Pejuang Move On

Pejuang Move On
Penyelidik


__ADS_3

Dokter frans dan asisten nya tengah berjalan di lorong rumah sakit. Ia baru saja selesai berkunjung memeriksa pasien dari salah satu kamar inap di rumah sakit itu.


Ketika akan melewati salah satu lorong yang panjang, langkah kaki dokter frans terhenti karena pandangan mata nya menangkap sesuatu yang ia kenali.


Bukankah itu tas nya nona Annisa?


"Ada apa dok?" tanya asisten nya yang bingung melihat dokter frans menghentikan langkah kaki secara mendadak.


Mengangkat satu tangan ke arah asisten nya sebagai isyarat untuk diam.


Mata dokter frans tertuju pada kedua sosok wanita berseragam keperawatan yang tengah berjalan ke arah nya sambil berbincang satu sama lain. Yang menjadi fokus nya adalah bukan dua wanita itu, tapi melihat apa yang mereka bawa.


"Suster Fitri?" Panggil dokter frans membuat kedua perawat mengalihkan pandangan menoleh ke arah nya.


Berjalan mendekat ke arah dokter frans yang berdiri tidak jauh di depan nya. "Dokter frans, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya kemudian tersenyum ramah.


Melirik tas ransel yang di pegang oleh suster Fitri.


Tidak salah lagi, ini adalah tas nona Annisa.


"Tas itu pasti bukan milik kalian, kemana pemilik tas nya? Kenapa bisa ada di tangan kalian?" tanyanya menunjuk tas yang mereka pegang.


Melirik tas yang di pegang nya. "Ah, iya ini bukan milik kami. Tapi ini milik salah satu pasien kita dok," ucap suster Fitri.


Dokter frans memicingkan mata menyelidik. "Pasien? Sakit apa pasien itu, sehingga menitipkan barang nya ke anda?" Tanyanya.


"Dia pingsan di pelataran rumah sakit dok."


Mengangguk kecil. Jadi nona Annisa pingsan.


Lalu dokter frans kembali menatap suster Fitri. "Di rawat dimana pasien pemilik tas tersebut?" tanyanya penasaran.


"Pasien itu tidak di rawat di rumah sakit ini dok. Melainkan di bawa ke dalam ambulan, dan meninggalkan tas nya begitu saja. Yang membuat saya bingung kenapa harus di bawa oleh ambulan padahalkan sudah di depan rumah sakit dok," tuturnya.


Mereka tidak tahu jika nona Annisa adalah menantu keluarga putra. Tapi, ada yang aneh. Aku sebagai dokter pribadi keluarga putra, Kenapa tuan besar tidak menghubungi ku, jika Nona Annisa telah di bawa ke rumah nya? Siapa yang menangani Nona Annisa jika tuan besar tidak meminta ku untuk segera ke rumah nya?


Dokter frans menatap suster Fitri yang memegang tas ransel Annisa. "Terus kalian hendak kemana, dan akan di bawa kemana ransel itu?" tanya dokter frans.


"Kami akan melaporkan ke pihak rumah sakit dok. Karena kami merasa curiga dengan para perawat yang membawa pasien itu, selain itu yang mengendarai ambulan pun bukan pak joko," tutur suster Fitri lalu mengangkat ransel Annisa. "Dan tas ini sementara waktu kami akan menyerahkan nya pada pihak rumah sakit, agar bisa memeriksa ponsel nya untuk menelpon pihak keluarga pasien."


Benar, aku merasa ada yang janggal dengan supir ambulan juga para perawat yang membawa nya. Sepertinya telah terjadi sesuatu pada nona Annisa. Apa karena ini, tuan besar meminta saya agar menjadi pengamat nona Annisa selama di rumah sakit.


Tersenyum ramah, "hemm... kalau boleh untuk soal pemberitahuan pihak keluarga biar saya saja yang tangani, kebetulan saya kenal dengan keluarga pasien itu. Kalian lanjutkan untuk melapor soal ambulan saja, soal pasien ini biar saya yang tangani," pinta dokter frans.

__ADS_1


Menatap ragu pada dokter frans sejenak. "Darimana dokter bisa kenal dengan pasien itu, sedangkan dokter tidak melihat wajah nya?" tanyanya curiga.


Dokter frans menunjuk tas ransel yang tengah di pegang suster Fitri. "Dari tas itu, karena saya tidak akan salah mengenali barang barang orang yang sering bertemu dan saya kenal dekat," tutur dokter frans.


Tersenyum dan mengangguk paham."Baiklah saya percaya dengan dokter frans. Mohon bantuannya dok," menunduk salam.


Dokter frans mengangguk mengiyakan. "Tidak perlu sungkan, baiklah kalian boleh lanjutkan bekerja. Dan tas ransel itu biar saya yang bawa untuk mengembalikan ke pemiliknya," pinta nya.


Mendongakkan kepala menatap dokter frans kemudian menyerahkan tas ransel juga paper bag. "Baiklah jika begitu, kami permisi dok," salam kedua nya lalu menunduk salam yang di balas anggukkan kecil dari dokter frans.


Setelah kedua perawat itu pergi, dokter frans melirik asisten nya yang berdiri di samping nya. "Kau berikan catatan dari kamar tadi ke dokter ferdi, aku akan keruangan," titah dokter frans lalu tanpa menunggu jawaban dari asisten nya, dokter frans melangkah pergi menuju ruangan nya dengan membawa tas ransel dan paper bag Annisa.


Sesampainya di ruangan kerja.


Dokter frans menaruh kedua barang itu ke atas sofa, lalu merogoh ponsel nya yang ada di saku jas kedokteran.


"Jhon," sapa dokter frans pada seseorang di sebrang telpon.


"Ada apa frans kau menelpon ku?" tanya Jhon.


Dokter frans berdehem sejenak untuk menetralkan tenggorokannya yang sedikit kering. "Jhon, apa nona Annisa ada di rumah?" tanya dokter frans membuat alis jhon berkerut heran.


"Tidak ada, tadi aku lihat dia sempat berkunjung kemari bersama tuan Egi, hendak menjenguk nona Romisa yang lahiran. Tapi, setelahnya mereka berdua pergi lagi hendak ke rumah sakit. Kenapa? Bukannya sekarang seharusnya nona Annisa ada di rumah sakit tengah berdinas?" tanya jhon.


Menghela napas panjang kemudian mengusap wajah dengan sebelah telapak tangan, dokter frans melirik tas ransel Annisa.


Jhon yang tidak mendengar jawaban dari sebrang telpon ia bersuara kembali untuk memastikan jika dokter frans masih ada di sana. "Frans! Kau masih ada di sana?" tanya nya.


Mengangguk kecil dan kembali menghembuskan napas pelan. "Jhon...," ucapan nya tercekat sejenak di tenggrokannya seakan tak mampu memberitahukan berita yang akan membawa kemarahan tuan besar putra, karena akibat kelalai an nya untuk memperhatikan Annisa sehingga Annisa hilang di culik. "Nona Annisa sepertinya telah di culik," lanjut dokter frans.


----------


Jhon berjalan tergesa ke ruangan Ayah putra untuk memberitahukan berita genting yang menimpa Annisa.


Setelah frans menceritakan semua nya, jhon menuntaskan telpon dengan memerintahkan frans, agar memeriksa cctv ke setiap penjuru bangunan yang memasang cctv mengarah ke pelataran rumah sakit, dan meminta nomer plat mobil ambulan yang membawa Annisa untuk di lacak keberadaan nya.


Tok...tok...tok. Jhon mengetuk pintu ruangan santai Ayah putra. Kemudian memasuki ruangan tersebut setelah terdengar perintah masuk dari dalam.


Menunduk hormat dan berdiri di hadapan sofa yang di duduki Ayah putra. "Tuan besar," ucap nya.


"Hemm...," gumam Ayah putra masih memandang ke arah jendela kaca besar. "Ada apa? sepertinya ada berita penting yang hendak kau sampaikan pada ku, mendengar ketukan tangan mu sangat bersemangat seperti tadi."


"Tuan besar... menurut informasi dokter frans, nona Annisa telah di culik," tutur Jhon dengan kehati hatian.

__ADS_1


Sontak ayah putra menoleh dengan mata sedikit terbelalak menatap tajam ke Jhon. "Bagaimana bisa jhon! Dimana kejadian nya?" tanya Ayah putra dengan suara tegas dan sedikit meninggi.


Jhon menceritakan semua nya seperti yang di ceritakan dokter frans. Menatap sedikit ragu ke Ayah putra. "Sepertinya tuan Egi belum mengetahui nya tuan besar. Apa kita harus memberitahukan nya sekarang?" tanya Jhon.


Mengangguk kecil. "Kabari dia pelan pelan, dan kita berkumpul di rumah baru Egi untuk menyimpulkan dari beberapa petunjuk yang di kumpulkan frans...," tutur ayah putra kemudian menghembuskan napas kasar.


"Aku telah lengah melindungi Nak Annisa, sampai menyetujui permintaan Egi yang meminta ku membebaskan Nak Annisa dari pantauan pengawal... dan sepertinya penculikan ini telah di rencanakan. Karena bertepatan dengan Nak Romisa melahirkan, penculik itu bertindak langsung di saat kita tengah sibuk menyambut anggota baru keluarga kita."


"Dan sepertinya juga, ada mata mata yang menyusup di sekitar rumah sehingga tau akan keadaan keluarga ini tuan besar," ucap Jhon menambahkan.


"Kau benar. Segera kau selidiki semuanya, dan kita berangkat ke rumah Egi," titah Ayah putra dan mengisyaratkan mata agar Jhon segera bertindak.


Mengangguk paham. "Baik tuan besar," menunduk hormat lalu berbalik keluar ruangan.


Sepeninggalan Jhon.


Ayah putra menatap lurus dengan pandangan menerawang mengingat.


Apakah penculikan ini ada hubungan nya dengan laki laki yang ingin mendekati Nak Annisa? Menurut laporan Jhon. Egi pernah saling debat dengan laki laki itu ketika menjemput Nak Annisa ke kampus nya, dan kalau tidak salah dia berasal dari keluarga Atmadja.


Jika memang itu benar, tidak akan ku ampuni keluarga Atmadja karena telah berani melawan secara terang terangan terhadap keluarga ku.


----------


Egi terduduk di kursi besar di balik meja kerja nya, sembari tengah membaca berkas berkas laporan cafe dan showroom dari Ray.


Kriing... kriing. Ponsel egi berbunyi menandakan ada panggilan masuk.


Meraih ponsel nya yang ada di atas meja tidak jauh dari jangkauan nya, dengan tatapan tetap fokus ke lembaran kertas.


"Tuan Egi," sapa orang di sebrang telpon.


"Hemm...," sahut Egi bergumam.


"Bisakah tuan Egi pulang ke rumah sekarang, ada keadaan mendesak mengenai Nona Annisa," ucap Jhon.


Alis Egi berkerut mendengar nama Annisa, dan hendak bersuara untuk bertanya. Namun Jhon lebih cepat menyela ucapan nya.


"Sebaiknya tuan Egi menurut datang sekarang ke rumah baru tuan Egi. Tuan besar telah menunggu di sini," ucap nya telak.


Menghela napas pelan. "Baiklah," jawab Egi.


Tentang Annisa. Ada apa dengan Annisa ku, sampai sampai Ayah datang ke rumah?

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2