Pejuang Move On

Pejuang Move On
Pulang Dinas


__ADS_3

Malam telah tiba. Selepas shalat isya, annisa baru bisa pulang dari dinas di Karenakan banyak nya pasien yang akan melahirkan juga periksa kandungan, sehingga annisa tertahan untuk sementara agar membantu rekan dinas lain nya. Kini Ia tengah berjalan dengan lesu, di koridor rumah sakit untuk menuju pintu keluar.


"Annisa," panggil seseorang yang annisa kenal dari belakang.


Annisa menoleh sejenak dan tidak menjawab panggilan nya, hanya memperlambat langkah kaki.


"Mau pulang?" tanya windi yang sudah berada di samping nya.


Mengangguk pelan. "Hemm...," sahut nya.


"Di jemput? Di antar dokter frans?" tanya windi yang penasaran.


Dokter frans lagi yang dia bahas...


"Jemput," jawab Annisa singkat dan mempercepat langkah kaki nya.


"Sama kekasih mu itu yah, aku jadi penasaran seperti apa wajah asli nya. Setelah melihat foto nya waktu siang, ternyata kekasih mu jauh lebih tampan dan imut yah dari dokter frans. Pantas saja kamu tidak tergoda oleh dokter frans, dan membela diri saat di gosipi seperti itu," celoteh nya menerawang membayangkan Egi.


Dia bukan kekasih ku... tapi suami ku, windi.. suami ku...


Memang sewaktu makan siang, annisa yang sudah di kirimi foto oleh Egi. Ia langsung menggunakan foto Egi menjadi tampilan wallpaper di layar ponsel nya, dan kebetulan windi rekan dinas nya ikut makan bersama satu meja dengan annisa dan menagih ingin melihat foto wajah kekasih annisa. Dan alhasil annisa menunjukkan layar ponsel nya, yang di sambut mata berbinar ketertarikkan takjub dari windi oleh pesona wajah Egi.


Annisa tidak menanggapi ocehan windi, ia melangkahkan kaki nya, dengan pandangan menatap layar ponsel untuk mengetikkan sesuatu pesan ke Egi agar menjemput nya.


Dan kini langkah kaki kedua nya terhenti tepat di depan teras rumah sakit. Annisa melirik ke samping tempat windi masih berdiri di dekat nya. "Kamu tidak pulang?" tanya nya.


"Pulang, hanya saja ingin melihat kekasih mu sebentar karena penasaran. Tidak apa kan?" ucap windi seakan tidak tahu malu.


Annisa tersenyum kepaksa dan mengalihkan pandangan ke arah lain. "Bo...boleh," jawab nya pelan.


Tidakkah orang ini lihat, wajah keberatan ku.


Beberapa saat kemudian.


Brum... brum. Suara mobil sport berwarna putih, berhenti tepat di hadapan annisa dan windi yang tengah berdiri.


Mata windi terus mengawasi memidai mobil putih itu, dan sesaat pintu mobil penumpang terbuka memunculkan sebuah kaki jenjang yang menapak ke tanah. Ekspresi wajah windi semakin menunjukkan keterkejutan dan ketertarikkan menatap Egi dari atas sampai bawah.


Nah kan, mata jelalatan nya sudah keluar...


Sementara annisa sudah memasang wajah sebal dan senyuman kecut melirik ke arah windi.


Egi berjalan dengan elegan mendekat ke arah annisa. "Sudah dinas nya?" tanya Egi yang sudah berdiri di hadapan annisa dan sambil mengusap pipi gembil annisa.


Annisa mengangguk pelan dan memasang senyuman manis ke Egi, lalu melihat penampilan Egi yang masih memakai jas kantor. "Sudah, kamu baru pulang?" tanya nya.


"Hemm...," gumam Egi mengiyakan, dengan pandangan terus menatap hangat ke annisa tanpa teralihkan ke arah lain.


"Ekhem," dehem windi yang berada di samping annisa dan menyenggol lengan annisa. "Nggak di kenalin nih Nisa?"

__ADS_1


Hampir lupa jika di sini ada si windi.


Annisa melirik ke windi dan tersenyum, lalu kembali menatap Egi. "Ah, iya. Egi kenalin, rekan dinas ku. Windi," ucap Annisa memperkenalkan.


Windi mengulurkan sebelah tangan untuk bersalaman memperkenalkan diri ke Egi. "Windi Trisnanty," ucap nya dan memasang senyuman manis.


Namun, egi tidak mengalihkan sama sekali tatapan mata nya dari wajah annisa dan malah mengabaikan windi seakan tiada di sana.


Annisa melirik tangan windi yang masih mengulur berharap balasan uluran tangan dari Egi.


Si Egi kan orang nya anti sosial, dan sikap nya dingin terhadap orang lain. Si windi pasti mengira yang negatif nih... tapi memang sudah sewajar nya si Egi tidak mau bersalaman dengan yang bukan mahrom nya. Itu bagus, menghargai ku yang ada di sini...


"Annisa, masuk mobil," titah Egi dan merangkul bahu annisa.


"Eh, tapi... tapi... Egi, teman ku ingin berkenalan dengan mu," ucap Annisa melirik ke windi dan Egi secara bergantian.


Sejenak egi melirik dingin ke windi, lalu merangkul dan menggiring annisa agar mengikuti langkah nya menuju mobil.


Sedang windi terlongo, dan mengepal geram tangan nya. Menatap kedua sejoli itu dengan kesal karena merasa di abaikan dan di rendahkan.


Annisa menoleh ke arah belakang sebelum diri nya di tarik masuk ke mobil. "Windi, aku pulang duluan. Maaf tidak menemani mu," tutur Annisa tersenyum ramah.


Melambaikan sebelah tangan ke arah annisa dan memasang senyuman palsu. "Iya, tidak apa. Hati hati di jalan annisa," sahut windi.


Egi menekan bahu annisa agar cepat masuk ke dalam mobil, dan akhirnya annisa masuk dan duduk di kursi penumpang belakang.


Brak.


Mobil yang di tumpangi annisa telah melaju, di pelataran rumah sakit untuk keluar gerbang dan bergabung dengan kendaraan lain di jalanan.


Windi masih menatap kesal ke arah mobil dan mengepalkan tangan kuat. "Sombong sekali si annisa, sampai bersikap seperti itu pada ku. Dan kenapa laki laki tampan semua nya tertarik pada dia, padahal kan cantikan aku di banding dia."


Di dalam mobil.


Annisa melirik Egi yang duduk membisu di samping nya dengan pandangan terus fokus menatap ke arah kaca jendela yang berlawanan.


Kenapa serasa dia lagi marah pada ku. Seharusnya kan aku yang marah di sini.


"Ekhem...," dehem Annisa memecah kecanggungan suasana dalam mobil.


Dan tidak ada reaksi dari Egi sama sekali.


Dia masih saja, mengabaikan aku...


"Ekhem...," dehem Annisa lagi dengan deheman cukup keras, dan melirik ke arah Egi.


Jhon yang ada di kursi kemudi, melirik kaca depan untuk melihat keadaan di belakang. "Apa nona annisa sakit tenggorokkan?" tanya nya, lalu merogoh sebuah permen pelega tenggorokkan dari saku jas nya dan menyodorkan ke belakang. "Makanlah ini nona, tenggorokkan anda akan kembali lega."


Eh, aku bukan sakit tenggorokkan kak Jhon tapi sebal dengan si Egi yang diam aja.

__ADS_1


Annisa sejenak melirik ke Egi yang masih setia dengan posisi nya, lalu dengan gerakkan ragu annisa hendak meraih permen yang ada di telapak tangan Jhon.


Set. Egi dengan gerakan cepat merampas kasar permen itu, sebelum annisa mengambil nya.


"Eh, itu kan untuk ku Egi," seloroh Annisa memegang lengan Egi.


Jhon tersenyum tipis melirik kaca depan, dan kembali merogoh permen di saku jas nya. "Tenang nona, saya masih memiliki beberapa," ucap Jhon.


"Jhon!" Sentak Egi kesal. "Kau diam dan simpan kembali permen mu," tegas nya.


Tersenyum kecil. "Baiklah, maaf nona sepertinya permen nya nanti di kasih saat sampai di rumah saja." Jhon membuka bungkus permen dan memakan nya.


Annisa menatap sebal ke depan juga Egi. "Itu sih bukan untuk ku, tapi di makan sendiri."


Jhon tertawa pelan.


"Annisa, kemari mendekat," pinta Egi menepuk bagian tengah kursi yang kosong.


Melirik Egi dengan sebal, dan dengan malas menggeser duduk nya. "Ada apa? Kau meminta ku mendekat segala."


Egi merangkul pinggang annisa, dan menyenderkan kepala di bahu annisa. "Aku lelah, dan lapar," gumam nya.


Annisa mengusap rambut Egi dengan pelan. "Jadi kau dari tadi diam saja karena capek, dan lapar?"


Mengangguk pelan dan semakin mempererat pelukan di pinggang annisa.


Annisa menghela napas pelan, dan membelai rambut Egi lembut. "Kita mampir di tempat makan dulu gimana? Soalnya hari ini aku pulang telat, tidak sempat masak untuk makan malam," usul Annisa.


"Tuan Egi tidak mau memakan makanan selain yang di masak oleh nona. Sedari sore juga, padahal kita bertemu beberapa client di restoran tapi tuan egi hanya meminum jus saja, tidak memakan apa pun," jelas Jhon di sela fokus nya menyetir.


Annisa masih membelai lembut rambut dan mengusap pelan bahu Egi. "Kenapa harus begitu Egi? Makanlah jika kamu lapar, jangan hanya memakan masakan buatan ku saja."


"Lidahku hanya ingin menelan masakan mu saja," sahut nya pelan.


Kasihan nya suami bocah ku... jadi tidak terurus oleh ku.


"Kak Jhon apa Egi hanya memakan bekal nya saja, belum sempat memakan apa pun lagi?" tanya Annisa dan menghentikan gerakan tangan nya yang tengah mengelus rambut Egi.


"Betul itu nona, hanya memakan bekal saja. Itu pun saat makan siang saja," jawab Jhon.


Egi mengendus aroma tubuh annisa di sekitar lekukan leher annisa yang terbungkus kerudung. "Jangan bicara dengan nya lagi, dan teruskan usapan mu," gumam Egi pelan.


Annisa tersenyum dan kembali membelai rambut egi dengan lembut.


Dia imut sekali sih kalau lagi manja gini...


Annisa beralih menatap ke depan ke arah Jhon. "Kak Jhon, bisakah di percepat laju mobil nya, agar saya bisa keburu memasakkan makan malam."


"Baik nona Annisa," jhon menginjak pedal gas untuk menambah kecepatan laju mobil.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


Jangan Lupa Klik LIKE dan Tinggalkan JEJAK yaa...


__ADS_2