Pejuang Move On

Pejuang Move On
Kencan part 1


__ADS_3

Selesai sarapan. Egi mengajak Annisa agar mengikutinya untuk keluar dari villa. Kedua nya kini tengah berjalan di ruangan yang akan menuju pintu keluar, dengan annisa berjalan di belakang egi, di ikuti jhon dan para bodyguard.


Tiba tiba egi menghentikan langkah kaki nya.


Ikut berhenti dan menatap heran. "Ada apa Egi?" tanya Annisa.


Egi berbalik lalu mengulurkan sebelah tangan untuk menarik mantel yang di sodorkan pelayan wanita yang berdiri tidak jauh dari Annisa. Lalu memakaikan mantel itu ke tubuh Annisa. "Cuaca di luar cukup dingin," ucapnya.


Melirik Jhon yang berdiri di belakang annisa. "Jhon lepaskan dasi mu," perintah Egi.


"Eh...," tersentak diam, Jhon menatap ragu ke Egi. "Buat apa tuan Egi meminta dasi?" tanya nya.


Egi menengadahkan sebelah tangan untuk meminta dasi, tanpa menjawab pertanyaan Jhon.


Dengan gerakan pasrah, akhirnya Jhon membuka dan melepaskan dasi nya. Lalu memberikannya ke Egi.


Annisa menatap bingung dengan yang di pinta Egi dan hendak membuka bibir nya untuk bertanya. Namun belum juga suara nya terlontar, Egi telah menarik sebelah lengan Annisa.


"Aku akan keluar bersama Annisa, dan aku tidak ingin kalian semua membuntuti kami berdua," tegas Egi pada Jhon. Kemudian menalikan longgar ujung dasi itu ke pergelangan tangan Annisa. Juga menalikan ujung lainnya ke pergelangan tangannya sendiri.


"Eh, ini kenapa harus di ikatkan dasi seperti ini segala egi?" tanya Annisa hendak membuka ikatan dasi yang melingkar di pergelangan tangan nya.


Mencekal sebelah tangan annisa. "Agar kau tidak hilang," ucap egi. Lalu merangkul bahu annisa, dan menoleh ke Jhon. "Jangan membuntuti... Kita keluar," sambungnya dan melangkah sambil merangkul annisa agar mengikuti langkah kaki nya.


Jhon menghela napas panjang menatap kepergian dua sejoli yang melangkah keluar pintu. "Semoga tidak terjadi apa apa lagi dengan nona Annisa, dan Egi bisa melindungi nya. Tapi sepertinya harus tetap ada pengawalan dari jauh untuk jaga jaga," gumamnya pelan.


Di luar villa.


Annisa yang masih di rangkul oleh Egi. Menengadahkan pandangannya. "Egi kita akan kemana? Di sekitar villa juga kelihatannya sudah sangat bagus pemandangannya," tanya Annisa penasaran. Lalu melirik pergelangan tangan nya yang di ikat tali dasi bersama egi. "Dan ini kenapa harus di ikat seperti ini sih, emang nya aku kucing apa!" Oceh annisa sebal.


Menunduk menatap Annisa teduh dan tersenyum. "Kita akan kencan," jawab Egi singkat.


Seketika langkah kaki annisa terhenti. "Kencan? Jadi maksud mu seperti sepasang kekasih yang jalan jalan berdua gitu?" tanya Annisa polos.


Terkekeh pelan dan mencubit pipi gembil Annisa. "Iya annisa ku sayang," jawab nya, membuat annisa bersemu merona dan mengerjap cepat.


Bocah ini, paling bisa membuat ku tersipu dengan sikapnya.


Egi melepaskan cubitannya di pipi annisa, kemudian beralih melangkah menuju garasi. Dan berjalan ke arah sepeda yang berjejer dan mendekati salah satu sepeda yang ada boncengan nya.


Annisa yang tangannya sudah terikat dasi dengan Egi. Mau tak mau mengikuti langkah kaki Egi. Alis nya terangkat sebelah melihat egi menaiki sepeda itu. "Kita naik ini?" tanya nya.


"Hemm...," mengiyakan dan mengedikkan dagu agar annisa segera naik ke jok belakang.


Annisa menuruti menaiki sepeda tersebut dan duduk di jok boncengan.


Menarik kedua tangan annisa agar melingkar ke perut nya. "Kau ikuti prosedur ku, kencan ini aku yang memimpin," tegas Egi.


"Emang kencan ada prosedur nya segala gitu?" Bingung Annisa.


"Hemm...," gumam nya mengiyakan. Kemudian mulai menggoes sepeda untuk keluar dari area villa.


Annisa melingkarkan lengan dengan mencengkram mantel egi bagian depan, saat sepeda yang di naiki nya mulai melaju. "Baiklah aku ikuti prosedur mu, tapi jangan yang aneh aneh egi," ucap Annisa.

__ADS_1


"Hn..," gumam nya.


Selang beberapa menit.


Egi masih mengayuh sepeda nya dengan kecepatan sedang, melewati beberapa perkebunan, juga pemandangan pohon yang rindang berjejer rapih.


Tersenyum melirik ke annisa yang tampak senang melihat lihat pemandangan yang di lewati nya.


"Kau suka?" tanya Egi memecah keheningan setelah cukup lama menggoes mengarahkan sepeda untuk menuju ke tempat yang di tuju nya.


Mengangguk mengiyakan. "Sangat suka, udara nya juga sejuk," sahut Annisa dan tersenyum senang.


"Pegangan yang kuat Annisa, kita akan melewati jalanan yang sedikit berbatu," titah Egi di sela gerakannya mengayuh sepeda.


Annisa menurut memeluk cukup erat tubuh egi. Membuat egi terkekeh senang.


Dan benar saja, jalanan yang di lewati ternyata adalah jalanan yang hanya muat untuk sepeda motor dengan permukaan yang tidak rata.


"Egi aku ingin jalan kaki saja. Bisa benjol kepala ku, kalau benar benar jatuh di jalanan seperti ini," cicit Annisa menyembunyikan kepala nya menempel ke punggung egi.


"Tenang saja, kau cukup pegang erat pada ku," jawab Egi santai.


"Iya.. iya ini sudah erat. Apa masih jauh Egi? Memang kita mau kemana sih?" Omel Annisa kesal.


"Kau akan tahu nanti," sahutnya.


Setelah melewati jalanan yang berbatu, juga jalanan yang mulus lancar, akhirnya sepeda yang di kayuh egi terhenti di sebuah pemandangan yang indah. Terlihat telaga dengan air yang sangat jernih dan berwarna biru, dengan di hiasi setiap pesisir an oleh pohon pohon tinggi rindang dan bangku bangku taman untuk tempat menongkrong, menikmati keindahan air telaga itu. Selain itu, ada beberapa stand penjual jajanan yang berjejer rapih di tempat khusus kuliner.


Sorot mata Annisa tidak lepas memandang ke arah telaga tersebut, yang tampak nya sudah ada beberapa pengunjung yang bercengkrama berceloteh ria bersama keluarga dan pasangannya di bangku taman.


Mendekati Annisa dan menggenggam jemari sebelah tangan annisa. "Tadi nya aku hendak menyewa full tempat ini, hanya untuk kita berdua, tapi sepertinya kau tidak akan suka jika tidak ramai seperti ini," ucap Egi membuyarkan tatapan Annisa.


Annisa menoleh ke arah Egi yang ada di samping nya. "Kau bisa saja menebak pikiran ku," jawab Annisa.


"Tentu," sahutnya, kemudian menarik annisa agar mengikuti langkah kaki nya. "Kau mau duduk dimana?" tanya Egi di sela langkah nya.


Annisa mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat yang pas. Lalu tangan nya menunjuk sebuah tempat perteduhan di bawah pohon besar, tepi dekat telaga yang tampak tenang jika duduk di bawah pohon tersebut. "Kesana saja egi," pinta Annisa.


Melihat arah tunjuk annisa kemudian mengangguk kecil. Egi semakin menggenggam erat jemari annisa dan tersenyum sembari melangkah ke arah tepi danau.


Kedua nya kini telah duduk di bawah pohon rindang dan di atas rumput hijau yang empuk sehingga menambah kesejukan dan kenyamanan menikmati santai.


"Egi," panggil Annisa pada Egi yang duduk di samping nya.


"Hemm...," gumam egi menyahuti sembari sibuk mengetik sesuatu di layar ponsel.


"Sebenarnya kita ada dimana? Dan villa yang kita tempati itu, kalau tidak salah bukannya milik kak Alan?" tanya Annisa dengan kehati hatian saat menyebutkan nama Alan.


Mendengar Annisa menyebutkan nama laki laki yang sangat di benci nya. Sontak Egi menoleh dan menatap dingin ke annisa. "Pulau cemara, dan soal villa juga pulau ini...," ucapan Egi terjeda saat pandanganya kembali teralih ke layar ponsel. "Itu dulu milik keluarga Atmadja, namun sejak kemarin telah berubah tangan menjadi milik keluarga Putra," tutur Egi ada nada jengah saat membahas nama keluarga Atmadja.


Apa! Jadi kak Alan itu berasal dari keluarga besar yang terpandang. Tapi kenapa dia mengojek, dan bahkan... hah sudahlah, mengingat kejadian kemarin yang di ungkapkan kak Alan, membuatku mual dan muak dengan sifat ramah palsu nya itu.


Pletak.

__ADS_1


Egi menyentil kening Annisa karena melihat annisa terbengong menatap kosong ke depan.


Tersadar dari lamunan dan mengusap kening nya.


"Kau sedang memikirkan laki laki gila itu? Jangan memikirkan laki laki lain selain aku dalam otak mu Annisa," tegas Egi.


Mencebikkan bibir sebal. "Kau ini selain bisa menebak, ternyata bisa membaca pikiran ku juga," ucap Annisa lalu mengambil batu kecil di dekat sepatu nya untuk di lempar ke telaga.


Egi mencekal lengan Annisa yang hendak melemparkan kembali batu ke telaga. "Jika kau sudah tahu keahlian ku, yang bisa membaca pikiran mu. Maka kau harus lebih berhati hati, karena aku akan menghukum mu setelahnya," tegas Egi dengan nada memperingati.


Annisa menurunkan tangan yang telah terlepas dari cekalan egi. Kemudian tersenyum tipis dan mencoel pipi Egi dengan telunjuk nya. "Hukuman apa lagi yang akan kau lakukan jika aku melanggar untuk yang ini?" tantang Annisa menggoda Egi.


Egi menangkap tangan Annisa yang ada di udara di hadapan wajah nya, lalu membawa nya untuk di kecup jemari annisa. "Yang pasti lebih dari hukuman yang waktu pagi," tegas nya dan tersenyum miring.


Annisa menarik jemari yang di genggam egi dan mengalihkan pandangan ke arah telaga, untuk menyembunyikan pipi nya yang sudah memerah merona malu. "Ka-kau tidak bisakah jangan membahas yang waktu pagi," gugup Annisa dengan nada suara pelan.


Terkekeh geli dan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Annisa. "Kenapa Annisa ku sayang? Apa kau ingin mencoba melakukannya di sini?" ucap Egi di telinga annisa, semakin gencar menggoda.


Mendelik sebal ke Egi dan memundurkan kepala menghindari egi yang semakin mendekatkan wajah nya. "Hey bocah, kau tidak malu! Disini banyak orang yang melihat kita, jangan bersikap mesum egi," omel Annisa kesal.


Namun Egi tidak mendengarkan ocehan annisa. Ia semakin suka melihat pipi merah annisa yang menurutnya semakin menambah kecantikan wajah annisa dan membuatnya menjadi gemas. "Suami mesum terhadap istri itu wajar Annisa. Yang kurang ajar itu, istri menolak ajakan suami," ucap Egi tetap menggoda annisa dengan mengusap lembut pipi gembil dan bibir annisa.


Menepis tangan egi. "Egii!" Geram Annisa sebal dan sedikit mendorong dada Egi agar menjauh dari nya. "Ya jangan di tempat umum juga egi. Kau tidak malu di lihatin banyak orang, bahkan ada pasangan yang belum nikah atau anak kecil di sekitar sini," cerocos Annisa, lalu dengan gerakan cepat bangkit dari duduk nya sehingga membuat tangan egi yang terikat dasi, ikut ketarik oleh annisa.


Menatap sinis ke Egi dan mendengus. "Dasar bocah mesum," ucap Annisa dan hendak berbalik melangkah.


Namun belum juga melangkah, annisa telah terjungkal kembali ke belakang karena egi menarik tali dasi yang terikat di lengan annisa.


Egi yang masih duduk dengan sebelah kaki tertekuk, menangkap tubuh annisa yang terpelanting ke belakang dan memeluk pinggang annisa.


"Hey, Egii!" Pekik annisa sedikit berteriak, dan tersadar dengan posisi nya yang berada di pangkuan egi. Lalu dengan cepat annisa bangkit untuk berpindah dan duduk sedikit menjauh dari Egi.


Annisa menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan karena malu dengan prasangka pasti banyak orang yang melihatnya.


Tertawa pelan Egi menurunkan kedua telapak tangan yang menutupi wajah annisa. "Kenapa di tutup annisa ku sayang?" tanyanya merasa tidak bersalah.


Memejamkan mata dan menundukkan wajah nya. "Aku malu egi, apa kau tidak malu? Pasti banyak orang yang melihat adegan tadi," gumam Annisa pelan.


Egi mengangkat dagu annisa dengan jemari nya. "Di sekitar sini tidak ada orang annisa, hanya kita berdua," ucap Egi meyakinkan.


Annisa membuka mata nya untuk mengintip sekitar, dan memastikan omongan egi itu benar. "Hah... syukurlah," gumam annisa bernapas lega. Karena apa yang di katakan egi itu benar.


Kemana orang orang sekitar? Perasaan sewaktu pertama aku masuk ke area telaga ini, sudah banyak pengunjung. Kenapa sekarang tampak sepi, dan hanya kita berdua?


Melihat annisa yang melihat sekeliling dengan alis berkerut heran. Egi mengusap puncuk kepala annisa dan menarik pinggang annisa agar duduk merapat dengannya. "Aku yang mengusir mereka, saat kita memilih duduk di sini. Karena aku tidak suka di ganggu dan keramaian," ucap Egi menjawab kebingungan annisa.


Sontak annisa menatap Egi tidak percaya. "Kau... Kapan melakukan nya, bukannya dari tadi kau hanya duduk di sini bersama ku?" tanya annisa.


Mencubit ujung hidung annisa gemas. "Rahasia," jawabnya dan tersenyum tipis.


BERSAMBUNG...


Tekan tombol LIKE dan tinggalkan JEJAK yaa. Agar Author tambah semangat Up nya.

__ADS_1


__ADS_2