Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 51


__ADS_3

Puk... puk.


Pak Adi menepuk punggung anak gadis nya yang tengah tidur tengkurap di atas ranjang.


"Neng. Bangun," panggilnya lembut.


"Emm...," Rika menggeliatkan tubuh berubah posisi menyamping.


"Neng, bangun. Udah magrib," ucap Pak Adi menggoyangkan bahu Rika cukup keras.


Hingga gadis itu mau tak mau ketarik ke alam nyata, ia mengerjapkan mata yang tertutup kembali dan masih dengan posisi tubuh menyamping ke arah Pak Adi. Dia mengucek sebelah mata ciri khas bangun tidur namun masih menyipit tertutup. "Jojo." Celetuk Rika serak nan lemah.


"Jojo?" Heran Pak Adi dengan alis berkerut.


Tersenyum manis, tangan Rika terulur menyentuh sisi wajah Pak Adi. "Aku mencintai mu, Joe."


Apa dia bermimpi? Atau dia sedang mengigau? Pak Adi semakin di buat bingung dengan tingkah anaknya.


Rika yang belum sepenuhnya tersadar dari tidurnya, ia mengusap lembut pipi Papa nya yang berbulu tipis di sekitar dagu. "Jojo, kenapa pipi mu kasar seperti monkey?"


"Monkey?" Geram Pak Adi alisnya semakin berkerut dalam.


Jemari tangan Rika mengusap bibir atas Pak Adi. "Apa ini? Wajah mu banyak bulu nya, seperti ulat."


"Ini kumis Neng, bukan ulat." Menangkap tangan Rika agar berhenti wajahnya. Dan...


Plakk.


Memukul bahu Rika cukup keras beberapa kali.


"Aww, Jojo sakit." Pekik Rika sontak mata nya terbuka lebar, ia mengusap lengan atasnya yang terasa panas berdenyut.


"Jojo, Jojo. Ini Papa, masih belum sadar juga yah." Oceh Pak Adi kembali melayangkan tangan menepuk lengan atas Rika beberapa kali.


Hingga kesekian kali nya, Rika dengan sigap menangkap tangan Pak Adi. "Papa." Kagetnya dengan mata melotot terpaku diam menatap sang Papa. "Ke-kenapa Papa ada di sini? Dimana Jojo?"


Pak Adi menarik tangannya. "Jojo, Jojo. Maksud mu Jhonathan? Apa dia sering masuk kamar mu seperti si Rayhan? Sampe-sampe Papa di kira dia." tanyanya sambil duduk di sisi ranjang.


"Kamar?" Bingung Rika, bangkit dari tidurannya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar kamar yang memang ia tengah di kamarnya. Kenapa aku disini? Bukannya aku sedang di lamar oleh si Jojo di rumah sakit?


"Neng. Jawab pertanyaan Papa." Tegas Pak Adi yang melihat gerak gerik anaknya aneh, namun tak di hiraukan.


"Bunga." Celetuk Rika menggerakkan kepala melihat sekeliling kamar yang akhirnya pandangannya jatuh pada sebuket besar mawar putih yang bertengger indah dalam vas guci di samping bufet televisi. Seketika senyuman merekah indah di bibir merahnya.


"Neng." Panggil Pak Adi keras, namun lagi-lagi tak di gubris Rika yang sibuk dengan pikirannya. Ada apa dengan anak ku? Dia terlihat aneh.


"Neng." Dan tetap tak di dengar oleh Rika.


Cincin... iya cincin itu dimana? Rika beralih memeriksa kedua tangannya dengan melebarkan kedua telapak tangan. Senyuman di bibirnya semakin lebar dengan bibir sedikit terbuka memperlihatkan gigi putihnya, juga dengan mata berbinar bahagia menatap cincin bermata kan berlian putih berkilauan indah di jari manisnya. Ini bukan mimpi? Ini nyata.


"Yes, akhirnya ini bukan mimpi!" Teriak Rika sambil mengangkat kedua tangan ke atas dan tertawa bahagia tak nyadar jika tingkahnya sedang di amati sang Papa.


Plakk.


Pak Adi yang geram dan bingung, kembali melayangkan tangan memukul lengan atas anaknya dengan keras.


"Aww." Pekik Rika mengusap lengannya, ia menatap sebal pada pria di hadapannya. "Sakit."


"Sakit yah? Sudah sadar sekarang?"


Rika memberenggut manggut-manggut pelan.


Hah... Pak Adi menghela napas panjang, ia menatap serius. "Nak Jhonathan? Bukan mimpi? Apa maksudnya? Ceritakan pada Papa, apa yang di lakukan Nak Jhonathan sampai membuat anak gadis Papa sampai segila ini?"


"Ika nggak gila Papa. Ini nyata Papa. Lihatlah." Rika mengacungkan sebelah telapak tangan memperlihatkan cincin putih itu ke hadapan wajah sang Papa.


"Cincin?" Bingung Pak Adi masih menatap serius.


Rika kembali tersenyum dengan menggigit bibir bawah menundukkan pandangan. "Jojo... Jojo melamar Ika." Ucapnya lemah nan jelas.


"Hah! Dilamar?" Kaget Pak Adi dengan suara keras ke wajah Rika.


"Papah." Rika mengangkat wajahnya.


"Ekhem." Sekilas melirik ke arah lain untuk menetralkan keterkejutannya, ia kembali menatap serius dan bersikap tenang. "Ceritakan kronologinya? Bagaimana bisa kau di lamar anak pengecut itu."

__ADS_1


"Jojo bukan laki-laki pengecut, dia laki-laki berani." Sanggah Rika tak terima.


"Baiklah, ceritakan kejadiannya."


Rika menundukkan pandangan terulas senyuman sebelum berucap, ia menceritakan kejadian siang yang menimpa nya. Dan Pak Adi dengan serius dan cermat mendengarkan cerita anaknya.


"Ika sangat senang dia melamar Ika. Pria yang tersimpan di hati Ika cukup lama dan akhirnya membalas cinta Ika." Tutur Rika dengan senyuman terus mengembang.


"Haaah," terdengar helaan napas panjang dari Pak Adi membuat Rika terusik menoleh dan menatap tanya.


"Kenapa Pah? Apa Papa nggak suka jika Ika menikah dengan Jojo?"


"Bukan begitu Neng." Pak Adi mengusap puncuk kepala anak gadisnya dengan sayang. "Papa bahagia jika Neng juga bahagia, hanya saja... untuk saat ini, Neng harus menjaga dan menyembunyikan hubungan itu sementara waktu sampai Mama menyerah soal Nak Farhan."


"Kak Farhan yah." Ucap Rika lemah dan seketika wajahnya terlihat murung. "Ika tahu maksud Papa, tapi bisakah Papa membujuk Mama tanpa menyakiti perasaannya?"


"Akan Papa usahakan. Apa pun yang membuat anak gadis ku bahagia, akan Papa turuti Dan Papa yakin Mama juga akan mengerti."


Rika berhambur memeluk. "Makasih Papa udah mau mengerti Ika."


"Hemm." Mengusap puncuk kepala dan membalas pelukannya. "Neng, Papa punya kejutan."


"Kejutan?" Rika melepaskan pelukannya dan mendongak menatap.


"Di bawah barangnya. Tapi sebelum lihat kejutannya, buatkan dulu Papa macaroni cheese."


"Yah Papah. Kan ada Mama." Rajuk Rika manja.


"Buatan mu lebih enak. Cepat ke bawah untuk magrib jamaah dulu. Lalu buatkan Papa makanan." Pak Adi beranjak dari duduknya mengusap puncuk kepala Rika.


"Nyebelin." Gerutu Rika menatap sebal pada pria yang sudah melangkah ke arah pintu keluar.


"Neng." Pak Adi terhenti sebelum membuka pintu.


"Iya Pah."


"Jika Mama bertanya soal cincin, jawab saja kamu beli sendiri."


"Tapi Pa-"


"Ba-baiklah." Pasrah Rika menundukkan kepala.


Beberapa jam kemudian.


Kedua mata Rika di tutup oleh sebuah dasi berwarna hitam. Ia di giring oleh kedua orang tua nya berjalan menuju halaman rumah.


"Mama kejutan apaan sih yang mau di tunjukin Papa sampe harus di tutup segala mata Ika."


"Sudah nurut saja nanti juga Neng akan tahu." Timpal Ibu Asih yang berada di samping kiri Rika.


"Jadi penasaran."


Hingga ketiga nya berada di depan sebuah kendaraan berroda empat berwarna biru langit cerah.


"Mah buka penutup mata nya." Perintah Pak Adi yang langsung di turuti.


"Ika udah boleh lihat nih?"


"Iya Neng."


Perlahan tali penutup mata terlepas dari kedua mata. ia dengan pelan membuka mata nya untuk menatap apa yang di hadapannya.


Seketika kedua bola mata Rika berbinar melebar senang, mulutnya menganga. "Mo-mobil." Celetuknya menatap secara bergantian pada kedua orang tua.


"Iya Neng." Ibu Asih mengusap puncuk kepala Rika dengan lembut. "Biar nggak naik kendaraan umum terus."


"Tapi... tapi mobil ini pasti mahal harganya. Mana ini baru lagi." Mengusap body mobil itu dengan pelan.


Pak Adi menunjukkan kunci mobil yang sudah di beri gantungan boneka keropi. "Papa dapet bonus besar dari kantor jadi bisa nambah uang buat belinya. Gimana Neng suka?"


"Keropi." Menyambar kunci mobil menatap boneka yang sebesar genggaman tangan dewasa. "Suka banget. Tapi ini serius Pah, Mah." Yang di balas anggukkan kepala oleh kedua nya.


Rika semakin tersenyum senang, menelisik penampilan mobil itu. Mimpi apa aku semalem, hari ini aku ketiban rezeki kebahagiaan dan keberuntungan.


Ibu Asih menjembel sebelah pipi Rika dan menciumnya. "Ajak Mama jalan-jalan sekitar komplek."

__ADS_1


"Boleh, hayuk kita jalan-jalan." Semangat Rika membuka pintu mobil.


Ibu Asih dengan senang hati berjalan cepat ke arah pintu mobil sebelahnya dan masuk untuk duduk.


"Lah, Neng. Kok jalan-jalan." Gelagap Pak Adi.


"Papa mau ikut nggak? Masuk sekalian."


"Nggak. Turun kalian, Papa mau makan malam."


"Mah, Papa mau jajanan tuh," ucap Rika pada sang Mama yang tengah memasang seat belt.


"Nanti kita cari abang-abang tukang jualan." Balas Ibu Asih tak acuh.


Rika tertawa geli, mulai menyalakan mesin mobil.


"Hey, Neng. Papa belum di buatkan macaroni cheese." Ujar Pak Adi yang masih berdiri mematung di tempatnya.


Rika melongokkan kepala di jendela mobil yang terbuka lebar. "Bentar Pah. Kita jalan-jalan dulu, keliling komplek kali aja ada tukang somay lewat ntar di beliin untuk Papa satu mangkuk."


"Ck anak ini. Papa mau nya macaroni cheese bukan somay."


"Hahaha...," tawa kedua wanita dari dalam mobil menimpali ucapan Pak Adi seiring dengan mobil itu melaju perlahan keluar area garasi untuk keluar halaman rumah meninggalkan Pak Adi yang masih berdiri memperhatikan.


Tin...tin.


Suara klakson berbunyi nyaring dari mobil Rika.


"Kita pergi dulu Papa ganteng." Ucap Rika sebelum akhirnya mobilnya melaju di jalanan besar komplek.


"Hah... anak dan Ibu sama saja," gumam Pak Adi masih menatap mobil biru yang sudah menjauh.


-----------------------------------


Sementara di Rumah Jhon.


Di meja makan.


Jhon tengah menikmati makan malam bersama keluarga nya, ia terlihat lahap memakan makanannya dengan sesekali senyuman terbesit di bibir tipisnya.


Ibu Lily yang menyadari ada yang tidak beres dengan tingkah putra nya. Ia menatap heran dan bertanya. "Ada hal apa yang membuat mu sangat bahagi, Atan?"


"Ah," terhenyak menoleh dan tersenyum. "Ternyata ibu cepat peka dengan perasaan ku."


Pak Kusuma ikut mentapa anaknya. "Apa kau baru saja melamar seorang gadis sampai berwajah seperti itu?"


"Melamar?" Kaget Ibu Lily dengan mata melebar menatap Jhon.


Jhon tersenyum tipis, menundukkan pandangan. "Ayah benar, aku baru saja melamar gadis."


"Benarkah? Siapa gadis itu? Apa Ibu mengenalnya? Apa dia pernah kesini? Atau jangan-jangan dia Nak Rika?" Cerocos Ibu Lily saking senangnya.


"Ibu." Peringatan Pak Kusuma memegang sebelah tangan sang istri. "Tenanglah, jangan membuat anak mu malu dengan pertanyaan aneh mu."


"Ibu hanya merasa bahagia saja Ayah, sudah lama anak kita tidak tersenyum bahagia seperti ini. Jadi Ibu penasaran, siapa gadis itu yang bisa merubah anak kita jadi seperti ini."


"Dia Rika, kekasih sekaligus tunangan ku." Ujar Jhon seketika membuat kedua nya menoleh dan menatap diam.


Seperkian detik keheningan membentang di antaranya karena terkejut.


"Alhamdulillah, akhirnya doa ibu terkabul." Ucap Ibu Lily tersenyum dan mengulurkan kedua tangan hendak merangkul tubuh anaknya namun langsung di cegah Pak Kusuma.


"Ibu, kita sedang makan."


"Ah, iya lupa. Saking senangnya Ibu jadi lupa." Di akhiri tawa.


Jhon menimpali nya dengan senyuman dan kembali melanjutkan memakan makanannya.


"Kalo gitu kapan kita akan bertemu keluarga mereka?" Pertanyaan Pak Kusuma menghentikan gerakan tangan Jhon.


"Hemm. Ibu udah nggak sabar lihat anak Ibu naik ke pelaminan."


"Secepatnya." Jhon berucap tenang dan kembali menyendokkan sup ke mulut.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...


__ADS_2