
Setelah memarahi Annisa karena lama kembali dari dapur, Egi membawa Annisa ke basement tempat terparkir nya koleksi kendaraan Egi yang berada di bawah tanah.
"Ini mau kemana Egi." Tanya annisa heran karena sedari tadi Ia hanya berjalan di lorong lorong saja.
Namun egi tidak menjawab, dan memilih fokus berjalan.
Dan setelah berjalan di lorong. kedua nya tiba di depan pintu kembar berbahan stainless saat pertama pintu kembar itu bergeser terbuka, egi langsung masuk dan melangkah ke dalam nya.
Sementara annisa dengan langkah lamban karena mata nya mengedar dan takjub melihat banyak nya kendaraan mewah berjejer dengan rapih annisa berdiri mematung menatap semua kendaraan di sana.
Ini yang di kata tempat parkir rumahan. Ini sih, showroom mobil dan motor bukan parkiran rumah.
Egi sudah berjalan ke arah mobil dan hendak memasuki nya, namun ketika egi membuka pintu mobil, gerakan nya terhenti karena melihat annisa masih berdiri mematung di dekat pintu masuk.
"Brandall, kau mau berangkat tidak. Apa kau mau ku tinggal," ucap Egi dan masuk ke dalam mobil.
Annisa yang tersadar kembali dengan ucapan egi. "Eh, i..iya," gelagap annisa dan segera menghampiri mobil putih yang di naiki egi.
Lalu Ia menarik handle hendak membuka pintu mobil untuk masuk.
"Kenapa susah sekali, masa iya tenaga ku lemah." Gerutu annisa sambil menarik paksa handle pintu mobil namun tidak terbuka juga.
"Iiiih kok susah sih," gerutu nya lagi dan menepuk kaca jendela.
Egi yang sudah duduk di kursi kemudi yang berada di dalam mobil menurunkan kaca jendela, dan tersenyum miring. "Kenapa kau diam saja di luar. Jadi kau tidak mau naik yah," ucap Egi.
Annisa menatap sinis ke Egi.
"Pintu nya susah di buka, apa kau sengaja." Teriak annisa kesal dan menarik lagi handle pintu.
Tersenyum sinis. "Sepertinya kau tidak mau naik, ya sudah aku berangkat duluan." Ucap Egi lalu menutup kembali kaca jendela mobil.
Dugh..dugh.. Annisa menepuk nepuk kaca mobil dengan cukup keras karena geram.
"Hey, kau sengaja mengunci nya dari dalam. Buka bocah, apa kau mau aku laporkan ke Ayah." Teriak Annisa sambil memukul mukul kaca jendela.
Namun egi yang sengaja bermain main dengan annisa, tidak membuka kan pintu mobil dan malah mulai menyalakan mesin dan melajukan mobil dengan pelan di area parkir itu.
Berlari mengejar mobil egi. "Egiii... bocah sinting. Berhenti!!," teriak Annisa keras.
Terus berlari mengejar mobil egi yang masih melaju lamban. "Hey..bo..cah. Apa kau benar benar ingin aku melapor ke ayah," teriak annisa menggema sambil berlari.
Sementara Egi yang ada di dalam mobil terkekeh senang karena berhasil mengerjai annisa lagi.
"Tidak kah lucu wajah nya itu," gumam nya sambil terus memutar kemudi untuk berputar putar di area parkir.
"Bocaah.. Berhentiii," teriak Annisa geram dan menghentikan langkah kaki nya.
Melihat annisa sudah bernapas terengah, dan egi sudah puas mengerjai nya. Egi menghentikan mobil nya tepat di pintu yang akan menuju keluar area parkir.
Annisa yang semula berdiri tidak jauh, Ia berlari kembali dan terhenti tepat di samping mobil memegang kedua lutut sambil menunduk membungkuk menetralkan napas nya.
Hosh..hosh.. Huh. Napas Annisa terengah karena berlari.
Dia benar benar membuat ku emosi saja. Sampai mengerjaiku seperti ini.
Egi menurunkan kaca jendela, lalu membuka kunci pintu mobil. Ia tersenyum senang.
"Sudah puaskah olahraga nya brandal," ucap Egi dan tersenyum mengejek.
__ADS_1
Annisa menoleh dan menatap tajam ke arah egi.
"Kau bilang olahraga!! Dasar sinting." Ucap annisa sinis.
Terkekeh pelan. "Kau tidak masuk, mau benar aku tinggalkan di sini." Tanya egi.
Menarik kasar handle pintu mobil dan..
Brakk..
Annisa menutup nya dengan keras, setelah diri nya duduk di kursi penumpang depan. Ia melirik egi yang masih menatap nya.
"Apa kau lihat lihat, cepat lajukan mobil nya," sewot Annisa kesal dan masih menetralkan napas nya yang terengah.
Egi meraih botol air yang masih tersegel yang berada di dashbord. "Kau punya penyakit asma yah? Berlari segitu saja sampai sampai bernapas seperti itu. Minumlah, aku tidak sudi memberikan napas buatan jika asma mu kambuh," tutur Egi sambil menyodorkan botol minum ke annisa.
Merampas dengan kasar lalu membuka segel tutup dan langsung meminum nya.
Glukk...glukk.. Annisa menenggak air dengan rakus hingga tersisa seperempat nya.
Egi tersenyum miring. "Kau tidak takut aku menaruh racun di air itu?" Tanya egi.
Annisa menutup botol tersebut dan menaruh kembali ke tempat egi mengambil nya.
"Kenapa harus takut, aku percaya. Meskipun kau sangat membenci ku, kau tidak akan melakukan hal keji seperti itu. Lagian jika aku mati, orang yang pertama jadi tersangka adalah kau. Karena kau orang terakhir bersama ku," tutur Annisa membuat egi tertegun sejenak.
Wanita ini sudah aku kasari pun masih saja tidak menyerah dan bahkan mempercayaiku seyakin itu, benar gila. Dalam hidup ku baru kali ini aku menemukan seorang wanita keras kepala yang suka menentang dan memberontak ucapan ku.
Egi mulai melajukan kembali mobil nya untuk keluar dari area parkir. "Pakai sabuk pengaman mu," titah Egi dengan tatapan tetap fokus ke depan.
Annisa menurut menarik seat bealt. Lalu memakai nya.
Kini mobil egi telah keluar dari gerbang utama rumah putra dan melaju di jalanan kota bergabung dengan kendaraan lain nya.
Di pertengahan perjalanan.
Egi menghentikan mobil nya di pinggir jalan.
Annisa menoleh ke arah egi dan menautkan alis nya bingung. "Kenapa berhenti, jarak kampus ku masih jauh egii?" Tanya annisa.
"Turun!!" Tegas egi.
"Turun. Maksud mu aku harus turun di sini," heran Annisa.
"Iya, kau turun." Titah egi.
"Enggak mau, kampus ku masih jauh." Tolak Annisa.
"Turun brandal."
"Enggak, pokok nya enggak." Membuang muka ke arah lain.
"Jadi kau tidak mau turun."
"Iya. Kenapa hah." Menatap menantang ke egi.
Egi membalas menatap tajam."Turun sendiri atau cara paksa."
Menghembuskan napas kasar lalu menatap egi. "Baiklah tapi minta ongkos untuk naik ojek," pinta Annisa sambil menengadahkan sebelah tangan ke arah egi.
__ADS_1
"Cih!! Kau tak tahu malu juga meminta uang pada ku," mengeluarkan dompet dari saku jas sekolah yang di pakai nya.
"Sudah sewajibnya suami menafkahi istri, dan aku tidak malu jika meminta pada suami ku sendiri," tutur Annisa masih menengadahkan sebelah tangan.
Mengeluarkan kartu ATM dan meletakkan di tangan Annisa dengan kasar.
"Aku tidak pernah merasa bahwa aku telah menikah dengan mu. Jadi anggap saja uang ini adalah amal ku dan ambillah sesuka mu jumlah uang di dalam nya cukup banyak," tegas Egi.
Alis annisa terangkat sebelah. "Iya amal sama istri itu pahala. Hey, aku minta uang cash bukan kartu ATM kayak gini, mana bisa di pakai bayar ke ojek." Ucap Annisa membolak balikkan kartu di tangan nya.
Hendak menarik kembali kartu dari tangan annisa. "Aku tidak punya uang cash dan jika kau tidak mau, ya tidak usah." Tegas egi.
Segera annisa memasukkan nya ke dalam tas gendong yang berada dalam pangkuan.
"Kalau sudah memberi jangan di pinta lagi, itu nama nya menjilat kembali ludah yang sudah di muntahkan. Nanti bisulan loh di jidat." Celoteh Annisa.
Lalu Ia beralih mengambil paper bag yang berada di samping dekat jendela dan menaruh nya ke dasbord tengah dekat kursi egi.
"Nih, bekal buat makan siang. Awas jangan di buang. Mubazir dan dosa kalau di buang." Tutur Annisa memperingati.
Melirik paper bag dan tersenyum mengejek.
"Kau pikir aku anak TK di titipi bekal segala. Bawa bekal itu, makan saja oleh mu."
Menghela napas pelan dan menatap egi.
"Aku membuat nya untuk mu, jadi makan saja sih apa susah nya. Dan ternyata kau baru nyadar juga jika kau itu masih bocah jadi bekal ini harus kau makan sampai habis yaah bocah," ucap Annisa.
Egi mendengus dan membuang muka ke arah lain.
Hening sejenak suasana dalam mobil.
Karena tidak mendengar ocehan Annisa lagi, Egi melirik annisa yang masih duduk dan merapihkan isi tas nya.
"Kenapa kau masih di sini, bukannya kau sudah mendapatkan uang nya. Jadi turun dari mobil ku." Tegas Egi.
"Iya..iya.. bentar, bawel amat sih." Gerutu Annisa menutup resleting tas gendong nya.
Lalu Annisa menarik sebelah tangan egi yang tengah memegang stir mobil dan annisa salam dengan mencium punggung tangan egi.
Seketika egi tertegun dan menatap kaku atas kelakuan annisa terhadap nya.
Degh..degh.. tiba tiba jantung egi berdetak sangat cepat.
"Suami istri itu memang harus begini jika hendak berangkat ke suatu tempat. hati hati di jalan nya yah Bocah nakal ku, jangan kebut kebut bawa mobil nya. Assalamualaikum." Ucap annisa sambil mengusap rambut egi gemas.
Lalu Ia membuka seat belt yang melingkar di tubuh nya dan keluar dari mobil meninggalkan Egi yang menatap bengong pada nya.
Sepeninggalan annisa.
"Wa..walaikumsalam." gagap Egi setelah kesadaran nya kembali.
Lalu Egi menghela napas panjang dan menatap kepergian annisa dari balik spion luar mobil sambil memegangi dada nya.
Apa yang terjadi pada ku, baru kali ini jantung ku berdetak begitu cepat hanya karena perlakuan wanita.
Selama berdekatan dengan misa saja aku tidak pernah sampai seperti ini, tapi kenapa sekarang jantung ku berdetak sangat cepat.
Apa karena sentuhan dan perlakuan nya saja yang merupakan hal pertama bagi ku sehingga membuat jantung ku berdetak cepat karena kaget.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
LIKE nya di Tekan yaa.