
Di kamar Arga dan Romisa.
"Tang.." panggil arga dan memberikan isyarat mata pada Tang, yang mengisyaratkan jika sekertaris Tang dan cesa agar keluar dari kamar nya.
"Baik tuan, saya akan keluar. Cesa.." tegas Tang yang di mengerti cesa. Kemudian kedua nya menunduk hormat, meninggalkan ketiga orang di dalam kamar itu.
Kini tinggal Arga, Romisa dan dokter Ani. Sebagai dokter yang akan memeriksa keadaan Romisa.
"Cepat anda periksa istri ku," titah arga pada dokter Ani yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari ranjang.
"Baik tuan Arga." Mendekati ranjang, yang dimana di sana ada Romisa telah setengah terbaring, dan ada arga di samping nya.
Wanita yang berjas putih kedokteran itu, duduk di kursi kecil samping ranjang lalu membuka tas yang di bawa nya, dan memulai melakukan pemeriksaan dasar bagi ibu hamil terhadap Romisa, wanita itu sangat teliti dan cermat bahkan hingga berulang kali memeriksa keadaan Romisa, untuk memastikan kondisi romisa dan mendapatkan hasil pemeriksaan nya.
Hendak menyingkap lengan baju Romisa, "maaf nona, saya ingin melihat kondisi tangan dan kaki anda, bolehkah di singkap sedikit pakaian nya?" Tanya dokter Ani sebelum menyingkap pakaian romisa.
Tersenyum, "tentu boleh dok. Silahkan," jawab romisa mengiyakan.
"Kenapa harus menyingkap pakaian istriku segala. Saya minta anda sembuhkan istri ku dan periksa dengan benar bukan mau mengumbar aurat istri ku," teriak arga pada dokter Ani.
Memegang lengan arga yang kebetulan arga ikut berbaring di ranjang, memperhatikan kegiatan dokter Ani memeriksa romisa.
"Suamiku.. tenanglah, dokter kan tengah memeriksa keadaan ku, lagian aku tidak ap..." ucapan romisa menggantung karena arga menatap nya tajam.
Menangkup sisi wajah romisa dengan sebelah tangan. "Kau mau bilang tidak apa apa lagi romisa istri ku.. lihatlah kaki dan tangan mu bengkak seperti gajah, kau masih bilang tidak apa apa." Seloroh arga tidak suka.
Romisa menghela napas pelan, menurunkan tangan arga yang ada di wajah nya, dan beralih menatap dokter Ani yang tampak sudah pucat, akibat bentakan Arga.
Romisa menatap memberikan isyarat mata dan gerakan kepala seakan berkata 'maafkan suamiku dok, semoga anda bisa memaklumi nya'. Dan isyrata romisa mendapat respon senyuman dan angguk kan kecil dari dokter ani.
Arga memutar kepala romisa agar menatap hanya pada nya, "apakah ada yang sakit romisa, katakanlah. Kenapa kau mengerjap kan mata mu dan menggerakkan kepala mu seperti tadi?" Tanya Arga, kembali menangkup sisi wajah romisa memastikan tidak ada yang luka.
__ADS_1
Mengusap tangan arga kemudian tersenyum, "tidak ada suamiku, aku sehat dan baik baik saja." Jawab romisa lembut.
Beralih menatap tajam ke dokter ani yang tampak nya tengah memeriksa kaki romisa. "Apa yang sedang anda lakukan. Saya minta kau periksa dan jelaskan penyebab kaki istri ku bengkak begini, bukan malah menyentuhnya nggak jelas." Teriak arga lagi.
Dan dokter Ani yang telah menuntas kan pemeriksaan nya, ia menatap arga dan tersenyum.
"Anda masih bisa tersenyum seperti itu, sedang istri ku tengah menahan sakit akibat kaki nya bengkak, cepat jelaskan dan kasih solusi nya yang benar," tegas arga menatap tajam ke dokter Ani.
"Maaf tuan Arga sebelumnya, kondisi nona romisa, sepertinya mengalami edema perifer..." tutur dokter Ani yang langsung di sahuti oleh romisa.
"Edema perifer? Apa itu dok, apakah bahaya untuk saya dan janin dalam kandungan?" Tanya Romisa.
Beralih menatap Romisa kemudian tersenyum, "edema perifer itu adalah kondisi yang dimana terjadinya pembengkak kan pada kaki, lengan dan tangan, seperti yang saat ini nona tengah mengalami nya. Tapi tenang saja, hal ini tidak akan membahayakan nona dan juga kandungan, karena setelah saya memeriksa kondisi tubuh nona, Alhamdulillah semua nya baik baik saja." Jelas dokter Ani.
"Anda bilang istri ku baik baik saja, jelaskan lebih rinci penyebab kaki dan tangan istriku bengkak seperti itu, sehingga anda dengan gampang nya menyatakan jika istri ku baik baik saja," tegas Arga dengan nada memerintah.
Mengangguk paham, "tuan Arga. Sebenarnya banyak faktor penyebab kondisi ini bisa terjadi pada ibu hamil, dan salah satu penyebab nya adalah karena meningkatnya volume darah dan cairan di dalam tubuh si ibu hamil. Selain itu juga, penyebab nya karena rahim yang bertambah besar menekan pembuluh darah sehingga mengganggu aliran darah balik ke jantung. Jadi hal ini, merupakan hal normal terjadi pada ibu hamil. Dan setelah saya periksa kondisi nona juga, saya bisa pastikan, jika kondisi nona Romisa baik baik saja, tuan. Jadi anda tidak perlu khawatir," jelas dokter Ani.
"Nona bisa melakukan aktivitas fisik yang ringan secara rutin, seperti jalan santai di pagi hari, dan renang. Untuk bagian kaki dan tangan nona yang bengkak ini, di pijatlah secara teratur lalu jangan lupa untuk di kompres dingin, dan nona angkatlah kedua kaki nona pada bantal di usahakan posisi kaki lebih tinggi dari tubuh. Itu saran saya tuan," tutur dokter Ani menjelaskan.
Romisa mengangguk paham, kemudian tersenyum melirik arga yang tampak mengkerutkan alis, "ada apa suamiku.. kenapa kamu terlihat bingung begitu?" Tanya nya.
Menoleh ke romisa dan tersenyum, "tidak ada romisa istriku..." lalu beralih menatap dokter Ani kembali. "Apa tidak apa jika istriku berenang?" Tanya arga.
Dokter Ani mengangguk mengiyakan, "iya tuan, justru itu di sarankan untuk melancarkan peredaran darah dalam tubuh, minimal 15 menitan nona berendam dalam kolam, tidak melakukan gerakan renang pun tidak masalah tuan, cukup berendam dalam kolam," jelas dokter Ani.
Arga mengangguk kecil lalu beralih menatap romisa kembali, "romisa.. apa kau mau berenang, biar aku temani kau dan Tang menyiapkan semua nya," tanya arga.
Romisa tampak melirik dokter Ani sejenak, dan kembali menatap arga, dan akhirnya mengangguk kan kepala, "boleh suamiku.. tapi suamiku tidak pergi bekerja, aku tidak apa akan di temani cesa saja nanti," tutur romisa.
Mengusap sisi wajah romisa dengan jemari nya, "hanya aku yang boleh melihat lekukan tubuh mu romisa, jadi aku akan libur bekerja untuk menemani istri ku," ucap arga membuat romisa terkekeh pelan.
__ADS_1
Sementara dokter Ani yang memperhatikan keromantisan romisa dan Arga hanya bisa tersenyum.. tidak kah mereka mengasihani saya yang jomblo gumam dokter Ani dalam hati.
Arga kembali menatap dokter Ani, "baiklah, sepertinya tugas anda telah selesai, anda boleh keluar dan tunggu di ruangan tunggu di luar kamar, karena ada yang ingin saya tanyakan lagi mengenai kondisi istri ku," titah arga yang di balas anggukkan kepala oleh dokter Ani.
Dokter Ani bangkit dari duduk nya dan menyimpan sebuah botol ke atas meja nakas, "baik tuan Arga. Minyak ini balurkan pada bagian yang bengkak ketika nona Romisa akan di pijat, kalau begitu. Saya permisi tuan, nona." tutur dokter Ani dan setengah membungkuk kan badan nya sebagai tanda hormat, lalu berbalik melangkah menuju pintu keluar kamar.
Sepeninggalan dokter Ani,
arga langsung menuju meja nakas, untuk menekan tombol yang ada di intercom telpon.
"Bi ane, siapkan kompresan es dan bawa ke kamar ku. Dan suruh Tang, juga pengawal Romisa jangan dulu masuk ke kamar," ucap arga memerintah pada bi ane di sebrang sana lewat intercom.
Arga kembali ke sisi romisa dan menumpuk dua bantal, kemudian hendak meletakkan nya di bawah kaki romisa, "Romisa, angkatlah sedikit kaki mu. Dan pakailah bantal ini, seperti yang di sarankan dokter tadi," pinta Arga.
Romisa menurut mengangkat sedikit kaki nya yang bengkak.
Mendekati dan mengusap tangan bengkak romisa, "maafkanlah aku romisa, gara gara kau mengandung anak ku. Kau sampai harus menderita begini," tutur Arga dan menatap romisa teduh lalu mengecup punggung tangan romisa cukup lama.
Romisa mengelus pelan pipi arga dengan jemari nya, "tidak apa suamiku, memang ini sudah kewajiban ku sebagai istri untuk mengandung dan melahirkan anak mu, dan aku tidak merasa menderita malah aku merasa bahagia, karena dengan aku mengandung, aku merasa sudah menjadi seorang wanita sempurna, dan merasakan bagaimana sulit nya bunda saat mengandung ku, jadi kau jangan berkata seperti itu suamiku," ucap romisa lembut.
Arga merangkul dan memeluk romisa, "aku sangat mencintai mu romisa istriku," ucap arga dan mengecup beberapa kali, puncuk kepala romisa.
"Ekhem... anak kita kau tidak mencintai nya suamiku," sahut romisa.
Melepaskan pelukan, lalu menangkup sisi wajah romisa dengan kedua tangan nya kemudian mengecup lembut kening romisa. "Aku tidak mencintai dia yang ada dalam perut mu, karena dia telah membuat mu menderita seperti ini," seloroh arga.
Romisa mencubit ujung hidung arga dengan gemas, "jangan begitu suamiku, dia anak mu jadi kau harus adil mencintai ku juga mencintai anak kita," ucap romisa.
Terkekeh pelan, "bukan mencintai tapi sayang jika pada anak, tapi aku lebih sangat mencintai dan menyayangi mu lebih dari segala nya, romisa." Jawab arga dan kembali mengecup seluruh wajah romisa.
BERSAMBUNG...
__ADS_1