Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 22


__ADS_3

Rika tengah menggosok rambut panjang yang basah sehabis mandi dengan handuk kecil. Ia telah berganti pakaian dengan piyama tidur berlengan panjang dan celana panjang. Sambil terus mengusak rambut basahnya, ia menyalakan televisi untuk menonton film kesukaannya.


Ding...Dong.


Suara bel berbunyi, menghentikan pergerakan tangan Rika.


Rika menoleh ke arah pintu. "Siapa yang dateng?" Herannya. Dia melemparkan handuk kecil ke lengan sofa, lalu beralih mengambil kerudung blus yang masih di tas ransel untuk di pakai nya.


Ding...Dong.


Suara bel itu berbunyi kembali saat Rika masih memakai kerudung. "Sabar kek, lagian siapa sih nih orang. Ganggu aja," gerutu Rika sambil berjalan menyeret kaki nya menuju pintu kamar.


Sesampainya di depan pintu kamar, Rika tidak langsung membuka pintu. Dengan kewaspadaan yang tinggi, ia mengintip dari lubang kecil yang berada di pintu untuk melihat siapa orang di balik pintu kamar nya.


Jojo dan seorang wanita pegawai hotel? Mau apa mereka ke kamar ku selarut ini?


Terlintas kegelisahan dari raut wajahnya, ia menggigit bibir dengan pandangan menatap pintu tinggi di hadapannya. Dan dengan gerakan ragu, tangan Rika terulur memegang handle pintu untuk membuka nya.


Ceklek.


Pintu kamar nya terbuka, yang langsung di sambut wajah datar nan dingin dari Jhon yang berdiri menatap Rika.


"Jojo, ada apa selarut ini kemari?" Sebisa mungkin Rika tersenyum ceria karena di tatap dingin oleh Jhon membuatnya sedikit merinding ngeri.


"Bodoh, membuka pintu saja lama sekali!" Omel Jhon, lalu tanpa di persilahkan tanpa menjawab pertanyaan dari sang empu kamar. Ia Langsung saja merangsek masuk ke dalam kamar melewati Rika begitu saja. "Anda yang di luar, masuk ikuti saya." Perintahnya pada wanita pegawai hotel itu.


Rika yang menyaksikan kedua orang masuk melewati nya begitu saja hanya menatap bengong mematung sehingga pegangan tangan di handle pintu terlepas. Dan...


Klik.


Pintu kamar tertutup dan terkunci secara otomatis.


Jhon duduk di sofa dan meletakkan sebuah paper bag plastik ke atas meja persegi panjang. Sedang pegawai hotel meletakkan sebuah nampan berisi semangkuk potongan es batu, dan beberapa barang lainnya. Pegawai itu berdiri diam di sekitar sofa setelah melihat isyarat yang di tunjukkan Jhon untuk tinggal di kamar.


Jhon yang melihat Rika masih berdiri mematung di ambang pintu tertutup, ia berteriak. "Hey, kenapa kau masih berdiri bengong seperti orang bodoh di situ! Kemari duduk di sebelah ku!"


Rika terperanjat kaget, tersadar. "Eh, i-iya." Gagapnya, dan tanpa sadar dengan kaki nya yang masih terluka ia refleks hendak berlari namun...


"Ah, aww," pekik Rika terjatuh di atas lantai. "Sakiit, hiiss...," ringisnya memegang kakinya yang terluka.


Melihat Rika terjatuh dan kesakitan, segera Jhon berhambur menghampiri nya, dan memegang kedua bahu Rika. "Ceroboh sekali! Kau itu benar-benar bodoh hah! Kaki mu sedang terluka langsung berlari saja! Benar buat aku...," omelan Jhon terhenti saat terdengar isak tangis dari bibir mungil gadis di hadapannya.


"Hiks, Jojo. Bi-bisakah marah-marahnya nanti saja, hiks... kaki ku sakit sekali. Aku ingin ketenangan jangan membuat ku, me-merasa kesakitan lagi dengan omelan mu..,"


Mendengar penuturan dan suara tangisan yang lolos dari bibir Rika, hati Jhon berdenyut nyeri dan membuat nya diam seketika. Kemudian, tanpa menunggu lama, segera Jhon merangkul pinggang ramping dan menyelipkan lengan ke bawah lutut Rika. Ia mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya. "Jangan menangis," ucap Jhon dengan suara rendah.


Dia bersikap baik lagi pada ku... apa karena kasihan? Atau tanggung jawabnya?


Rika menatap terpaku diam. Ia menyilangkan kedua tangan di depan dada dan menundukkan pandangan tak berani menatap sorot mata Jhon yang tajam penuh kecemasan sedang menatap lekat pada nya.


Jhon menurunkan dan mendudukkan tubuh Rika ke atas sofa panjang. Ia berlutut di hadapannya, menatap wajah gadis yang terus menunduk dengan suara isak tangis masih terdengar dari bibirnya. "Aku bilang jangan menangis, kau terlihat sangat jelek jika menangis lagi." ucapnya tegas kental dengan perintah.


"Hiks... aku ingin berhenti menangis tapi... tapi kaki ku...,"

__ADS_1


"Aku tau," seru Jhon cepat memotong ucapan Rika. "Diamlah, izinkan aku melihat luka mu." Dia menunduk memegang kaki Rika yang sudah membesar kebiru-biru an.


Rika hanya menurut diam, membiarkan Jhon memeriksa kaki nya.


"Siapkan es batu nya." Instruksi Jhon pada wanita yang sedari tadi melihat adegan dramanya. Wanita pegawai hotel itu, langsung menuruti apa yang di perintahkan untuk memasukkan es batu ke dalam ice bag.


Jhon beralih menatap wajah Rika yang memerah dengan mata berair menahan tangisannya. "Selonjorkan kaki mu," titah Jhon menggeser meja agar berdempet ke sofa, lalu mengangkat kedua kaki Rika untuk di selonjorkan ke atas meja.


"Kamu mau apa, Joe?" Bingung Rika dengan suara serak.


"Mengobati kaki mu." Jhon menerima ice bag dari pegawai wanita itu, lalu meletakkannya ke atas bagian kaki yang bengkak.


"Hiiss," terhenyak Rika saat benda dingin menyentuh kulit bagian memar.


"Tahan, ini hanya sebentar, untuk mengurangi bengkak di kaki mu." Ucap Jhon sedikit memijat pelan di sekitar kaki.


Rika memperhatikan wajah serius Jhon yang sedang memeriksa juga mengobati luka di kaki nya. Ia tersenyum senang, menatap hangat.


Andai kau selalu bersikap hangat seperti ini terus Jojo.


Selang beberapa saat kemudian, Jhon mengangkat kompresan es batu dan beralih memerintahkan pada pegawai wanita itu untuk membuka kotak obat yang sudah di siapkannya. Dia membuka botol kecil sebuah salep untuk memar lalu mengoleskannya ke kaki Rika.


"Jojo," panggil Rika memecah keheningan yang sedari tadi menyelimuti sekitar kamar yang hanya di wakili oleh suara televisi menyala.


"Apa?" Sahut Jhon, yang kini tangannya bergerak mengambil sebundelan kain kasa dari kotak obat.


"Kenapa sikap mu sering berubah-ubah? Apa kamu mempunyai sifat bipolar?" Rika bertanya sembari memperhatikan Jhon yang sudah mulai membebat kaki nya dengan kain kasa.


"Eh, i-iya... maksud ku tidak!" Gagap Rika salah ucap. Kenapa aku malah bilang iya sih.


Pergerakan tangan Jhon yang sedang membalut kaki, terhenti sejenak. ia tersenyum kecil, kembali melanjutkan untuk membebat kaki Rika. "Melihat memarnya mungkin kaki mu akan sembuh sekitar dua minggu, jadi selama itu kau harus hindari untuk bersikap bodoh dan ceroboh lagi. Jika terus membengkak seperti ini, kaki mu mau tidak mau harus di amputasi." Ujar Jhon menali kan kain kasa itu setelah sepenuhnya menutupi luka memar.


"Hah! Amputasi!" Kaget Rika dengan mata melotot dan refleks mengangkat kaki nya juga menendang ke sembarang.


Brak. Dugh.


Kaki yang sudah di bebat rapih itu menendang bagian wajah Jhon yang akhirnya mendarat di hidung.


"Hey!" Seru Jhon berteriak dan memegang hidungnya.


"Eh, maaf maaf Joe," latah Rika menutup bibirnya yang terbuka dengan kedua telapak tangan. Ia melihat wajah marah Jhon dan tersadar akan apa yang di lakukannya.


Aku bersikap memalukan lagi. Mata Rika menyipit malu, menggigit bibirnya dengan pandangan menunduk merasa bersalah.


"Kau!" Geram Jhon tercekat di tenggorokan, karena merasakan sebuah cairan mengalir dari dua lubang hidung nya.


"Tuan anda berdarah!" Ujar pegawai wanita yang berdiri tidak jauh, melihat darah mengalir dari hidung Jhon.


Rika yang mendengar ucapan pegawai wanita itu, sontak kepala nya terangkat menatap lurus pada pria yang sedang mencoba menghentikan pendarahan dari hidung. "Jojo, kau terluka!" Seru Rika dan dengan gerakan refleks lagi, ia menurunkan kedua kaki dari meja hendak melangkah menghampiri.


"Stop!" Teriak Jhon mengulurkan sebelah tangan ke depan. "Jangan mendekat!"


Rika seketika terdiam kaku masih dengan posisi duduknya. Ia menatap bingung pada Jhon. "Ke-kenapa?"

__ADS_1


Jhon menyambar tisue untuk menyumpal hidungnya yang terus mengalirkan darah. "Kau bodoh apa! Aku sudah memperingatkan jangan bersikap ceroboh! Tapi kau malah akan berlari dengan keadaan kaki pincang mu ke sini! Dasar bodoh! Diam kau di sana!" Omel Jhon menggebu sedikit menyentak kesal.


Membuat Rika berkali kali mengerjapkan mata nya, juga terperanjat kaget. "Maaf, aku telah melukai mu karena kecerobohan ku." Ujar Rika menundukkan kepala, ia berucap dengan nada bersalah dan rendah.


Dia marah dan bersikap kasar lagi.


Hah... jhon menghembuskan napas kasar, melemparkan tisue yang penuh dengan darah ke atas nampan. Lalu beranjak berdiri, sorot mata nya masih menatap lekat tak terbaca ke arah gadis manis itu.


"Sudahlah, sebaiknya aku pergi dari sini sebelum kau bertindak bodoh lagi pada ku. Kaki mu juga sudah di bungkus jadi setidaknya aku akan tenang." Kemudian Jhon beralih mengambil paper bag plastik yang sempat di letakkannya tadi. Dan menunjuk dengan lirikkan pada pegawai hotel.


Nada suara nya masih terdengar marah. Aku memang salah selalu ceroboh.


"Tolong anda teruskan mengobati tangannya, ganti perban itu dengan yang baru." Titah Jhon pada pegawai wanita itu.


"Baik tuan."


Jhon kembali melirik Rika, meletakkan paper bag plastik ke atas sofa samping tubuh Rika. "Aku meminjamkan, kau cukup ganti kembali jika mampu. Dan buang sepatu bocah tengik itu." Ucap Jhon, lalu berbalik melangkah pergi menuju pintu keluar meninggalkan Rika yang masih menunduk malu merasa bersalah dengan pegawai hotel yang sudah berlutut untuk membuka perban di tangan Rika.


Sepeninggalan Jhon.


Rika menutup mata nya dengan sebelah tangan yang bebas. "Bodohnya aku."


Pegawai wanita yang sedang memperban tangan Rika tersenyum dan menggelengkan kepala beberapa kali.


Rika menghela napas beberapa kali, lalu setelah merasa perasaan nya tenang. ia menjatuhkan tangannya yang bertabrakan dengan paper bag yang di letakkan Jhon tadi.


"Eh, apa ini?" Bingung Rika meraih paper bag tersebut berpindah ke pangkuannya. ia memeriksa isi nya yang ternyata terdapat sebuah kotak berwarna hitam gelap.


"Itu barang yang di tinggalkan tuan untuk Nona." Pegawai wanita itu, telah selesai memperban tangan Rika dan beralih membersihkan kekacauan yang di buat Rika tadi.


Rika menatap sejenak pada pegawai wanita itu. Lalu membuka isi dari kotak hitam itu. "Wah, sandal," girang Rika, mata nya berbinar melihat benda berbulu halus yang berwarna hijau dengan kepala sandal tersebut berbentuk boneka keropi kesukaannya.


"Duh lembutnya." Saat kedua sandal di gesekkan ke permukaan kulit pipi. Membuat pegawai wanita yang melihat tingkah Rika tersenyum geli.


Saat sedang asyik mencoba sandal itu, tiba-tiba Rika teringat akan ucapan Jhon yang saat sebelum keluar dari kamar nya. "Dia berkata ganti kembali. Berarti aku harus mengganti rugi harga sandal ini dong. Tapi tenang sajalah, paling harga nya murah kalau sandal kayak gini mah." Celoteh Rika melihat label merk dari sandal itu.


"Hah!" Kaget Rika dengan mata melotot.


"Ada apa Nona? Apa ada yang sakit?" Panik pegawai wanita langsung berdiri hendak mendekati Rika.


Rika mengangkat sebelah tangan sebagai tanda tidak apa-apa. "Ini salah kan? Mana mungkin dia membelikan ku barang branded dari merk XX, itu kan harga nya mahal-mahal." Segera Rika meraih ponselnya yang berada di samping tempat duduknya, untuk mengetikkan sesuatu di pencarian.


Sedang pegawai wanita tersebut tersenyum, kembali melanjutkan bersih-bersih.


Lagi-lagi mata Rika melotot dengan bibir menganga. "Tig-tiga puluh se-sembilan juta!" Kagetnya berteriak membuat pegawai hotel di hadapannya terperanjat.


"Ini gila," Rika melirik sandal yang sempat di letakkannya. "Sandal jepit kayak gini aja harga nya mahal amat dah, ini sih bisa nguras uang di tabungan ku. Jojo kau mengerjai ku!" Teriak Rika menggema di ruangan kamar sehingga terdengar ke kamar tetangga.


Jhon yang sedang membersihkan luka di hidungnya terperanjat dengan suara teriakan dari kamar sebelah. Ia tersenyum puas. "Wanita bodoh ini, segitu senangnya dia di belikan barang mahal."


BERSAMBUNG...


Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa....

__ADS_1


__ADS_2