
Annisa meletakkan masakan hasil karya nya ke atas meja. Malam ini annisa memasak seadanya karena bahan masakan di dapur tidak begitu komplit.
"Giliran memanggil Egi dan kak Jhon untuk turun," oceh Annisa sambil berjalan keluar ruangan makan, padahal apron masih melekat di badan nya.
Sampai tangga, Annisa berdiri di dekat pagar tangga dan mendongak kan kepala menatap ke atas.
"Egii... Kak Jhon, makanan nya sudah siap!" Teriak Annisa kencang.
Menghela napas panjang, karena tidak mendapat sahutan dan respon pergerakan dari kedua nya.
Apa mereka pada tidur yah, coba sekali lagi. Aku lagi malas naik tangga, rasanya badan ku capek banget.
"Egiii... kak Jhon!" teriak Annisa lagi.
Ceklek.
Pintu kamar kedua nya terbuka, dan keluarlah Egi, juga Jhon dari kamar masing masing.
Egi mendahului langkah kaki Jhon untuk menuruni anak tangga, menghampiri annisa yang tampak masih berdiri di ujung tangga tersenyum menyambut nya.
"Sayang, jangan teriak teriak gitu. Ini kan di rumah bukan di hutan," ucap Egi yang sudah di hadapan Annisa dan mencubit kedua pipi annisa.
Wajah annisa merah merona mendengar panggilan yang tidak biasa dari Egi dan tersenyum cengengesan. "Aku malas ke atas nya, jadi teriak aja dari bawah." Annisa menunduk menyembunyikan wajah nya yang merona.
Egi memeluk annisa untuk melepaskan tali apron yang melingkar di pinggang.
"Egi ada kak Jhon di sini, jangan memeluk ku," bisik Annisa malu karena tidak tahu apa yang sedang Egi lakukan.
"Diamlah sayang," jawab Egi melepaskan tali apron lalu menjauhkan diri dari tubuh annisa. "Kau sampai lupa melepaskan apron dapur." Melepaskan apron dari tubuh annisa.
Tersenyum. "Eh, iya aku lupa."
"Ekhem...," dehem Jhon dan berdiri di antara kedua nya. "Serasa nyamuk saya di sini, sudah tuan Egi adegan romantis nya. Kasihanilah saya yang belum berpasangan," Dengan tatapan sedih ke Egi dan Annisa.
"Cih!" Decih Egi lalu merangkul bahu annisa. "Memang kau nyamuk," ucap nya sambil lalu bersama annisa.
Annisa terkikik geli dan menengok ke belakang melihat Jhon yang sudah menggelengkan kepala beberapa kali. "Kak Jhon nggak ikut makan nih," seru Annisa.
"Ikut nona, perut saya sudah lapar dan lidah saya sudah ingin mencicipi masakan spesial buatan nona Annisa ku tersayang." Jhon berjalan mengikuti kedua nya.
"Jhon!" Sentak Egi. Membuat annisa yang ada di rangkulan nya terperanjat.
Annisa mencubit pelan pinggang Egi. "Jangan berteriak gitu Egi, kuping ku ada di sebelah mu."
Egi terkekeh, dan merapatkan rangkulan nya. "Maaf sayang, si Jhon tengil senang sekali membuat ku marah."
-----------------------
Selesai makan malam, Jhon seperti biasa di perintahkan oleh Egi untuk mencuci piring kotor, sementara Annisa dan Egi membereskan meja makan.
Klik. Lampu rumah padam semua, dan menjadi gelap gulita.
"Eh, mati lampu. Mana busa nya belum terbilas semua lagi," ucap Jhon sambil melepaskan sarung tangan karet dan apron di badan nya.
"Egii," teriak Annisa karena takut kegelapan.
"Nona!" Seru Jhon panik melangkah hendak mencari Annisa.
Egi berhambur mendekat mencari annisa. "Jhon, segera ambil lampu darurat!" tegas Egi memerintah.
__ADS_1
"I...iya," gagap Jhon yang masih panik akibat teriakan annisa, lalu beralih arah untuk berjalan ke arah keluar ruangan.
Egi memeluk annisa yang duduk berjongkok meringkuk di bawah meja makan. "Annisa, sayang... aku di sini, jangan takut." Mengusap pelan punggung annisa.
"Aku... aku takut Egi... tolong antar... aku ke kamar. Obat... obat ku," pinta Annisa tersendat karena mulai sesak napas, dan membalas pelukan Egi tak kalah erat.
"Tenanglah sayang, iya kita akan ke kamar," ucap nya menenangkan, lalu menggendong annisa ala bridal style dan annisa reflek mengalungkan tangan ke leher Egi.
Egi mulai melangkahkan kaki nya, berjalan mencari pintu untuk keluar ruang makan.
"Egi..," panggil annisa dengan suara bergetar dan lemah. "Sangat gelap, apa... apa kau bisa ber...jalan?" tanya Annisa ragu.
"Jangan khawatir aku bisa Annisa," sahut Egi menunduk melihat wajah Annisa dalam keadaan gelap.
Tiba tiba sebuah cahaya dari arah pintu, yang ternyata Jhon membawa lampu darurat Led. Annisa menoleh ke arah cahaya itu, sedang Egi menatap lekat wajah annisa yang terpapar cahaya lampu.
"Perasaan saya tinggal baru sebentar, tapi udah lengket gini." Jhon berceloteh menghampiri kedua nya.
"Egi turunkan aku, malu ada kak Jhon," bisik Annisa lemah.
Egi melihat raut wajah annisa yang tampak sedikit pucat, dan terlihat buliran keringat di dahi annisa. Lalu Egi beralih melirik tajam ke Jhon. "Diam Jhon!" tetap melangkah maju sambil menggendong annisa. "Kau terangi jalan ku, untuk membawa Annisa ke kamar," ucap nya saat melewati Jhon.
Jhon menghela napas panjang dan menurut, mengikuti kedua nya dari belakang sambil membawa lampu untuk menerangi jalan.
Sesampainya di dalam kamar Annisa.
Egi merebahkan annisa ke atas kasur, lalu melirik Jhon. "Kau keluar Jhon, malam ini biarkan aku tinggal sekamar dengan annisa. Nanti aku jelaskan mengenai keadaan annisa," ucap Egi.
Jhon menatap Annisa sejenak yang terlihat lemah di atas ranjang, dan kembali melirik Egi. "Ba...baiklah tuan Egi," sahut nya berbalik hendak melangkah ke pintu keluar.
"Hey!" Panggil Egi menghentikan langkah kaki Jhon.
"Tinggalkan lampu itu, dan cari tahu masalah nya kenapa lampu rumah bisa mati semua."
Jhon kembali berbalik dan meletakkan lampu darurat di atas meja nakas dekat ranjang. "Tadi saya sempat mengecek keluar, sepertinya ada pemadaman lampu dari pusat," ucap nya sambil merogoh ponsel dari saku celana dan menyalakan senter ponsel.
Egi mengangguk kecil lalu mengedikkan dagu sebagai isyarat agar Jhon keluar dari kamar.
Jhon melihat Annisa lagi untuk melihat keadaan nya. Menghela napas pelan. "Saya keluar nona Annisa, selamat beristirahat," pamit nya berbalik kembali, berlalu meninggalkan Egi dan annisa di dalam kamar.
Sepeninggalan Jhon.
Egi beranjak dari duduk nya, mengambil kotak obat yang ada di dalam lemari nakas. Lalu mengobrak abrik nya untuk mencari botol obat yang di butuhkan annisa.
Setelah mendapatkan yang di cari nya, egi kembali duduk di sisi ranjang samping tubuh annisa.
Egi menatap Annisa dan mengusap buliran peluh di kening annisa lalu mengusap pipi annisa dengan lembut. "Annisa, minumlah obat mu," ucap Egi lembut.
Annisa membalas tatapan mata Egi dengan tatapan sayu, dan mengangguk kecil. Lalu hendak bangkit dari tiduran nya, namun Egi dengan sigap membantu dengan merangkul bahu annisa agar bisa terduduk.
Annisa meminum pil obat yang di masukkan Egi ke dalam mulut nya, dan mendorong nya dengan air yang di sodorkan ke bibir. Setelah nya, Egi melepaskan kerudung Annisa dan kembali menghalau tubuh annisa agar terbaring.
Egi menyelimuti tubuh annisa dan ikut berbaring di samping nya. "Aku akan menemani mu, jadi kau jangan takut lagi."
"Hn..," sahut Annisa.
Egi menarik tubuh annisa agar menyamping menghadap ke arah nya lalu memeluk dan menenggelamkan wajah annisa di dada bidang nya.
Beberapa saat keheningan membentang di antara kedua nya.
__ADS_1
"Egi," ucap Annisa mendongak menatap ke egi.
Egi mengelus rambut annisa. "Hemm...," sahut nya.
"Aku ingin bercerita tentang kehidupan ku, yang sebenarnya rapuh dan gelap saat dunia ikutan gelap," tutur Annisa.
Egi menunduk menatap wajah annisa. "Ceritalah, aku akan mendengarkan."
Annisa kembali menunduk merenggangkan jarak antara tubuh nya dengan Egi. "Dulu sekali, sewaktu aku duduk di bangku sekolah dasar. Aku pernah...," ucapan Annisa terpotong.
"Kau pernah di bully oleh anak anak sebaya yang Iri karena kau lebih pintar dan lebih di sayangi guru guru, dan bahkan mereka yang iri terhadap mu sampai mengurung mu di sebuah gudang yang tak terpakai, dan baru di temukan oleh bibi panti setelah 2 hari, saat di temukan keadaan mu sudah tak sadarkan diri dan harus di rawat selama satu minggu, karena kau mengalami trauma dan kelaparan," sambung Egi memotong ucapan annisa.
Annisa menelan ludah nya kasar, dan menatap tertegun ke Egi. "Da...dari mana kau... kau tahu?" tanya nya terbata karena kaget.
Mengusap wajah annisa dengan lembut. "Semua tentang mu aku mengetahui nya annisa ku sayang, setelah hati ku menambatkan pilihan nya pada mu. Saat itu juga, aku harus mengetahui semua tentang hidup mu dari lahir sampai di pertemukan dengan ku sekarang," Egi menjawab dengan nada suara rendah kemudian mengecup lembut kening annisa.
Dia mencari tahu tentang ku, sampai ke hal ini...
Annisa masih terpaku, mencerna penuturan Egi seakan tidak percaya. "Jika begitu, kau tahu cerita selanjutnya tentang ku?"
Egi menghalau tubuh annisa untuk di peluk kembali dan mengusap pelan rambut annisa.a "Tentu, kejadian itu yang membuat mu berubah drastis, dulu kau yang lemah dan selalu diam saja saat di bully. Sejak saat itu kau mempelajari ilmu bela diri dan menjadi garang ke setiap anak anak yang pernah membully mu... dan alasan itu juga, kau mendapat trauma Nyctophobia yang takut jika berada dalam suasana gelap," tutur Egi menceritakan pengetahuan nya tentang kehidupan annisa.
Egi... sejauh mana kau mengetahui hidup ku...
Sejenak annisa terdiam, dan akhirnya dengan gerakan perlahan membalas pelukan Egi.
Terbesit senyuman di bibir Egi melihat respon annisa dan semakin memeluk erat tubuh annisa. "Kau tahu annisa. Saat mengetahui semua tentang mu yang bahkan membekaskan trauma, sempat aku berpikir untuk membalaskan dendam pada anak anak yang pernah membully mu..," ucapan Egi terjeda sejenak dan menghela napas pelan. "Tapi niatan itu ku urungkan, karena kau pasti tidak akan menyukai suami yang membalas kejahatan dengan kejahatan."
Dia sungguh mengetahui semua nya.
"Egi...," ucap annisa tercekat dan mengeratkan pelukan nya ke tubuh Egi. "Terimakasih Egi... sepertinya aku sudah bisa memahami perasaan ku sekarang, jika sebenarnya... aku telah jatuh cinta pada mu," tutur Annisa pelan namun terdengar jelas oleh telinga Egi.
Mata Egi sedikit melebar terkejut mendengar penuturan Annisa, dan sontak Ia mengendurkan pelukan nya, menunduk menangkup sebelah wajah annisa. "Apa yang kau katakan tadi? Bisakah kau mengatakan nya sekali lagi?"
Hah... malu nya aku. Kenapa aku terbawa suasana seperti ini.
Annisa menenggelamkan wajah nya di dada Egi untuk menghindari tatapan Egi. "Aku tidak bilang apa apa, aku... aku bilang aku ngantuk," sangkal nya karena wajah nya telah memanas merona malu.
Egi terkekeh mengusap rambut Annisa. "Aku mendengar nya annisa, kau bilang mencintai ku kan?"
"Tidak." Sahut annisa cepat.
"Iya, kau bilang begitu sayang."
"Tidak Egi. Sudahlah, aku ngantuk ingin tidur."
"Aku senang sekali malam ini annisa. Akhirnya kau mengatakan apa yang ingin ku dengar." Mengecup puncuk rambut annisa beberapa kali. "Aku berjanji akan selalu mencintai mu sampai tanggal 30 Februari," ucap Egi.
Mendengar penuturan Egi, sontak Annisa mengendurkan pelukan nya dan mendongak menatap sebal ke Egi. "Kenapa cinta mu hanya sementara, 30 februari kan sebentar lagi." Seloroh nya sebal.
Egi menunduk dan mengecup kening annisa beberapa kali. "Kau lupa sayang, jika di kalender tidak ada tanggal 30 februari." Kembali menarik annisa untuk memeluk nya erat.
Membalas pelukan Egi. "Kau mengerjai ku," ucap Annisa memukul pelan punggung Egi.
Tertawa pelan menanggapi annisa.
Egi... aku bahagia di miliki mu.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK yaa... Agar author nya tambah semangat.