Pejuang Move On

Pejuang Move On
Resepsi 2


__ADS_3

Di ruangan Annisa.


"Ada apa ini mbak? Jangan membuat Annisa bingung?" Melas Annisa yang sudah merasa lelah berpikir.


kedua nya mendekat ke arah Annisa dan berdiri di samping nya. "An an, maafkan kami karena telah sedikit membohongi mu. Tapi mbak akan menjelaskannya, sebenarnya...," ucapan Romisa terhenti melirik Asyila.


"Ini adalah resepsi pernikahan nya kakak ipar kedua dan kak Egi, bukan pernikahannya kak Tang," seru Syila tersenyum ceria.


Seketika Annisa terpaku diam. Resepsi? Aku? Egi?


tatapan mata nya kaku tanpa berkedip menatap Romisa, juga bibir nya membisu rapat. Pikiran Annisa melayang karena shock.


"Re..resepsi?" Celetuk Annisa setelah seperkian detik keheningan membentang.


Romisa mengangguk mengiyakan. "Iya An, ini resepsi mu dengan Egi."


Mata Annisa mengerjap beberapa kali menatap Romisa dan Asyila bergantian. Tidak! Mana mungkin? Ini pasti bohong... Ia terlihat linglung tak percaya dengan kenyataan yang terjadi.


Lalu Annisa beralih menatap bayangan diri nya di cermin. "Apa...apakah orang yang di cermin ini adalah aku?" tanya Annisa bingung masih di ambang kesadaran.


Asyila tertawa keras, hendak mencubit pipi Annisa namun terhenti oleh Romisa. "Tentu saja itu adalah gambaran kakak ipar kedua, cantik kan? Syila yakin kak Egi bakal pangling lihat kakak ipar," oceh Syila senang.


Mereka salah! Bukannya yang menikah saat ini mbak cesa.


Annisa kembali menatap Romisa. "Mbak, mbak cesa nya kemana? Bagaimana gaunnya bisa di pakaikan ke Annisa?" Cemas Annisa yang belum sadar dengan apa yang di jelaskan Romisa dan terlihat linglung kebingungan.


Romisa dan Asyila menggelengkan kepala beberapa kali, menepuk jidat, kedua nya menghela napas panjang bersamaan. Lalu mendekat untuk saling memegang di kedua sisi Annisa.


"Kakak ipar kesatu, sepertinya kita langsung bawa saja kakak ipar kedua ke aula utama biar sadar," ucap Asyila menggandeng di sebelah lengan kiri.


Romisa mengangguk, dan menggandeng di sebelah lengan kanan. "Benar syila, kita langsung ke sana saja. Pasti sudah waktunya juga An an kesana," Romisa menyetujui.


"Eh, ini mau kemana mbak, Syila?" Annisa menatap kedua nya secara bergantian.


Syila tersenyum ceria. "Ke tempat yang bisa bikin kakak ipar kedua sadar untuk menerima kenyataan ini," ujar Syila mulai melangkah menggiring Annisa.


"Sadar?" Bingung Annisa masih di ambang sadarnya yang belum memahami situasi.


Romisa dan Asyila menggiring Annisa dengan hati hati, untuk membawa nya berjalan di koridor yang menghubungkan ke sebuah aula utama tempat resepsi di adakan.


Sedang Annisa yang masih terlihat kebingungan hanya pasrah ikut mensejajari langkah kaki kedua nya dengan dua pelayan membantu memangku rok nya yang menjuntai di bagian belakang, rok itu meskipun telah di bantu oleh pelayan, tetap terlihat terseret di sepanjang jalan karena begitu panjang dan mengembang indah bagai bulu merak.


Pandangan Annisa melihat sekitar, yang dimana foto dirinya dengan Egi, entah bagaimana cara nya bisa terpajang besar bagai foto iklan di setiap jalan yang di lewati.


Bagaimana bisa aku bermimpi seperti ini? Sampai foto prewedding sekertaris Tang dan mbak cesa juga bisa berubah jadi wajah ku dan Egi?


Langkah kaki ketiga nya terhenti, tepat di depan pintu kembar yang menjulang tinggi besar.


Annisa mendongakkan kepala melihat pintu itu. Kenapa ada pintu sebesar ini, serasa berada dalam negeri dongeng?


Sejenak Asyila dan Romisa saling pandang. Lalu seperkian detik mendengar instruksi dari dalam yang mengatakan jika mempelai wanita di persilahkan untuk memasuki aula, seketika Romisa melepaskan gandengan tangan nya di lengan Annisa, dan menjaga jarak dengan tubuh Annisa.


Annisa melirik ke dua nya secara bergantian. "Kenapa? Ada apa? Kenapa di lepas?"


"Kakak ipar kedua cepat melangkah, tenang Syila dan kakak ipar kesatu di sini kok nemenin kakak ipar kedua," ucap Syila setengah berbisik ke annisa yang masih berdiri mematung.


Sejenak Annisa masih melirik Asyila dan Romisa. "Masuk? Kedalam?" Bingung Annisa yang di balas anggukkan kepala oleh Asyila.


Annisa menghela napas dalam dalam. Masuk? Hanya masuk kan? dengan langkah sedikit ragu Ia memberanikan diri melangkah kan kaki seiring pintu kembar itu terbuka perlahan. Saat pertama kali kaki nya melangkah masuk ke dalam menginjak red karpet itu Ia langsung di sambut alunan musik yang indah dan kilasan cahaya, sejenak Annisa terdiam membeku diam di tempat.

__ADS_1


Apa ini?


"An an," peringatan Romisa karena Annisa terdiam mematung.


Annisa melirik Romisa. "Mbak ini kenapa mimpinya belum berakhir?" Bisik Annisa.


Romisa tersenyum. "Jalan terus An an, kau akan tahu jika ini bukan mimpi," sahut Romisa lembut.


Annisa menatap sekitar nya. Ini bukan mimpi? Aku harus jalan terus untuk membuktikan jika ini bukan mimpi. Ia kembali melangkah kan kaki maju ke depan dengan langkah pelan.


Mata nya kembali melirik sekitar, yang begitu ramai oleh kilatan flash kamera menerpa ke arah nya, juga taburan kelopak mawar merah muda terus bertabur menghujani langkah kaki Annisa.


Apakah ini nyata? Mama, Papa, Apakah segitu mengkhayalnya Annisa ingin menjadi ratu dalam dongeng, sampai bermimpi seperti ini.


Ia memilih menunduk kan pandangan saat terasa begitu menyilaukan oleh flash kamera yang terus menjepret mengambil gambar nya. Dan suara bisik bisik penuh pujian dengan kata cantik dan lainnya terus terngiang menerpa telinga nya.


Ini benar aku? Begini rasanya aku jadi ratu dalam sekejap. Meskipun hanya ilusi.


Annisa terus melangkah perlahan dengan di dampingi Romisa dan Asyila.


"Kakak ipar kedua lihat ke depan, itu pangeran mu telah menunggu tersenyum ke arah sini," instruksi Syila setengah berbisik.


Pangeran? Apakah ada pangeran juga? Apa pangeran itu si Egi seperti yang aku harapkan?


Seketika, Annisa mengangkat wajah nya menatap lurus ke depan, yang ternyata benar terlihat pria tampan, gagah, menggunakan setelan tuxedo putih, tengah berdiri di pelaminan dan tersenyum hangat, menatap rindu ke arah nya.


Egi? Dia suamiku? Tampannya...


Seketika Annisa memegang rok nya untuk mengangkat agar memudahkan melangkah. Ia melangkahkan kaki nya bergerak cukup cepat untuk menghampiri Egi.


"An an, hati hati," Seru Romisa kaget melihat Annisa melangkah cepat.


Annisa terus melangkah cepat tanpa memperdulikan sekitar yang sudah riuh oleh pergerakannya, hingga akhirnya Ia terhenti tepat di hadapan Egi, hanya berjarak dua langkah dari kedua nya, napas Annisa memburu akibat berjalan cepat dan tergesa, pandangan mata Annisa terus menatap lekat penuh kerinduan ke wajah Egi yang sama sama tengah menatapnya.


Egi... dia benar benar Egi, suami bocah ku, dia dihadapan ku sekarang, nyatakah jika aku menyentuh wajahnya? Mimpi ini tidak akan hilang kan jika aku menyentuhnya?


Tangan Annisa perlahan terangkat hendak menyentuh pipi Egi, namun tiba tiba...


"Sayang, kau sangat cantik sekali," ucap Egi tersenyum hangat, menghentikan pergerakan tangan Annisa.


Dia bersuara? Bahkan ilusi pun bisa di ajak bersuara.


Mata Annisa memerah sembab, menatap sendu. "Egi, be..benarkah ini kau?" tanya Annisa yang masih tidak percaya.


Egi mengangguk mantap. "Iya sayang, ada apa kau terlihat bingung? Apa aku mengagetkan mu sayang?" Egi menjawab dengan pandangan tidak lepas terus menatap lekat wajah Annisa.


Annisa menggelengkan kepala beberapa kali, melihat sekitarnya yang penuh dengan cahaya kamera dan orang orang yang memandanginya. "Aku...berharap mimpi ini tidak berakhir," gumam Annisa. Melihat Egi kembali.


Aku masih ingin bersamanya... Jangan biarkan aku terbangun dari mimpi ini, mama, Papa.


Egi tersenyum menatap wajah cantik Annisa. kemudian tanpa mengalihkan pandangan dari Annisa, Ia mengambil sebuah cincin bermata kan berlian ungu dari kotak nya yang di sodorkan Asyila.


Kemudian, tangan Egi terulur meraih jemari Annisa.


Annisa terhenyak saat tangan Egi menyentuh kulitnya. Aku bisa menyentuhnya... Aku harus memanfaatkan momen ini dengan sebaiknya meskipun hanya ilusi semata.


Dengan gerakan perlahan Egi membungkuk menekuk sebelah lutut nya, berlutut, lalu wajah nya terangkat mendongak menatap Annisa.


Annisa masih menatap Egi tidak percaya. Benar benar aku telah masuk negeri dongeng, dimana pangeran melamar putri.

__ADS_1


Egi memasang wajah serius, namun hangat penuh cinta. "Annisatul Alawiyyah, istri ku. Maukah kau hidup menua dengan ku dan anak anak kita nanti, sampai akhir hayat memisahkan kita," ungkapan Egi.


Sontak Annisa terlongo kaget, menatap tak berkedip ke Egi. Benar seperti dugaan ku, seperti tertulis dalam cerita.


Lalu, dengan perlahan Annisa menggerakkan kepala untuk mengangguk pelan.


Egi tersenyum penuh bahagia, menyematkan cincin berlian itu ke jemari manis Annisa, kemudian mengecup lembut punggung tangan Annisa.


Annisa tersenyum haru, menatap berkaca kaca pada Egi.


Egi, aku sangat mencintai mu... sampai aku ber angan seperti ini.


Prok...prok.


Suara riuh tepuk tangan, sorak an dari para tamu undangan, dan kilasan kamera dari berbagai media masa membuat suasana menjadi haru bahagia dalam gedung itu.


Annisa tersadar dalam lamunan nya, melihat sekitar. Bahkan suara dan sentuhan mereka begitu sangat nyata. Aku masih bingung, benarkah ini nyata atau hanya ilusi ku?


Egi berdiri dari posisi nya, kemudian Ia menggiring dengan tangan terus menggenggam jemari Annisa untuk membantu naik ke panggung pelaminan. Di bantu pendamping pengantin untuk mengangkat rok Annisa agar tidak terjerat saat melangkah.


Kini kedua nya telah berdiri di atas panggung pelaminan, menghadap ke para tamu undangan, dan media stasiun tv yang tengah meliput siaran langsung.


Annisa menyembunyikan wajah nya, menundukkan pandangan tidak berani menatap ke depan menunjukkan mata nya yang sudah berkaca kaca. "Egi...," ucap Annisa tercekat dalam tenggorokkan karena menahan air mata nya agar tidak terjatuh.


Egi menoleh ke samping nya. "Ada apa sayang?" Ucap Egi lembut.


Annisa mengangkat kepala nya menatap wajah Egi, penuh rindu. "Apakah kau nyata? Apakah benar ini bukan di negeri dongeng?"


Egi tertegun mendengar pertanyaan Annisa, perlahan tangan nya terulur menyentuh pipi Annisa. "Sayang, apa kau dari tadi berpikir jika ini bukan nyata? Aku nyata sayang, Ini aku suami bocah mu, Egi." tanya Egi yang di balas anggukkan pelan dari Annisa.


Annisa memejamkan mata, menahan air mata nya yang akan terjatuh. "Sadarkanlah aku Egi, jika ini bukan mimpi. Bangunkan aku jika ini benar benar kamu," oceh Annisa di sela pejaman mata nya.


Egi tersenyum hangat, menjentik cukup keras kening Annisa.


Pletak.


Mata Annisa terbuka, tangannya mengusap kening yang terasa panas. "Kenapa rasanya sakit? Jadi benar ini bukan mimpi? Kau nyata ada di sini?" tanya Annisa beruntun.


"Tentu sayang, Aku nyata," Sahut Egi. Kemudian Ia menunduk mendekatkan wajah ke sisi kepala Annisa. "Apa segitu merindunya diri mu pada ku sayang, sehingga berpikir ini mimpi," goda Egi.


Wajah Annisa merah merona. "Tidak! Aku...aku hanya sedikit merindukan mu," ucap Annisa menundukkan pandangan, menyembunyikan wajah nya yang merona parah.


Sangat merindukan bukan sedikit saja, bahkan rasanya saat ini aku ingin memeluk mu Egi.


Egi terkekeh menaruh tangan Annisa agar melingkar di lengan nya. "Kau hanya sedikit, tapi aku begitu sangat merindukan mu Annisa ku sayang." Ungkap Egi lalu menunduk mendekatkan bibir nya ke telinga Annisa. "Terutama madu," bisik nya menggoda.


Wajah Annisa semakin merah merona, dan jantung nya berdebar keras.


Dia masih ingat soal madu.


Melihat wajah Annisa yang merona merah padam, Egi tersenyum senang. "Sayang kau terlihat sangat cantik sekali, sungguh menggoda iman ku, membuat ku tak sabar ingin mencicipi madu," goda Egi, membuat Annisa semakin merona.


"Ka..kau tidak malu berkata mesum seperti itu Egi?" Gugup Annisa mengalihkan pandangan ke arah lain.


Egi semakin tersenyum senang.


BERSAMBUNG...


Sempatkan klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...

__ADS_1


__ADS_2