Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 14


__ADS_3

"Kenapa harus mengajak wanita bodoh ini, merepotkan sekali." Gumam Jhon yang sedang menyetir dalam perjalanan menuju rumah Rika setelah mendapati telpon dari Egi, yang mengatakan akan ada perjalanan jauh untuk berkunjung ke makam keluarga putra. Awalnya Jhon menolak untuk menjemput Rika, namun karena permohonan dari Annisa akhirnya dia menyanggupi dan kini mobil hitamnya telah terparkir apik di depan gerbang rumah Rika.


"Apa dia sudah bersiap siap?" Jhon bergumam kembali, ia menghela napas panjang, mata nya terus menatap ke arah rumah berlantai dua dengan gaya minimalis itu.


Hah, sebaiknya aku turun untuk menjemputnya secara baik baik. Bagaimana pun, orang tua nya pasti perlu penjelasan ketika melepas anak nya pergi bermalam.


Jhon turun dari mobil, kemudian dengan memantapkan hati juga merapihkan jas nya, Ia berjalan ke arah gerbang yang tinggi nya sebatas perut sehingga memudahkan dia untuk menarik slot pagar. Setelah pagar itu terbuka, Ia melangkah sedikit ragu ke teras rumah dengan pandangan menatap pintu kembar bercat putih.


"Ada tamu, ada tamu." Sebuah suara yang terdengar seperti seorang pria dewasa membuat Jhon seketika terhenyak kaget.


Jhon terdiam di tempatnya, melihat sekitar halaman rumah Rika. "Siapa tadi? Apa Ayahnya dia?" Bingung Jhon.


Dan satu menit kemudian, tidak mendapati seseorang di sekitarnya. Jhon kembali melanjutkan langkah kakinya ke teras rumah.


"Hai ganteng, hai ganteng. Mau bertemu Neng Ika," oceh suara itu lagi namun tak menunjukkan wujud manusia di depan Jhon.


Jhon kembali terlonjak, ia melihat sekelilingnya. Dan mengusap tengkuk leher yang terasa merinding. "Apa di sini ada hantu? Kenapa ada suara tapi tak ada orang?" Gumam Jhon mengawasi sekitar dengan waspada.


"Pencet bell. Pencet bell." Celotehnya lagi memerintah.


"Hiiih," Jhon bergidik ngeri. "Hey, makhluk tak kasat mata. Jangan mengganggu, saya tak punya maksud jahat ke rumah ini. Saya hanya ingin menjemput nona Rika, itu saja. Jadi jangan mengganggu saya," seru Jhon dengan lantang, menatap ke sebuah pot besar berisi tanaman hidup dekat pintu.


"Hihihi, tamu ganteng, tamu ganteng. Neng Ika," jawab suara itu dengan ketawa khas yang lucu namun bikin merinding.


Jhon kembali memidai sekitar sambil mengusap tengkuk leher nya karena sudah berdiri merinding takut. "Semakin di ladeni, semakin menjadi saja makhluk halus itu. Lebih baik aku cepat cepat menemui wanita bodoh, bisa gila aku di sini lama lama meladeni makhluk astral." Gumam Jhon mendekat ke pintu, Lalu tangannya terulur hendak memencet tombol bell namun tiba tiba...


Ceklek.


Pintu rumah itu terbuka perlahan.


"Hah," kaget Jhon memundurkan diri satu langkah.


Dari balik pintu, muncul lah seorang pria paruh baya dengan pakaian atasan t-shirt putih dan bawahan berwarna hitam selutut. Pria itu menenteng sebuah mangkuk kecil dan sebuah kotak pakan burung. Begitu melihat Jhon ada di hadapannya, mata pria tersebut langsung menajam menatap memicing selidik. "Kau," ucap nya tercekat.


Jhon membenarkan posisi berdirinya, ia tersenyum sopan, lalu mendekat bersalaman. "Assalamualaikum, Om. Saya tem- eh bukan, Reka- bukan juga. Saya... saya...," ucapan Jhon tergantung mengalihkan pandangan ke arah lain, sorot matanya terlihat serba salah.


Aku harus mengaku apa pada Ayahnya si wanita bodoh ini. Teman mungkin juga bisa.


"Walaikumsalam, kau jhonathan kan?" Ujar bapak Adi membuat Jhon sontak menoleh ke arahnya.


"Bagaimana Om tahu nama saya?" Mata Jhon sedikit melebar terkejut tak percaya.


Pak Adi tersenyum, ia menghela napas pelan. "Kau tak perlu tahu. Ada apa kau kemari?" tanya Pak Adi melangkah ke teras rumah melewati Jhon begitu saja, Ia meletakkan pakan burung dan mangkuk kecil itu di meja bundar yang berada di depan teras.


"Saya kemari untuk menjemput Non-, eh maksud saya menjemput Rika untuk mengikuti perjalanan bersama keluarga putra ke daerah yang cukup jauh dan harus bermalam," tutur Jhon memutar tubuhnya menghadap Pak Adi.


Pak Adi melirik sekilas ke Jhon. Kemudian ia berjalan ke sebuah ujung halaman rumahnya, dan menaiki bangku kecil.


Jhon yang memperhatikan, alisnya berkerut heran. Mau apa Om ini?


"Boleh saja kau membawa putri saya pergi, tapi apa jaminan yang akan kau jaminkan pada saya untuk keamanan, melindungi putri saya hingga pulang selamat," Pak Adi berucap sambil tangannya bergerak terulur meraih sesuatu barang yang berbentuk tabung berukuran besar. Ia menurunkan sebuah sangkar dengan sebuah burung berwarna hijau dan flat kuning di dalam sangkar itu.


Burung? Kenapa aku tidak melihatnya tadi?

__ADS_1


Mata Jhon terbelalak menatap sangkar burung yang tengah di pegang oleh pak Adi. "Bu-burung apa itu Om?" Gagap Jhon.


"Ah, ini. Burung beo kesayangan putri saya." Ucap Pak Adi sembari berjalan menuju ke tengah halaman ke tempat meletakkan sangkar burung.


Jhon manggut manggut. Jadi yang ngajak bicara sewaktu tadi, burung ini. Tak di sangka aku sempat berpikiran makhluk halus.


Ia tersenyum geli, mengakui kebodohannya.


"Jadi apa jaminan mu yang ingin mengajak putri saya?" tanya Pak Adi yang sudah berdiri di dekat meja untuk mengambil pakan burung dan mangkuk.


"Ah, saya hampir lupa." Jhon tersadar dari keterpakuannya menatap Pak Adi. "Soal itu, Om tenang saja saya akan menjaga dan melindungi putri Om dengan baik, hingga pulang nanti tidak ada sedikit pun yang berkurang dari diri nya." Lanjutnya.


Pak Adi mengangguk, menatap Jhon. "Baiklah, sekarang kau boleh masuk ke dalam. Tunggu dia yang sedang siap siap, karena saya sudah memberi izin padanya. Tapi ingat dengan ucapan mu untuk menjaga nya, jangan membuatnya sampai menangis lagi." Titah Pak Adi mengedikkan dagu, memerintah ke arah pintu yang terbuka.


Menangis? Apa aku pernah membuatnya menangis?


Jhon masih mematung menatap lurus termenung.


"Hai ganteng, hai ganteng. Masuk ke dalam, ada Neng Ika," oceh burung Beo membuat Jhon tersadar kembali ke kenyataan.


Pak Adi tertawa menghampiri sangkar burung. "Rupanya Rarry tahu juga mana yang ganteng."


Rarry, nama yang bagus hanya untuk seekor burung.


Jhon tersenyum, melihat pak Adi dan burung itu sejenak. Ia menggelengkan kepala pelan. "Sepertinya sangat menyenangkan jika aku mempunyai satu di rumah, untuk di ajak ngobrol," gumamnya, kemudian berbalik memasuki rumah dan duduk di sofa panjang.


Tidak lama kemudian datang seorang asisten rumah tangga menyuguhkan segelas jus jeruk dan cemilan kue ke atas meja hadapan Jhon.


"Terimakasih Bi," balas Jhon sopan.


Beberapa saat kemudian.


Terdengar kegaduhan di tangga yang nyambung dengan ruang utama dengan lantai dua. Jhon seketika berdiri dari duduknya menoleh ke arah tangga.


"Mama sudah Ika saja yang bawa. Pasti berat itu ransel," celoteh Rika merebut tali ransel di pundak Mamanya.


"Sudah diam, sama Mama aja. Ingat Neng, di sana jangan lupa makan, jangan lupa kabari Mama setiap satu jam sekali, dan sudah sampai dimana dimana nya kasih tahu Mama secara detail, kirimi foto nya juga ke Mama sehingga Mama tahu daerah mana yang di singgahi Neng. Dan satu hal lagi jangan lupa kalau tidur ...," ocehan Ibu Asih terputus.


"Tutup jendela kamar karena Neng pelupa kalau soal menutup jendela," lanjut Rika meneruskan ucapan Ibu Asih.


"Nah, itu baru putri Mama." Mencubit ujung hidung Rika dengan gemas.


"Iiih, Mama." Sebal Rika mengusap hidungnya yang terasa panas.


"Pagi Tante," sapa Jhon pada kedua wanita yang sudah berdiri di anak tangga terakhir.


Seketika kedua wanita itu menoleh ke arah suara.


"Pak Jhon!" Kaget Rika, mata nya melebar terkejut dan terdiam kaku di tempatnya.


Sedang Ibu Asih tersenyum, menatap. "Nak Jhonathan, sudah lama menunggu?" tanya Ibu Asih melangkah mendekat.


Jhon menangkup kedua tangan di depan sebagai salam. "Tante juga tahu nama saya? Padahal kita baru ketemu," heran Jhon.

__ADS_1


Masih mengembangkan senyumannya. "Iya baru ketemu," sahut Ibu Asih tidak melanjutkan ucapan ke Jhon. Ia beralih menoleh ke Rika yang masih berdiri kaku di tangga. "Neng, kemari. Kok berdiri di situ saja."


"Eh, i-iya," gelagap Rika nyengir terpaksa dan berjalan mendekat hingga berdiri di samping Ibu Asih. "Pak Jhon ma-mau apa kemari?" Canggung Rika menundukkan pandangan.


"Menjemput mu, untuk ke rumah Nona Annisa," jawab Jhon tenang.


"Ah, gitu," Rika mengangguk pelan.


Sepertinya di perintah oleh Nisa sendiri jadi dia mau kemari. Mana mungkin pak Jhon insiatip menjemputku.


"Ya sudah Ma, Ika harus berangkat sekarang, soalnya kan nggak enak kalau membuat Nisa menunggu Ika," ucap Rika mencium punggung tangan Ibu Asih.


Ibu Asih mencium kedua pipi, dan kening Rika dengan sayang. "Iya hati hati Neng ku sayang." Kemudian Ia menatap Jhon yang tengah memperhatikan. "Jaga putri saya yang nakal ini dengan baik, Nak Jhonathan," ucapnya.


Jhon mengangguk kecil. "Baik Tante, kalau gitu kita permisi. Assalamualaikum," salam Jhon melirik Rika memberinya isyarat mata agar mengikutinya.


"Walaikumsalam," jawab Ibu Asih.


Rika mengambil alih ransel dari Ibu Asih, kemudian mengikuti langkah kaki Jhon yang menuju keluar rumah.


Di luar Rumah.


"Sudah mau berangkat?" tanya Pak Adi menghampiri kedua nya.


Rika mengangguk menyalami Pak Adi. Begitu pun dengan Jhon.


"Hati hati di jalannya, ingat ucapan mu." Tegas Pak Adi menepuk sebelah pundak Jhon cukup keras. Yang di balas anggukkan dan senyuman dari Jhon.


Setelah pamitan, kedua nya berjalan di area rumah Rika untuk menuju mobil Jhon yang terparkir di luar pagar.


"Neng Ika, Neng Ika. Rarry nggak di sun," oceh burung beo yang melihat Rika keluar pagar.


Rika tertawa menoleh ke sangkar burung. Ia mengedipkan sebelah mata dan memberikan kecupan jauh. "Cup aku berangkat Rarry." Melambaikan sebelah tangan setelah membuka pintu mobil. Lalu Rika beralih menatap Pak Adi. "Papa titip Rarry."


"Yaa, papa akan goreng untuk di jadikan lauk makan malam," sahut Pak Adi.


Rika memasuki mobil dengan jendela nya terbuka lebar. "Papa," sebal Rika memberenggut.


Pak Adi tertawa puas melihat wajah anaknya. Lalu mengibaskan sebelah tangan agar segera berangkat.


"Mama awasi Papa jangan sampai jual Rarry," seru Rika menatap Ibu Asih yang berdiri di samping Pak Adi.


"Iya," sahut Ibu Asih mengangguk.


"Wanita bodoh, sudah pamitannya. Kita harus segera berangkat, angkat jendela mobilnya," ujar Jhon menginstruksi Rika.


Rika menoleh ke arah Jhon. Ia tersenyum melambaikan sebelah tangan ke kedua orang tua nya sebelum menutup jendela mobil.


Jhon mengklakson dan menyalakan melajukan mobil untuk meninggalkan rumah Rika.


BERSAMBUNG...


Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...

__ADS_1


__ADS_2