
Sejak dari pagi tak sadarkan diri dengan di bawa oleh mobil ambulan. Sudah cukup lama Annisa telah sampai di ruangan kamar itu. Annisa masih terbaring lemah di bawah selimut, tak sadarkan diri di atas ranjang yang berukuran besar.
Dokter wanita yang baru saja memeriksa keadaan Annisa, segera bangkit dari duduk nya dan menghadap seorang pria berprawakan tinggi dan gagah, yang terduduk santai di sofa mengamati tidak jauh dari ranjang Annisa.
Menghampiri pria itu dan berdiri tepat di hadapan nya. "Tuan tidak perlu khawatir, efek obat nya akan segera hilang. Dan tidak lama lagi nona akan segera sadar, saya telah resepkan obat untuk penghilang sakit kepala, dan segera minumkan saat nona sadar," tutur dokter wanita itu.
Pria yang di panggil tuan oleh nya, mengangguk kecil lalu memberikan isyarat tangan pada beberapa bodyguard yang ada di kamar itu, untuk menggiring dokter wanita tersebut agar keluar kamar.
Seakan mengerti isyarat tuan nya, dokter wanita itu menunduk hormat sebagai salam pamitan dan mengikuti langkah kaki dua bodyguard yang membawa nya keluar kamar.
Sepeninggalan dokter wanita dan dua bodyguard. Kini hanya menyisakan Annisa, pria itu, dan tiga pelayan wanita di kamar tersebut.
Beranjak dari duduk nya lalu berjalan mendekat ke arah ranjang yang di mana Annisa tengah terbaring. Pria itu duduk di kursi kecil dekat ranjang, dengan pandangan mata terus melekat menatap wajah damai Annisa yang terpejam.
Tersenyum senang, "dek Annisa... gadis ku, seharusnya kau lebih penurut. Mungkin aku tidak akan bertindak seperti ini, untunglah kau tidak terluka sayang," tutur nya.
Lalu pria itu melirik dua pelayan yang masih berdiri tidak jauh dari ranjang. "Kalian berdua, cepat siapkan makanan bergizi, karena sebentar lagi gadis ku akan terbangun dari tidur nya," ucap nya memerintah.
"Baik tuan," menunduk kemudian berjalan meninggalkan Annisa, pria itu dan salah satu pelayan wanita di dalam kamar.
Pria tersebut kembali lagi melirik Annisa dan memandangi wajah Annisa tanpa mau teralihkan.
-------------
Sementara di rumah Egi. Tampak ayah putra, dokter frans, dan Jhon tengah berkumpul di ruangan utama.
"Jelaskan hasil penyelidikan mu frans," pinta Jhon.
Dokter frans meletakkan ponsel nya ke atas meja dan memutar sebuah video rekaman cctv. "Saya telah mengecek beberapa kamera cctv dan hasil nya semua sama, jika semua kamera itu rusak secara tiba tiba, dan untung nya menyisakan satu kamera cctv dari rumah warga setempat yang kebetulan mengarah ke pelataran rumah sakit. Dari hasil video ini bisa di simpulkan, nona Annisa pingsan secara mendadak dan begitu terjatuh langsung di serbu oleh sekelompok perawat yang bermasker, sudah jelas penculikan ini telah terencana..." simpulan dokter Frans.
Mengangguk paham dengan penjelasan Frans, selanjutnya beralih ke Jhon, yang menunjukkan sebuah video rekaman cctv di rumah Egi. Yang menampilkan seorang pelayan wanita yang tampak mencurigakan dari gerak geriknya, tengah berjalan sedikit mengendap dan memasukkan sesuatu ke dalam botol minuman. Dan salah nya lagi, Egi membawa paper bag dengan isi botol juga kotak bekal yang telah di campuri obat tersebut oleh pelayan wanita itu.
__ADS_1
Dokter frans mengeluarkan botol minuman dari dalam paper bag dan meletakkan nya ke atas meja. "Dan setelah Jhon mengirimkan rekaman ini. Saya bergegas memeriksa kandungan air yang ada dalam botol ini ke laboratorium, dan benar saja, kandungan air tersebut telah tercemari oleh obat tidur yang langsung larut dalam air dan tidak dapat terdeteksi rasa dan bau nya, sehingga Nona Annisa tidak menyadari jika air dalam botol ini ada obat nya."
"Beberapa orang tengah mencari pelayan wanita itu, untuk di interogasi. Tapi sepertinya, dia telah di amankan oleh pihak mereka tuan besar," tutur Jhon menambahkan ucapan dokter frans.
Lalu Jhon juga menunjukkan sebuah letak posisi mobil ambulan yang sudah di lacak nya ke Ayah putra. "Sayang nya, mereka cukup rapih menjalankan rencana ini tuan besar. Beberapa anak buah telah mengecek lokasi, dan sepertinya mereka berpindah alih ke mobil lain dan meninggalkan mobil ambulan itu begitu saja di jalanan sepi yang tidak terpasang cctv," tutur Jhon menjelaskan.
Menghembuskan napas panjang, memidai setiap hasil penyelidikan yang di berikan Jhon dan dokter frans. "Jhon, kau merasa ada yang mencurigakan untuk orang orang sekitar Nak Annisa, sebelum pengawalan itu di berhentikan?" tanya Ayah putra menatap serius.
Jhon mengangguk kecil dan menatap Ayah putra dengan serius. "Ada tuan besar, dan sebelumnya saya pernah melaporkan nya pada tuan besar... dia berasal dari keluarga besar Atmadja. Setelah saya mengumpulkan, beberapa foto hasil laporan pengamatan atas kegiatan nona Annisa yang beberapa bulan terakhir, memang lelaki ini cukup berani yang terus berusaha untuk menemui nona. Namun sayang usaha nya selalu gagal karena tuan Egi selalu berhasil menjegatnya terlebih dahulu. Selain itu juga, hasil dari penyelidikkan. Lelaki yang bernama Alan darmawan tersebut, telah mengusut persoalan pribadi tuan Egi hingga sampai ke tempat kantor Agama, untuk memastikan status Nona Annisa dan tuan Egi itu, Apakah benar telah terdaftar menjadi suami istri, dan untung nya pada saat ia menyelidiki. Nona Annisa dan tuan Egi telah terdaftar menjadi sepasang suami istri," tutur panjang Jhon menjelaskan hasil penyelidikan nya.
Menatap lurus ke depan seakan ada gambaran pria yang ada di pikiran nya. Dan mengangguk paham sembari mengusap dagu dengan jemari nya. "Hemm... cukup gigih juga anak ini," kemudian membalas tatapan Jhon. "Kau kirimkan orang ke keluarga Atmadja untuk mengundang tuan besar nya saat ini juga kemari, aku ingin mendiskusikan sesuatu secara baik baik dengan nya, sebelum bertindak lanjut pada anak nya, karena bagaimana pun anak nya telah berani mengusik keluarga ku," titah Ayah putra.
"Baik tuan besar," jawab nya.
Di luar halaman rumah Egi.
Egi baru saja memarkirkan mobil nya di belakang mobil Ayah putra, yang telah terparkir rapih di garasi.
Begitu Egi memasuki kedalaman rumah, alis nya terangkat sebelah karena melihat bukan Ayah nya saja yang ada di dalam ruangan utama. Ayah putra tampak tengah terduduk di sofa tunggal, dengan dokter frans di sebrang sofa Ayah nya.
"Dokter frans, sedang apa anda di sini?" Seloroh Egi dengan nada tidak suka dan berjalan ke arah sofa panjang dimana dokter frans terduduk.
Dokter frans menoleh dan tidak menjawab pertanyaan Egi hanya menyapa nya dengan senyuman ramah.
Begitu duduk, tangan Egi bersentuhan dengan sebuah barang berbahan kulit. Melirik dengan apa yang di sentuh nya. "Ini kan ransel nya Annisa. Apa Annisa sudah pulang Ayah?" tanya nya menoleh ke Ayah putra.
Seketika suasana ruangan itu tampak hening dan semua orang di sana terbungkam membisu.
Mengedarkan pandangan ke setiap orang yang ada di ruangan itu, dan terhenti fokus menatap Ayah putra. "Ada apa Ayah? Kenapa semua nya diam. Apa Annisa sudah pulang? cepat sekali ia telah kembali biasanya malam hari baru selesai dinas. Dan kenapa dia tidak mengabari Egi untuk menjemputnya, apa jangan jangan dia pulang bersama dokter frans?" tanya Egi melirik sinis ke arah dokter frans.
Dokter frans di lirik seperti itu hanya menghela napas pelan kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain. Begitu pun, Ayah nya dan Jhon yang di tanyai Egi, tetap terdiam belum mampu membuka suara soal Annisa yang hilang di culik.
__ADS_1
Melihat semua nya hanya terdiam dan membisu, egi yang sedikit jengah akhirnya beranjak dari duduk nya, dan hendak melangkah ke arah tangga untuk menuju kamar nya yang ada di lantai dua. "Egi akan lihat, apa dia ada di kamar. Sehingga kalian hanya diam saja, karena mungkin kurang sopan akan sikap Annisa yang meninggalkan tamu nya begitu saja," tutur Egi sembari melangkah.
"Egi!" Panggil Ayah putra dengan suara cukup tinggi, memecah keheningan di dalam ruangan itu.
Langkah kaki Egi yang hendak melangkah menaiki anak tangga terhenti, tepat di samping bufet hias berbahan kaca transparan yang tinggi nya hampir sebanding dengan tinggi badan Egi. "Ada apa Ayah?" tanya nya tanpa membalikkan badan atau pun menoleh ke Ayah putra.
"Istri mu..." menghela napas dalam sejenak karena seakan tercekat dan sulit untuk melanjutkan ucapan nya. "Telah... di culik," ucap Ayah putra sedikit pelan namun tegas.
Seketika tubuh Egi menegang, mendengar kata terakhir yang di ucapkan Ayah putra, dan dengan gerakan kaku dan pelan Egi berbalik, menatap tajam ke arah Ayah nya. Mengepalkan kedua tangan sangat kuat dan gerahamnya berketat gemertak geram, sehingga otot otot urat tampak terlihat menonjol di permukaan kulit tangannya yang putih. Egi melihat fokus ke kedua sorot mata Ayah nya yang menyiratkan keseriusan, tidak ada kebohongan terlintas dengan ucapan yang di lontar kan Ayah nya itu. "Ini... tidak mungkin Ayah, tadi pagi... Egi mengantarkannya sampai memasuki gerbang rumah sakit, tidak mungkin...," ucap nya tersendat seakan tidak percaya dengan kenyataan yang di dengar nya.
Masih menatap serius ke Egi. "Ini benar terjadi Nak, istri mu di culik oleh pria dari keluarga Atmadja yang bernama Alan," ucapan Ayah putra membenarkan kenyataan.
Kegeraman dalam diri Egi semakin memuncak, mata nya merah oleh emosi yang mulai membara dengan darah yang naik dan mendidih seakan membakar pikiran dan hati nya karena amarah. "Aarrghh... Sialaan!" teriak Egi dan reflek meninju bufet kaca hias yang ada di samping nya.
Prangk... byaarr... Dengan sekali pukulan sangat keras, membuat sebagian bufet hias itu hancur ambruk dengan segala barang antik berbahan kaca yang ada di dalam nya ikut berhambur keluar, dan pecah berkeping keping berserakan ke sekitar lantai dan sebagian menghujani sepatu Egi, dan menggores pipi mulus Egi.
Hah... napas Egi terengah dengan emosi yang masih menguasai diri nya. Dan pandangan mata menajam menunduk.
Ayah putra terbelalak kaget dengan apa yang egi lakukan, dan sorot mata Ayah putra tertuju pada darah yang mulai bercucuran tercecer di lantai yang berasal dari punggung tangan dan sela jemari Egi yang tampak nya terselip serpihan kaca. "Jhon!" Teriak Ayah putra mengintruksi Jhon yang berdiri di samping sofa nya untuk bertindak.
Jhon yang mengerti maksud teriakan Ayah putra, segera menghampiri Egi yang masih berdiri menunduk dengan napas memburu karena emosi yang masih meliputi jiwa nya.
Merangkul pundak Egi yang telah terkaku sedikit membungkuk dan berdiri di tengah tengah pecahan kaca yang berserakan, Jhon mencekal lengan atas Egi.
"Tuan Egi, tenanglah..." tutur Jhon mencoba mengeluarkan suara, agar Egi yang tampak nya sudah menggelap oleh emosi menjadi tenang kembali. Namun sepertinya usaha nya sia sia.
Egi menepis tangan Jhon dari lengan nya dengan kasar, dan mengedikkan bahu agar Jhon melepaskan rangkulan nya, lalu tanpa bersuara Egi berbalik bejalan menaiki anak tangga dengan langkah pelan, tegap dan menunduk. "Sialan lelaki gila, kau berani nya menculik istri ku... akan ku tangkap kau dan mendapatkan balasan nya akibat bermain main dengan ku," umpat nya penuh amarah.
Annisa ku bersabarlah, aku akan menjemputmu....
BERSAMBUNG....
__ADS_1