Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 6


__ADS_3

Sementara di Rumah Putra.


Egi tengah menghamparkan dua sejadah di atas karpet, sedang Annisa memakai mukena nya.


Tok...tok...tok.


Pintu kamar di ketuk dari luar.


Annisa menoleh ke arah pintu namun tidak dengan Egi yang sedang memakai sarung.


"Aku buka kan pintu dulu," ucap Annisa yang sudah lengkap memakai mukena.


"Hemm...," sahut Egi sibuk memakai sarung.


Annisa hendak berjalan ke arah pintu, namun tiba tiba Egi dengan cepat mendahului nya. "Biar aku saja," Egi dengan langkah cepat dan lebar berjalan ke arah pintu.


Annisa menggelengkan kepala beberapa kali. "Tadi bilang iya, benar cepat berubah pikirannya." gumam Annisa pelan.


Ceklek.


Pintu kamar terbuka.


Egi terheran, dahi nya berkerut melihat di balik pintu tidak ada siapa pun. "Siapa yang mengetuk pintu sampai berulang ulang? Kenapa tidak ada orang?" Bingung Egi celingak celinguk ke kiri dan ke kanan, kali aja orang yang mengetuk ada di sudut lorong.


Ia menghembuskan napas pelan. "Beraninya ada orang iseng mempermainkan ku," gumam Egi pelan dan kembali menutup pintu kamar nya dengan hati kesal. Kemudian Ia berbalik, berjalan menuju Annisa yang berada di sisi ranjang.


"Om Egi," panggil Fatih yang sudah berdiri di dekat Annisa yang terduduk di sisi ranjang.


Egi mengangkat pandangannya, melihat lurus ke arah suara. Alis nya terangkat sebelah, dan mempercepat langkah kaki nya. "Kau, bocah kecil, sejak kapan kau masuk kamar? Dan awas kau jangan dekat dekat istri ku," omel Egi.


Fatih semakin mendekati dan memeluk kaki Annisa yang sudah terbalut mukena. "Sejak Om Egi buka pintu, Atih masuk kamar." Sahut Fatih, kemudian mendongak menatap Annisa. "Sudah Atih bilang berapa kali, Ateu cantik juga istri Atih."


Egi menghela napas. "Kebiasaan nya ini benar tidak hilang," gumam Egi. Lalu Ia menarik tubuh mungil Fatih yang menempel erat di kaki Annisa. "Sudahlah kau minggir, nanti lagi kita berdebat nya, Ateu mu mau shalat magrib," Ujar Egi.


"Atih juga mau shalat bareng Ateu cantik," Fatih menyahuti sambil mengacungkan sarung yang di sampirkan di pundaknya sejak tadi, ke Annisa. "Ateu pakaikan sarung nya," pinta Fatih menarik kain mukena yang di pakai Annisa.


Annisa tersenyum menunduk dan mengambil sarung dari tangan Fatih. "Baiklah," ucap Annisa membungkuk kan badan hendak berjongkok, namun tiba tiba.


Egi dengan kasar merampas sarung dari Annisa dan memegang kedua bahu Fatih untuk di putar menghadap ke arah nya. "Biar Om saja."


Fatih memberontak ingin menghadap ke Annisa kembali. "Atih mau nya sama Ateu cantik, nggak mau sama Om Egi."


Puk...puk.


Egi menepuk beberapa kali bahu Fatih. "Diam kau, jika tidak nurut, Om lempar keluar sekarang juga," tegas Egi memasukkan sarung ke tubuh Fatih untuk di pakaikan.


Fatih memberenggut sebal, menatap ke arah lain. "Mentang tubuh Atih kecil, lihat saja jika Atih sudah besar nanti. Atih gendong Ateu cantik untuk bawa jauh dari Om Egi, huh," oceh bocah cilik itu menggerutu.


"Hemm, coba saja kalau kau berani," timpal Egi memakaikan kopiah ke kepala Fatih.


Annisa mengambil satu sejadah lagi untuk Fatih dan menghamparkan dekat sejadah nya.


"Sana berdiri di tempat mu," titah Egi sedikit mendorong bahu Fatih.

__ADS_1


"Jangan dorong dorong, Atih juga tahu akan berdiri di mana," ketus Fatih melangkah dan berdiri di atas sejadah.


Annisa terkikik geli melihat ekspresi wajah Fatih yang memberenggut lucu.


"Sayang," peringatan Egi menatap Annisa yang masih berdiri belum di tempat nya.


"Ah, Iya," ucap Annisa berdiri di atas sejadah tempatnya.


Egi berbalik, mengambil posisi berdiri yang benar untuk shalat, dan mulai mengangkat kedua tangan seiring takbir di lafalkan dari bibir nya. Di ikuti Fatih dan Annisa di belakang nya yang sebagai makmum.


Setelah beberapa saat.


Mereka telah melaksanakan shalat magrib berjamaah, Annisa memajukan duduk nya agar bisa meraih tangan Egi untuk salaman mencium punggung tangannya. Begitu pun Egi mengecup lembut kening Annisa, tanpa melihat ada satu pasang mata tajam yang mengawasi, berasal dari bocah cilik yang duduk menyila di antara kedua nya.


"Ateu cantik kesini sebentar," pinta Fatih mengulurkan kedua tangan ke depan dan menggerakkan jemari nya.


Alis Annisa tertaut bingung, menatap Fatih. "Kenapa? Ada apa dek Fatih ku?" tanya Annisa memajukan diri nya dan menunduk.


Tangan mungil Fatih dengan lembut menangkup di sisi wajah Annisa. Ia berdiri dan mengecup kening Annisa seperti yang di lakukan Egi tadi.


Egi langsung memangku tubuh mungil Fatih dan memerangkapnya dalam pangkuan. "Kau berani mencium istri ku, dasar bocah kecil. Om hukum kau bocah kecil," omel Egi menggelitik pinggang Fatih.


"Hahaha, Atih juga kan suami Ateu cantik, Om Egi berhenti! Atih bisa lemas," Fatih menggeliat, meronta ronta dari pelukan dan gelitikkan Egi.


"Nggak, sebelum kau mengaku menyerah mendekati istri ku," Egi terus menggelitik tubuh Fatih.


"Atih nggak bakal nyerah, haha... Ateu cantik tolong Atih," oceh Fatih membalas menggelitik tubuh Egi.


"Hey, kau berani membalas Om," Egi semakin menjadi menggelitik Fatih.


"Iya Atih salah, lepaskan Atih Om, geli, haha," oceh Fatih yang sudah terlihat lemas dan mata di penuhi air mata karena kehabisan tertawa.


Egi tertawa puas, Ia menghentikan pergerakan tangannya dan melepaskan lingkaran tangannya di tubuh Fatih.


Fatih dengan cepat bangkit, berhambur ke arah Annisa yang sedang duduk melipat mukena dan sejadah. "Om Egi, lihat," ujar Fatih kembali mendaratkan ciuman di pipi Annisa.


"Kau, bocah kecil!" Geram Egi hendak menangkap tubuh Fatih namun dengan cepat Fatih berlari menghindar.


"Tangkap Atih kalau bisa, Om Egi payah." Ledek Fatih melepaskan sarung melemparkan ke sembarang, lalu kembali berlari di sekitar kamar.


Egi ikut melepaskan sarung dan melemparkannya entah kemana. "Kau benar benar penjahat kecil, kemari kau bocah," seru Egi mengejar Fatih.


"Om Egi jelek, Atih tampan," Ejek Fatih di sela lari nya.


"Bocah Kecil!" Egi terus mengejar Fatih yang lincah berlari.


Dan terjadilah kerjar kejaran antara Fatih dan Egi di sekitar kamar.


Sedang Annisa hanya bisa menggelengkan kepala beberapa kali, memungut sarung yang tergeletak di atas karpet dan tersampir di lengan sofa. Ia melipatnya sambil memperhatikan kedua pria yang tengah main kejar kejaran bercanda ria. "Bocah bocah, hah...," gumam Annisa menghembuskan napas panjang.


Annisa menyimpan alat shalat ke lemari tempat nya, dan merapihkan kerudung blus nya sebelum berjalan ke arah pintu keluar. "Egi, dek Fatih. Aku ke dapur dulu mau masak untuk makan malam," ujar Annisa dengan suara sedikit meninggi. Namun yang di panggil tidak mendengar ucapan Annisa dan asyik bermain kejar kejaran.


"Kalau sudah asyik becanda pasti lupa ada orang di sini," gumam Annisa kembali menghembuskan napas pelan, memutar knop pintu dan keluar kamar.

__ADS_1


Selang beberapa waktu kemudian.


"Hah, Atih capek, Atih nyerah Om," Fatih merebahkan tubuh nya terlentang di atas karpet ruangan tengah kamar.


Egi ikut merebahkan tubuh di samping Fatih, mengatur napas nya yang ngos ngosan akibat berlarian. "Om juga capek, bocah," sahut Egi.


Fatih mengedarkan pandangannya ke sekitar kamar yang terlihat kosong tidak ada Annisa. "Om, Ateu cantik kemana?"


"Tadi kan duduk di kasur," Egi bangkit dari rebahan nya, melihat sekitar. "Eh, iya. Kemana dia?" Bingung Egi, kemudian berdiri dari duduknya. "Pasti lagi di dapur," ucap Egi melangkah ke arah pintu keluar.


Fatih ikut menyusul, beranjak dari rebahan nya mengikuti Egi. "Atih ikut," seru Fatih membuntuti.


Egi mendengus sebal, tidak menggubris Fatih dan membuka pintu untuk keluar kamar.


---------------------------


Di Dapur Utama.


Annisa terlihat sedang bergulat dengan alat alat dapur dan bahan masakan untuk membuat masakan, ia tampak sangat serius dalam pergerakannya meracik bumbu dan memasak nya.


"Semoga saja mereka berdua tidak menyadari aku yang tidak ada di kamar dan menyusul ku kem...," ucapan Annisa terhenti. Karena ada sebuah lengan kekar melingkar di perutnya.


"Sayang," Egi memeluk tubuh Annisa dari belakang dan mengecup pipi Annisa.


"Kamu bisa ada di sini, dan dek Fatih nggak menyu..," lagi lagi ucapan Annisa tergantung.


"Ateu cantik, Ateu cantik Atih ingin peluk juga," ujar Fatih yang berdiri di samping Annisa.


Annisa menunduk menatap Fatih. Ia menghembuskan napas panjang.


Sepertinya masak ku akan selesai dalam waktu lama.


Egi mempererat pelukannya di tubuh Annisa dan menghalangi Fatih. "Hey bocah, kau belum nyerah juga ternyata, ini dapur. Bocah di larang masuk dapur," tegas Egi menatap sebal.


Fatih melipat kedua tangan di depan menatap sengit ke Egi. "Atih suka nemenin atau bantu Ateu cantik masak saat Om Egi jauh, jadi Atih boleh di sini," jawab Fatih.


Sebelum pertengkaran mereka semakin parah, mending aku padamkan perdebatan mereka dulu.


Annisa berbalik memegang tangan Egi yang merlingkar di perutnya agar terlepas. "Egi, dan Dek Fatih mau minum jus tidak?" tawar Annisa seketika menghentikan perdebatan kedua nya.


Egi dan Fatih menoleh ke arah Annisa. "Mau," serempaknya.


Annisa tersenyum. "Ya sudah, kalian duduk di kursi pantry, di keranjang buah ada berbagai macam buah. Kalian kupas buah yang akan kalian jus, setelah selesai beritahu aku untuk di buat jus," Instruksi Annisa menunjuk ke arah meja pantry.


"Baik," serempak kedua nya.


"Huh, Om Egi ikut ikutan Atih aja," ketus Fatih berjalan ke arah meja pantry.


"Ck," decak Egi sebal. Kemudian mengecup pipi Annisa. "Kau paling bisa membuat kita tidak mengganggu mu," ucap Egi sebelum beranjak ke arah meja pantry.


"Syukurlah mereka bisa di atur juga," gumam Annisa menghembuskan napas lega. "Dari pada menghadapi mereka berdua lebih baik aku menangani dua pasien yang melahirkan," sambung Annisa dan kembali berbalik meneruskan meracik bumbu.


Sementara Egi dan Fatih sudah mulai mengupas buah apel dan membersihkan strawberry dari tangkai nya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Jangan lupa klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...


__ADS_2