
"Biar saya yang cuci piring," Rika mengambil celemek dan sarung tangan untuk mencuci piring hendak memakainya.
Namun jhon yang sudah kembali meletakkan piring kotor, Ia dengan kasar merampas kedua barang itu dari tangan Rika. "Tak perlu, kau buatkan lemon tea dan susu jahe saja untuk ibu, dan Ayah."
Setelah makan malam Ayah kusuma dan ibu Lily telah masuk ke ruangan keluarga. Meninggalkan dua orang yang bersedia membereskan dan membersihkan sisa makan malam mereka.
"Memang pak Jhon bisa cuci piring? Biasanya laki laki kan hanya tahu makan saja." Rika berjalan ke arah meja dapur, mengambil nampan dan beberapa cangkir yang tersedia di lemarinya.
Jhon tidak menjawab ucapan Rika lagi, Ia sudah memakai celemek dan sarung tangan untuk cuci piring.
Ck, pak Jhon ini kenapa dari tadi bicara seperlunya saja? Biasanya paling suka memojokkan ku?
"Pak, teh nya habis, masih ada stock gak?" tanya Rika membuka kotak tempat teh yang sudah kosong.
"Atas kepala mu," jawab Jhon tanpa mengalihkan kesibukannya dari mencuci piring.
Rika mendongakkan kepala, membuka lemari yang di tunjuk Jhon. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi membuatnya harus berjinjit dengan tangan meraba raba ke dalaman lemari itu. "Tinggi amat dah nih lemari, Apa tante tidak merasa kesusahan mengambil sesuatu dari lemari ini," keluh Rika masih meraba raba mencari barang yang di cari nya.
Jhon mendekat berdiri di belakang Rika, tangannya terangkat. "Dasar kerdil, jarak segini saja kau sampai kesusahan seperti itu." Ledek Jhon mengambilkan kotak teh dari dalam lemari, sehingga badannya cukup dekat dengan Rika.
Sontak Rika merapatkan diri ke meja dapur untuk menjauh, dan menundukkan kepala menyembunyikan pipi nya yang terasa panas merona.
Meskipun lidah nya tajam, mudah mengumpat, tapi dia masih bisa bersikap baik juga untuk membantu.
Rika memegang bagian letak jantungnya yang berdegup kencang.
Duh, pak... ini terlalu dekat. Membuat jantung ku seakan keluar.
"Buk-bukan ba-badan saya yang kerdil, tap-tapi lemari nya saja yang terlalu tinggi," gagap Rika pelan.
Ujung bibir Jhon terangkat membentuk simpul. Lalu ia melirik atas nampan. "Tambah dua cangkir lagi, lemon tea." Meletakkan kotak teh itu di samping nampan hadapan Rika berdiri. Kemudian, Ia kembali ke wastafle untuk melanjutkan cuci piring.
Tambah dua cangkir, itu artinya dia juga mau teh buatan ku dong.
Sejenak Rika menatap dan menyentuh kotak teh yang ada di hadapannya, Ia menghembuskan napas panjang menetralkan jantungnya yang masih berdetak cepat.
"Kenapa kau diam saja? Cepat buatkan minumannya. Malam hampir larut, kau tidak berniat menginap di sini kan, wanita bodoh," ucap Jhon membuat Rika terhenyak menoleh ke arahnya.
"Tid-tidaklah," Rika langsung bergerak mengambil dua cangkir lagi untuk di letakkan ke atas nampan. Lalu, mulai meracik membuat minuman.
"Ck," Jhon tersenyum miring. Membilas piring yang sudah di sabuni dengan bersih.
Selama beberapa saat tidak ada percakapan di antara kedua nya. Masing masing sibuk dengan apa yang di kerjakan.
"Pak, wanita yang akan di jodohkan ke bapak kok nggak dateng yah? Biasanya kan, kalau ada acara makan malam keluarga kayak gini, si wanita yang akan di jodohkan ke bapak itu harusnya hadir," tanya Rika mengaduk minuman yang sudah di buatnya.
Jhon melepaskan celemek dan sarung tangan. Ia mengelap tangannya dengan lap yang menggantung. "Ibu saya tidak mengundang wanita itu," timpal Jhon.
Mengangguk beberapa kali dan mengerucutkan bibir. "Hemm gitu, " gumam Rika hendak mengangkat nampan yang berisi beberapa cangkir di atasnya.
__ADS_1
Jhon melihat nampan yang di pegang Rika. "Antarkan ke ruang keluarga, mereka pasti berada di sana."
Rika masih mematung menatap. "Saya tidak tahu letak ruangannya dimana, bisa bapak antarkan saya ke sana?"
"Merepotkan sekali," gerutu Jhon melangkah melewati Rika.
"Minta di antar saja di bilang merepotkan, tar kalau nyasar ke ruangan lain, aku lagi yang di salahin, menghadapi pak Jhon memang harus sabar." Dumel pelan Rika, Ia menghela napas pelan, dan ikut membuntuti langkah kaki Jhon sambil memegang nampan berisi empat cangkir dengan tiga lemon tea dan satu susu jahe.
"Saya mendengar," Celetuk Jhon tersenyum miring.
"Dengar Apa yah?" Pura pura tidak tahu, Rika nyengir menampilkan deretan gigi nya yang rapih.
"Hemph," Lirik sinis Jhon.
"Ibunya, pak Jhon tidak memperkerjakan pengurus rumah, kenapa rumah ini sepi sekali?" tanya Rika mengalihkan pembicaraan.
"Ada beberapa namun mereka tidak menginap," sahut Jhon tanpa menoleh.
Kasihan sekali, pantas pak Jhon di buru nikah. Orang tua nya sudah berumur namun rumah masih sepi dan kosong. Kalau posisi nya di keluarga ku juga, pasti Mama bakal begitu terhadap ku.
Kedua nya telah sampai di ruang keluarga. Tampak Ibu Lily terduduk di sofa panjang menghadap ke televisi, ia terlihat sedang menyulam dan untuk Ayah Kusuma, Ia terduduk di kursi kayu dengan meja bundar dan sebuah kotak catur di balkon yang pintu kaca nya di buka lebar.
"Atan temani Ayah maen catur," seru Ayah kusuma begitu melihat Jhon dan Rika memasuki ruang keluarga.
Jhon menghampiri Ayah kusuma yang sudah terduduk di kursi yang berada di balkon. "Boleh, jangan marah jika ayah selalu kalah oleh ku," sombong Jhon duduk di kursi hadapan Ayahnya.
Jhon berdecak, tersenyum tipis dan tangannya bergerak merapihkan bidak catur warna putih.
Rika berjalan ke balkon, menghampiri meja bundar Jhon dan Ayah kusuma, meletakkan dua cangkir lemon tea dan susu jahe ke hadapan mereka. "Semoga sesuai selera, Om," ucap Rika.
"Sudah pasti selera Om, makasih Nak Rika," tanggap Ayah kusuma.
Rika mengangguk melirik sejenak ke Jhon, Lalu beralih melangkah ke arah sofa. Ia meletakkan nampan berisi dua cangkir lemon tea ke atas meja sofa. "Ika buatkan lemon tea, Jojo bilang Ibu suka lemon tea." Duduk di samping Ibu Lily.
Pergerakan tangan Ibu Lily yang sedang menyulam terhenti, wajahnya terangkat menatap dan tersenyum. "Gadis pengertian, makasih Nak," Kain sulaman yang di pegangnya di letakkan ke atas meja dan beralih mengambil cangkir lemon tea untuk di teguk airnya.
Rika mengambil kain sulaman yang belum selesai tersebut, Ia mengamati dan dengan reflek meneruskan sulaman Ibu Lily.
"Emm, racikan yang pas dan terasa lembut di lidah," gumam pelan Ibu Lily setelah menyesap lemon tea. Lalu ia melihat Rika tengah meneruskan sulaman nya. Bibirnya berkedut tersenyum senang. "Nak Rika suka menyulam?"
Rika terlonjak kaget sehingga jarum sulam itu menusuk jemari nya. "Ah," Pekik Rika memegang jemari yang sudah mengeluarkan darah.
Sontak Ibu Lily meletakkan cangkir ke meja, dan langsung menarik tangan Rika. "Maaf ibu mengagetkan mu yah," ucapnya merasa bersalah.
Rika menekan jemari yang berdarah itu. "Tidak Bu, memang Ika nggak sopan memegang barang Ibu tanpa permisi." Tersenyum manis.
"Ibu kan sudah bilang jangan sungkan terhadap ibu," Mengusap pipi Rika dengan lembut. Kemudian beralih menengok ke arah pintu balkon. "Atan!" Seru Ibu Lily setengah berteriak, membuat Jhon dan Ayah kusuma yang berada di balkon menoleh ke arah suara. "Kemarikan kotak P3K, Nak Rika terluka!"
"Wanita mu terluka, sana kau hampiri dulu," titah Ayah Kusuma, mengambil cangkir susu jahe nya untuk di sesap.
__ADS_1
Jhon menghembuskan napas kasar, mendengus sebal, Ia beranjak dari duduknya kemudian berjalan ke arah bufet setengah badan dekat televisi.
Tante, kenapa harus melibatkan pak Jhon sii...
Rika menarik tangan yang tengah di pegang Ibu Lily. "Ika nggak apa apa Bu, ini hanya luka kecil saja," Meniup lalu menyembunyikan jemari nya.
"Luka kecil jika di biarkan akan mengakibatkan infeksi," cemas Ibu Lily menepuk punggung tangan Rika.
"Tapii...," ucapan Rika menggantung.
Brak.
Jhon meletakkan kotak P3K dengan kasar ke meja. Ia berjongkok dengan sebelah lutut di tekuk, lalu menatap tajam ke Rika.
Ibu Lily beranjak dari duduknya menepuk sebelah bahu Rika. "Ibu menemui Ayah dulu, kamu di obati Atan yah," ucapnya tersenyum sambil lalu pergi meninggalkan berdua.
"Eh, Ib-ibu," Rika menatap kepergian Ibu Lily yang sudah menjauh. Kemudian beralih menatap kembali ke Jhon yang masih menatapnya tajam.
Kenapa harus pergi tante?
"Mana luka mu? Perlihatkan," pinta Jhon dengan nada suara tajam.
"Tid-tidak perlu pak, hanya luka kecil saja," tersenyum kepaksa seakan tidak terjadi apa apa.
Sebelah tangan Jhon terulur menengadah, pandangannya semakin menatap tajam dengan alis berkerut.
Kenapa harus menatap ku seperti itu, pak? Membuatku terintimidasi saja.
Rika menciut menundukkan wajah, melirik kotak P3K yang sudah terbuka tutupnya. "Bi-biar saya saja pak," dengan gerakan cepat Rika mengorek ke dalam kotak itu untuk mencari plester. Namun tidak ketemu.
"Singkirkan tangan mu," tegas Jhon membuat Rika menarik kembali tangannya.
Jhon melihat peralatan sulam milik ibu nya yang ada di pangkuan Rika. Ia juga sekilas melihat bagian jemari Rika yang merah mengeluarkan darah, Ia mengambil plester di bagian dalam kotak. Lalu membuka bungkus plester untuk mengambil satu lembar.
"Wanita bodoh, jika tidak bisa menyulam jangan sok sok an ikut menyulam. Dasar ceroboh, sebaiknya kau bersiap pulang sekarang, dari pada nanti berkelanjutan cari muka terhadap mereka, otak bodoh mu akan bertindak ceroboh lagi dan merepotkankan saya," Omel Jhon membuka bungkus plester dan menyodorkannya ke Rika.
Dia bilang merepotkan lagi. Hal yang tidak di sengaja saja, dia masih bilang merepotkan.
Rika menatap sebal, dengan gigi mengkerat geram. Bibirnya menipis kesal. "Iya saya bodoh dan ceroboh tapi saya tidak pernah cari muka pada kedua orang tua, bapak," Dengan kasar Rika merampas plester itu dan memakaikannya ke jemari yang terluka.
Humph! Rika membuang muka nya ke arah lain.
Ck, Jhon berdecak menghembuskan napas pelan, Lalu beranjak dari duduk jongkoknya. "Mari berpamitan dulu pada kedua orang tua saya, kau harus pulang sekarang," ucap Jhon sebelum berbalik melangkah ke arah balkon dimana kedua orang tua nya berada.
Orang itu, tidak pernah berkata baik sama sekali. Heran aku, apa salah ku padanya. Bikin kesal saja. Padahal sudah baik aku membantunya.
BERSAMBUNG...
Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Ya...
__ADS_1