
Dokter untuk memeriksa Annisa telah datang dan langsung melakukan pemeriksaan pada Annisa dengan di temani oleh Egi juga Jhon yang di perintahkan Egi untuk menemui nya karena ada sesuatu yang ingin di sampaikan.
Setelah apa yang di sampaikan dan di perintahkan oleh Egi. Jhon memerintahkan anak buahnya menyampaikan perintah Egi, lalu ia kembali ke kamarnya lagi untuk membereskan barang-barang miliknya agar pulang nanti tidak repot.
Sementara di kamar 505. Kamar Rika.
Rika membawa secangkir lemon tea dan berjalan ke arah balkon dengan sedikit menyeret kaki terluka di perbannya. "Hah, segar nya cuaca pagi ini. Tapi sayang harus pulang juga, kembali ke kenyataan yang melelahkan," ujarnya berdiri menempelkan diri ke pagar balkon dengan tangan di rentang kan menggeliat.
"Pagi, Mak." Sapa suara pria dari arah balkon sebelah kiri.
Rika celingak-celinguk melihat ke sekitar belakang diri nya. "Kayak ada yang manggil, tapi siapa yah?" Celetuk Rika kembali melihat ke depan memandangi langit yang sudah mulai terang dengan udara sejuk menyegarkan tenggorokan juga paru-paru saat menghirupnya.
"Woy, gue di sini. Samping kiri lo," seru Ray kembali bersuara cukup keras.
"Samping kiri?" Rika menoleh ke arah balkon kamar sebelah. Seketika mata nya sedikit melebar. "Lah lo," tunjuknya tercekat di tenggorokkan.
Ray nyengir polos, melongokkan kepala di pagar balkonnya agar bisa terlihat jelas oleh Rika. "Napa? Baru nyadar lo, kalau balkon kamar hotel kita berdempetan?"
"Hah," gelagap Rika memalingkan wajah ke arah depan. Jika kamar si Ray sebelah kiri saja bisa berdempet, berarti...
Rika melirik ke arah balkon sebelah kanan. Balkon Jojo juga berdempetan dong dengan ku.
Kemudian gadis manis itu, mengambil cangkir teh yang berada di atas tiang tembok pagar, dan menyesap seteguk air nya.
"Kenapa aku baru nyadar kalau balkon kamar nya berdempetan gini?" Gumam Rika tidak sadar jika Ray sedang memanjat pagar balkon agar bisa berpindah memasuki balkon kamar Rika.
Dan dengan jalan mengendap kehati-hati an Ray yang sudah berada di balkon Rika, ia mendekat berdiri di belakang gadis manis itu. Lalu, ia menundukkan kepala. "Mak!" Ujar Ray setengah berteriak di telinga Rika.
"Alamak," latah Rika terlonjak kaget dan hampir gelas yang sedang di pegang nya akan jatuh.
Dia dengan sorot mata geram memutar kepala nya dengan perlahan untuk menengok ke arah pria yang mengagetkannya tadi. "Banci! Sejak kapan lo ada di sini? Dan bagaimana cara nya lo bisa ada di sini?" Cerocos Rika melihat ke arah balkon kamar Ray yang kosong.
Ray terkekeh senang, menyentil kening Rika. "Lo lamunin apa, Mak?"
"Aww," mengusap yang terasa panas dan menatap kesal. "Gue nanya malah balik nanya." Rika kembali membalikkan badan menghadap ke arah pagar balkon.
Ray duduk di kursi dekat meja bundar, memperhatikan Rika dari belakang. "Gue manjat pagar," ucapnya santai.
"Hah, serius lo!" Seru Rika setengah berteriak menengok ke belakang dan melihat ke arah tembok pembatas balkon. "Lo gila Ray, kalau lo jatoh bisa gue juga yang jadi saksi dan di seret ke polisi untuk di investigasi gara-gara menyaksikan lo jadi setumpuk saos." Cerocos Rika menggebu sembari memperaktikan dengan gerakan tangan bagaiamana jika Ray terjatuh ke bawah.
Kenapa dia ngegemesin gini? Ray tertawa geli, lalu beranjak menghampiri Rika. Ia mengusap puncuk kepala yang berbalut kerudung blus itu. "Lo ngebayangin nya kejauhan, Mak. Sampe saos di bawa-bawa."
Gadis manis itu berpaling membalikkan badan, menatap lurus. "Ya lo bayangin aja, kalau lo jatoh dari lantai 21 ini, bukan jadi saos saja. Bahkan bisa... hah sudahlah ngeri gue bayanginnya." Ucap Rika bergidik ngeri mengusap kedua lengan atas dengan tangan yang di sedekap silang di depan.
Lagi-lagi Ray terkekeh geli. Kemudian ia berdehem pelan sebelum berbicara. "Mak, semalam gue denger lo berteriak, sampe-sampe gue terbangun dari tidur nyenyak gue, ada apa sebenarnya? Lo kagak terluka kan, Mak?" tanya nya mengalihkan topik pembicaraan sembari ikut berdiri di samping Rika hanya berjarak satu langkah.
Rika mengambil cangkir teh lagi untuk menyesap airnya. "Tumben lo sok perhatian gitu, kesambet apa lo?"
"Hmph," Ray tersenyum kecut. Jadi baru kali ini dia menyadari perhatian dari ku.
Melihat Ray diam saja, Rika menundukkan pandangannya ke arah tanaman yang berwarna hijau di sekitar pantai karena lokasi hotel itu tidak jauh dari laut. "Indah banget yah pemandangan nya."
Ray melihat wajah gadis manis itu, lalu mengikuti arah pandang dari sorot mata nya. Ia tersenyum tenang. "Hmm, seindah kamu Rik," gumam pelan Ray yang tidak akan terdengar oleh siapa pun.
"Ekhem. Ehem." Deheman suara pria dari arah balkon sebelah kanan balkon Rika.
Seketika pandangan mata Rika dan Ray teralihkan ke arah balkon itu.
"Jojo," Rika memanggil dan tersenyum canggung setelah melihat sebelah wajah Jhon. "Pagi."
Ray yang melihat tingkah Rika seperti malu-malu saat menatap Jhon, terbesit perasaan tak suka dari sorot mata nya. Ia tersenyum kecut, mengalihkan pandangan ke arah pemandangan laut.
Tanpa menoleh atau melirik Jhon membalas ucapan Rika. "Bodoh, bagaimana tidur mu nyenyak, setelah mendapat hadiah indah dari ku?"
"Ck," hadiah indah dari mana nya. Kau menguras tabungan ku Joe.
Raut wajah Rika berubah masam, ia memalingkan wajah nya ke arah depan. "Iya sangat suka, tapi lain kali kamu tidak perlu membawakan aku hadiah lagi. Aku bisa beli sendiri barang nya." Ucap Rika sedikit ketus.
"Hmph," Jhon tersenyum miring, melirik wajah Rika yang terlihat cemberut. "Jika kau sangat menyukai nya, pakai barang itu saat pulang nanti. Dan ingat jangan melupakan imbalan dari balik hadiah itu."
"Hehe," Rika tertawa terpaksa, sehingga terlihat jelas deretan gigi dan kerutan di sekitar mata yang menyipit. "Aku tidak akan melupakannya."
Huh, jelas aku tidak akan lupa dengan hilangnya sebagian besar uang tabungan ku gara-gara hadiah jelek dari mu Joe. Lihat saja aku akan membalas mu.
"Gadis bodoh," Jhon bergumam pelan, tersenyum kecil, mengalihkan pandangan mata nya ke arah lain.
"Hay bang Jhon, kok aku nggak di sapa. Aku juga di sini loh bang." Ray berseru mencondongkan tubuh sambil melambaikan sebelah tangan agar terlihat jelas kehadirannya.
Rika memundurkan tubuhnya untuk memperjelas Ray di pandangan Jhon.
Jhon yang melihat Ray di balkon kamar Rika. Mata nya memicing curiga, dan beralih melirik Rika. "Bagaimana bisa bocah tengik ini ada di balkon kamar mu?" Bertanya dengan suara dingin nan tajam.
"Ah," gelagap Rika melirik Ray dengan telunjuk tangan, juga Jhon secara bergantian.
"Manjat pagar balkon," celetuk Ray menimpali.
"Manjat?" Alis Jhon menyatu, lalu pandangannya melihat ke arah pembatas dinding balkon kamar nya dengan kamar Rika. "Jika begitu, sepertinya seru juga jika aku mencoba nya." Jhon bergerak memegang pagarnya bersiap untuk memanjat.
__ADS_1
"Eh, jangan!" Ujar Rika mendekat ke arah dinding pembatas dengan dua tangan terulur. "Adegan si Ray jangan di tiru oleh mu, Joe. Itu berbahaya."
Jhon tersenyum kecil mendelik tajam. "Kau pikir hanya bocah tengik saja yang bisa melakukannya, aku lebih kuat dan tangguh dari nya. Hanya memanjat pagar balkon saja, itu hal mudah bagi ku."
"Buk-bukan begitu, tapi-tapi itu sangat berbahaya Joe." Gagap Rika menatap cemas dengan jantung yang sudah berdegup kencang melihat Jhon yang sudah menaiki pagar.
"Diamlah, aku tidak akan mati." Jhon kekeh dengan keinginannya.
"Ray, bantu dia." Melas Rika melirik Ray.
"Heh," Ray mendengus, tersenyum miring membuang muka ke arah lain.
"Ck, kau ini," Rika berdecak sebal dan kembali melihat Jhon.
Dia nekad memanjat pagar.
Jhon dengan gagah nya dan dengan gerakan yang anggun, memanjat juga mendarat di balkon Rika.
Bruk.
Pria tampan itu mendarat di lantai, dan berdiri tegap. Ia berjalan mendekati Rika. Dan berdiri di dekatnya, sehingga tampak Rika di tengah-tengah kedua pria tampan. "Mudah kan."
Huft. Rika menghembuskan napas lega, mengangguk kecil beberapa kali. "Kalian membuat ku jantungan saja, kenapa melakukan adegan berbahaya seperti itu di depan ku?"
"Jika tak mau adegan berbahaya lalu kau mau adegan seperti apa? Apakah adegan hot sepasang kekasih? Aku bisa membantu mu." Ucap Jhon setengah berbisik, di dekat telinga Rika.
Mendengar itu, seketika wajah Rika merona merah padam. Ia memalingkan wajahnya ke arah Ray. "Dasar mesum!"
Jhon terkekeh senang, menutup bibirnya. "Kau yang meminta bodoh."
Ray melihat rona merah di pipi Rika. Ia mendelik tajam ke arah Jhon. "Kalau mau menggoda gadis ke arah yang lebih dewasa, sepertinya bang Jhon salah sasaran deh, karena gadis yang ada di hadapan ku ini orang nya sedikit bodoh dan masih lugu." Sarkase Ray.
"Usia sudah menginjak 20 ke atas, bagi seorang gadis sudah sepantasnya di bilang dewasa. Kecuali kau, seorang laki-laki yang usia nya di bawah dia dua tahun."
"Heh," dengus Ray. "Aku sudah lulus kuliah dan berkerja, jadi aku sudah dewasa."
"Oh yah," timpal Jhon tersenyum mengejek.
Rika yang mendengarkan perdebatan juga sikap kedua nya, ia terdiam memperhatikan. Kenapa suasana nya serasa mencekam yah?
Kemudian Rika mengambil cangkir teh untuk di minum air nya.
Jhon yang melihat itu. "Gadis bodoh," panggilannya membuat Rika terhenyak.
"Iya," sahut Rika menoleh dan meletakkan kembali cangkir itu ke tempatnya.
Melihat apa yang di tunjuk Jhon. "Lemon tea?"
Jhon mengangguk mengiyakan. "Di dalam kamar ku tidak tersedia bahannya."
Rika menghela napas pelan. "Baiklah, tunggu sebentar," Gadis manis itu mengambil cangkir teh nya untuk di letakkan ke atas meja bundar, ia berbalik hendak melangkah.
"Mak!" Ujar Ray, menghentikan langkah Rika.
Rika menoleh sejenak setelah meletakkan cangkir ke atas meja. "Iya napa?"
"Gue juga mau dong, buatin gue satu, yang banyak perasan lemon nya."
"Dih nawar lagi. Di lihat dulu, kalau masih ada lemon nya gue bikinin kalau kagak ada, punya lo tanpa lemon," oceh Rika sambil lalu melangkah masuk ke dalam kamar.
"Ya dah, serah lo. Yang penting di bikinin."
Sepeninggalan Rika yang meninggalkan dua pria itu.
Jhon berdiri tegap dengan dua tangan di masukkan ke dalam saku celana, ia menatap lurus ke pemandangan hijau sekitar hotel.
Sedang Ray, mensedekapkan tangan di depan dengan punggung menyender ke dinding, ia menatap sinis pada Jhon. "Sepertinya bang Jhon tertarik juga pada gadis manis di dalam itu?"
"Hmph," tersenyum miring, tanpa melirik. Jhon menimpali tak kalah sinis. "Kenapa? Apa kau merasa terganggu dengan kehadiran ku?"
Tangan Ray di balik lipatannya terkepal, sorot mata nya menajam dengan rahang tegas mulai mengeras geram. "Aku sudah mengenal dia sangat lama, jadi seharunya kau mengalah dan mundur."
"Mundur?" Jhon melirik tajam dan tersenyum sinis. "Dia yang datang sendiri pada ku secara sukarela, kenapa aku yang harus mundur?"
"Cih," decih Ray mendengus dan memalingkan wajah ke arah lain. Ia menyeringai. "Rupa nya kau tak berubah, tapi kali ini aku tak akan kalah lagi oleh mu."
Jhon tak menanggapi, hanya ada senyuman kecil sangat pahit dari sudut bibir nya. Ia menghembuskan napas kasar memandang langit yang mulai membiru indah.
Tak ada percakapan lagi dari kedua nya, masing-masing sibuk dengan pikiran dan perasaan yang menggelayut bergejolak di dalam dada nya.
Dengan berjalan sedikit tertatih menyeret sebelah kaki nya. Rika datang dari dalam kamar dengan membawa nampan berisi dua cangkir lemon tea.
"Eh, kok sepi." Celetuk Rika sambil meletakkan nampan ke atas meja.
Ray yang pertama kali menangkap suara Rika. Ia tersenyum berjalan menghampiri dan duduk di kursi. "Terus harus berantem gitu biar rame."
"Ya nggak gitu juga kali."
__ADS_1
Jhon berbalik melangkah mendekat ke arah meja, dan duduk di kursi kosong sebrang kursi Ray. "Punya ku yang mana?" tanya nya melirik dua cangkir di nampan.
"Yang mana aja lah, semua nya sama." Rika menyahuti sambil berjalan ke arah pagar balkon dan berdiri menghadap dua pria yang terduduk.
"Kenapa lo berdiri di situ? Sini duduk dekat gue?" Ray menunjuk ke kursi yang sudah di duduki Jhon.
"Jangan di situ bodoh, badan mu lemah bisa masuk angin kelamaan berdiri di depan pagar." Jhon menambahkan sambil mengambil cangkir lemon tea nya.
Rika tersenyum tenang dan menghela napas panjang. "Aku mau duduk di mana? Sedangkan kursi nya sudah kalian isi, apa aku harus duduk di lantai?"
"Eh," tersadar kedua pria itu saling pandang.
"Bilang dari tadi bodoh, kau duduk di kursi ku saja." Jhon berdiri bersamaan dengan itu Ray ikut berdiri.
Ray menepuk-nepuk tempat duduknya. "Di kursi gue aja, Mak. Kursi ini paling empuk dari yang itu."
Jhon menatap kesal pada Ray. "Jelas-jelas kursi yang sama, jadi pasti sama teksturnya."
"Bang Jhon nggak tahu saja, karena belum nyobain. Ini lebih empuk dari yang itu."
"Sama saja, bocah tengik."
"Jelas beda! Aku sudah ngerasain dua-dua nya tadi."
"Kau baru duduk di kursi itu sekarang, bagaimana bisa ngerasain dua-dua nya."
Dan terjadilah perdebatan seputar kursi di antara kedua nya. Yang membuat Rika lagi-lagi menghembuskan napas panjang, dan menggeleng beberapa kali. "Kalian," geram Rika mengepalkan kedua tangan. "DIAM!"
Seketika kedua pria itu terdiam, menatap terlongo ke arah Rika.
Hah... sudah memerintah ku untuk di buatkan teh, sekarang malah ribut. Rika menghembuskan napas kasar. "Keluar dari kamar ku sekarang juga!" Teriaknya, menunjuk ke arah pintu balkon.
"Aku," tunjuk Jhon ke arah diri nya.
"Gue," tunjuk Ray pada diri nya.
"Iya kalian! Keluar sekarang juga!" Teriak Rika menggerakkan tangannya ke arah pintu.
Ray yang melihat arah telunjuk Rika, ia masih menatap bengong. "Itu masuk ke dalam kamar bukan keluar kamar."
"Kalian," geram Rika, menghampiri kedua nya yang menatap bingung. Ia mencengkram lengan baju kedua nya dengan kuat. Lalu, menyeret kedua pria itu masuk ke dalam kamar.
"Hey bodoh, kau mau apa?" Jhon bertanya karena dengan kasar di cengkram lengan baju nya oleh Rika.
"Diam!" Sentak Rika kesal sembari terus menyeret dua pria itu dengan jalan yang sedikit tertatih.
"Kau rupa nya berani menyentakku, gadis bodoh."
Ray melirik ke Jhon dan memberikan isyarat dengan telunjuk menempel ke bibir. "Sshuut... Kalau dia lagi merah memang seperti ini, suka marah-marah tak jelas." Bisiknya.
"Marah mungkin bukan Merah," Jhon menanggapi dengan suara berbisik juga.
"Haish, kau bilang diri mu sudah dewasa bang. Masa Merah saja tidak ngerti. Tamu bulanan wanita bang, tamu bulanan." Ray berucap dengan jelas.
Jhon hanya mengangguk ber-oh ria.
Rika telah sampai di depan pintu, ia membuka lebar-lebar pintu kamar nya. Lalu dengan kasar, menarik juga mendorong kedua tubuh pria itu. "Keluar kalian dari kamar ku!"
Jhon sudah terlempar keluar kamar dengan sebelah sandal telepas dari kaki nya. Dia langsung membenarkan kemeja yang sempat tertarik gak jelas juga memakai sendal nya.
Sedang Ray masih menghalangi pintu yang akan di tutup tersebut oleh kedua tangan dan sebelah kaki nya. "Hey, Mak. Tapi teh gue belum gue minum." Ray masih enggan keluar dari kamar.
"Nggak ada teh buat lo! Itu gue minum semua!"
"Lah serius lo, ada tiga cangkir loh itu."
"Minggir, gue pukul juga hidung lo kalau nggak keluar." Ketus Rika galak.
"Ray!" Jhon berseru membuat pria yang sedang berdebat itu menoleh. Ia mengedikkan dagu memberikan isyarat agar membiarkan pintu itu tertutup.
"Hah, baiklah. Gue ngalah dah. Tapi lain kali gue bikinin lagi sama lo ya, Mak." Ucap Ray melepaskan pegangan tangannya yang sedari tadi menahan pintu.
"Kagak!" Sentak Rika dan...
Brak.
Menutup pintu kamar dengan kasar, membuat kedua nya terlonjak kaget.
Huft... Rika menghembuskan napas kasar, dan menempelkan kening ke pintu. "Dasar pria-pria gila. Bisa nya bikin ribut di kamar orang."
Lalu berbalik melangkah ke arah ranjang. Terlintas bayangan Jhon yang sempat Rika sentak dan seret bagai kucing, seketika wajahnya memerah tersadar akan apa yang di lakukannya. Dan...
Bruk.
Rika melemparkan diri ke atas kasur langsung berguling-guling menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan. "Gila, aku memarahi nya. Kenapa aku bisa bersikap seperti itu pada si Jojo, bagaimana ini? Bagaimana ini? Aaah...habislah aku."
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...