
Egi terus berjalan tergesa untuk menuju garasi mobil, dengan menarik lengan annisa dan mencekal kuat pergelangan tangan annisa.
"Egi.. bisakah pelan pelan jalan nya, dan lepaskan pegangan mu, tangan ku sakit." Ucap Annisa, di sela mengimbangi langkah kaki egi yang cepat.
Namun, ucapan annisa tidak di gubris dan tidak di dengar egi, karena amarah egi yang masih menguasai hati dan pikiran nya.
Huft.. annisa menghela napas kasar.
Sepertinya nih anak marah nya belum reda deh, sabar..sabar.. annisa, nama nya juga bocah. Jadi harus sabar, meskipun tangan ku sebenarnya sudah mati rasa karena cengkraman nya sangat kuat.
Tapi mendengar ucapan nya tadi ke s Tang itu, dia lagi memperebutkan apa yah. Sampe segitu nya dia marah pada s Tang. Hah mungkin saja dia tengah memperebutkan barang atau apalah, bukan urusan ku juga.
Sesampai nya di depan mobil, dengan kasar egi membuka pintu mobil.
"Masuk!!" Perintah egi dengan tegas.
Annisa menghela napas pelan, kemudian menurut masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang depan.
"Haish...sss jadi merah kan lengan ku, dia nggak punya perasaan banget sih narik nya, sampe merah dan perih gini. Terbuat dari apa sih tangan nya tuh bocah," gerutu annisa melihat pergelangan tangan bekas cekalan egi, yang memerah sedikit mulai membiru.
Egi masuk dan duduk di kursi kemudi. Lalu..
Brakk. Menutup pintu mobil dengan kasar membuat annisa kembali terperanjat.
"Egi bisakah kau pelan dan tenang sedikit, kenapa kau marah pada ku, bukannya kau marah nya pada s Tang linggis itu, kenapa kau melampisakan nya pada ku," cerocos annisa sembari memegang lengan nya yang masih terasa perih dan berdenyut.
Egi melirik ke samping ke arah annisa, dan hendak berteriak membalas ucapan annisa, namun seketika lidah nya kelu, dan bibirnya merapat kembali. Karena melihat annisa tengah meringis dan meniup pergelangan lengan yang memerah akibat ulah nya.
Aku melukai nya lagi.
Menarik dengan ke hati hatian tangan annisa.
__ADS_1
"Hey bocah, sakiit.." pekik annisa kaget karena tiba tiba egi menarik lagi lengan nya.
"Diamlah," ucap Egi pelan, kemudian ia memidai jejak bekas cengkraman nya, lalu meniup pelan lengan annisa, kemudian egi mengecup lembut sekitar yang merah di pergelangan annisa.
Seketika, mata annisa melebar kaget, jantung nya berdegup sangat cepat akibat perlakuan egi yang merupakan hal pertama bagi nya, jika dia bersikap lembut begitu pada annisa.
Apa yang di lakukan s egi.. kenapa dia bisa berubah lembut seperti ini.
Egi mengangkat pandangan nya dan menatap annisa yang saat itu tengah menatap nya kaku. "Masih sakit?" Tanya nya.
Annisa mengangguk kaku sebagai jawaban 'iya'. "je..jelas lah masih sakit, kau kan mencekal kuat lengan ku sepanjang jalan tadi," ketus Annisa.
Lalu dengan gerakan cepat, egi menarik lengan annisa dan merangkul, merengkuh tubuh annisa agar ada dalam pelukan nya.
"Egi.. hey. Kau selalu seperti ini tiba tiba, emang kau pikir aku ini boneka beruang apa, main tarik dan peluk sesuka mu," cerocos annisa.
"Diamlah," gumam egi pelan, dan merapatkan pelukan nya di tubuh annisa.
Ada yang aneh, kenapa nada suara nya seperti frustasi begitu, apa ada masalah dengan nya.
Namun egi tidak menjawab pertanyaan annisa, egi lebih senang membungkam bibir nya dan menyalurkan perasaan nya saat itu dengan memeluk tubuh annisa erat erat, dan mengendus aroma tubuh annisa yang sangat ia suka.
Sejenak keheningan membentang di kedua nya, hanya suara detak jantung yang cepat dari kedua nya yang saling bersahutan.
"Maafkan aku," ucapan itu terlontar begitu saja dari bibir egi setelah sekian menit terlewatkan dengan kebungkaman.
Alis annisa berkerut bingung.
Dia bilang apa tadi.
Menghela napas pelan dan menghirup kembali aroma tubuh annisa, "Maafkan aku, telah membuat mu terluka brandal." Ulang nya dengan nada bersalah, egi menghela napas kembali untuk menetralkan tenggorokan nya yang seakan tercekat untuk mengatakan ucapan selanjutnya.
__ADS_1
"Maafkan aku, dan jangan kau pergi lagi dari ku setelah aku bersikap kasar seperti ini terhadap mu," lanjut egi mempererat pelukan nya pada tubuh annisa.
Dia bilang maaf pada ku, apa aku tidak salah dengar.. selama ini dia selalu bersikap arogan dan egois, baru kali ini aku mendengar kata maaf dari bibir nya.
Menghela napas pelan, "be..benarkah kau meminta maaf pada ku, egi." Ucapan itu meluncur begitu saja dari bibir annisa, karena seakan tidak percaya dengan apa yang di dengar nya.
Egi masih memeluk tubuh annisa dengan erat, dan terdengar sangat jelas napas yang di atur oleh egi, sebelum bibir nya berucap kembali.
"Iya, Annisa wanita brandal ku, maafkan aku. Dan jangan pergi lagi dari sisi ku," ucap egi pelan namun terdengar sangat jelas oleh annisa.
Annisa membelai punggung egi pelan, dan membalas pelukan nya, "bocah ku, meskipun kau bersikap kasar terhadap ku, itu tidak akan membuat ku pergi dari mu egi. Karena bagaimana pun kau adalah suami ku, yang masih BOBIL, jadi aku harus ekstra sabar untuk menghadapi dan memaklumi sikap mu," tutur annisa.
Egi melepaskan pelukan nya, sedikit memberi jarak diri nya dengan annisa. "Kenapa kau selalu sabar saat aku bersikap kasar pada mu brandal?" Tanya egi menatap lekat pada annisa.
"Karena kau suami ku, dan aku sebagai istri mu harus memaklumi, menyadarkan bukan menambah amarah mu dengan membantah atau membalas kemarahan mu egi, karena jika aku melakukan itu, yang ada rumah tangga kita akan hancur," jawab annisa jujur.
Brandal, di balik penampilan luar mu yang kasar ternyata kau memiliki hati yang lembut.
Egi mengusap pelan pipi annisa dengan jemari nya, "kita ke dokter sekarang, untuk mengobati luka mu akibat ulah ku," ucap egi.
Menggeleng cepat, "tidak perlu. Kau kan akan pergi sekolah, biar nanti di asrama saja aku obati sendiri atau minta bantuan rika, lagian hanya luka kecil saja." Tolak annisa halus.
Egi menghela napas pelan dan menatap annisa hendak membuka bibir untuk mengeluarkan pendapat nya lagi, namun annisa yang seakan mengerti dengan apa yang hendak egi lontar kan, annisa menaruh telunjuk nya di bibir egi kemudian menggelengkan kepala pelan.
"Aku bilang tidak apa apa egi, jadi kita berangkat sekarang, nanti kamu bisa telat loh." Ucap annisa.
Egi memegang tangan annisa yang terluka lalu kembali mengecup nya lembut, "baiklah, tapi kau janji akan mengobati nya. Jangan membiarkan luka nya sampai membiru brandal," tegas egi yang di balas anggukkan kepala oleh annisa.
"Iya bocah nakal ku," balas annisa dan hendak menarik seat belt, namun egi dengan sigap menarik nya terlebih dahulu dan melingkarkan nya ke tubuh annisa.
"Biar aku, tangan mu sedang terluka, dan ingat jangan membawa beban yang berat sebelum tangan mu sembuh, wanita brandal ku." Tegas egi sembari menatap dekat wajah annisa.
__ADS_1
Annisa tersenyum manis, "hmm.. pengertian banget sih.. bocah ku." Celoteh annisa yang di balas senyuman kecil dari egi.
BERSAMBUNG...