
Mobil Jhon telah terparkir tepat di depan gerbang yang bercat warna hitam rumah Rika.
Selama perjalanan pulang, mereka hanya terdiam satu sama lain, membungkam bibirnya sibuk dengan pikiran masing masing. Rika membuka sabuk pengaman yang di gunakannya, lalu mengambil paper bag plastik isi pakaian tugas yang sempat di ganti sebelum memakai gaun.
Ia menundukkan pandangan. "Terimakasih sudah mengantar saya pulang, Assalamualaikum." Pamit Rika meraih handle pintu mobil hendak keluar.
"Pertama kali dan terakhir kali juga tugas mu, karena keluarga saya sepertinya telah membatalkan perjodohan dengan wanita itu. Jadi sebutkan permintaan mu apa, jika kau mau uang, tinggal sebutkan jumlah nya dan jika...,"
Rika menoleh dengan cepat dan menatap kesal. "Sudah saya katakan, saya tidak perlu uang bapak!" Ujar Rika setengah berteriak memotong ucapan Jhon. Ia menghembuskan napas kasar yang emosi nya telah terpancing. "Akan saya katakan apa permintaan saya nanti, untuk sekarang saya belum terpikirkan." Lanjutnya dengan nada rendah.
Jhon tanpa menoleh atau pun melirik ia menjawab ucapan Rika dengan tenang. "Baiklah," Memegang stir mobil dengan kedua tangannya. "Tugas mu cukup bagus, meskipun kau pandai meniru dan menampilkan wajah orang lain di depan orang tua saya, tapi rupanya itu berhasil. Saya berterimakasih atas kerja sama nya."
Rika melirik, alis nya tertaut bingung. "Meniru? Wajah orang lain? Maksud bapak?" Beo Rika.
"Tidak penting." Sahut Jhon cepat. Kemudian mengedikkan dagu ke arah pintu mobil samping Rika dan membuka kaca jendelanya.
"Silahkan, malam sudah larut. Keluarga mu akan sangat khawatir jika kau berlama lama di sini," usir Jhon secara halus dengan intonasi dingin dan wajah datar.
Pak Jhon kenapa harus bersikap seperti ini terhadap ku? Apa segitu membenci nya dia pada ku, hingga dengan mudah memojokkan dan mengusir ku begitu saja.
Selama satu menit Rika masih diam menatap wajah Jhon yang sama sekali tidak menoleh ke arahnya. "Pria berlidah tajam," celetuk Rika menarik cepat handle pintu dan keluar mobil.
Brak.
Menutup pintu mobil dengan kasar.
Di luar mobil Rika tersenyum kepaksa menundukkan pandangan. "Hati hati di jalan, Pak Jhonathan," ucap Rika menundukkan kepala sebagai salam, lalu berbalik menarik slot pagar rumah.
Jhon menoleh menatap punggung Rika yang sudah berjalan memasuki halaman rumahnya. Ia menghembuskan napas dan mengusap wajahnya dengan kasar oleh kedua tangan. "Sial!" Umpat Jhon.
Dugh...dugh.
Jhon memukul beberapa kali dengan keras stir mobil dan menempelkan dahi di antara lengan yang memegang stir. "Kenapa harus mirip dengan mu, Sanny...," kembali menghembuskan napas kasar. "Maafkan aku, sanny, maafkan aku," gumam Jhon pelan, ada nada bersalah dan frustasi dari kalimatnya.
Aku harus menjauh darinya. Rikaa...
------------------------------
Rika masih berdiri di depan pintu kembar rumah nya, ia melihat sekeliling halaman rumah dan pandangannya jatuh ke sebuah mobil putih terparkir di depan mobil Papa nya.
__ADS_1
"Mobil siapa itu? Apa ada tamu Papa?" Oceh Rika. Ia kembali menatap pintu di hadapannya.
Setidaknya mereka tidak akan begitu memarahi ku jika ada tamu.
Rika masih mematung ragu untuk masuk. Beberapa menit Ia sudah beberapa kali menghembuskan napas panjang dan menggigit ujung kukunya menghilangkan rasa ragu juga takutnya untuk masuk ke dalam rumah berhadapan dengan Mama, Papa nya.
"Baiklah Rika, lebih baik kau menghadapinya sekarang dan cari alasan yang masuk akal untuk menjelaskan kepulangan ku yang telat." Gumam Rika mengangkat sebelah tangan yang terkepal sebagai semangat diri.
Dengan segala keberanian, dan hatinya yang sudah tenang. Rika meraih gagang pintu untuk di dorong nya, namun tiba tiba...
Sreet.
Bersamaan dengan tangan Rika hendak mendorong, tiba tiba pintu itu di tarik dari dalam, sehingga hampir saja Rika terperosok ke depan. Dari balik pintu itu memunculkan seorang pria berkemeja biru langit, dengan jas putih kedokteran tersampir di sebelah lengannya, wajah pria itu sangat tampan, dengan kulit putih bersih menambah aura ke tampanannya.
"Eh," kaget Rika mengerjapkan mata beberapa kali, Ia mematung di depan pintu menatap pria yang sama sama berdiri mematung di ambang pintu menatapnya.
"Si-siapa anda? Kenapa ada di rumah saya?" tanya Rika.
Kenapa aku bertanya seperti itu? Dia pasti tamu Papa?
Pria itu masih menatap tak terbaca, tanpa menjawab pertanyaan yang di lontarkan Rika.
"Mama, Assalamualaikum." Rika melangkah masuk ke dalam rumah melewati pria yang masih berdiri mematung memandangnya.
"Walaikumsalam," jawab Ibu Asih dan pria itu. "Kamu kemana saja Neng, membuat Mama Khawatir, di telpon nggak aktif di kirim pesan pun nggak Neng balas." Cerocos Ibu Asih menerima salam Rika yang tengah mencium punggung tangannya.
Rika mengangkat kepala nya yang sudah menyalami tangan Ibu Asih. "Maafkan Ika Ma, tadi... ada urusan mendadak jadi ika nggak sempat pulang, dan soal ponsel mungkin kehabisan batrei jadi nya mati," ucapnya mencari alasan.
Ibu Asih mengangguk, mengusap wajah Rika dengan sayang. "Memang Neng habis darimana sampe berpakaian seperti ini?" Heran Ibu Asih memidai penampilan Rika.
"Ini... ini, Ika habis dari acara teman yang acara nya cukup formal jadi, yaa Ika pakai gaun," gelagap Rika tersenyum nyengir menampilkan deretan gigi nya.
Syukurlah Mama nggak curiga dan nyerocos tanpa jeda. Untung ada tamu, Mama jadi tidak bertanya secara rinci.
Ibu Asih kembali mengangguk kecil, Lalu beralih melirik Pria yang sedari tadi memperhatikan interaksinya. "Oh, iya Neng. Ini Nak Farhan anaknya tante Roselly. Dia kemari ingin menjemput Neng untuk makan malam, tapi Neng nya nggak ada, jadi dia nya yang makan malam di rumah kita untuk menunggu Neng pulang," Merangkul bahu Rika untuk di putar menghadap ke pria tadi.
Jadi dia tamu aku bukan tamu Papa. Jika begini bisa habis aku, kalau bertemu dengan Papa.
Rika tersenyum ramah, menangkup kedua tangan di depan sebagai salam. "Rika Hasanah Adrika."
__ADS_1
Pria itu tersenyum ramah membalas senyuman Rika dan melakukan hal yang sama menangkup kedua tangan di depan sedikit menganggukkan kepala. "Farhan Alfarezi," ucapnya memperkenalkan diri.
Mengangguk pelan, Rika menatap sekitarnya yang tidak mendapati sang Papa.
Hah... syukurlah papa nggak ada di sini. Aku harus segera ke kamar sebelum papa muncul.
Kemudian, Ia beralih menoleh ke Ibu Asih. "Ma, Ika sedikit capek. Bolehkah Ika masuk kamar." Bisik Rika namun masih terdengar oleh Farhan.
"Tapi Nak Farhan gimana Neng? Nggak enak dia sudah menunggu mu beberapa jam dari tadi, tapi Neng malah membiarkannya seperti itu. Nggak sopan Neng," ujar Ibu Asih setengah berbisik.
Farhan tersenyum menatap dua wanita di hadapannya. "Tidak apa tante, biarkan Dek Rika untuk beristirahat. Saya pun akan pamit untuk pulang. Sudah larut malam juga," Farhan menengahi ucapan kedua nya.
Pengertian juga nih orang.
"Mama sudah dengar kan, kata nya tidak apa. Ika pamit masuk kamar dulu yah Ma." Rika mencium sebelah pipi Ibu Asih dan berjalan ke arah tangga.
"Anak ini, Neng." Seru Ibu Asih menatap kepergian Rika.
"Kak Farhan hati hati di jalannya, maaf saya tidak bisa mengantar sampai depan," ucap Rika melambaikan sebelah tangan, Lalu menginjak anak tangga. Yang di balas anggukkan kepala dan senyuman manis dari Farhan.
Ibu Asih tersenyum menatap Farhan. "Maaf atas sikap si Neng, dia memang seperti itu jika sudah terlalu kelelahan dalam aktivitasnya." Tutur Ibu Asih merasa tidak enak.
"Tidak apa tante, saya mengerti itu." Jawab Farhan sambil berbalik ke arah pintu keluar.
Di dalam kamar Rika.
Rika menutup pintu kamar dan menguncinya. Ia melempar paper bag plastik dan tas selempang ke sofa panjang yang berdempet di ujung ranjang, begitu pun ia langsung melempar diri ke atas kasur dengan posisi tengkurap memeluk boneka kesayangannya.
Selama beberapa menit Ia terdiam, memejamkan mata. Menghela napas dalam dalam untuk menetralkan perasaan hatinya yang sudah bergejolak tak karuan di tahan sedari tadi.
Pak Jhon... Apa dia menganggap ku sebagai barang sekali pakai? Habis di ambil kegunaannya langsung di hempaskan begitu saja.
Kenapa aku bagai tak ada harga nya di depan mata dia? Setiap kali kata kata yang dia lontarkan pada ku, tidak pernah ada satu pun kata kebaikan terselip untuk ku. Aku menyukai mu namun aku membenci sikap mu, Pak Jhon.
"Hiks...hiks. kenapa aku harus menyukai dia? Kenapa perasaan ku memilihnya? Jojo, kau membuat hati ku sakit dengan lidah tajam mu. Haruskah aku bertahan dengan perasaan ini? Hah... setidaknya dia tidak main fisik melukai ku," gumam Rika terisak menelungkupkan wajahnya di antara lengan yang memeluk boneka.
BERSAMBUNG...
Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...
__ADS_1
Di season 3 ini di banyakin Bab Rika & Jhon karena Pejuang Move On kali ini tentang kisah mereka yaa... Jadi untuk Bab Annisa & Egi sedikit berkurang 😊.