
Hari menjelang malam. Annisa dan egi telah selesai makan malam dengan keluarga nya, namun tidak dengan kehadiran Arga dan Romisa karena mereka memilih makan malam di kamar, kini kedua nya tengah berjalan menuju kamar dengan di ikuti Asyila di belakang nya.
Annisa menghentikan langkah kaki nya tepat di depan pintu kamar romisa.
Egi yang melihat annisa memandang pintu tertutup itu, egi mendekati dan meletakkan sebelah tangan ke bahu annisa. "Ada apa annisa?" tanya egi.
Menoleh ke arah egi, "aku ingin melihat kondisi mbak misa. Seharian ini aku tidak melihat mbak, rasa nya amat khawatir egi," tutur annisa dengan nada lemah kemudian menghela napas pelan.
Asyila mendekati kedua nya. "Kakak ipar ke satu baik baik saja kok kak. Hanya saja, perlu istirahat full untuk memulihkan kesehatan nya, tadi sekertaris Tang bilang begitu pada syila," ucap asyila menenangkan annisa.
Annisa menunduk, "tapi...," ucapan nya menggantung karena egi merangkul pundak annisa lalu menggiring ke arah pintu kamar nya.
"Mereka telah istirahat annisa, kau dengar kan penjelasan syila tadi. Jika dia baik baik saja, jadi kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkan nya," ucap egi.
Semoga saja yang di katakan syila itu benar, bahwa mbak baik baik saja.
Aku tinggal serumah dengan mbak misa, tapi bagaikan berbeda rumah karena ketat nya penjagaan terhadap mbak, sehingga menyulitkan aku untuk sekedar ingin bertemu dengan nya saja.
Annisa mengangguk pelan dan pasrah saat egi menggiring nya untuk menuju ke pintu kamar.
Egi menoleh pada asyila yang masih berdiri di tempatnya memperhatikan kepergian diri nya dengan annisa. "Syila kembali ke kamar mu, jangan berdiri di situ terus, kau bukan patung monumen," ucap egi.
Mendengus lalu melangkah ke arah pintu kamar nya. "Masa syila yang cantik gini di bilang patung monumen sih, kak egi jahat," gerutu syila sembari masuk ke kamar nya.
Di dalam kamar egi.
Begitu memasuki kamar annisa membuka kerudung nya lalu bergegas menuju sofa tv, yang di mana di atas meja telah bertumpuk buku dan lembaran kertas yang menunggu nya untuk di isi dengan goretan karya tangan annisa. Egi hanya mengekori annisa sembari menenteng laptop.
Annisa duduk di atas karpet dengan kaki bersila mulai mengerjakan tugas kuliah nya. Sementara egi duduk di atas sofa belakang duduk annisa dan egi mulai sibuk dengan laptop di pangkuan.
"Annisa," panggil egi tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.
"Hemm...," gumam annisa menyahut panggilan egi.
"Jika kita pindah dari rumah ini, apa kau setuju?" tanya egi dengan nada serius.
Seketika gerakan tangan annisa yang tengah menulis terhenti, lalu menengok kan kepala ke belakang. "Kenapa harus pindah egi? kau kan tahu jika aku bertahan di sini itu karena ada...," ucapan annisa tergantung karena egi dengan cepat nya menyela ucapan annisa.
"Mbak misa, asyila," ucap egi memotong ucapan annisa. Lalu mengalihkan pandangan dari layar laptop ke annisa dan menatap serius. "Aku tak suka kau menduakan aku di atas kepentingan mu sendiri, jika kau tidak setuju pindah dari rumah ini hanya karena mereka, kau bisa berkunjung kapan pun kemari dan aku tidak akan melarang nya. Apa ada hal lain sehingga kau tidak ingin pindah dari rumah ini?" tanya egi memicingkan mata menyelidik.
__ADS_1
Annisa menghela napas pelan lalu berbalik memutar duduk nya dan membalas tatapan egi. "Tidak ada hal lain egi, hanya itu alasan ku," ucap annisa lalu menunduk jeda selama beberapa detik. "Jika boleh tahu, kenapa kamu tiba tiba ingin mengajak ku pindah dari sini?" tanya annisa menatap serius.
Egi menyimpan laptop ke sofa samping duduk nya, lalu mencondongkan tubuh memajukan wajah nya agar dekat dengan wajah annisa. "Karena aku ingin hidup berdua dengan mu, sehingga tidak ada yang akan mengganggu ku ketika berbuat apa pun sesuka ku terhadap mu," ucap nya dengan suara sedikit merendah kemudian tersenyum misterius.
Annisa mengerjapkan mata beberapa kali, memundurkan kepala agar jauh dari wajah egi yang begitu dekat di depan wajah nya.
Mendengar ucapan dan melihat senyuman nya, seketika membuat bulu kuduk ku berdiri semua. Dia tidak akan berbuat kasar atau bahkan menyiksa ku kan, hah... tenang annisa, bocah begini mana bisa dia berbuat kasar.
"Ekhem...," dehem annisa menetralkan keterpakuan nya.
"Oke... aku menyetujui untuk pindah," ucap annisa lalu mendorong bahu egi agar menjauh dari nya. "Dan soal rencana mu ingin berbuat sesuka mu itu, aku akan menantikan nya," sambung annisa lalu tersenyum miring.
Egi terkekeh pelan kemudian kembali membenarkan posisi duduk nya. "Jangan terburu buru annisa, siapkan saja tubuh mu agar kuat dan siap menghadapi ku," ucap egi lalu kembali meraih laptop nya.
Annisa membalikkan badan menghadap ke meja untuk mengerjakan kembali tugas nya. "Kau jangan salah sangka, meskipun tubuh ku kalah banding besar nya dengan mu. Tapi soal tenaga dan keahlian aku paling jago," sahut annisa sembari memulai menulis kembali.
Egi menahan senyum nya dan melirik sekilas pada annisa. "Benarkah? Aku jadi tidak sabar ingin mencoba nya, apa kita coba saja sekarang," ucap egi.
Annisa menghentikan kembali gerakan tangan nya lalu menyerongkan tubuh dan mendelik menatap tajam ke egi. "Oke, siapa takut. Ayuk! Mau dimana. Di balkon atau di ruang tengah, di tempat yang luas biar leluasa melakukan nya," tantang annisa.
Egi menatap annisa seakan tidak percaya lalu tersenyum kecil. "Kau yakin akan melakukan nya di balkon? Ini malam hari loh dan pasti nya akan sangat dingin," tanya egi.
Egi gelagapan membuang muka ke arah lain. "Ekhem...," dehem egi lalu menatap annisa. "Baiklah, kita lakukan di ruang tengah dekat ranjang, kau siap siap lah," ucap egi lalu beranjak dari duduk nya.
Annisa ikut beranjak dari duduk nya. "Aku sudah siap, mau perang saja harus bersiap siap segala, langsung saja kita lakuin sekarang," tantang nya.
Egi tersenyum lalu mengusak rambut annisa gemas. "Kau tidak sabaran juga yah, baiklah mari kita lakukan sekarang di sini saja," ucap egi.
Annisa mengkerutkan alis bingung lalu melirik sekitar, yang tempat nya akan sulit jika bertarung dengan egi. "Hey tempat ini kurang luas egi, nanti kalau ada barang pecah gimana, di sana saja ruang tengah," tunjuk annisa mengedikkan dagu nya.
"Segitu ahli nya kah permainan mu annisa sampai tempat yang cukup luas seperti ini saja kau bilang kurang luas."
Annisa mengangguk, "iya memang aku ahli dan jago dalam hal tarung, kenapa kau takut?" tanya annisa.
"Mana mungkin aku takut annisa ku sayang, mari kita lakukan saja sekarang," ucap egi lalu tanpa aba aba. Meraup dan menggendong tubuh annisa ala bridal style.
"Hey! Egi apa yang kau lakukan?" pekik annisa kaget dan menggeliat dari gendongan.
Tersenyum dan menatap annisa intens. "Apa yang ku lakukan, jelas kita akan bertarung. Jadi mari kita lakukan sekarang di ranjang saja, karena bagi pertama pasti akan sangat menyakitkan jika kita melakukan nya di karpet apalagi di balkon. Jadi kita lakukan dengan lembut di ranjang," ucap egi membuat annisa membelalakan mata nya kaget.
__ADS_1
Apa! Jadi dari tadi pikiran dia mengarah ke hal semacam hubungan intim. Padahal aku kira bertarung itu yaa bertarung melawan fisik berkelahi.
Annisa kembali menggeliatkan tubuh nya dari gendongan dan memukul pundak egi. "Hey, lepaskan aku. Siapa bilang aku mau melakukan hal itu sekarang, lepaskan aku!" Berontak annisa.
Egi tersenyum mengeratkan pegangan di tubuh annisa, lalu mulai melangkah kan kaki nya menuju ranjang. "Jangan memukul ku seperti itu sayang, pukul lah dengan lebih lembut nanti di ranjang saja," ucap egi kemudian mengedipkan satu mata nya.
Ah, tidak... aku masih belum siap melepaskan kesucian ku. Bagaimana ini, ranjang nya semakin dekat. Tidak, mama papa tolong annisa dari suami mesum ku ini.
Egi menahan senyuman nya ketika melihat wajah annisa yang tampak gelisah menciut di dalam gendongan memejamkan mata rapat.
"Sayang, kenapa kau memejamkan mata mu. Bukalah, dan tunjukkan permainan mu. Bukannya kau bilang tadi sangat jago dalam hal ini," goda egi.
Annisa mendelik menatap egi. "Jago apa nya, kalau menghajar mu tuh baru aku jago. Lepaskan aku egi, aku belum siap," rengek annisa.
"Tidak akan. Sebelum kita melakukan nya," ucap egi.
Apa dia sungguh sungguh dengan ucapan nya. Mama papa, annisa belum siap. Bagaimana ini...
Lalu egi menghempaskan tubuh annisa ke kasur kemudian tidak memberi kesempatan annisa untuk kabur, egi mengukung tubuh annisa dan menarik kedua lengan annisa ke atas kepala dan mengunci nya.
Egi tersenyum menatap annisa yang menatap nya tajam. "Jangan menatap ku seperti itu sayang, bukannya kau sendiri yang menantang ku untuk melakukan ini sekarang."
"Kau salah paham egi. Maksud ku menantang mu sekarang itu, kau akan bertarung atau lebih tepat nya berkelahi adu otot dengan ku bukan bertarung di ranjang seperti ini, jadi ku mohon lepaskan aku. Aku... aku belum siap," tutur annisa memelas.
Tersenyum, "oh iya. Di ranjang pun sama saja adu otot kok annisa ku sayang," tanggap egi.
Menghembuskan napas kasar, "egi... aku, aku belum siap," ucap annisa.
Namun egi tidak mengindahkan ucapan annisa, dan semakin gencar menggoda annisa dengan mendekatkan wajah nya seakan akan mencium annisa, dan reflek tubuh annisa bergetar dan memejamkan mata rapat rapat memalingkan wajah nya.
Apakah ini akhir masa gadis ku, ingin aku menendang nya tapi dia suami ku bisa dosa aku. Jika begini aku harus bagaimana...
Tersenyum puas karena berhasil menjahili annisa, lalu egi melepaskan pegangan di kedua lengan annisa kemudian egi bangkit dari ranjang.
Beridiri di sisi ranjang menatap annisa yang masih gemetar dan memejamkan mata. "Benar benar menggemaskan. Tenang saja, aku tidak akan melakukan hal itu sekarang karena di hati mu masih tidak rela dan ikhlas menyerahkan nya pada ku. Aku bukanlah orang pemaksa sekalipun kau sudah halal untuk ku annisa, jadi kau tenanglah," ucap egi kemudian berbalik melangkah hendak menuju sofa tv.
Dia tidak melakukan nya.
Annisa membuka mata nya mengintip mencari egi, yang ternyata egi telah berbalik melangkah pergi. Kemudian annisa menghela napas lega. "Syukurlah, dia masih mengasihani ku," gumam annisa pelan kemudian bangkit dari tiduran nya. "Haish... cekalan nya cukup kuat juga jadi nya tambah sakit deh lengan ku," ringis annisa melihat pergelangan tangan nya yang memerah.
__ADS_1
BERSAMBUNG...