Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 46


__ADS_3

Rika telah berganti pakaian dengan pakaian tidur berlengan panjang dan bercelana panjang. Dia menyisir rambut panjang hitam lurusnya namun raut wajahnya terlihat muram penuh kecemasan mengingat kejadian satu jam yang lalu.


Apa yang di bicarakan Papa sama si Jojo? Semoga saja bukan hal buruk.


Kedua tangannya bergerak untuk mengumpulkan rambut panjangnya menjadi sebuah gulungan agar bisa di ikat. Terlintas dalam pikirannya soal perkataan Jhon yang terhenti akibat gangguan dari Papa nya. Rika menghela napas panjang menatap pantulan wajahnya dari cermin meja rias.


"Apa yang akan dia katakan tadi yah? Tatapannya sangat serius, jadi penasaran." Oceh Rika lalu pandangan mata nya teralihkan pada sebuah kotak kue yang terletak di atas meja sofa.


Dia beranjak dari duduknya melangkah ke arah sofa, kemudian membuka kotak kue, seketika senyumannya merekah dan binar kebahagiaan dari sorot matanya terbentuk begitu melihat isi kotak yang ternyata terdapat 5 gelas mango mousse. Tangannya terulur hendak mengambil satu gelas namun tiba-tiba...


Brak... Dugh.


Suara benda jatuh yang terdengar cukup keras berasal dari teras balkon menghentikan pergerakan tangan Rika.


Gadis manis itu langsung menoleh cepat ke pintu balkon yang tertutup. Apa itu? Apa ada maling? Segera ia menyambar kerudung dan memakainya.


Lalu dia mengambil sebuah tongkat golf dan berjalan pelan sedikit mengendap ke arah pintu balkon. "Si-siapa di sana?" Gagap Rika yang sudah gemetar ketakutan.


"Mak, ini gue." Suara pria yang sangat Rika kenal berucap jelas berasal dari balkon.


Rika berhambur melangkah cepat ke arah balkon dan...


Sreet.


Menggeser gorden dan pintu kaca balkon agar terbuka lebar. "Ray." Rika mematung di ambang pintu dengan pandangan mata menatap kaku di sertai keterkejutan.


Pria tampan itu melirik apa yang di pegang Rika. "Iya ini gue. Lo mau mukul gue pake itu? Kejam amat." Ucap Ray.


Rika tanpa menggubris ucapannya ia menghampiri mendekat dan memidai penampilan pria yang sekarang di hadapannya hanya berjarak 1 langkah.


Ray memakai celana jeans biru langit ada goretan robekan di sekitar lutut, betis kaki dia juga memakai hoodie hitam dengan rambut acak-acakan menutupi kening dan menjadi fokus Rika adalah sebuah tindik kecil bertengger di sebelah telinga


Plakk.


Tanpa sadar Rika memukulkan pelan tongkat golf itu pada kaki atas Ray. "Lo ikut balap motor lagi, hah? Kenapa lo balik jadi cowok brandalan lagi sih?"


"Aww, Mak. Jangan pukul gue pake itu. Sakit Mak." Mengaduh dan akhirnya menangkap tongkat itu.


Napas Rika memburu terengah, ia menghembuskan napas kasar beberapa kali dan melipat kedua tangan di depan, membuang muka ke arah lain. "Huh ngapain lo di kamar gue? Sana turun lagi, gue gak nerima tamu brandalan kayak lo."


"Bener, gue habis balap motor karena gue kesepian di abaikan sama lo." Kemudian dia duduk di kursi teras dan meletakkan tongkat golf itu ke bawah kursi. "Gue kangen sama lo, sudah beberapa minggu ini lo ngehindar bahkan pesan juga panggilan dari gue, lo abaikan. Jadi terpaksa dengan cara seperti ini gue lakuin agar bisa ketemu lo."


Rika berbalik menghadap pada pria yang sudah duduk di kursi, ia sedikit merundukkan badan untuk menyetarakan pandangannya. "Tapi gue kagak kangen tuh sama lo." Ketusnya, menegakkan kembali punggungnya.


Ray menarik ujung baju piama gadis manis itu. "Biarkan gue melihat lo sebentar, jangan usir gue." Mendongak dan menatap melas.


Menghembuskan napas kasar. "Serah lo." Rika mengibaskan sebelah tangan dan menepis pegangan tangan Ray di baju nya agar terlepas lalu berjalan ke arah pintu balkon yang terbuka lebar.


"Mak." Panggil Ray dengan tangan terulur sebelah menatap kepergian Rika yang tak memperdulikannya.


"Mak, nggak ngusir juga. Lo jangan tidur dulu napah. Temenin gue dulu, gue masih kangen sama lo." Ujar Ray memelas dengan nada suara rendah. Namun...


Sreet.


Suara pintu balkon yang di tutup juga gorden pintunya.


Ray menghela napas pelan menundukkan kepala saat tak mendapat jawaban apa pun dari Rika yang sudah masuk ke dalam kamar. Dia masih marah...


Beberapa saat kemudian.


Sreet.


Pintu balkon itu terbuka kembali, membuat Ray yang tengah terduduk di kursi gantung berbahan rotan menoleh cepat dan tersenyum lebar saat melihat gadis manis yang di rindukannnya kembali meskipun dengan raut muka sebal.


"Mak, lo kembali lagi?" Girang Ray beranjak dari duduknya.


Rika yang sudah memakai mantel, ia berjalan menghampiri dengan membawa sebuah kotak kue, sebotol air putih lengkap dengan gelas. Ia duduk di kursi teras dan meletakkan bawaannya ke atas meja.


Ray ikut duduk di kursi sebrangnya, menatap dengan alis tertaut melihat apa yang ada di atas meja. "Apa ini?"

__ADS_1


Rika mengambil dua gelas dessert dari dalam kotak. "Gue di beliin dessert sama si Jojo, dan kebanyakan kalo gue makan sendiri. Jadi lo harus bantuin gue habisin." Rika menyodorkan segelas mango mousse.


Sejenak Ray terdiam hanya menatap gelas itu dan akhirnya dengan malas ia menerimanya. "Gue kagak mau kalo ini dari si Jhon tua." Hendak meletakkan kembali ke tempatnya.


Rika menyuapkan sesendok dessert ke mulutnya. Lalu menunjuk ke gelas yang menggantung di pegang Ray. "Eits, kalo lo nggak bantuin makan. Gue gak bakal nemenin dan maafin lo."


"Hah, baiklah." Pasrah Ray, membuka bungkusan dan tutup gelas bersiap untuk di makan.


Seperkian detik keheningan membentang di antara keduanya yang sibuk dengan pikiran dan makanan.


"Mak."


"Hemm."


Menatap wajah gadis manis di hadapannya. "Kenapa lo masih mau berhubungan dengan si Jhon tua? Padahal kan udah gue jelasin dan bilangin kalo dia itu-"


"Ray." Sanggah Rika menghentikan ucapan Ray.. "Sebenarnya gue gak mau berdebat soal ini lagi. Tapi jika lo mau tau kenapa gue masih mau berhubungan dengan pria yang nyakitin perasaan gue. Jawabannya karena gue menghargai mereka yang hadir di hidup gue, sekali pun mereka musuh."


Ray memainkan dessert tanpa menyuapkan ke mulutnya, menatap serius. "Jika itu gue yang nyakitin perasaan lo, apa lo akan begini?"


Rika tersenyum dan mengangguk beberapa kali. "Karena lo sahabat terbandel gue." Yang di balas tawa kepaksa dari Ray.


Ray mengalihkan pandangan ke arah lain, merenung dengan mata tanpa berkedip. Sahabat? Gue maunya lebih, Mak. Tapi sepertinya harapan gue sudah sirna.


Kriing...kriing.


Suara ponsel berdering nyaring dari balik saku mantel. Rika merogoh ponselnya dan melihat layar nama siapa yang tertera di layar.


"Annisa, dia VC. Gimana dong? Mana lo ada di mari, bisa salah sangka nih." Panik Rika melirik.


Ray tersenyum dan beranjak berpindah duduk di kursi gantung. "Gue gak bakal ngomong, jadi angkat aja."


Rika menggeser kursor untuk menjawab panggilan VC itu. Dan terpampang lah wajah cantik Annisa tanpa balutan kerudung dari layar ponsel. Seketika Rika bernapas lega... untung si Ray pindah duduknya jadi kagak lihat wajah Annisa yang tanpa kerudung.


"Assalamualaikum, Rik."


"Walaikumsalam." Tersenyum manis dan sesekali melirik pria yang duduk di kursi gantung menghadap ke arahnya.


"Ah, nggak Nis. Cuman tumben VC, ada apa umii Annisa ku?" Senyuman ceria dari Rika sambil menyendok mango mousse ke mulut.


"Aku mau kasih tahu, hari minggu kan aku mau tasyakuran empat bulan. Nah, aku mau order cupcake buatan tante atau buatan mu, bisa nggak?"


"Bisa-bisa." Manggut-manggut mengambil satu gelas lagi mango mousse dari kotak kue hingga tertangkap kamera ponsel.


"Wah, Rik. Kamu makan apa tuh? bentuknya cantik."


"Ah, ini." Rika mengacungkan satu gelas mango mousse ke depan kamera. "Mango mousse, mau umi?"


Terdengar kekehan geli Annisa dari balik layar ponsel. "Di tawari juga gak bisa makan, kan jauh."


Yang di balas tawa dari gadis manis itu.


Bersamaan itu tiba-tiba...


Brak...brak.


Suara benda yang di gebrak-gebrak ke tembok balkon seketika mengalihkan perhatian Rika juga Ray yang sedari tadi sedang asyik menatap wajah Rika.


"Eh, kayaknya ada yang mau nurunin tangga kayu deh, Mak." Panik Ray setengah berbisik.


Rika sedikit panik, ia menatap Annisa kembali dan tersenyum ceria namun palsu. "Nis, aku ke toilet sebentar yah. Nanti aku kabari lagi, dadaah umiii. Assalamualaikum." Ia mematikan panggilan video itu secara sepihak.


Beralih menatap Ray yang terlihat santai. "Lo lihat gih, kalo gak ada tangga kayu itu. Gimana lo pulang?"


"Nginep." Sahutnya cepat dan tersenyum.


"Jangan becanda deh Ray. Cepet gih, lihat."


"Baiklah, Nyonya putri." Ray beranjak dari duduknya berjalan ke arah pagar balkon melihat ke bawah.

__ADS_1


Seketika matanya melotot kaget berdiri kaku di tempat. Masih menatap ke arah bawah. "O-O-Om." Gagap Ray kaget.


"Hah, apa lo bilang? Papah." Rika ikutan panik namun tak berani melihat ke arah bawah.


"Turun kamu." Perintah Pak Adi dengan suara tegas nan tajam menatap garang ke atas.


"I-i-iya Om." Gagap Ray, bergetar memegang pagar besi balkon. Lalu ia memanjat pagar itu untuk memijakkan kakinya ke tangga kayu, sejenak Ray menatap Rika sebelum menuruni pijakan selanjutnya. "Mak, tolongin gue. Gimana kalau bapak lo masak gue jadi sup."


"Gue... gue gak tau Ray, lo sih kenapa tangga nya di taro di situ." Ucap Rika gelisah.


Ray memasang wajah melas mencebikkan bibir seakan menangis. "Besok-besok lo jangan makan sup apa pun, yah Mak. Karena di dalam sup itu pasti ada daging gue."


"Hey, cepat turun!" Teriak Pak Adi membuat Ray terlonjak sehingga menciptakan guncangan pada tangga kayu.


"I-iya Om." Sahut Ray gemetar, ia kembali menatap Rika sembari menurunkan kaki untuk menginjak pijakan tangga kayu. "Doa'in gue Mak."


Rika mengangguk kecil mengepalkan tangan di depan dada. "Semoga lo selamat Ray."


Ray menuruni setiap pijakan tangga kayu itu dengan perasaan takut dan was-was. Sampai kaki nya pun ikutan lemas dan sedikit gemetar.


Lebih baik gue berantem lawan 10 preman dari pada harus berhadapan dengan bapaknya si Mak.


Bruk.


Akhirnya Ray mendaratkan kedua kakinya di atas rumput hias dan langsung berhadapan dengan Pak Adi.


"Kamu...," tercekat dan mendesah kesal, Pak Adi berkacak pinggang menatap tajam pada pria yang menundukkan kepala itu. "Jadi kamu yang selama ini selalu bikin genteng rumah bocor. Ngapain kamu malam-malam naik ke kamar anak ku, hah? Sudah seperti maling saja... Ingat kamu itu pria, anak ku itu gadis. Kalau sampai ketahuan warga setempat. Kalian langsung di seret ke KUA, mau kamu nikah paksa?"


"Mau Om." Sahut Ray cepat dan mengangkat wajahnya.


"Ckckck." Menggelengkan kepala beberapa kali, Pak Adi memijat pangkal hidungnya. "Kalo gitu, Nikahi Anak ku besok!"


"Haaah!" Serempak Rika yang ada di balkon langsung melihat ke bawah dan Ray dengan mata melotot dan mulut menganga terkejut.


Seketika keheningan dan ketegangan berlangsung dalam beberapa menit.


"Apa-apaan sih Papah. Nggak, Ray jawab nggak." Teriak Rika dari atas.


Plak.


Pak Adi mengeplak kepala Ray cukup keras. "Ngapain mulut mu menganga gitu, mau ngumpulin nyamuk masuk?"


Ray mengusap kepala nya, dengan pandangan masih menatap bengong tak percaya. Ia mengangguk beberapa kali. "Iya, iya saya mau. Om."


"Apaan sih lo, Ray, nggak. Pokoknya Ika nggak mau Pah. Dia itu milik Asyila, Ray jawab nggak, banci!" Ujar Rika, lalu berbalik masuk ke dalam kamar.


Menghembuskan napas kasar Pak Adi menepuk beberapa kali pundak Ray. "Pulang kamu, lamaran mu, Om tolak." Kemudian Pak Adi berbalik melangkah. "Bereskan lagi tangga nya, dan jangan sampai aku lihat kamu naik ke atas kamar anak ku lagi."


"Hah!" Kaget Ray terlongo mematung di tempat. "Di-ditolak?"


Sementara di Rumah Annisa.


Egi baru keluar dari kamar mandi, ia tersenyum saat melihat sang istri tengah menonton televisi namun tangan memegang ipad. Egi menghampiri Annisa dan memegang sebelah bahunya dari arah belakang sofa, sehingga membuat Annisa menoleh sekilas.


"Lagi apa sayang? Fokus banget lihat ipad nya," tanya Egi dan menghadiahkan kecupan di pipi juga bagian bahu yang terbuka.


Annisa menunjukkan layar ipad yang terpampang gambar sebuah dessert mango mousse. "Aku ingin makan ini di tempatnya, sekarang."


"Eh," tertegun, Egi menatap layar ipad tak berkedip lalu melihat angka waktu yang terdapat di pojok layar. "Kamu yakin mau makan di tempatnya, ini sudah jam 11, sayang."


"Tapi aku mau ini, dan lihat tempatnya juga sangat bagus. Aku ingin kesana." Rengek Annisa, melihat-lihat kembali gambar sebuah restoran dekat pantai.


Egi menghembuskan napas panjang, memeluk leher sang istri dari belakang karena kebetulan dirinya berdiri di belakang sofa yang di duduki Annisa. Ia kembali memberikan kecupan di pipinya. "Baiklah, kita kesana sekarang. Kamu bersiap-siaplah, pakai pakaian yang tebal karena resto itu di pinggir pantai."


Seketika Annisa berbinar bahagia. "Makasih Egi." Girangnya, mengecup pipi sang suami lalu beranjak dari duduknya berjalan dengan riang ke arah ruang walk in closet.


Egi menatap kepergian Annisa dengan senyuman di bibir, kemudian ia mengambil ponsel dari atas meja untuk mendial Jhon agar membooking restoran dan menyiapkan semuanya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...


__ADS_2