Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 7


__ADS_3

Annisa telah selesai memasak dan membuatkan jus apel untuk Fatih dan jus strawberry untuk Egi.


"Sayang kurang lemon nya," pinta Egi menyodorkan gelas jus yang sudah di cicipi oleh nya.


Alis Annisa berkerut menerima gelas itu. "Bukannya sudah pas seperti biasanya, masa masih kurang asam. Kan nggak baik Egi kalau terlalu banyak rasa asam," omel Annisa meneguk satu tegukan jus itu.


"Tapi menurut ku ini kurang sayang," Egi mengambil satu buah lemon dan alat pemeras buah lalu membelah lemon itu setelah mencuci nya.


"Ya terserahlah," Annisa meletakkan gelas jus ke atas meja pantry dan melangkah membawa hasil masakannya untuk di bawa ke meja makan.


Fatih yang sedang meminum jus apel, memperhatikan Egi dan Annisa. Ia meletakkan gelas jus ke atas meja dekat gelas Egi. "Om, Atih juga mau di kasih air lemon biar ada asam nya," pinta Fatih.


"Anak kecil nggak boleh ikut ikutan," sahut Egi yang tengah memeras air lemon ke gelasnya.


"Atih bukan anak kecil, Atih udah besar," ujar Fatih mengambil sebelah lemon dan alat pemeras buah yang sudah Egi letakkan.


Egi tidak menggubris Fatih, Ia meneguk jus nya sambil memperhatikan Annisa yang bolak balik di bantu beberapa pelayan membawa masakan ke meja makan.


"Aaa mama, Ateu cantik mata Atih perih, Aaaa," teriak Fatih mengibas ibaskan kedua tangan ke wajah nya.


Sontak Egi meletakkan gelas dan memegang bahu Fatih. "Udah Om bilang anak kecil jangan pake lemon, jadi kena mata kan," Egi mengomel.


Annisa yang di ruang makan mendengar teriakan Fatih segera berlari menuju dapur.


"Ateu cantik, perih... Om Egi galak," Oceh Fatih masih mengibaskan tangan.


"Dek Fatih, Kenapa dia Egi?" Panik Annisa berhambur menangkup wajah Fatih yang sudah memerah dengan mata terpejam.


"Mata nya kena cipratan air lemon," jawab Egi tak acuh.


"Kenapa bisa begini?" Annisa mengusap pipi Fatih. Dan mengangkat tubuh mungil Fatih untuk di bawa ke wastafle.


"Dia sendiri mainin lemon, ya jadi nya kena mata," jawab Egi, mengambil kembali jus strawberry dan meminumnya.


"Ateu perih," oceh Fatih hendak mengucek mata nya.


Annisa menangkap tangan Fatih. "Jangan di kucek dek, sini biar di bilas air dulu." Cegah Annisa, membuka keran air dan menundukkan wajah Fatih untuk mengucurkan air ke mata nya.


"Atih nggak bisa lihat Ateu," ucap Fatih mengusap wajah nya yang sudah basah oleh air.


"Jelas lah kau tidak bisa lihat, mata mu merem gitu," Egi menimpali, sambil mensedekapkan tangan di depan, tersenyum mengejek.


Fatih membuka mata nya lebar lebar. "Atih nggak merem," sahut nya, kemudian menangkup wajah Annisa. "Wah, Ateu cantik. Atih udah bisa lihat Ateu," girang Fatih tersenyum ceria.


Annisa terkekeh, mengusap mata Fatih dengan lembut.


"Ck, kena cipratan lemon nggak bakal membuat mu buta, bocah," Ejek Egi sebal menghabiskan minuman jus nya.


"Egi, jangan begitu," peringatan Annisa berjalan mendekat ke meja, mengambil tisue untuk mengeringkan wajah Fatih yang basah.


Fatih yang masih dalam gendongan Annisa, Ia memeluk leher Annisa kemudian melongokkan kepala ke belakang. "Om Egi," panggil Fatih memelet kan lidah mengejek.


"Hey, bocah, kau rupanya berpura pura kelilipan. Turun kau dari gendongan istri ku!" Ujar Egi, menarik tubuh Fatih yang menempel erat ke leher Annisa.


"Nggak mau, Atih bener sakit," rengek Fatih mempererat pelukan tangannya di leher Annisa.


"Aduh Egi, udah sih," Annisa yang sudah risih ikut bersuara.


"Turun bocah!" Tegas Egi masih menarik tubuh mungil itu.


"Nggak mau," kekeh Fatih menyembunyikan wajah nya di lekuk leher Annisa yang terbungkus kerudung.


"Turun!"


"Nggak!"


"Kau benar benar menguji kesabaran ku bocah, Turun!" Tegas Egi.


"Nggak, nggak, nggak mau," oceh Fatih.


"Fatih," panggil Romisa yang baru memasuki dapur dengan Arga.


Seketika ketiga nya menoleh ke arah pintu.

__ADS_1


"Mama," seru Fatih mengulurkan kedua tangan ingin memeluk Romisa.


"Ck, bagus. Sana kau pergi ke mama mu," Egi berucap dan memutar tubuh Annisa untuk di rangkul nya.


Romisa menghampiri Fatih dan hendak meraih uluran tangan Fatih, namun langsung keduluan oleh Arga untuk menggendong Fatih.


"Ah, papa. Atih mau nya di gendong mama, bukan papa galak," Fatih memberontak dari gendongan Arga.


"Diam kau, makhluk kecil!" Tegas Arga, membuat Fatih terdiam seketika dan memberenggut sebal.


"Tadi mama dengar laporan dari bibi Asuh, kamu berteriak kesakitan, Ada apa? Apa yang sakit?" Cemas Romisa memeriksa anggota tubuh Fatih.


Fatih menggelengkan kepala cepat. "Atih nggak apa apa ma," jawab Fatih.


"Benar?" Tanya Romisa.


Fatih mengangguk patuh. "Iya benar."


Romisa menangkup wajah Fatih dan menelisik, lalu akhirnya mendapati mata Fatih yang memerah. "Fatih sayang, kenapa mata mu merah begini?" tanya Romisa mengusap lembut kelopak mata Fatih.


Arga ikut melihat ke arah wajah Fatih.


"Si bocah mainin lemon dan air nya terciprat ke mata nya." Egi menimpali pertanyaan Romisa.


"Kamu nakal dan gangguin Ateu Annisa yang lagi masak yah, jadi nya mainin lemon segala?" tanya Romisa mengusap wajah Fatih.


"Tidak mbak, itu kesalahan Annisa yang kurang menjaga dek Fatih jadi nya gitu," ucap Annisa merasa bersalah.


Egi merangkul bahu Annisa. "Bukan kesalahan mu sayang, memang dia nya saja bocah nakal." Egi membela Annisa.


Arga menghela napas pelan. "Sudahlah, nanti biar panggilkan dokter untuk memeriksa mata mu makhluk kecil. Sekarang kita makan malam, Ayah sudah sampai di meja makan." Instruksi Arga menghentikan perdebatan mereka.


"Atih nggak mau di periksa dokter. Atih nggak mau," ujar Fatih mendongak menatap wajah Arga.


Arga mengusap puncuk kepala Fatih sambil berbalik meninggalkan dapur di ikuti Romisa. "Tidak ada yang meminta pendapat mu. Mau atau tidak nya. Kau tetap harus di periksa," tegas Arga.


"Tapi Atih nggak mau, mama bujuk Papa," rengek manja Fatih.


"Itu kesalahan mu," ucap Romisa lembut.


"Semoga tidak terjadi apa apa dengan mata nya Dek Fatih, kalau iya terjadi. Aku merasa bersalah sekali," tutur Annisa pelan, sambil menunduk.


Egi mengusap bahu Annisa yang sedang di rangkul nya. "Tenang saja, bocah itu hanya berpura pura saja, mana bisa dia kenapa napa," sahut Egi menimpali.


"Eh," Annisa menoleh mendongak menatap heran ke Egi. "Benarkah?"


"Hemm..," Egi mengangguk kecil. "Lihat saja, dokter pasti akan berkata sama dengan ku."


Annisa kembali menundukkan pandangan. "Semoga," gumamnya pelan.


-----------------------------------


Selesai makan malam. Mereka sekeluarga kembali ke kamar nya masing masing, sedang Fatih harus kedatangan tamu seorang dokter untuk memeriksa keadaan mata nya.


Egi dan Annisa telah melaksanakan shalat isya. Kedua nya menaiki ranjang, dengan Egi menenteng sebuah laptop dan Annisa yang sudah bersiap akan tidur.


"Bahu ku rasa nya pegal dan kaku," ucap Egi mengusap tengkuk leher.


Annisa yang sudah memasuki selimut, setengah berbaring menoleh ke Egi. "Mau aku pijitin?" tawar Annisa mendekat.


Egi menoleh dan tersenyum. "Tapi kamu juga pasti capek seharian menghadapi berbagai pasien," Egi mengusap wajah Annisa.


"Tidak juga," Annisa bergerak ke arah belakang tubuh Egi, dan mulai memijit bahu, tengkuk leher Egi.


Egi memfokuskan pandangannya ke layar laptop yang ada di pangkuan. "Sentuhan tangan mu memang selalu paling membuat tubuh ku nyaman, sayang." Puji Egi menikmati pijitan Annisa.


Annisa tersenyum. "Bilang aja pengen di pijitin nya lebih lama," sahut Annisa membuat Egi tertawa.


Kriing...kriing.


Suara ponsel Annisa yang berada di atas meja nakas berbunyi nyaring.


Annisa mengambil ponsel itu yang kebetulan dekat dengan posisi duduk nya. "Rika? Tumben malam malam gini telpon?" Celetuk Annisa hendak menggeser kursor untuk mengangkat panggilan telpon itu.

__ADS_1


"Pakai ini," Egi menempelkan earphone ke telinga Annisa dan merebut ponsel yang tengah di pegang Annisa. "Lanjutkan pijitin nya," titah Egi menepuk bahu.


Annisa mencebikkan bibir sebal, melanjutkan kembali memijit bahu Egi.


Egi mengangkat panggilan telpon dari Rika lalu kembali fokus ke layar laptop.


"Assalamualaikum, umii Nisa," Seru Rika dari sebrang telpon


Alis Annisa terangkat sebelah mendengar suara Rika yang begitu ceria. "Walaikumsalam. Rika."


"Aku telpon ganggu tidak? Pasti nggak kan?" tanya Rika.


"Diri mu yang tanya, tapi di jawab sendiri lagi. Ada apa nih, tumben waktu nya tidur malah telpon kesini. Nggak salah mendial panggilan kan?" Sindir Annisa.


Terdengar Rika tertawa senang sebelum berucap. "Gak lah Nis, aku gak salah mendial panggilan pada orang yang bisa memberikan ku nomer telpon pak Jhon."


Mata Annisa melebar, dan pergerakan tangan yang sedang memijit pun sempat berhenti. "Kak Jhon, kamu?" tanya Annisa tercekat karena Egi berbalik menatap nya sebal.


Annisa mengusap wajah Egi dengan lembut dan kembali bertanya pada Rika. "Sepertinya ada yang mulai dekat nih sama kak Jhon," sambung Annisa.


"Ya gitu deh....," Rika mulai menceritakan tentang kejadian di kafe dan saat di antar pulang juga tentang Jhon yang meminta nya untuk menjadi wanita samaran.


"Wa-wanita samaran?" Celetuk Annisa melirik Egi yang sudah serius menatap laptop.


Kenapa aku merasa familiar dengan hal ini?


"Ya begitulah Nis. Dan untuk itu aku minta nomer pak Jhon, kau pasti punya kan?" Rika bertanya.


"Aku...aku tidak. Tapi kalau suami ku pasti punya. Nanti aku tanya pada nya," jawab Annisa sambil kembali melanjutkan memijit bahu Egi.


"Baiklah, kalau gitu kirim lewat chat aja Nis. Ya sudah aku tutup telpon nya, di tunggu chat nya. Assalamualaikum Umii selamat malam dan selamat pengantinan lagi." Salam Rika di akhiri tawa dan mengakhiri panggilan telpon.


"Walaikumsalam," sahut Annisa. "Ck, dasar anak curut paling bisa menggoda orang," gumam Annisa pelan dan tersenyum.


"Ekhem...," dehem Egi. "Bahas apa, sehingga membuat mu terlihat senang," tanya Egi dengan nada suara dingin.


Annisa tersenyum, merangkul bahu dan memeluk leher Egi. "Bahas kak Jhon, sepertinya mereka berdua sudah mulai dekat. Dan benar kata mu, kalau kak Jhon orang yang dingin dan cuek terhadap wanita lain selain pada ku," jawab Annisa.


Egi menutup laptop dan meletakkan nya ke atas kursi kecil sisi ranjang. Ia memegang tangan Annisa yang tengah memeluk lehernya. "Saat dengan ku jangan menyebutkan nama pria lain, aku tak suka."


"Hey, kenapa kau jadi sensitif seperti ini? Kak Jhon kan orang yang dekat dengan mu juga aku, masa bahas dia aja kamu langsung sensitif gini," Annisa melepaskan rangkulan di leher Egi beralih berganti posisi duduk menjadi berhadapan dengan Egi.


"Sensitif? Baiklah, terserah mu saja," Egi merebahkan tubuh nya dengan sebelah tangan jadi ganjalan kepala.


Annisa menyentuhkan tangannya di dada Egi. "Kau marah?" tanya Annisa menatap merasa bersalah.


Egi memalingkan wajah ke arah lain dan diam seribu bahasa.


"Egi," panggil Annisa menggoyangkan tangan yang berada di dada Egi sehingga tubuh Egi tergerak.


Namun Egi masih tetap memalingkan wajah, dan diam membisu.


"Egi," Annisa kembali memanggil. Kemudian dengan perlahan menempelkan kepala ke dada Egi. "Oke, maafkan aku, jika kau tidak suka aku menyebutkan nama pria lain, aku tidak akan menyebutkannya lagi." tutur Annisa rendah sambil mengusap dada Egi.


Egi menoleh menunduk menatap kepala Annisa. Ada senyuman senang di bibir nya. Dan dengan gerakan cepat, Egi menangkap kedua tangan Annisa kemudian.


Bruk.


Mendorong tubuh Annisa agar terbaring di bawah kungkungannya.


"Egi!" Pekik Annisa kaget, dengan gerakan yang tiba tiba itu.


Egi memerangkap tubuh Annisa. Lalu, tersenyum menyentuh bibir Annisa dengan jemari nya. "Kau membuat ku mabuk oleh madu mu lagi, sayang." Ucap Egi serak nan rendah di telinga Annisa.


Seketika tubuh annisa memanas, menatap sorot mata Egi yang sudah berkabut. "Eg-egi kirim nomer telpon kak Jhon ke Rika dulu, tadi dia meminta nya."


"Kau menyebutkan nama pria lain lagi di saat seperti ini," ujar Egi sebal.


"Aku menyebutkannya karena memang ada keperlua...," ucapan Annisa menggantung karena Egi dengan cepat membungkam bibir Annisa dengan bibir nya.


Egi mencumbu Annisa dan melaksanakan ibadah suami istri, sehingga membuat Annisa pasrah di bawah kendalinya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Jangan lupa klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...


__ADS_2