Pejuang Move On

Pejuang Move On
Rencana Pindah


__ADS_3

Beberapa bulan telah berlalu.


Egi telah selesai melaksanakan UAN dan kini ia tengah menunggu masuk kuliah, sembari menunggu, egi menyibukkan diri dengan hal lain untuk bekal masa depan diri nya dan Annisa. Begitu pun annisa tengah di sibuk kan dengan tugas perkuliahan yang semakin hari semakin berjibun numpuk, di tambah lagi ia tengah melaksanakan nya praktek lapangan yang di lakukan di rumah sakit karena annisa telah memasuki semester akhir sebagai mahasiswi kebidanan.


Selama beberapa bulan ini, egi terus menunjukkan perhatian nya pada annisa dengan setiap hari egi selalu mengantar jemput dan sesekali memantau kegiatan annisa, agar tidak memberi ruang atau kesempatan bagi Alan yang ingin mendekati annisa.


Sementara Romisa tengah menyiapkan diri untuk kelahiran buah hati nya karena menurut perkiraan kelahiran anak romisa tinggal menghitung hari saja. Dan Arga sebagai suami yang siap siaga, ia berhenti berpergian kerja ke kantor dan mengerjakan pekerjaan kantor di rumah, selain itu karena seorang ibu hamil yang akan melahirkan itu suka datang secara tiba tiba kontraksi nya. Arga dengan siaga telah menyiapkan ruangan khusus lengkap dengan alat alat kedokteran yang di butuhkan untuk kelahiran putra nya, dan juga arga dengan ketat nya mengelilingi Romisa dengan para pengawal dan seorang dokter kandungan pribadi yang selalu membuntuti romisa kemana pun ia pergi selama arga tidak ada di samping romisa.


Pagi itu. Annisa dan egi sedang sarapan bersama Ayah putra, syila. Namun biasa tanpa romisa dan arga di kursi nya. Annisa tidak lagi banyak bertanya soal mengapa mbak misa selalu tidak mengikuti acara makan bersama di meja makan. Karena annisa sudah mengetahui semua alasan nya hanya dengan melihat sekilas saat romisa selalu di ikuti oleh para pengawal, yang dapat di simpulkan jika akan sangat sulit bagi diri nya untuk sekedar mengobrol dengan romisa meskipun di dalam hati annisa ingin sekali bercengkrama mengobrol dan bercanda ria dengan romisa.


"Annisa, apa yang kau pikirkan?" tanya egi yang melihat annisa melamun memainkan makanan di piring.


"Eh...," tersadar annisa dari lamunan nya, kemudian tersenyum ke arah egi. "Tidak apa apa egi," ucap nya.


"Habiskan makanan mu bukannya hari ini, kau akan ke kampus?" ucap egi menatap annisa.


Annisa mengangguk mengiyakan kemudian melanjutkan memakan sarapan yang ada di piring.


Tidak berselang lama, annisa telah selesai sarapan.


Beranjak dari duduk nya, "egi aku akan mengambil tas dulu ke kamar," ucap annisa yang di balas anggukkan kepala oleh egi. Lalu annisa berlalu melangkah pergi meninggalkan meja makan yang menyisakan ayah putra dan egi. Sementara asyila telah pergi untuk berangkat sekolah.


Sepeninggalan annisa.


Ayah putra menatap egi. "Nak, ayah dengar kau sudah siap siap akan pindah. Kenapa terburu buru? tidak menunggu nak romisa lahiran dulu, baru kau pindah rumah," tanya ayah putra.


Egi dengan mengaitkan jemari di depan dan menekuk siku ke meja, ia membalas tatapan serius ayah nya. "Tidak ayah, keputusan egi berpindah sekarang karena sudah di rencanakan dari jauh hari," jawab nya.


Menghela napas pelan sambil mengalihkan tatapan ke arah lain. "Baiklah, jika itu keputusan mu. Jhon akan memberikan kunci sebuah rumah yang sudah ayah siapkan untuk mu siang nanti," tutur ayah putra kembali menatap egi.


"Tidak perlu ayah, egi sudah membangun sebuah rumah dari hasil kerja keras egi sendiri," tolak nya halus.


Ayah putra memicingkan mata kemudian menghembuskan napas kasar. "Rumah seperti apa yang kau bangun, layak kah untuk menantu kedua ku?" tanya ayah putra sedikit menyinggung egi.


Tersenyum kecil, "layak dan tidak nya annisa sendiri yang akan menilai nya. Ayah meskipun egi hanya berbisnis kecil kecilan tapi setidak nya egi memayungi dan menafkahi istri egi dari hasil keringat sendiri bukan meminta lagi pada orang tua. Karena egi juga ingin sukses sendiri bukan sukses dari warisan yang turun dari ayah," tutur egi.


"Ayah tahu selama ini dari hasil laporan pantauan jhon terhadap mu, jika kau sudah membangun bisnis beberapa cafe, selain itu kau juga membuka sebuah showroom motor. Egi kenapa kau memilih membuka usaha sendiri, apa susah nya kau meneruskan salah satu perusahaan ayah... Kasihan kakak mu mengemban tanggung jawab begitu banyak, jika bukan oleh mu yang meneruskan, Mau sama siapa lagi? apa kau akan memberikan beban berat pada adik mu asyila? Dia itu perempuan egi... Jadi pikirkan lah baik baik lagi permintaan ayah, lihat diri mu sekarang yang sudah mempunyai tanggung jawab yaitu istri," tutur panjang Ayah putra.


Menghela napas pelan dan menunduk, "baiklah egi akan pikirkan kembali tawaran ayah," ucap egi kemudian menatap ayah putra. "Ayah, egi tahu jika selama ini ayah selalu menempatkan beberapa mata mata ayah terhadap annisa. Egi minta mulai saat ini, jangan menempatkan mata mata lagi, biar egi sendiri yang menjaga annisa," pinta nya.


"Kau yakin?" menatap ragu.


Mengangguk yakin, "egi bisa menjaga annisa ayah, selain itu dia juga bukan wanita lemah seperti yang ayah kira," ucap nya.


"Baiklah, jika itu mau mu. Amanah ayah selalu jaga istri mu, karena meskipun nak annisa bukan wanita lemah tapi kodrat dia sebagai perempuan adalah untuk di jaga dan di lindungi."

__ADS_1


"Baik ayah," ucap egi bebarengan dengan itu, annisa telah kembali dan baru datang memasuki ruang makan dengan menggendong ransel di punggung nya.


Ayah putra masih menatap egi dan tersenyum begitu melihat annisa berdiri di samping egi.


Pengamatan john selama ini tidak salah, jika anak bodoh ku telah menerima nak annisa sebagai istri nya. Hmm... syukurlah, setidaknya aku akan merasa lega membiarkan mereka pisah rumah dari ku.


"Ayah, egi berangkat mengantar annisa," ucap egi beranjak dari duduk nya. Karena merasa tidak ada lagi yang perlu di bahas dengan ayah putra. Lalu Egi mengisyaratkan pada annisa agar berpamitan ke ayah putra. Kemudian setelah nya, annisa dan egi berjalan ke arah tempat parkiran.


Di parkiran. Egi mendekati sebuah moge bukan mobil sehingga membuat alis annisa berkerut.


Menoleh ke annisa yang berdiri mematung di samping motor. "Mendekatlah, biar aku pakai kan helm nya," pinta egi menarik annisa agar mendekat ke hadapan nya, kemudian memakaikan helm ke kepala annisa.


Annisa terdiam menurut saja saat egi memakaikan helm. "Egi...," panggil annisa mendongak menatap egi.


"Hemm...," gumam egi sambil melepaskan mantel panjang yang di pakai nya.


"Hey, kenapa kau melepaskan mantel mu?" tanyanya heran.


Memegang kedua bahu annisa. "Diamlah," titah nya, kemudian egi melepaskan tas ransel gendong yang di pakai annisa lalu menaruh nya ke atas jok motor.


"Egi mau apa kamu?" tanya annisa lagi karena heran.


Namun egi tidak menggubris ucapan annisa. Egi memakaikan mantel nya ke tubuh annisa, sedang annisa hanya bisa menurut dan terdiam.


Huft... hela napas annisa. "Kenapa memberikan mantel ini pada ku, aku kan sudah memakai jas almamater... jadi pakailah lagi oleh mu egi," tutur annisa hendak melepaskan mantel itu dari tubuh nya.


Annisa memanyunkan bibir sebal dan memalingkan wajah ke arah lain.


Saat memakai helm ke kepala nya, Egi tersenyum melihat ekspresi wajah annisa yang menurut nya menggemaskan. Kemudian ia mengusap dengan ibu jemari nya ke pipi gembil annisa. "Jangan kau tunjukkan bibir seperti itu pada orang lain," ucap nya, lalu menaiki motor.


"Memang kenapa?" sahut annisa ikut menaiki motor dan duduk di jok boncengan.


"Lingkarkan tangan mu ke perutku dan agak maju lagi duduk nya," titah egi menarik kedua lengan annisa dan meletakkan nya ke perut.


"Hey, kenapa harus begini segala sih egi. Nanti saja, melaju juga belum," hendak menarik kembali tangan nya namun egi menekan agar tetap melingkar.


"Saat melaju harus lebih erat lagi kau memeluk ku, karena takut terbang badan krempeng mu terbawa angin."


"Cih!" berdecih dan memalingkan muka ke arah lain. "Badan ideal gini di bilang krempeng," oceh annisa kemudian mencubit pelan perut egi. "Justru kau yang krempeng, perut saja rata kayak teriplek, nggak berbentuk seperti ini."


Terkekeh pelan kemudian tanpa aba aba egi langsung mengegas kencang dan mengerem mendadak motor nya sehingga annisa terlonjak dan berdempet pada nya.


"Egii...," pekik annisa kesal hendak membenarkan duduk nya agar menjauh sedikit namun egi menahan agar tetap berada di posisi seperti itu.


"Sepertinya posisi nya sudah pas. Baiklah sekarang kita berangkat annisa," ucap nya kemudian egi kembali mengegas motor nya untuk keluar dari pelataran parkir dan melewati gerbang utama rumah putra.

__ADS_1


--------


Motor yang di kendarai egi telah sampai di depan gerbang kampus annisa.


Annisa turun dari motor, berdiri di samping egi dan hendak melepaskan helm dari kepala nya, namun egi dengan gerakan cepat mendahului tangan annisa yang akan memegang tali helm.


Membuka kan helm di kepala annisa. "Dinas jam berapa?" tanya egi fokus menatap wajah annisa.


"Jam 2, kan kebagian shift siang egi," jawab annisa.


Mengangguk kecil kemudian egi mengaitkan helm yang bekas di pakai annisa ke stang kiri motor nya. "Nanti ku jemput, kau jangan keluar kampus sebelum aku sampai sini kecuali ke kantin," titah egi dengan nada tegas.


"Iya, iya bawel amat sih," sahut annisa dan hendak melepaskan mantel yang di pakai.


"Jangan di lepas, pakai saja oleh mu," ucap egi menghentikan gerakan annisa.


Mantel yang sudah terlepas sebagian dari tubuh annisa. Egi membenarkan mantel itu agar tetap melekat di tubuh annisa.


"Kau bisa kedinginan egi, kau kan hanya pakai kemeja saja. Mana cuaca sedang dingin dingin nya," omel annisa.


"Menurutlah...," tegas egi lalu menyodorkan sebelah tangan nya ke hadapan annisa.


Annisa yang seakan mengerti, ia menyalami tangan itu. "Hati hatilah di jalan, jangan mengebut saat berkendara."


"Hemm...," gumam egi mengiyakan kemudian mengusap kepala annisa.


"Masuklah!" titah egi mengedikkan dagu agar annisa memasuki gerbang kampus.


Annisa mengangguk kemudian berbalik melangkah masuk ke dalam gerbang dan sesekali menengok ke belakang yang di mana egi masih memperhatikan nya dari luar gerbang.


Tersenyum. "Dasar bocah, selalu membuat ku terkejut dengan sikap aneh dan tiba tiba nya itu," ucap annisa sambil terus melangkah untuk menuju asrama.


Egi yang melihat annisa telah memasuki asrama. Ia mengegas motor nya untuk meninggalkan kampus annisa.


Dari kejauhan di sudut bangunan yang bersusun, ada sebuah mobil mewah berwarna hitam terparkir rapih di pinggir bangunan susun itu. Dari dalam mobil, tampak 3 pasang mata yang sedari tadi mengawasi gerak gerik egi dan annisa dari sejak sampai kampus hingga egi pergi dari tempat nya meninggalkan annisa.


Terulas senyuman licik dari salah satu pemilik pasang mata tajam yang mengamati egi.


"Bagaimana, pemantauan kalian di rumah mereka?" tanya nya dengan nada tajam.


"Salah satu dari mata mata saya telah mengkonfirmasikan, jika mereka akan berpindah rumah tuan."


Tersenyum miring, "bagus... akan semakin mudah untuk ku menjalankan rencana ini. Terus pantau mereka sampai menemukan waktu lengah nya, dan saat itu juga kita jalankan rencana."


"Baik tuan."

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2