Pejuang Move On

Pejuang Move On
Trauma Terulang 5


__ADS_3

Egi masih terduduk menunduk, dengan jemari tangan saling menaut dan menempelkan nya ke kening. Sangat terlihat jelas jika diri nya dalam keadaan gelisah dan tidak tenang karena begitu amat mengkhawatirkan Annisa.


"Jhon, berapa lama lagi mereka di dalam!" gerutu Egi yang sudah tidak sabar.


Jhon yang sudah berpindah duduk di sofa yang Egi duduki. Ia memberikan tepuk an di pundak Egi. "Saya sudah katakan bersabarlah tuan Egi. Mereka lama juga karena sedang memberikan penanganan yang terbaik untuk Nona," tutur nya menenangkan.


Egi menghembuskan napas kasar, dan memejamkan mata berharap semua kejadian ini adalah mimpi. Namun baru saja diri nya merasa bisa bernapas, tiba tiba...


"Egi," Panggil Ayah putra yang sudah berdiri di hadapan Egi.


Egi membuka mata nya kembali, dan perlahan mendongakkan kepala menatap ayah nya.


"Ayah." Lirih Egi menatap sendu.


Ayah putra duduk di sofa di bagian yang kosong di samping sofa yang di duduki Egi, lalu merangkul bahu egi.


Egi menunduk kembali. "Ayah siapa yang mengizinkan membawa mu kemari? Bukannya ayah sangat membenci rumah sakit ini?"


Puk... puk. Ayah putra menepuk beberapa kali di pundak egi.


"Menantu ayah terluka, apa ayah terlihat seperti mertua yang tega tidak menjenguk menantu nya yang tengah sakit," jawab nya lalu melirik ke arah pintu di hadapan nya yang masih tertutup rapat.


"Ayah... Annisa," ucap Egi tercekat, kemudian merangkul ayah putra untuk menyembunyikan mata nya yang sudah memerah tak kuasa menahan gejolak dalam diri nya. "Aku takut... terjadi kembali pada Annisa ku, ayah. Kejadian saat kehilangan ibu... Aku sangat takut Annisa...," ceracau Egi pelan dan mendesah panjang.


Ayah putra kembali memberi tepuk an pelan di bahu untuk menenangkan Egi. "Jangan mengingatkan ayah tentang peristiwa ibu mu. Dan juga, menantu kedua ku akan baik baik saja Nak. Bukannya kau sendiri yang bilang jika dia wanita yang kuat, dia pasti baik baik saja."


"Aku berharap begitu," ucap Egi terjeda sejenak untuk menghela napas panjang, agar bisa menguasai diri nya. "Mereka sudah 2 jam di dalam, tapi aku belum mengetahui keadaan Annisa sama sekali." Melepaskan rangkulan nya dari tubuh ayah putra dan menunduk kan pandangan.


"Bersabarlah, mereka sedang melakukan yang terbaik untuk menantu Ayah."


Egi tidak menanggapi lagi ucapan ayah putra, diri nya telah terlarut kembali dalam emosi yang berkecamuk dalam hati nya.


Sementara Jhon hanya bisa menyaksikan, percakapan antara ayah putra dan Egi. Lalu kembali menghembuskan napas panjang, menatap pintu yang masih tertutup rapat.


Selang beberapa waktu.


Sreet...


Pintu di hadapan mereka terbuka perlahan, dan keluarlah seorang wanita yang berjas kedokteran dari dalam ruangan yang menangani Annisa.


Segera Egi dan Jhon berhambur mendekat ke dokter itu, namun tidak dengan ayah putra memilih diam mengamati dari sofa.


"Mana istriku! Bagaimana keadaan nya!" Seloroh Egi tidak sabar.


Dokter wanita yang bernama Erika itu membalas tatapan Egi dan menghela napas pelan. "Nona Annisa sudah boleh di pindahkan ke ruang perawatan setelah proses transfusi darah nya selesai, dan keadaan nya sekarang masih belum siuman karena efek obat bius saat...," Belum selesai berbicara dokter Erika.


Egi dengan terburu nya langsung merangsek masuk ke dalam ruangan, tanpa mau mendengarkan penjelasan lebih dari dokter Erika.

__ADS_1


Mendapat respon Egi seperti itu, Dokter Erika menatap terlongo ke arah pintu lalu beralih menatap Jhon dan Ayah putra.


Ayah putra yang sedari tadi terduduk mengawasi. Mata nya memicing tajam menatap ke dokter Erika. "Jhon!"


Jhon yang tengah menatap ke arah pintu, menoleh ke arah ayah putra. "Iya tuan besar," sahut nya.


"Bawa dokter itu, dan Ikuti aku ke ruangan yang bisa menjelaskan keadaan juga kejadian yang menimpa menantu ku dengan jelas." Isntruksi ayah putra lalu beranjak dari duduk nya dan melangkah pergi dengan di iringi beberapa bodyguard yang sejak tadi berdiri di sekitar nya.


Dokter Erika tersenyum kecil, melirik kepergian ayah putra. "Syukurlah tuan besar Putra tidak lagi ketakutan saat menginjakkan kaki nya di rumah sakit ini," gumam nya.


Jhon tersenyum tenang. "Trauma memang masih ada, karena duka itu akan terus menjadi duka dalam yang membekas dalam keluarga putra. Mari dok, jangan biarkan tuan besar menunggu," ucap Jhon lalu ikut melangkah menyusul Ayah putra, dan dokter Erika ikut membuntuti Jhon.


----------------------


Di dalam ruangan IGD.


Egi menghampiri ranjang yang dimana Annisa terbaring lemah dengan dua selang terpasang di kedua tangan, dan selang oksigen yang menempel di hidung. Kepala Annisa telah terbalut perban juga kerudung. Melihat pemandangan itu, hati Egi terasa teriris perih. Ia kemudian dengan langkah pelan mendekati ranjang Annisa dan ada sebuah kursi kecil samping ranjang yang telah di siapkan oleh salah satu perawat untuk nya.


Saat egi memasuki ruangan, semua perawat juga beberapa dokter wanita yang berada di dalam, seketika menunduk salam dan keluar ruangan meninggalkan Egi dan Annisa berdua.


Egi masih berdiri di samping ranjang, menatap lekat wajah pucat Annisa. Perlahan tangan Egi terulur untuk menyentuh pipi mulus annisa yang putih pucat tidak ada lagi rona merah di sekitar nya. "Sayang, kau terluka lagi," ucap nya serak dan tertahan karena sejak tadi egi menahan air mata nya agar tidak terjatuh.


Kemudian dengan gerakan pelan penuh kehati hatian, egi membungkuk untuk mendekatkan wajah nya dengan wajah annisa dan melabuhkan kecupan lembut di kening annisa.


"Maafkan aku tidak melindungi mu dengan baik. Apa kau akan memaafkan aku, Annisa?" tanya nya menatap dan mengusap lembut pipi annisa.


Egi kembali mendaratkan kecupan di kedua pipi Annisa. "Buka mata mu, sayang. Jangan terlalu lama kau tertidur," oceh nya, dan kembali diri nya menegakkan punggung namun pandangan masih menatap lekat wajah annisa.


Lalu, egi duduk di kursi kecil samping ranjang. Begitu terduduk mata nya telah berkaca kaca seakan akan menangis namun masih tertahan sehingga menimbulkan raut wajah yang merah padam. Egi mencengkram dagu menutup bibir nya untuk menahan emosi nya yang telah meluap luap. Ia masih menatap lekat wajah Annisa.


"Begitu mendengar kau dalam bahaya, aku sangat takut jika kehilangan itu akan terulang pada ku. Jangan menakutiku lagi sayang..." cerocos nya mengalihkan pandangan ke arah jemari annisa dan menghela napas panjang.


"Ibu, kau tidak boleh mengajak menantu mu pergi? Aku sangat mencintai nya... biarkan dia hidup dengan ku selama mungkin, kau tidak akan menyiksa ku dengan kehilangan yang kedua kali nya kan? Sudah cukup aku pernah kehilangan seorang ibu tepat di gedung ini, jangan biarkan aku kehilangan orang yang aku cintai lagi di sini." Oceh Egi meraih jemari annisa yang terasa dingin saat di sentuh. "Ternyata begini perasaan ayah, saat melihat ibu terbaring lemah menutup mata rapat." Mendesah panjang.


Egi menggenggam erat jemari annisa dan mengecup nya lama, sambil merasakan dengan memejamkan mata. "Annisa, bukalah mata mu sayang...," gumam nya serak dan bergetar. "Agar aku tidak merasa mati rasa seperti ini."


--------------------------


Sementara di sebuah ruangan tertutup.


Ayah putra duduk di sofa tunggal dengan pandangan fokus menatap dokter Erika yang duduk di sebrang nya. Sementara Jhon jadi pengamat kedua nya berdiri tidak jauh dari sofa ayah putra.


Di lantai khusus dalam rumah sakit itu, terdapat ruangan VVIP yang khusus untuk membicarakan hal privasi sehingga tampak tertutup rapat dan kedap suara yang menyulitkan bagi orang lain yang ingin menguping pembicaraan.


Dokter Erika yang usia nya sebaya dengan ayah putra, tersenyum tenang menatap ayah putra. "Lama tidak jumpa tuan besar Putra. Anda terlihat jauh lebih baik sekarang di banding saat terakhir saya melihat anda," ucap nya basa basi.


"Dengan mengatakan seperti itu. Kau mengingatkan ku kembali dengan kejadian dimana istri ku tiada," balas ayah putra dengan nada dingin dan menghela napas pelan.

__ADS_1


"Maaf tuan besar, saya tidak bermaksud ke arah situ. Hanya menyapa keadaan anda," tukas dokter Erika segera bersuara kembali karena merasa bersalah telah mengungkit duka lama keluarga Putra.


Ayah putra mengibaskan sebelah tangan. "Sudahlah, saya menyuruh anda untuk menjelaskan kondisi menantu kedua ku. Jelaskan secara rinci," titah nya.


Dokter Erika menatap ayah putra, lalu menyodorkan seberkas kertas ke atas meja. "Hasil pemeriksaan saya sebelum dan setelah menjalani operasi. Nona Annisa terkena cedera ringan di bagian kepala nya akibat benturan keras beberapa kali, tapi untung nya luka yang di dapat nona Annisa adalah luka tertutup sehingga tidak merusak sampai ke tengkorak dan otak, namun nona Annisa mengalami kekurangan darah cukup banyak akibat perdarahan di sekitar kepala nya cukup hebat. Oleh karena itu, saya akan terus memantau keadaan nya dan melakukan tahap pemeriksaan selanjutnya untuk memastikan jika tidak ada sesuatu fungsi saraf yang terganggu, karena di lihat dari cedera nona seperti nya benturan itu terjadi beberapa kali...," jelas nya sambil menunjukkan lembaran yang terdapat gambar tengkorak.


Kemudian dokter Erika membuka lembaran berikut nya yang menunjukkan sederet tulisan.


"Saya melihat tentang riwayat penyakit nona sebelum nya. Di sini di nyatakan jika nona Annisa mengidap Nyctophobia akibat trauma yang di derita nya semasa kecil." Ucap nya lagi lalu menatap Ayah Putra. "Jika saya boleh saran, bagaimana jika di lakukan nya Hipnoterapi agar trauma itu hilang dari ingatan nona dan menyembuhkan Nyctophobia nya?


Mata ayah putra menajam mendengar penuturan dokter Erika. "Apa itu berbahaya untuk menantu ku?"


Dokter Erika berdehem sejenak sebelum menyampaikan kembali penuturan nya. "Tidak, jika hal ini di lakukan atas kemauan diri nona Annisa juga dorongan orang luar yang memotivasi nya untuk berubah dan ingin menghilangkan ingatan trauma nya itu."


Ayah putra menghela napas panjang, menyender menyiku sebelah tangan ke lengan sofa, dan mengusap dagu nya.


"Saya tidak bisa mengambil keputusan ini, sebaiknya anda meminta persetujuan atas keputusan untuk tindakan tersebut, anak ku yang sebagai suami Nak Annisa...,"


Dokter Erika mengangguk paham. "Baik saya akan sampaikan pada tuan Egi, semoga saja tuan Egi mau mendengarkan penjelasan saya."


Puk... puk. Ayah putra menepuk lengan sofa. "Baiklah, kau lanjutkan pekerjaan mu. Dan terus pantau perkembangan kondisi Nak Annisa dengan sebaik mungkin. Jangan mengecewakan saya lagi, dokter Erika." Peringatan nya menatap dingin.


Dokter Erika tersenyum tenang menatap ayah putra. "Tentu saja tuan besar Putra, saya akan melakukan yang terbaik untuk Nona Annisa. Sudah menjadi pelajaran bagi saya atas hukuman selama beberapa tahun kemarin yang pernah di berikan tuan besar terhadap saya," tutur nya yang di balas lambaian sebelah tangan dari ayah putra.


Dokter Erika yang mengerti isyarat dari tangan ayah putra. Ia beranjak dari duduk nya dan membungkukkan setengah badan sebagai salam hormat, lalu menegakkan kembali punggung nya dan menatap sejenak memberikan senyuman pada ayah putra sebelum diri nya berlalu meninggalkan ruangan.


Sepeninggalan dokter Erika.


Ayah putra beralih menoleh ke Jhon yang masih berdiri. "Jhon, kau tidak pegal berdiri terus. Duduklah, dan ceritakan kenapa menantu ku bisa seperti ini," titah Ayah putra mengalihkan pandangan. "Aku tahu kau sudah menyelidiki semua kronologis kejadian nya."


Jhon melangkah mendekat dan mendudukkan diri nya di sofa dekat sofa ayah putra.


Kemudian Jhon mengeluarkan ponsel nya, dan menyalakan memutar beberapa video rekaman cctv, di iringi penjelasan yang mengenai kejadian yang menimpa Annisa. Ayah putra secara seksama mendengarkan dengan cermat dan sesekali mengangguk, menajamkan alis mata melihat video cctv yang Jhon putar dari layar ponsel.


Selang beberapa saat.


Hah... Ayah Putra menghela napas panjang, memejamkan mata nya dan memijit pelipis menundukkan kepala.


"Jhon, kali ini ku biarkan anak ku melakukan apa pun sesuka nya, terhadap wanita itu yang tega membuat menantu kedua ku dalam bahaya, karena tindakan nya sungguh di luar moral bahkan terbilang kriminal...," ucap nya lalu mengangkat kepala menatap Jhon.


"Dan soal dokter frans, bisakah kau jangan tunjukkan kesalahan nya pada anak ku. Meskipun kesalahan nya cukup fatal karena berani mendekati Nak Annisa, tapi dia tidak berniat jahat terhadap menantu ku. Biar dia di pindahkan tugas ke rumah sakit lain saja, dan di beri hukuman tidak menginjakkan kaki di kota ini lagi selama 5 tahun, kurasa itu cukup untuk hukuman dokter frans yang sudah berani menaruh hati pada menantu ku. Bagaimana menurut mu Jhon?"


Jhon menatap ragu sejenak, namun akhirnya mengangguk kecil dengan di iringi helaan napas pelan. "Baiklah."


BERSAMBUNG...


Sempatkan klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...

__ADS_1


__ADS_2