
Siang itu, Rika baru saja turun dari sebuah taksi online yang di pesannya. Ia berjalan ke arah pintu kembar geser otomatis rumah sakit untuk masuk ke dalamnya.
Senyuman kebahagiaan dari bibirnya terus mengembang sedari pagi hingga sekarang, mungkin efek suasana hatinya yang tengah berbunga bermekaran akibat ulah Jhon yang membawanya jalan-jalan hingga menikmati pemandangan laut yang indah.
Aaah, Jojo sikapnya hari ini sangat manis. Membuat ku sulit melupakannya. Dia terus tersenyum sendiri sembari membayangkan kejadian saat di pantai.
Langkah gadis manis itu, berbelok arah saat berada di pertigaan lorong rumah sakit. Ia berjalan menuju sebuah pintu tunggal bercat putih ujung koridor.
"Siang, bidan Rika." Sapa seorang wanita berpakaian seragam medis serba putih yang sebagai asistennya.
"Siang juga Leni." Rika yang baru memasuki ruangannya, ia tersenyum manis dan duduk di kursi balik meja.
Leni berjongkok sejenak, mengambil sesuatu dari balik meja. "Bidan, ini ada titipan untuk bidan." Meletakkan sebuket berukuran cukup besar bunga mawar merah, juga kotak hitam berpita putih yang berukuran sedang ke atas meja.
"Eh, dari siapa Len?" Rika menyentuhkan jemari nya pada kelopak bunga mawar itu.
Leni menggelengkan kepala sebagai jawaban tidak tahu. "Saya tahu nya, sudah ada di depan pintu, coba bidan lihat di bunga atau di kotak pasti ada kartu ucapannya."
"Hemm," gadis manis itu bergumam mengangguk kecil, memeriksa buket bunga mawar dan benar saja, ia menemukan sebuah kertas kecil terselip di antara tangkaian bunga yang terkumpul.
Rika membuka kertas tersebut dan membaca tulisannya.
My Princess Rika.
Kakak beli mantel couple, menggantikan mantel bekas yang di berikan si Jhonathan pada mu. Mantel ini lebih cocok dan bagus untuk mu, Dek. Kakak yakin harga nya juga lebih mahal dari mantel jelek si Jhonathan. Jadi sepulang tugas di pakai yah, biar samaan dengan kakak.
Calon suami mu. Farhan.
Seketika sorot mata nya berubah dingin, ia meremas kertas itu hingga menjadi bulatan. "Dia pikir siapa, sampai merendahkan si Jojo," geram Rika dengan gigi gemertak. Dan...
Brak.
Tangannya terkepal kuat dan menggebrak meja membuat asistennya yang sedang menulis terlonjak kaget.
"Eh Mama." Latah Leni mengusap dada akibat kaget. "Bidan ngagetin aja."
"Len, pergantian tugas dengan bidan Erna, masih berapa menit lagi?" Rika bertanya dengan sedikit menggeram, menggertakkan gigi.
__ADS_1
Leni yang melihat raut wajah Rika berubah penuh emosi, ia terpaku diam merinding ngeri. "Ja-jadwal ganti shift masih 15 menit an."
"Baiklah," ujar Rika bangkit dari duduknya, ia menghela napas panjang dan mengeluarkannya secara kasar. Kemudian ia mengambil kotak kado yang masih utuh belum terbuka juga sebuket bunga itu, dan berjalan ke arah pintu keluar. "Aku keluar sebentar, kamu persiapkan semuanya."
"Eh, bidan mau kemana?" tanya Leni yang tak di gubris oleh Rika yang sudah membuka pintu keluar dan berlalu pergi.
Rika berjalan dengan langkah panjang dan cepat, di koridor sambil memeluk buket bunga juga kotak hitam. Banyak orang sekitar memandang heran dan aneh padanya ketika ia melewati mereka, namun karena tujuannya yang ingin bertemu seorang dokter pria. Ia bersikap tak acuh terhadap tatapan mereka.
Dan pada saat berjalan di salah satu belokan koridor, ia bertemu dengan orang yang di carinya.
"Dek Rika," sapa pria berjas kedokteran dari kejauhan, pria tampan itu tersenyum ceria dan menghampiri maju mendekati.
Kebetulan... "Humph," dengus Rika tersenyum kecut.
"Bagaimana? Kamu pasti suka kan, kiriman dari kakak. Kalau gak suka mana mungkin, sampe di pamerin begini," tanya Farhan yang sudah berdiri di hadapan gadis manis itu.
Rika nyengir tersenyum kepaksa sehingga menampilkan deretan gigi nya yang rapih juga kerutan di sekitar mata yang menyipit. "Makasih kirimannya, tapi...,"
Bruk.
Dia menyerahkan secara kasar buket bunga juga kotak hitam itu pada Farhan. "Saya tak perlu kiriman dari kak Farhan, tidak ada lain kali saya melihat kiriman seperti ini di meja saya," ucapnya dan berbalik melangkah.
Pegangan tangannya pada buket itu mencengkram kuat, rahang tegasnya mengetat gemertak, juga sorot matanya terpecik amarah atas apa yang di terima dari gadis manis itu. Dia menolak ku... tidak bisa!
"Dek Rika," panggilnya sedikit berteriak membuat orang-orang sekitar menoleh dan menatapnya.
Namun gadis manis itu tidak menggubris panggilannya, ia tetap berjalan sedikit cepat untuk menghindari pria itu.
Farhan melangkah cepat menyusul gadis manis tersebut, lalu...
Sreet.
Ia berhasil mencekal sebelah lengan dan menarik Rika untuk membawa berbelok arah.
"Kak Farhan, lepas. Ini di rumah sakit, jangan begini," berontak Rika dari cekalan itu, dengan suara rendah nan jelas ia berseru.
Tidak akan ku lepas... Cekalan tangannya ia perketat di lengan gadis manis itu, dan dengan langkah cepat panjang. Ia memasuki sebuah pintu tunggal bercat putih bersama Rika.
__ADS_1
Brak.
Farhan sedikit membanting pintu itu, lalu menghempaskan cekalannya dengan kasar juga melemparkan buket bunga dan kotak hitam secara sembarang hingga kelopak bunga itu berhambur tercecer di sekitar lantai.
"Kak Farhan!" Rika berucap dengan nada suara cukup meninggi ia mendongak menatap tajam.
Pria tampan di hadapannya sejenak menundukkan kepala, mengatur napas yang terengah akibat emosi. "Kenapa kamu selalu mengabaikan aku, padahal aku selalu berusaha bersikap baik agar kau mau melirik ku," pertanyaan itu keluar dengan sedikit menggeram bercampur amarah yang di pendam.
"Karena saya tak suka dengan cara mu." Sahut cepat Rika berbalik hendak membuka pintu namun segera Farhan menghadangnya.
"Minggir kak, saya mau tugas."
Farhan masih menundukkan pandangan, menghembuskan napas kasar, ia tersenyum kecut. "Dek, aku menyukai mu sejak pertama bertemu. Tolong lihat aku, jangan melihat nya."
"Tapi saya tidak menyukai kak Farhan."
"Kenapa?" Farhan melangkah maju mendekati, ia mengangkat wajahnya menatap tajam seakan menusuk. "Karena kau menyukai pria yang susah move on itu?"
Alis Rika berkerut. Susah move on?
"Maksud kak Farhan siapa?"
Farhan tersenyum miring, membuang muka ke arah lain. Ia menghembuskan napas kembali. "Rupanya kau belum tahu," gumamnya yang masih terdengar cukup jelas oleh indra pendengaran Rika.
"Belum tahu apa?" Bingung Rika.
"Tahu kemauan ku." Sahutnya cepat, ia menatap intens pada gadis di hadapannya dengan sorot mata keseriusan. "Kakak akan berusaha agar bisa memiliki mu, Dek. Meskipun akhirnya sudah di tentukan juga semua nya bohong," tutur Farhan menatap yakin.
Rika menggeleng kecil beberapa kali. "Ka-kak Farhan, saya benar-benar tidak mengerti lagi," ketusnya. Dia melangkah ke arah pintu. "Saya tegaskan agar semua nya jelas, saya benar tidak ada perasaan apa pun pada kak Farhan. Jadi jangan berharap atau bertindak lebih, dan soal perjodohan itu... saya akan berusaha mencari cara untuk menolaknya," sambung Rika, lalu membuka pintu dan berlalu pergi.
Sepeninggalan Rika, pria itu menghembuskan napas kasar, tangannya mengepal kuat lalu...
Brak.
Meninju pada meja, sehingga menciptakan suara yang berdentum cukup keras. Terlihat luka yang mengeluarkan darah di sekitar jemari akibat pukulan itu. "Apa aku telah kalah oleh mu, Kak Jhon," gumamnya pelan terdengar serak nan sedih.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...