
Beberapa waktu kemudian.
Romisa dan arga telah keluar dari kamar egi. Kini hanya tersisa annisa dan egi di dalam kamar.
Annisa yang sudah merasa ngantuk, Ia mengangkut perlengkapan untuk tidur nya dari lemari ke atas karpet dekat ranjang.
Egi mendekati annisa dan duduk di sisi ranjang mengamati annisa yang tengah menyiapkan selimut dan bantal di bawah sisi ranjang.
"Kau akan tidur sekarang?" Tanya egi.
Annisa mengangguk mengiyakan tanpa menjawab dengan ucapan.
Hah.. huft. Annisa menghembuskan napas panjang setelah diri nya membereskan tempat untuk tidur nya.
Lalu ia hendak membuka kerudung karena jika akan tidur annisa selalu membuka kerudung nya, namun gerakan tangan nya terhenti karena egi mencekal lengan annisa.
Mendongak menatap bingung ke egi, "kenapa?" Tanya annisa.
"Jangan di buka, untuk malam ini pakai saja kerudung mu." Titah nya.
Menghela napas pelan, "ya kenapa jangan di buka nya egi?" Penasaran annisa.
"Ya pokok nya jangan di buka ya jangan di buka. Sudah kau turuti saja perintah ku, apa susah nya menuruti," tegas egi.
Dasar aneh.
Annisa menghembuskan napas panjang. Lalu merebahkan tubuh ke atas karpet, "baiklah, inget jangan di matiin lampu nya. Aku tidur duluan good night," tutur annisa sembari menyelimuti tubuh nya menyamping membelakangi egi, dan mulai memejamkan mata untuk tidur.
__ADS_1
"Heemm.. good night too," sahut egi kemudian tersenyum.
Tidak berselang lama annisa telah lelap dalam tidur nya berkelana di alam mimpi.
Egi yang sedari tadi terus mengamati annisa dari atas ranjang, Ia berjalan menghampiri meja nakas dan menekan tombol di intercom telpon yang menghubungkan ke bi ane.
"Bi ane, saya minta beberapa pelayan membawakan perlengkapan wanita sekarang juga," ucap egi memberikan perintah pada bi ane yang di iya kan oleh bi ane.
Setelah menghubungi bi ane, egi merunduk dengan pelan mendekati annisa yang tertidur lelap.
Sejenak egi memperhatikan wajah annisa yang terlelap, ada senyuman di bibir nya. Lalu, dengan gerakan sangat hati hati dan pelan egi menyelusupkan kedua lengan nya di antara tengkuk bawah lutut dan bawah pundak annisa untuk mengangkat dan membawa annisa ke gendongan tangan nya.
Lalu mengangkat tubuh annisa yang sudah ada dalam gendongan nya menuju ranjang, dan dengan ke hati hatian egi merebahkan tubuh annisa ke atas kasur.
"Heemm..." igau annisa menggeliat di atas kasur mencari posisi nyaman dengan tidur menyamping.
Tersenyum kemudian mengusap sisi wajah annisa.
Kau sangat manis jika tertidur Annisatul Alawiyah, berbeda saat terbangun yang bawaan nya ingin berdebat terus dengan ku. Tapi dengan sifat unik mu ini, membuat ku semakin tertarik sehingga menyelusup ke hati ku, menjadi kan nya jadi rasa suka yang takut jauh dari mu Annisa wanita brandal ku..
Egi menunduk dengan gerakan perlahan mendekatkan wajah nya ke wajah annisa untuk melabuhkan bibir nya ke kening annisa.
Cukup lama egi mengecup kening annisa dan akhirnya mengangkat kepala nya, karena takut mengusik tidur lelap annisa.
"Sweet dream, Annisa wanita brandal ku." Gumam egi pelan kemudian tersenyum.
Tok..tok..tok.
__ADS_1
Pintu kamar egi di ketuk dari luar membuyarkan pandangan egi yang tengah menatap annisa.
Egi beranjak menuju pintu kamar, dan membuka kan pintu nya.
"Tuan egi anda memanggil kami?" Tanya salah satu pelayan yang berada di antara 3 orang lainnya.
Mengangguk kecil sebagai tanda jawaban 'iya'.
"Kami membawakan perlengkapan wanita yang tuan egi minta," ucap nya lagi.
"Bawa dan bereskan dengan rapih di tempat nya. Jangan ada suara atau gerakan langkah kaki yang berisik karena istri ku tengah tertidur," tegas egi.
Menunduk kan pandangan. "Baik tuan egi," jawab nya.
"Dan satu hal lagi, kembalikan ketiga buku komik ke tempat nya semula," pinta egi.
"Tapi tuan egi, buku nya sudah tidak ada. Bukannya tuan waktu itu menyuruh kami untuk membuang nya," ucap pelayan wanita.
"Aku tidak mau tahu, bagaimana pun cara nya buku itu harus ada. Jangan mengelabuhi ku dengan buku baru atau bekas orang lain, aku sudah memberi tanda di buku komik itu."
"Ba..baik tuan egi, akan kami usahakan untuk mencari nya kembali."
"Heemm.." gumam egi lalu mengisyaratkan dengan gerakan kepala sebagai ucapan 'cepat masuk dan lakukan tugas kalian' yang langsung di mengerti ke empat pelayan wanita di hadapan nya.
Dan sesuai perintah egi, para pelayan yang membawa perlengkapan wanita dalam kotak besar berjalan dengan sangat hati hati tanpa suara untuk menuju pintu kamar mandi yang di mana tujuan nya adalah walk in closet.
Menghembuskan napas pelan lalu beranjak menuju sofa. "Maafkan aku brandal, seperti nya buku mu belum di temukan." Gumam egi.
__ADS_1
BERSAMBUNG...