
Annisa menyimpan perlengkapan shalat ke lemari, karena kedua nya baru saja selesai melaksanakan shalat isya berjamaah dengan egi menjadi imam nya.
Annisa mengambil kerudung yang tersampir di lengan sofa dan memakai nya.
Alis egi terangkat sebelah menatap annisa.
"Mau kemana kau memakai kerudung?" Tanya egi.
"Mengambil makanan untuk makan malam mu egi, bukannya kau tidak mau makan di meja makan. Jadi nya aku harus membawa nya kemari kan," tutur annisa hendak berjalan menuju pintu keluar.
Egi segera berjalan menghalangi langkah annisa,
Menatap heran ke egi yang ada di hadapan nya sekarang. "Ada apa, kenapa kau menghalangi jalan ku?"
Egi menarik lengan annisa dan mendudukkan nya di sofa tunggal, "kau diam saja, biar pelayan yang membawakan masakan mu kemari," ucap nya kemudian egi melangkah ke meja nakas untuk menghubungi bi ane, agar menyuruh pelayan membawakan makanan hasil masakan annisa ke kamar nya.
"Kenapa kau tidak memperbolehkan aku mengambil sendiri kemari egi?"
Duduk di sofa panjang samping sofa yang di duduki annisa, "lihatlah diri mu saat ini, jika keluarga ku melihat mu memakai baju ku. Apa yang akan mereka pikirkan tentang ku dan kau," tutur egi.
Annisa melirik baju yang di pakai nya yang memang akan sangat memalukan jika sampai ayah putra melihat nya, karena baju itu kebesaran di tubuh annisa sehingga Ia tampak seperti anak kecil yang memakai baju ibu nya.
Benar juga apa yang di kata s egi baju ini sangat memalukan jika sampai terlihat oleh ayah mertua.
Mendongak menatap egi, "ini semua salah mu sih, pakai buang semua pakaian ku segala. Sepertinya besok aku harus kembali ke asrama lagi, jika tidak. Bisa habis baju mu di pakai oleh ku, yang kata nya habis di pakai oleh ku kau langsung membuang nya," sindir annisa.
Egi menggenggam jemari annisa yang kebetulan ada di lengan sofa, "aku tidak mengizinkan mu pergi lagi brandal," tegas egi dengan tatapan tajam nya.
Tatapan dia jika di iringi dengan sikap kasar dan amarah nya membuat ku takut. Papa, mama.. apa sebenarnya yang dia mau, membuat annisa jadi serba salah dalam menghadapi nya.
Annisa meringis karena egi menggenggam jemari nya sangat kuat.
"Aww.. egi sakit tau," cicit annisa menunjuk pada tangan nya.
Tersadar perlakuan nya, egi melepaskan genggaman di tangan annisa kemudian mengusap kasar wajah nya dengan sebelah tangan dan menatap lurus.
Kenapa emosi ku selalu tidak bisa terkontrol jika menyangkut s brandal yang ingin menjauhi ku, ada apa dengan ku.
Annisa mengusap usap jemari nya yang memerah lalu melirik egi yang terbengong menatap ke depan.
__ADS_1
"Memang nya kenapa egi jika aku pergi lagi, bukannya kau akan merasa senang jika aku pergi dari rumah mu atau sekalian dari hidup mu.." tutur annisa sembari mengusap usap jemari nya.
Mendelik menatap tajam ke annisa, "jangan pancing emosi ku Annisatul Alawiyah, dan jangan kau mengatakan hal itu lagi." Ucap egi dengan nada tajam.
Seketika annisa terdiam kaku menatap egi dan ingin melontarkan kata kata lagi namun tercekat dalam tenggorokan nya karena kaget dengan apa yang di dengar nya.
Dia memanggil nama ku bahkan lengkap dengan nama panjang ku. Rasa nya senang sekali aku mendengar nya, baru kali ini dia memanggil nama ku.
"Ka..ka..kau memanggil nama ku egi, coba sekali lagi panggil nama ku dengan jelas," pinta annisa mendekatkan wajah nya menatap egi.
Membuang muka ke arah lain dan menghembuskan napas kasar, "kau salah dengar. Mana ada aku ingat nama mu yang jelek itu, pantas nya kau di panggil brandal narsis." Sangkal egi.
Annisa menggoyangkan lengan egi pelan, "ayo dong panggil lagi nama ku egi, seperti tadi. Aku ingin mendengar nya dengan jelas," rajuk annisa.
Menoleh menatap annisa kemudian tersenyum kecil, "brandal narsis." Ucap egi.
"Bukan begitu, tapi nama ku yang asli egi. Ayolah," merajuk sembari menggerakkan lengan egi.
Egi terkekeh pelan, "kau seperti bocah saja, merajuk begini. Jadi benar kata ku, yang bocah di sini adalah kau bukan aku." Ejek nya.
Menghempaskan lengan egi dengan kasar. "Kau yang bocah bukan aku, di lihat dari semua aspek juga kau yang bocah dasar salegi," oceh annisa mencebikkan bibir sebal.
"Kau..berani nya memanggil nama ku seperti itu," geram egi.
Menggelengkan kepala beberapa kali melirik annisa dan tersenyum, "Annisatul Alawiyah.. dasar brandal narsis," gumam egi pelan.
Tok..tok..tok.
Pintu kamar di ketuk dari luar.
Segera egi beranjak dari duduk nya untuk membuka kan pintu, dan terlihatlah seorang pelayan dengan sebuah troli di samping tubuh nya yang berniat mengantarkan makanan.
Menunduk, "tuan egi. Saya mengantarkan makan malam untuk tuan egi dan nona annisa," ucap pelayan wanita tersebut.
Egi mengisyaratkan dengan menggerakkan kepala sebagai tanda 'bawa masuk' yang langsung di mengerti oleh pelayan tersebut.
Pelayan wanita itu mendorong troli ke dalam kamar mendekatkan nya ke meja sofa ruangan.
"Saya permisi tuan egi, selamat menikmati makanan nya dan selamat malam." Tutur nya membungkuk kan sedikit badan sebagai tanda hormat pada tuan nya, lalu berlalu meninggalkan kamar egi.
__ADS_1
Melihat pelayan wanita itu sudah pergi dan menutup kembali pintu kamar nya, egi beralih menatap ke arah sofa tv yang di mana di sana ada annisa yang tengah menonton tv.
Tersenyum kecil kemudian mendorong troli menghampiri annisa, "brandal kau tidak mau makan," ucap egi.
Annisa mengalihkan pandangan mata nya dari tv melirik troli berisi makanan yang di masak nya sewaktu tadi.
Menghembuskan napas panjang. "Aku lagi diet," sahut annisa mencebikkan bibir nya.
"Badan sudah kayak cacing kau masih bilang mau diet, makanlah brandal." Ledek egi sembari mengangkat nampan besar dari atas troli untuk di pindahkan ke atas meja.
"Kau kalau ngomong itu bisa di saring dulu gk sih, enak saja. Badan ku perfect gini di bilang kayak cacing, huh." Cerocos annisa dan duduk di atas karpet.
Egi duduk di atas karpet di samping annisa, "ngapain kau di sini. Bukannya kau mau diet," tanya egi sambil meraih gelas air putih lalu meminum air nya.
"Ya mau makan lah, kata nya badan ku kayak cacing. Jadi nggak jadi aku diet nya," sahut nya kemudian mengambil mangkuk yang berisi sup kacang merah.
Egi mengambil piring berisi sate asem pedes daging sapi, "Bilang aja lapar, sok sok an bilang diet segala," ucap egi dan hendak menyuapkan sate ke mulut nya.
Merebut sate dari pegangan tangan egi.
"Hemm.. sok jago, orang sakit mau makan makanan yang asem pedes," ucap annisa.
Lalu annisa juga mengambil piring sate yang ada di hadapan egi mengganti nya dengan satu mangkuk bubur manado.
Sementara egi terpaku memperhatikan apa yang di lakukan annisa pada nya.
"Nah, orang sakit pantas nya makan ini. Biar sate aku yang makan, orang aku memasak nya juga karena aku mau bukan untuk mu," ucap annisa.
Melirik mangkuk bubur di hadapan nya dan menatap annisa, "kau mau mengatur ku brandal, kembalikan makanan ku." Tegas egi.
Annisa menjauhkan piring. "Hmm.. sudah kau nurut saja bocah, memang nya kau mau sakit maag mu kambuh lagi."
Egi menggelengkan kecil kemudian menghela napas pelan.
"Baiklah, kali ini aku mengalah dari mu. Karena aku tidak mau masalah kesehatan ku terganggu lagi." Ucap nya pasrah dan memegang sendok untuk menyendok bubur.
Annisa mengusap rambut egi gemas. "Bocah pintar, makanlah dengan lahap yah." Tutur nya.
Melirik annisa tajam, "brandal.." geram nya. "Turunkan tangan mu dari kepala ku."
__ADS_1
Nyengir kuda. "I..iya bocah, tapi bilang nya nggak harus menatap ku begitu juga lah."
BERSAMBUNG...