
Siang telah tiba. Annisa yang baru selesai shalat dzuhur, ia tengah berjalan melewati beberapa lorong hendak ke kantin untuk makan siang.
Aneh, kenapa aku tidak di double shift. Selama pengalaman dinas baru kali ini, aku mendapatkan pembimbing yang begitu baik. Bolos dinas malah tidak di hukum juga tidak di beri tugas lebih.
Menghembuskan napas pelan, lalu annisa melirik jam yang melekat di pergelangan tangan nya. "Masih ada 15 menit, keburu lah makan dulu," gumam annisa di sela langkah kaki nya.
Di sepanjang jalan yang di lewati nya, annisa menemukan banyak rekan mahasiswi yang sesama dinas di sana atau para perawat membicarakan nya dengan sekali annisa lewat mereka langsung berbisik menggosip tentang nya.
Apa yang salah dengan ku, kenapa tatapan mereka berbeda kali ini terhadap ku.
"Nona Annisa," panggil dokter Frans yang baru keluar dari ruangan nya.
Menghentikan langkah kaki dan menoleh. "Iya," sahut Annisa.
"Hendak kemana?" tanya dokter frans yang sudah berdiri di samping annisa.
"Ke kantin," jawab annisa sambil kembali melangkah kan kaki.
Ikut menggiringi langkah kaki annisa. "Boleh, saya pun sama hendak ke kantin," ucap dokter frans.
Annisa melirik dan tersenyum kepaksa. "Saya tidak bertanya dokter mau kemana. Baiklah kalau begitu saya permisi, takut habis jam istirahat saya, Assalamualaikum," ucap Annisa menundukkan kepala sebagai hormat, lalu berjalan cepat meninggalkan dokter frans yang terbengong menatap kepergian annisa.
Tersenyum kecil. "Walaikumsalam. Baru kali ini ada wanita yang menolak ku dengan begitu cepat," gumam dokter frans dan melangkah kan kembali kaki nya, untuk menyusul annisa.
Di kantin rumah sakit.
Annisa telah terduduk sendirian di pojok dekat jendela sembari menikmati makanan yang ada di nampan di hadapan nya. Ia bersikap mengabaikan sorot mata yang sedari tadi menatap nya dengan tatapan yang entah annisa pun tidak tahu penyebab mereka menatap dan menggosipi nya seperti itu, padahal selama Ia dinas di rumah sakit tersebut, annisa tidak mengangkat salah satu rekan dinas nya atau kakak senior untuk di jadikan teman karena memang tidak saling kenal.
"Boleh saya duduk di sini?" tanya dokter frans yang baru datang sambil memegang nampan dan segelas air di kedua tangan nya.
"Silahkan saja kursi ini untuk umum," jawab Annisa tanpa mengalihkan dari kegiatan nya memakan makanan.
Dokter frans tersenyum tipis lalu duduk di kursi yang bersebrangan dan berhadapan dengan annisa. "Gak gabung dengan teman teman mu. Nona? Kenapa memilih makan sendirian di pojokan seperti ini?" tanya dokter frans sambil menyuapkan makanan ke mulut nya.
"Dokter sendiri kenapa duduk di sini, tidak malu duduk semeja bersama anak dinas seperti saya," sindir Annisa.
Tertawa pelan. "Karena duduk semeja dengan nona lebih mengasyikkan di banding dengan rekan kerja lain," ucap dokter frans.
Annisa tidak mengindahkan lagi ucapan dokter frans. Ia lebih memilih fokus memakan cepat makanan nya.
"Apa nona begitu terburu buru. Pelan pelan makan nya nona annisa, nanti tersedak," ucap dokter frans.
Kali ini annisa menengadahkan pandangan nya menatap dokter frans. "Terimakasih nasihat nya, tapi memang saya sedang terburu waktu," jawab Annisa ketus.
Mengangguk kecil lalu menyuapkan sepotong udang goreng ke mulut nya. "Tapi saya lihat rekan nona sangat santai menikmati makanan nya, bahkan sampai sempat memperhatikan ke arah meja ini," ucap dokter Frans di sela mengunyah makanan nya.
Memang dari tadi mereka menatap ku seperti itu. Tapi ya sudahlah, toh aku tidak merasa berbuat masalah.
__ADS_1
Annisa menghela napas jengah dan menyuapkan dengan suapan penuh makanan ke mulut nya agar mempersingkat waktu untuk kembali ke tugas nya.
Melihat annisa makan dengan lahap dan gembul, membuat dokter frans semakin mengurai senyum geli. "Nona Annisa. Kau itu wanita, makanlah dengan benar dan anggun selayak nya wanita elegan," tutur dokter frans sembari menahan senyuman nya.
Annisa menenggak minuman sampai tandas, kemudian bangkit dari duduk nya. "Bukan urusan anda saya mau makan dengan cara seperti apa atau dengan gaya seperti apa, lebih baik ucapan itu anda simpan untuk di katakan pada calon istri anda," ucap Annisa, dan mengangkat nampan juga gelas kosong lalu meninggalkan dokter frans.
Tersenyum dan menggelengkan kepala beberapa kali. "Dua kali aku di tinggalkan lagi oleh mu nona. Andai aku yang lebih dulu bertemu dengan mu, pantas si egi bocah itu sampai bisa membuka hati nya dari nona Romisa, ternyata ganti nya jauh lebih menarik," gumam dokter Frans dan kembali menyuapkan makanan ke mulut nya.
Di luar kantin.
Annisa keluar dari kantin dan berjalan hendak ke ruangan tempat nya tugas karena waktu istirahat akan habis.
"Annisa," panggil seorang wanita dari belakang.
Annisa menoleh dan tersenyum. "Iya," sahut Annisa pada wanita yang tengah menghampiri nya.
"Kamu akan ke tempat tugas kan. Aku ikut bareng. Kita kan satu team, apa kamu lupa dengan nama ku?" ucap wanita itu yang sudah ada di samping annisa.
Annisa menatap wajah wanita yang ada di samping nya, lalu melihat ke jas yang di pakai wanita itu. "Windi, itu nama mu," jawab Annisa sambil melangkah kan kembali kaki nya.
Mengangguk mengiyakan. "Benar, ternyata meskipun kamu tidak pernah terlihat bergabung dengan siapa pun, masih bisa menghapal nama rekan juga," ucap windi.
Tersenyum dan menunjuk sebuah name tag yang menempel di jas almamater yang di pakai windi. "Bukan menghapal. Hanya saja nama mu tertera di name tag," ucap Annisa.
"Eh...," menunduk melihat jas nya. Dan tersenyum canggung. "I-ya, kamu blak blakan banget yah," memukul pelan sebelah lengan Annisa.
Windi terus mengekori dan sesekali melirik annisa. "Ekhem...," dehem windi memecah kebungkaman di antara nya. "Annisa, kamu benarkah punya hubungan spesial dengan dokter frans?" tanya windi dengan nada kehati hatian.
Seketika langkah kaki annisa melambat. "Tidak," jawab nya singkat dan cepat.
"Benarkah? Tapi kalian terlihat sangat akrab sekali, dan bahkan saat kamu bolos, dokter frans sendiri yang mengizinkan ke pembimbing sehingga tugas mu tidak di double," tutur windi menatap memicingkan mata menyelidik.
Tersenyum tenang. "Kalian terlalu melebihkan pendapat padahal kenyataan nya tidak benar, dan urusan pribadi seperti nya tidak harus di beberkan. Kita di sini untuk dinas bukan untuk mengorek informasi yang tidak ada hubungan nya dengan praktek," tutur Annisa dengan nada tenang.
Menunduk dan tersenyum malu. "Ah, iya. Maaf aku hanya penasaran saja, soal nya kamu sampai terkenal di gosipin oleh rekan bahkan kakak senior yang kebetulan mereka yang menyukai dokter frans," ucap Windi dengan suara rendah.
Jadi tatapan mereka karena kecurigaan ini. Huft... wajar mereka menyangka ku seperti itu. Karena status menikah dengan si Egi, mereka belum mengetahui nya.
"Tidak apa. Tapi yang jelas, aku dengan dokter frans tidak punya hubungan spesial seperti yang kalian duga," ucap Annisa lalu akhirnya memasuki ruangan tempat nya tugas.
---------------
Di sebuah gedung perusahaan Putra Grup bagian cabang barat.
Egi dan Jhon baru saja keluar dari ruangan rapat di ikuti sekelompok karyawan di perusahaan nya.
"Tidak di sangka yah, Ceo kita di gantikan oleh pria muda dan tampan," bisik salah satu karyawan wanita A yang baru keluar.
__ADS_1
"Benar, tapi sayang wajah nya kaku tanpa ekspresi," sahut wanita B menimpali.
"Gimana pun gen dari tuan besar Putra, pasti anak anak nya juga gak bakal jauh wajah dan sifat nya," ucap Wanita C.
"Tapi tetap tampan, dan imut huuh gak kalah tampan dari kakak nya Arga putra," ucap wanita A.
"Gue pengen dapet foto nya, kalau di sebarin ke medsos nih bisa jadi berita heboh. Pasti langsung ada judul nya. 'Seorang pewaris kedua dari keluarga putra kini turun ke perusahaan dan menjadi Ceo' bakalan jadi trending besok," ucap wanita B antusias sambil mengeluarkan ponsel dari saku rok.
"Betul juga kata lo, cepet woy mumpung tuh pak Ceo masih ada di sekitaran sini...," tanggap wanita A menarik bahu wanita B untuk mengarahkan agar bisa lebih jelas mengambil foto Egi yang tampak tengah berjalan di dampingi Jhon dan dua orang berjas lain nya.
"Awas lo kepergok ngambil gambar, bisa tamat riwayat lo. Gue gak ikut ikutan," peringatan wanita C dan berlalu meninggalkan dua wanita yang mencibir tak peduli atas peringatan nya.
"Hah lo, palingan kalo udah dapet foto nya. Lo juga langsung minta," sahut wanita A.
Wanita B mulai mengarahkan ponsel nya ke arah Egi dengan sedikit mencari tempat aman agar tidak terlalu mencolok mengambil gambar Egi.
Hingga... cekrek. Suara kamera ponsel berbunyi juga flash cahaya kamera yang terang menyorot ke arah Egi.
Seketika Egi yang tengah berjalan terhenti lalu pandangan Egi langsung melirik tajam ke arah suara.
"Sial, gue lupa matiin suara kamera juga flash nya. Gimana nih, dia ngelirik ke sini," panik wanita B.
"Kagak tahu, lo sih nggak hati hati," omel wanita A.
"Ada apa tuan Egi?" Heran Jhon karena egi menatap tajam ke arah dua wanita yang bersembunyi dekat sekat dinding, yang tidak jauh dari nya.
Egi tidak menjawab pertanyaan Jhon. Ia membelok kan arah kaki nya untuk menghampiri dua wanita itu dengan memasang wajah dingin dan tatapan tajam menyorot ke salah satu wanita yang tengah memegang ponsel.
"Baru pertama masuk perusahaan, sudah ada yang mau cari masalah nih," gumam Jhon dan menghela napas pelan, lalu ikut membuntuti Egi.
Egi berhenti tepat di hadapan dua wanita, dan berdiri di hadapan wanita B yang tampak terlihat tegang juga gemetar.
Tanpa basa basi lagi, egi langsung merebut ponsel yang ada di genggaman wanita B dengan kasar. Lalu melemparnya ke arah sembarang hingga ponsel itu hancur berkeping keping, membuat orang di sekitar memandang terpaku dan terperanjat kaget.
Wanita B melihat ke arah ponsel nya yang sudah hancur. "Po...ponsel ku," celetuk nya dengan suara pelan.
Egi berbalik arah. "Jhon ganti ponsel nya dengan yang baru, sekaligus dua wanita ini ganti dengan yang baru, yang lebih disiplin," ucap Egi dengan nada dingin dan tegas. Kemudian berjalan ke arah lift meninggalkan keramaian yang di buat nya, dengan di ikuti dua orang berjas rapih. Sedang Jhon masih berdiri di hadapan dua wanita yang tampak gemetar dan lemas menunduk.
Sementara orang orang yang menyaksikan sudah ramai dengan berbisik bisik, serta melihat sinis ke kedua wanita itu.
Sepeninggalan Egi.
"Yang lainnya kembali ke kerjaan masing masing!" Instruksi Jhon ke orang orang yang berkumpul sehingga orang yang berdiri menyaksikan bubar meninggalkan Jhon dan dua wanita tersebut. Lalu Jhon kembali menatap dua wanita yang ada di hadapan nya. "Dan kalian berdua, ikut keruangan saya," ucap Jhon dan berbalik berjalan ke arah lift.
BERSAMBUNG...
Setelah Membaca Budayakan Tekan Tombol LIKE dan Tinggalkan JEJAK yaaa. Biar tambah semangat Author nya.
__ADS_1