Pejuang Move On

Pejuang Move On
Merasa Aneh part 3


__ADS_3

Selesai makan malam semua anggota keluarga kembali ke kamar nya masing masing. Begitu pun dengan Annisa dan Egi mereka tengah berjalan di lorong untuk menuju kamar nya.


Egi terus menghindari annisa dengan berjalan di belakang annisa dan menjaga jarak.


Kedua nya telah memasuki kamar. Egi langsung menuju sofa tv dan memangku laptop nya, duduk santai di sofa.


Begitu pun dengan annisa melakukan hal yang sama. Ia duduk di sofa dekat ranjang dengan memangku laptop.


"Ekhem..." dehem annisa karena tenggorokan nya merasa kering sambil mengusap usap leher.


Annisa hendak mengambil air putih di atas meja, tapi mata nya melirik sebuah gelas jus strawberry yang di buatkan untuk egi masih bertengger di tempat nya.


"Hey bocah kenapa kau tidak meminum jus nya." Tanya Annisa menatap ke arah sofa tv.


Tanpa menoleh ke annisa.


"Sudah ku bilang aku tak sudi meminum jus hasil olahan mu." Tegas egi dengan pandangan tetap fokus pada layar laptop.


Menghela napas kasar. "Ya sudah jika kau tidak mau. Biar aku minum saja, kan sayang mubadzir." Ucap annisa dan mengambil gelas jus.


Mendengar ucapan annisa segera egi menoleh ke belakang dan melihat annisa hendak mendekatkan gelas itu ke bibir nya untuk meminum cairan merah yang di buat egi.


"Jangan di minum!!" Teriak egi sambil melompati sofa dan berlari ke arah annisa.


Gerakan tangan annisa yang akan meminum air terhenti lalu menatap bingung ke egi.


Merampas kasar gelas dari tangan annisa. "Kau mau mati hah." Bentak egi keras di depan wajah annisa.


Annisa mengerjapkan mata beberapa kali dengan cepat karena terperanjat kaget. Lalu menatap bingung.


"Memang kenapa? Itu jus aku yang membuat nya, jadi jelas tidak ada racun nya. Bagaimana bisa aku mati hanya karena meminum jus saja." Ucap Annisa.


Lalu annisa hendak merampas kembali gelas dari tangan egi. Namun belum juga gelas itu berpindah pada tangan nya, egi dengan kasar melemparkan gelas itu keluar, ke teras balkon yang kebetulan pintu balkon tengah terbuka.


Prang...claang.. suara gelas hancur di teras balkon.


Annisa melebarkan mata melihat gelas yang sudah hancur dengan cairan merah itu muncrat ke mana mana.


Beralih menatap tajam ke egi dan mengepalkan tangan geram.

__ADS_1


"Hey bocah, jika kau tidak mau meminum nya kenapa harus membuang nya. Kan aku bilang biar aku yang meminum tuh jus. Kau memang benar benar tidak tau cara menghargai. Dasar bocah," cerocos annisa menggebu dengan suara lantang.


Lalu annisa membuang muka ke arah lain sambil menghembuskan napas kasar karena menetralkan emosi nya.


Egi membalikkan badan membelakangi annisa lalu menolehkan sedikit kepala melirik annisa.


"Aku melarang mu meminum jus itu karena jus nya sudah basi. Bukannya kau membuatkan tadi sore jadi sudah pasti basi dan sudah menjadi racun bagi tubuh." Tegas egi dengan nada dingin lalu beranjak melangkah hendak ke sofa tv lagi.


Annisa menoleh menatap punggung egi dan berpikir sejenak.


Iya benar juga apa yang di katakan anak ini. Jus nya kan sudah lewat beberapa jam di diamkan tanpa penutup di atas nya lagi, sudah pasti sudah basi. Hah Kenapa aku malah berpikiran negatif tentang nya. Aku harus meminta maaf karena sudah marah juga berperasangka buruk pada nya. Tapi bagaimana cara nya. Ah, iya aku punya ide.


Annisa berjalan menghampiri egi di sofa tv yang tampak fokus pada laptop, lalu annisa berdiri di belakang sofa yang di duduki egi.


"Lagi ngerjain apa? Kamu pasti capek karena belajar di sekolah. Biar aku pijitin yah." Ucap Annisa lembut.


Lalu annisa mulai meletakkan tangan nya memegang kedua bahu egi dan mulai menggerakkan jemari memijat pelan.


Seketika egi yang tengah mengetik sesuatu di keyboard. Gerakan jemari nya terhenti dan 'glekk' egi menelan ludah kasar.


Degh..degh..degh. Detak jantung egi kembali berdetak sangat cepat sampai2 menjalar ke pipi nya memanas.


Jantung ku berdetak tak karuan lagi. Ini semua gara gara wanita brandal ini, aku harus menjauhi nya. Bisa mati aku terserang penyakit jantung.


Egi menepis tangan annisa di bahu lalu bangkit dari duduk nya.


Tanpa menoleh. "Kau jangan mendekati ku apalagi menyentuh ku. Aku tak suka di sentuh oleh orang lain, apalagi oleh mu. Dan soal kau su'udzon terhadap ku, aku sudah terbiasa dengan hal itu." Tegas egi lalu beranjak pindah hendak ke balkon.


"Hey bocah!!" Ucap Annisa dengan suara cukup meninggi karena geram.


Menghentikan langkah kaki namun tidak berbalik. "Aku tidak butuh wanita gila yang pembangkang juga bersuara keras seperti mu. Jadi kau jauh jauh dari ku. Jangan harap jika aku sudah menerima mu sebagai bagian keluarga ku." Tegas egi dengan nada suara tajam.


Lalu egi melanjutkan langkah kaki nya untuk menuju balkon dengan menenteng laptop di tangan nya.


"Dasar anak songong. Aku menghentikan mu karena jangan ke balkon bisa masuk angin kau nanti nya malam malam duduk di luar, dan juga di teras balkon kan ada pecahan gelas takut nya saja kaki nya terkena pecahan gelas. Hah sudahlah, masa bodo. Lagian aku tahu egi kau masih belum menerima ku, tapi meski begitu aku akan tetap menjalankan kewajiban ku sebagai istri mu dengan baik. Sepertinya aku harus menurunkan volume suara ku agar tidak terdengar membangkang." Tutur annisa pada diri nya sendiri.


Lalu annisa beranjak kembali ke sofa untuk mengerjakan tugas perkuliahan nya.


Tidak berselang lama annisa sudah menguap beberapa kali karena sudah mulai mengantuk.

__ADS_1


Dengan mata berat dan sayu. "Aku ngantuk, lebih baik aku tidur saja lah. Biar nanti aku teruskan tugas nya." Gumam annisa sambil menutup laptop dan meletakkan laptop ke atas meja.


Lalu Annisa beranjak ke lemari untuk mengambil perlengkapan tidur.


Berjalan sambil membawa perlengkapan tidur menuju karpet, langkah annisa terhenti lalu menoleh ke arah pintu balkon yang terbuka.


"Apa tuh anak belum ngantuk jam segini masih betah di balkon. Dan tadi bekas pecahan gelas gimana yah. Hah nanti saja lah aku bereskan nya pagi aja, sekarang aku sudah ngantuk banget." Celoteh annisa melanjutkan langkah kaki menuju karpet sisi ranjang.


Annisa mulai menyiapkan tempat untuk tidur lalu Ia merebahkan tubuh nya dengan posisi menyamping dan mulai memejamkan mata untuk menuju alam mimpi.


--------


Sementara Egi di luar balkon.


Egi tampak fokus pada layar laptop dan mengerjakan sesuatu.


Degh..degh..degh. jantung egi sedari tadi berdegup kencang terus.


Karena egi terus teringat kembali ketika annisa memijat bahu nya.


Mengusak rambut kasar dengan kedua tangan nya lalu menghembuskan napas kasar.


"Sial!! Kenapa jantung ku tidak bisa berhenti berdetak kencang. Aku harus apa, agar jantung ku normal kembali. Sial.. semua ini gara gara cewek brandal itu. Hah." Gerutu egi kesal.


Lalu egi menutup laptop dengan kasar. Egi beranjak hendak masuk ke kamar. Begitu memasuki kamar langkah kaki egi terhenti karena melihat wajah lelap annisa yang sudah tertidur pulas di atas karpet di balik selimut.


Degh..degh..degh. detak jantung egi bertambah kencang sehingga sampai terdengar ke gendangan telinga nya.


Memegangi dada sambil menatap annisa dan beralih menunduk menatap telapak tangan yang tengah memegang dada.


"Hey, bisakah kau diam jangan terus berontak seperti ini. Aku harus bagaimana menenangkan mu jantung." Gumam egi berbicara pada diri sendiri.


Egi menutup pintu balkon lalu meletakkan laptop di atas meja. Dan dengan langkah pelan egi beranjak mendekati ranjang lalu melempar diri nya hingga tertidur terlentang di atas kasur.


Menatap lurus ke depan melihat langit langit kamar nya sambil sebelah tangan memegang dada yang masih terus di pukul keras oleh jantung nya.


Menghela napas panjang dan mencoba memejamkan mata. Namun itu tidak berhasil menenangkan jantung egi yang terus berontak memukul rongga dada nya.


"Aaarrrghh.. aku harus pindah dan menjauhi nya." Geram egi sambil mengambil selimut dan bantal.

__ADS_1


Lalu egi turun dari ranjang dan beranjak menuju ruang belajar untuk tidur di sofa yang ada di ruang belajar.


BERSAMBUNG...


__ADS_2