Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 43


__ADS_3

Hari telah menjelang sore hari, Rika bergegas untuk bersiap pulang. Ia berdiri sejenak di depan gerbang rumah sakit, melihat sekitar kali aja ada taksi yang lewat namun harapannya tak kunjung ada. Hingga sebuah mobil putih keluar dari arah gerbang rumah sakit melaju lambat dan berhenti tepat di hadapannya, dari dalam mobil turunlah seorang pria tampan berkemeja hitam lengkap dengan mantel hitam membungkus tubuh atletisnya. Pria tampan itu tersenyum, melangkah mendekati Rika.


Dia lagi. Apa dunia ini terlalu sempit sampai dia selalu muncul dimana-mana. Rika menatap jengah dan mengalihkan wajah ke arah lain saat pria itu semakin dekat.


"Adek mau pulang?" Farhan bertanya setelah berada di hadapan gadis manis teresebut.


Mengangguk kecil, lalu melirik jam tangan yang melekat di pergelangan tangan yang sudah menunjukkan pukul. 17:15 sore. Hari ini dia pulang telat di karenakan adanya beberapa pasien yang melahirkan sehingga membutuhkan beberapa bidan untuk menanganinya dan alhasil ia mau tak mau harus memperpanjang jam kerja.


"Yuk, sama kakak antar. Sekalian silaturahmi sama tante sudah lama juga nggak jumpa."


Rika melambaikan sebelah tangan sebagai tanda penolakan dan tersenyum ceria kepaksa. "Tidak perlu kak, saya bisa naik taksi. Kalau kak Farhan hanya ingin silaturahmi sama keluarga, bisa datang saja ke rumah tapi tak perlu sok akrab sama saya, karena kenyataan nya memang kita tak terlalu akrab, kan."


Mendengar penuturan tersebut, membuat Farhan terdiam menundukkan pandangan dengan sebelah tangan sedikit tergenggam. "Dek." Ucapnya terjeda sejenak, Farhan menghela napas pelan menatap sayu. "Beginikah cara mu membalas perasaan tulus dari laki-laki yang benar menyayangi mu."


"Eh." Terpaku diam menatap bengong. Kalau begini serasanya aku yang jahat... "Ba-baiklah." Kata Rika lemah nan jelas.


Seketika raut wajah Farhan berubah ceria, ia tersenyum senang. "Artinya adek mau di antar pulang sama kakak?"


"Hemm, boleh." Mengangguk pelan mengiyakan.


Segera Farhan melangkah menuju mobilnya dan membuka kan pintu penumpang depan. "Naiklah my princess, kakak akan mengantar dengan hati-hati dan selamat."


"Jangan memanggil saya seperti itu, saya tak suka." Rika tersenyum kepaksa dan melangkah maju duduk di kursi samping kemudi.


"Kenapa? Adek kan tidak berapa lama lagi akan jadi istri Kakak." Farhan berucap dengan tangan masih menahan pintu mobil agar terbuka lebar.


"Kak!" Rika menatap dingin dan menghembuskan napas kasar lalu membuang muka menatap lurus ke depan. "Saya sudah lelah, ingin pulang."


Farhan tersenyum kecil menutup pintu mobil lalu berjalan dengan setengah memutari mobil, masuk dan duduk di kursi kemudi. Ia menyalakan mesin mobil sebelumnya sekilas melirik ke samping. "Pakai seat belt mu, apa mau kakak pakaikan?"


"Ah, tid-tidak usah. Saya bisa sendiri." Rika menarik seat belt dan memasangnya untuk melingkari tubuhnya.


Farhan mulai melajukan mobil untuk bergabung dengan kendaraan lainnya ke jalanan kota.


Selama beberapa menit, keheningan membentang di antara keduanya. Rika memilih memalingkan wajah ke arah jendela melihat pemandangan luar mobil, sedang Farhan menyetir dengan perasaan senang bercampur gugup, ia sesekali melirik pada gadis manis di sebelahnya.


"Dek." Panggil Farhan melihat pada gadis tersebut.


"Iya." Sahut Rika tanpa menoleh.


"Kakak lihat, akhir-akhir ini kamu seperti kurang fit. Apa adek sakit?"


"Tidak." Sahutnya cepat.


"Benarkah? Tapi wajah mu terlihat lesu loh deh, apa ada yang di rasa?"


"Tidak."


"Oh, baiklah." Farhan menatap lurus ke depan, dan seperkian detik keheningan kembali menguasai.


"Dek. Apa kamu lapar?"


"Tidak."


"Di sekitar sini ada toko kue yang baru buka loh, adek kan suka yang manis manis, selain enak bentuk kue nya juga unik-unik. Ekhem... Adek mau nggak ke sana? Kakak sedia temani."


"Hemm." Gumam Rika jelas terdengar.


"Hemm?" Alis Farhan tertaut menatap gadis manis di sampingnya. "Artinya adek mau ke sana?"

__ADS_1


"Tidak."


Menghela napas panjang, Farhan memegang setir mobil dengan kuat. Tidak bisakah dia menjawab yang benar, hanya satu kata penolakan saja yang bisa dia ucapkan.


"Dek." Menoleh hendak membuka bibirnya untuk berbicara kembali namun terhenti.


"Kak Farhan." Rika akhirnya menoleh dan bersuara. "Kalau sedang menyetir lihat ke depan, jangan melihat ke arah lain."


"Ba-baiklah." Menatap lurus ke depan. "Kakak hanya ingin mengajak ngobrol saja, habisnya suasananya jadi canggung begini, kalau sepi tak ada obrolan."


Rika kembali membuang muka ke arah jendela. "Yang bicara itu mulut bukan mata kan. Jadi cukup bicara saja dan menyetir dengan baik."


Farhan terkekeh pelan, melihat sekilas pada gadis manis tersebut. "Baiklah." Dan hendak menyentuh puncuk kepalanya namun Rika segera menghindar agar tidak tersentuh. Membuat gerakan jemari tangan Farhan bergerak kaku lalu mengusapkannya ke rambut sendiri sambil tertawa palsu.


Tidak ada obrolan lagi di antara kedua nya, sampai mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan rumah minimalis tempat tinggal gadis manis itu.


Rika melepaskan seat belt dan langsung keluar mobil tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Membuat Farhan hanya bisa menggelengkan kepala beberapa kali dan ikut menyusulnya membuntuti Rika yang sudah berjalan menuju pagar rumahnya.


Sedikit lirikkan mata dalam dari Rika ke arah pria tampan yang berjarak dua langkah di belakangnya. Dia benar-benar mau mampir ke rumah. Hah... menyebalkan.


Kemudian gadis manis itu memasuki kedalaman rumah dengan mendorong pintu kembar. "Assalamualaikum." Salamnya, ia melepaskan sepatu pantopel dan berganti sandal rumah.


"Walaikumsalam." Sahut Ibu Asih menyambut kedatangan anaknya, mencium kedua pipi.


"Sore tante," sapa Farhan dengan sopan dan tersenyum ramah.


"Eh, Nak Farhan." Beralih menatap pria tampan di belakang tubuh anaknya.


"Mah, Ika ke atas dulu. Capek." Ucap Rika sambil lalu berjalan ke arah tangga setelah mendapat anggukkan kepala dari sang Mama.


"Duduk Nak, mau di buatkan teh apa kopi?" Menunjuk dengan gerakan tangan ke arah sofa dan dirinya hendak duduk di sofa panjang.


"Kesini?" Mengernyitkan alis dan menatap tanya. "Apa ada acara dengan si Neng?"


"Iya." Tersenyum gugup mengusap tengkuk leher. "Kalau tante izinkan, Farhan ingin mengajak Dek Rika untuk makan malam di luar."


"Ooh... hehe." Tertawa geli mencubit kecil lengan kekar pria dihadapannya. "Jangan malu-malu gitu dong, tante pasti mengizinkannya. Toh kalian kan sudah seharusnya lebih dekat, asal pulangnya jangan terlalu malam yah Nak. Dia anak gadis, tak baik pulang terlalu larut."


"Siap tante." Seketika ada rona merah di kedua pipi Farhan, masih tersenyum gugup. "Kalau gitu, Farhan pamit pulang dulu tante, untuk siap-siap. Dan tolong sampaikan pada Dek Rika, soalnya tadi Farhan belum sempat mengatakannya."


Mengangguk kecil. "Iya, nanti tante sampaikan pada si Neng sekalian untuk siap-siap juga."


Beberapa saat kemudian.


Setelah kepergian Farhan, Ibu Asih langsung berjalan menuju tangga untuk mengabari pada anaknya, dengan tangan memegang sebuah gaun indah berwarna violet terang dan corak bunga sekitar rok juga badan gaun itu sehingga terlihat sangat cantik.


"Neng." Panggil Ibu Asih setelah memasuki kamar yang ternyata kosong. Ia menghamparkan gaun itu ke atas kasur.


Lalu dia berjalan memeriksa kamar mandi yang tak mendapati putrinya di sana, lalu akhirnya ia berjalan ke arah balkon dan benar mendapati Rika tengah duduk santai di atas kursi gantung menatap warna langit senja yang perlahan meredup gelap.


"Neng." Panggilnya menghampiri.


"Iya, Mah." Sahut Rika tanpa mengalihkan tatapannya dari langit.


Wanita paruh baya tersebut duduk di kursi teras yang di belakangi oleh kursi gantung. "Tadi Nak Farhan bicara sama Mama, kata nya mau ajak kamu makan malam. Mama sudah siapin gaunnya tuh di atas ranjang." tutur Ibu Asih dengan nada suara lembut dan tenang.


Bisakah aku menolaknya? Tapi Mama... Rika menghela napas pelan, memejamkan matanya. "Hemm. Iya Mah."


"Ya sudah, Mama ke bawah lagi yah, mau magrib. Kamu mandi gih, shalat jamaah sama Mama di bawah. Dan nanti setelah shalat isya mungkin dia akan menjemput." Ibu Asih berdiri hendak melangkah ke arah pintu.

__ADS_1


"Iya, Mah." Sahut Rika lemah di sertai desahan kesedihan.


"Kamu harus menjaga baik hubungan kamu dengan Nak Farhan yah Neng. Biar bagaimana pun dia akan menjadi suami mu kelak," ucap Ibu Asih sambil lalu pergi.


Degh... detak jantung Rika berdegup keras serasa pukulan yang amat menyakitkan dan menyadarkan pikiran juga hatinya. Ia menghembuskan napas panjang, menundukkan kepala. "Huft... hati ku masih belum bisa menerima nya, Mah."


---------------------------------


Sekitar jam 7 malam benar saja, Rika yang sudah memakai gaun pemberian Mama nya langsung turun ke bawah yang sudah di tunggui oleh pria tampan berjas hitam rapih nan elegan. Begitu gadis manis itu menuruni anak tangga, tatapan mata Farhan tak lepas menatap lekat terpesona. Sangat cantik... terlintas dalam otaknya begitu melihat penampilan Rika.


Keduanya pamitan pada Ibu Asih dan Pak Adi untuk meminjam Rika sementara keluar rumah.


Hingga kini mobil putih yang membawa keduanya telah melaju dengan kecepatan sedang di jalanan kota. Selama dalam mobil tidak ada percakapan dari kedua nya, Rika masih bungkam merenung menatap keluar jendela dengan raut wajah muram. Namun sebaliknya dengan Farhan yang terus mengembangkan senyumannya melirik terus-terusan pada gadis manis di kursi samping.


Di Rumah Annisa.


Sepasang suami istri terlihat sedang sibuk bergelut dengan peralatan masak di bantu dengan seorang koki wanita paruh baya.


Kriing... kriing.


Suara ponsel yang terletak di atas meja pantry berdering nyaring. Seketika gerakan tangan Annisa yang tengah mengiris sayuran terhenti, kebetulan dirinya berada dekat dengan meja pantry menyempatkan melirik layar ponsel yang terus berkedip berdering menandakan ada panggilan.


"Egi, ada yang nelepon tuh."


"Jawab saja sama kamu, sayang. Aku lagi nanggung." Jawab Egi sembari mengaduk adonan tepung.


Annisa meletakkan pisau dan melepaskan sarung tangan plastik. Dan mengambil ponsel untuk mengangkat panggilan telepon tersebut, lalu menarik kerah baju Egi agar merunduk sedikit.


Menoleh dan menatap bingung. "Kenapa sayang?"


"Kamu yang bicara. Aku lihat pemanggilnya sekertaris Leon." Annisa mempelkan benda pipih itu ke telinga sang suami.


"Ya, bicara." Ucap Egi melirik Annisa yang menatapnya. Dan terdengarlah suara pria dari sebrang telepon.


Egi tersenyum hangat mencoel ujung hidung gadis cantik di hadapannya dengan adonan tepung. Membuat Annisa melotot sebal dengan bibir memberenggut.


"Hemm, ikuti terus." Kalimat perintah yang di ucapkan Egi lalu ikut melepaskan sarung tangan plastik dan mengambil alih ponselnya untuk di letakkan ke atas meja.


Annisa mengusap ujung hidungnya yang terdapat tepung. "Siapa yang lagi di buntuti, Kenapa kamu memerintahkan begitu?"


Egi merangkul pinggang sang istri dan mendaratkan kecupan di kedua pipinya. "Hanya seorang client." Dia mengusap pelan ujung hidung Annisa dan menciumnya. "Aku ke toilet sebentar, sayang." Yang di balas anggukkan kepala oleh Annisa.


Pria tampan itu melepaskan celemek dan kembali memberi kecupan kilas, kali ini mendarat di bibir Annisa.


"Egiii." Geram Annisa menatap sebal.


Membuat Egi terkekeh senang, ia menyambar ponselnya. "Bi Tya, tolong jagain istri saya, jangan membuatnya kelelahan." Dia berjalan keluar area dapur menuju pintu keluar.


"Baik tuan." Sahut wanita paruh baya tersebut dengan seulas senyuman.


Alih-alih ke toilet, pria yang baru saja keluar dari dapur itu malah berbelok ke ruangan keluarga sambil tatapan fokus pada layar ponsel mencari nama kontak untuk mendial memanggilnya.


"Mari kacaukan." Egi menempelkan ponsel ke telinga setelah mendengar nada sambung berdering.


"Jhon. Kau dimana?" tanyanya to the point saat terdengar suara pria di sebrang telepon.


Terdiam sejenak mendengar ucapan dari lawan bicaranya. "Serahkan pertemuan sekarang pada sekertaris Lia dan manajer umum, kau ku beri tugas lain."


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...


__ADS_2