
Waktu menunjukkan pukul.01:00 malam. Di rumah putra di kamar Romisa.
Romisa dan Arga tampak tertidur tenang di atas ranjang dengan di selimuti suasana kamar yang hening dan damai. Namun tiba tiba, ada gerakan pelan dari tangan Romisa yang mengernyitkan dahi meringis merasakan gejolak sakit dan nyeri di sekitar pinggul hingga perut nya.
"Sua...miku," terbata Romisa memegang tangan arga yang ada di lengan atas nya.
Arga terusik dari tidur nya karena merasakan gerakan dari romisa. Lalu Ia mengerjapkan mata untuk mengembalikan kesadaran dari mimpi.
Terbangun dan segera memidai romisa yang tengah mengaduh memegang perut nya merasakan sakit. "Romisa perut mu sakit?" cemas Arga yang di balas anggukkan kepala pelan oleh Romisa.
Melihat respon Romisa, sontak Arga beranjak dari samping romisa lalu memencet tombol darurat yang telah di pasang di dekat ranjang nya. Kemudian Arga mengambil kerudung blus yang tersampir di lengan sofa dan di pakaikan nya ke kepala romisa.
Di luar kamar Romisa.
Seketika suasana rumah putra yang tenang berubah menjadi gaduh karena banyak nya langkah yang berjalan berlari kecil tergesa akibat terdengar nya suara peringatan darurat dari tombol yang di tekan oleh Arga.
Sekertaris Tang yang tidur di kamar tamu lantai atas, karena mendengar suara peringatan segera turun ke lantai bawah menuju kamar Romisa. Begitu pun dengan para team Medis yang tidur di beberapa kamar tamu lantai bawah segera berlarian kecil ke ruangan kedokteran sementara para pengawal membawa brankar dengan tergesa untuk menuju kamar Romisa di ikuti oleh bi Ane.
Ayah putra dan Asyila ikut terbangun karena mendengar bunyi suara darurat juga kegaduhan di luar kamar nya. Mereka berdua berjalan dengan langkah panjang menuju ruang ke dokteran menunggu Romisa di bawa ke sana.
Para pengawal yang membawa ranjang brankar telah memasuki kamar Arga setelah sekertaris Tang membuka kan lebar pintu kamar Romisa.
Arga memangku tubuh romisa yang di balut selimut lalu dengan hati hati menggendong nya ala bridal style dan meletakkan nya ke atas brankar. "Romisa tenanglah, aku di sini," ucap arga menggenggam tangan romisa yang sudah terbaring di atas brankar.
Brankar itu langsung di dorong keluar kamar untuk menuju ke ruang kedokteran yang di mana di sana para team medis telah bersiap siaga menunggu untuk menangani romisa.
"Suamiku, sakit sekali.." lirih romisa merintih mengaduh sakit dan tidak terasa air mata nya sudah beranak pinak di sudut mata nya.
Mengusap air mata romisa yang hendak mengalir dan terus menghujani kecupan di punggung tangan romisa. "Bertahanlah istriku demi aku," ucap Arga menguatkan romisa sembari berjalan cepat mengimbangi ranjang brankar yang di dorong para pengawal.
Kini brankar Romisa yang di dorong para pengawal telah memasuki ruang kedokteran, dan Arga terpaksa harus di pisahkan dahulu dengan Romisa.
"Tuan. Nona akan di tangani team medis, mohon tuan menunggu dan menyerahkan nona Romisa pada mereka," tutur sekertaris Tang berdiri di samping Arga.
__ADS_1
Arga tanpa memperdulikan sekitar nya, ia fokus menatap wajah Romisa lalu perlahan mendekat dan mengecup seluruh wajah dan kening romisa cukup lama, tidak lupa Arga mengecup punggung tangan Romisa dan membisikkan kata ke telinga nya sambil tersenyum kecil. "Aku sangat mencintaimu Romisa istriku, berjuanglah demi aku," ucap nya parau.
Mengangguk pelan dan membalas senyuman arga meskipun romisa merasakan sakit yang amat bergejolak ia berusaha mengembangkan senyuman untuk menenangkan suami nya, romisa menggerakkan bibir nya berkata pelan. "Aku akan baik baik saja suamiku."
Arga menegakkan tubuh nya kemudian dengan gerakan seakan tidak rela Arga menggerakkan sedikit kepala nya sebagai tanda 'bawalah istriku' pada para team medis yang mengelilingi nya lalu Arga perlahan berbalik menjauh dari Romisa.
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk Nona, tuan," ucap salah satu dokter dari mereka yang di balas anggukan pelan dari Arga.
Karena Arga telah menyerahkan Romisa, para medis mendorong brankar itu ke dalam ruangan bersalin yang telah di siapkan dari jauh hari. Dan begitu brankar romisa masuk bersama para team medis, pintu otomatis hermetic sliding door itu tertutup rapat menutupi pandang mata arga dan keluarga lainnya yang ada di luar ruangan sehingga sulit hanya untuk mengintip keadaan di dalam ruangan tersebut.
Menghembuskan napas kasar dan mengusap wajah dengan kedua telapak tangan nya. Arga duduk di kursi tunggu dengan pandangan tetap fokus ke pintu yang tertutup rapat itu.
Ayah putra dan asyila mendekati dan duduk di kedua samping kiri dan kanan arga.
Merangkul pundak Arga. "Tenanglah nak, ayah yakin Nak Romisa wanita yang kuat, kita berdoa saja semoga semua nya di lancarkan dan kedua nya selamat," tutur Ayah Putra menenangkan.
Arga sekilas melirik ayah nya. "Arga takut romisa kenapa napa ayah, melihat nya kesakitan seperti itu membuat tubuh arga lemas, napas arga sesak ayah, andai arga bisa menggantikan kesakitan itu... arga amat takut kehilangan dia... ayah tahu kan jika romisa begitu berarti bagi arga," ucap lemah Arga sambil menunduk.
Puk... puk. Ayah putra menepuk pelan pundak Arga yang di rangkul nya. "Ayah tahu Nak. Karena ayah pun pernah merasakan nya saat ibu mu melahirkan anak anak ayah. Saat itu perasaan takut, cemas, gelisah semua bercampur menjadi satu ketika ibu mu berjuang mempertaruhkan nyawa nya hanya untuk melahirkan anak ayah ke dunia ini."
"Kau ini sama seperti ayah saja sifat nya." Seloroh ayah putra kembali menepuk pundak arga untuk menenangkan.
Sementara asyila yang masih belum mengerti tentang yang di bicarakan kedua nya, ia hanya memegang sebelah tangan Arga dan mengusap nya pelan.
Sekertaris Tang yang melihat arga telah di tenangkan oleh ayah putra. Tang melangkah sedikit menjauh dari ruangan itu lalu mengeluarkan ponsel dari saku jas kemudian mendial menelpon seseorang.
-------------
Di rumah Egi.
Egi dan Annisa tampak tengah tertidur lelap sambil saling berpelukan. Dan tiba tiba getar ponsel annisa berderet di atas meja nakas, mengusik mimpi indah egi untuk menarik nya ke kehidupan nyata dan tersadar mengerjapkan mata perlahan.
Egi sedikit menggerakkan tubuh nya dan menunduk melihat annisa masih tertidur lelap memeluk nya. Tersenyum dan dengan perlahan menggeser memindahkan kepala annisa agar berpindah ke bantal juga melepaskan tangan annisa yang melingkar di perutnya dengan ke hati hatian. Lalu egi bangkit duduk setengah terbaring menyenderkan kepala ke kepala ranjang. Dan meraih ponsel annisa yang sedari tadi terus bergetar.
__ADS_1
Egi mengangkat panggilan itu tanpa melihat nama atau nomer di layar.
"Assalamualaikum Nona Annisa," sapa Tang dari sebrang sana.
Alis egi terangkat sebelah karena mendengar suara pria yang menelpon ke ponsel Annisa. "Siapa kau?" seloroh egi dengan nada tegas tanpa menjawab salam dari Tang.
"Sepertinya saya tidak salah nomer tp kenapa suara nona menjadi suara laki laki, oh apa ini dengan tuan egi?" tanya Tang.
"Kau siapa?" masih pertanyaan yang sama yang di ajukan egi.
Terkekeh dengan pertanyaan egi. "Tuan egi apa anda lupa dengan suara saya, sekertaris kakak mu yang paling tampan dan mempesona."
Menghela napas pelan kemudian menunduk melihat wajah annisa yang masih damai tak terusik. "Ada apa kau menelpon istri ku? Dan berani sekali kau menyimpan nomer ponsel istri ku," tanya egi yang sudah malas menanggapi guyonan Tang.
"Aku hanya merasa rindu saja dengan suara indah Nona Annisa," ucap Tang menggoda egi.
"Kau... berani nya," geram egi lalu mematikan panggilan sepihak.
Egi hendak menyimpan kembali ponsel Annisa ke meja nakas. Namun tiba tiba ponsel Annisa kembali bergetar menandakan ada panggilan masuk lagi dari Tang, sehingga membuat gerakan nya terhenti.
Menghembuskan napas kasar lalu mengangkat panggilan dengan jengah. "Cepat katakan apa urusan mu menelpon istri ku, dan pastikan setelah menelpon kau hapus nomer istri ku," seloroh egi dengan nada tegas.
"Baiklah... baiklah tuan egi jangan terburu buru, aku menelpon nona annisa hanya ingin memberitahukan jika Nona Romisa saat ini sedang melahirkan. Sekarang tengah di tangani oleh para dokter, jika kalian ingin kemari aku titip pesan pakaikan Nona Annisa pakaian yang tebal dan..." ucapan Tang terpotong karena Egi dengan tidak sopan nya mematikan panggilan telpon sepihak.
Tang melirik ponsel nya dan tersenyum miring. "Benar benar pria protektif seperti kakak nya. Hah... aku jadi ingin merasakan jatuh cinta juga," gumam Tang lalu kembali berjalan ke arah Arga berada.
Egi meletakkan kembali ponsel annisa ke atas meja nakas lalu dengan hati hati Egi kembali terbaring menyamping menatap wajah annisa yang saat itu menghadap sejajar dengan wajah nya. Karena egi sengaja menggunakan satu bantal berdua.
Membenarkan selimut di tubuh Annisa sampai menutupi ke bahu. Lalu dengan pandangan terus terfokus menatap Annisa, Egi mengusap lembut menyingkirkan poni yang turun menutupi mata indah Annisa kemudian dengan gerakan perlahan egi mengecup lembut kening Annisa.
Kembali ke posisi dan mengusap lengkukan hidung mancung Annisa dengan telunjuk nya. "Biarlah kita kesana pagi hari saja, aku tak tega membangunkan tidur lelap mu Annisa ku. Kelihatan nya kau sangat kelelahan dengan aktivitas padat mu Annisa, sehingga tertidur sangat pulas sekali," gumam Egi pelan masih mendekatkan wajah ke wajah Annisa.
Lalu Egi kembali memejamkan mata nya menyusul Annisa ke alam mimpi dengan tangan masih menangkup sebelah sisi wajah Annisa dan dengan kening nya saling menempel ke kening Annisa.
__ADS_1
BERSAMBUNG...