
Begitu ramai suasana di masjid yang cukup megah di sebuah fakultas kebidanan oleh mahasiswa yang berbondong bondong keluar dari dalam nya karena usai melaksanakan shalat dzuhur berjamaah.
Annisa dan Rika tengah berjalan ke asrama.
Sesampai nya di dalam kamar.
Rika langsung duduk di sisi ranjang dan memperhatikan annisa yang tampak sibuk memidai isi lemari.
"Nis, kamu nggak ada yang mau di ceritain nih sama aku." Sindir Rika.
Sejak datang ke kampus annisa langsung mengikuti kelas karena telat masuk. Jadi rika belum sempat bertanya tanya padahal pertanyaan di otak nya sudah penuh untuk di tanyakan ke annisa.
Annisa menoleh ke rika. "Ceritain apa rik?" Tanya Annisa bingung.
Mencebikkan bibir sebal.
"Yaa semua nya, kenapa kamu nggak pulang semalam? Datang ke kampus telat? Telpon dan pesan ku nggak ada yang di bales? Saat makan istirahat tadi juga kamu diem aja nggak banyak bicara, kan jadi aneh. Selama ini kamu selalu cerita kalau ada apa apa Nis. Ada apa sebenarnya dengan mu Nis?" Pertanyaan beruntun dari Rika yang ingin tahu.
Annisa menghela napas panjang lalu menghampiri rika yang tengah terduduk di ranjang nya.
Mengusap punggung tangan Rika.
"Maafkan aku rik kalau dari kemaren2 udah bikin kamu khawatir. Tapi tidak ada apa apa kok, hanya saja ada sedikit yang di rundingkan sewaktu kemarin sehingga aku tidak pulang karena kemalaman."
"Rundingkan? Masalah apa Nis?" Heran Rika.
Menatap sendu rika.
"Hanya masalah kecil saja rik. Oh iya aku mau mengabari kamu jika mulai malam ini aku akan pindah." Ucap annisa.
Seketika mata rika membulat kaget.
"Pindah!! Maksud kamu, kamu nggak di kamar ini lagi Nis?" Tanya rika.
Annisa mengangguk mengiyakan.
"Tapi kapan kapan akan nginap juga di sini sih, itu pun kalau bisa." Ucap Annisa lagi dan tersenyum.
Rika mencebikkan bibir sebal lalu membuang muka. "Kalau kamu pindah aku sama siapa di kamar ini Nis, dan lagi kamu mau pindah kemana sih?"
Menghela napas pelan.
"Ke rumah mbak ku. Karena mbak sekarang tengah mengandung jadi perlu aku tuk menemani nya. Lagian jika kamu sendiri di kamar juga tak apa kan kamu orang nya bukan penakut."
Rika menoleh menatap annisa.
"Bener nih alasan nya, jangan jangan semalam kamu juga nginap di rumah mbak mu itu?"
Annisa mengangguk lagi.
"Iya rika. Dan aku kesini ingin mengambil barang barang ku untuk siap pindah."
Memeluk perut annisa.
"Sedih rasa nya harus berpisah dengan mu Nis. Tapi tak apalah jika ini yang terbaik untuk kita berdua." Ucap Rika dramatis.
Menepuk nepuk punggung rika pelan.
"Lebay banget kamu rik. Seperti kita tidak akan bertemu lagi, aku kan hanya pindah tidur saja bukan pindah fakultas." Ucap Annisa dan tertawa pelan.
__ADS_1
"Tetap saja aku sedih Annisatul.. tul.. nanti nya nggak bakal ada yang nyelimuti ku lagi jika ketiduran tengkurap, nggak ada yang buangin sisa rambut di pembuangan air jika aku habis keramas, nggak ada yang pinjemin pembalut jika aku kehabisan stock, dan nggak ada yang pinjemin alat cukur buat ketiak ku jika sudah lebat.. huhuhu.. kenapa kamu harus pindah sih Nis." Celoteh rika dramatis.
"Ini sedih di tinggal orang nya apa karena nggak mau mandiri nih?" Tanya Annisa tersenyum mengejek.
"Dua dua nya..huhuhu."
Melepaskan lengan yang melingkar di pinggang. "Sudahlah rika. Kamu tuh harus mandiri dan soal alat cukur aku tinggalin satu yang biasa kamu pinjam di tempat nya, begitu pun pembalut aku kan sudah belanja kebutuhan bulanan dan itu tidak akan ku bawa jadi kamu tidak boleh khawatir lagi kehabisan stock," tutur Annisa yang di angguki kepala oleh rika.
Annisa melirik jam yang melekat di pergelangan tangan nya.
"Rik aku harus segera berkemas. Soal nya sudah jam setengah satu, seharusnya jam segini aku sudah ada di rumah mbak ku." Ucap Annisa pelan.
Mengangguk paham lalu menatap annisa.
"Ya sudah aku bantu kamu Nis. Apa aja yang akan kamu packing?"
Annisa berjalan ke arah lemari dan mengangkat koper kecil yang ada di atas lemari nya.
Mengeluarkan barang barang yang menurut annisa penting dari dalam lemari nya. Dan di kemas ke dalam koper di bantu oleh rika.
---------
Annisa telah berdiri di depan gerbang kampus bersama rika tengah menunggu taxi yang lewat yang akan membawa nya ke rumah Putra.
Tiba tiba Alan yang melihat annisa dari kejauhan. Alis Alan berkerut heran karena ada sebuah koper kecil di samping berdiri nya annisa.
Karena penasaran Alan menghampiri Annisa sambil mengendarai motor nya.
Sesampai nya di depan Annisa.
"Dek Annisa." Panggil Alan membuka kaca helm yang di pakai nya.
"Kak Alan."
Alan membuka helm namun masih duduk di motor nya. "Adek annisa mau kemana?"
"Dia mau pindah." Jawab Rika yang berdiri di samping annisa.
Annisa mengangguk mengiyakan.
Mata Alan memicing ke arah annisa.
"Pindah. Kemana?"
"Yang jelas ke tempat yang cukup jauh." Jawab Rika lagi mewakili annisa.
Dan Annisa mengangguk mengiyakan.
Alan yang hanya fokus menatap annisa kembali membuka suara.
"Dek annisa nggak pindah fakultas kan?"
"Yaa nggak lah, kalau dia pindah fakultas aku juga bakal ikutan pindah." Lagi lagi yang ngejawab pertanyaan Alan adalah Rika.
Sementara Annisa hanya mengangguk mengiyakan dan tersenyum.
Alan menghela napas jengah. Lalu masih menatap annisa tanpa melirik Rika.
"Jadi adek pindah asrama yah, dimana tempat tinggal adek sekarang?"
__ADS_1
"Di tempat mbak nya." Jawab Rika lagi, mewakili annisa.
Dan annisa tersenyum geli ke arah rika sambil menutup nya dengan telapak tangan lalu beralih menatap Alan dan mengangguk mengiyakan.
Alan menghembuskan napas kasar. Dan tanpa memperdulikan Rika, Alan menatap annisa.
"Mau kakak antar dek?"
"Dia nggak bakal..." ucapan Rika menggantung karena Alan menatap nya cukup tajam sehingga terhenti.
"Saya bertanya pada Dek Annisa bukan pada kamu, kenapa dari tadi yang ngejawab pertanyaan saya kamu terus. Memang dek annisa tidak bisa bicara apa, harus di wakili terus oleh mu ngejawab nya!!" Ucap Alan dengan nada tegas karena kesal terhadap Rika.
Rika memutar bola mata nya malas dan terdiam.
Sepertinya aku harus membela Rika, jika tidak. Pasti akan ada perdebatan di antara nya.
Annisa tersenyum ke arah Alan.
"Maksud rika melakukan itu karena memahami annis yang sedang sariawan kak. Jadi jangan salahkan rika." Ucap Annisa bohong untuk membela rika.
Alan beralih menatap annisa dengan tatapan hangat.
"Kamu lagi sariawan dek. Sudah di obat belum?"
"Sudah lah." Jawab Rika ketus.
Dan Alan kembali menoleh ke rika dan menatap nya dingin sementara annisa terkekeh pelan menutup bibir nya.
"Kamu bisa diam tidak, saya lagi bicara dengan Dek Annisa." Tegas Alan.
Mendengus dan beralih menatap ke arah lain.
"Iya silahkan kak alan. Rika nggak akan mengganggu lagi." Ucap rika dengan nada rendah namun ada nada kesal.
Alan beralih menatap annisa lagi.
"Dek annisa mau kakak Antar ke tempat mbak nya?"
Annisa menggelengkan kepala.
"Tidak perlu kak, soal nya Annis membawa koper jadi akan sulit jika menaiki motor," tolak halus annisa.
Mendesah kecewa lalu menoleh ke arah jalanan. "Baiklah, mau kakak carikan taxi nya?" Tanya Alan.
"Boleh kak."
"Ya sudah tunggu dulu di sini biar kakak cari taxi sekitar sana, memang kalau jalan ke sini itu paling jarang taxi lewat." Titah Alan.
Annisa mengangguk mengiyakan.
"Nah kalau yang ini sih pasti dia akan menunggu nya, sudah sana carikan taxi nya." Jawab Rika.
Alan melirik rika sejenak dengan tatapan sinis lalu beralih menatap annisa hangat.
"Kakak cari dulu dek. Tunggu yaa," ucap Alan sambil memakai helm dan mulai melajukan motor nya, meninggalkan Annisa dan rika.
BERSAMBUNG...
LIKE nya di Klik Yaa.
__ADS_1