu mereka bertiga berbalik menuju pintu keluar meninggalkan Annisa dan Egi.


Annisa menghela napas panjang untuk menetralkan napas nya dan mengendalikan diri. Lalu menurunkan kedua tangan yang tengah memijit pelipis nya. "Eg...egi," celetuk Annisa.


Egi menarik kursi dan duduk dekat sekali dengan Annisa. "Ada apa sayang?" tanya nya mengusap pipi Annisa.


"Aku ingin minum," pinta Annisa.


Segera Egi meraih gelas air yang tinggal setengah, lalu menyodorkan ke bibir Annisa.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Sempatkan klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...


__ADS_2