
"Rumah." Titah egi pada supir.
"Baik tuan egi." sahut nya dan membelokkan stir kemudi untuk ke jalan yang menuju ke arah rumah putra.
Mobil berwarna putih itu kini tengah melaju di jalanan kota dengan kecepatan sedang.
Annisa masih terdiam termenung menatap ke arah jendela dan duduk agak menjauh dari egi.
Rupa nya dia memakai supir.
Dan apa apaan sih s bocah ini, kenapa dia tiba tiba datang ke kampus dan menarik ku ke dalam mobil. Dan sekarang malah bersikap seolah olah tidak ada apa apa.
Pandangan mata annisa beralih melihat ke arah depan. Alis annisa menaut heran karena mobil mengarah ke jalan rumah putra.
"Egi kau tidak sekolah?" Tanya annisa.
Menggeleng. "Tidak." jawab nya singkat.
"Kau yang membolos, kenapa ajak ajak aku untuk ikutan bolos sih." Gerutu annisa melirik sinis ke egi.
Tanpa menoleh ke annisa."Aku membolos karena mu, brandal." Imbuh egi.
Menoleh ke egi. "Karena ku? Kenapa karena aku? Kita bertemu juga baru kali ini lagi, kau masih saja mau menyalahkan ku."
Egi melirik annisa dan tersenyum kecil. "Brandal kau tampak nya sangat senang hidup di asrama." Ucap egi mengalihkan pembicaraan.
"Dih, kebiasaan membelokkan topik. Tentu saja aku sangat senang, karena di sana aku tidak lagi berdebat soal kamar dan di anggap hidup dan ada nyata." Sindir annisa membuang muka ke arah jendela.
Mengulas senyuman kecil di bibir. "Kau masih saja mengingat soal itu brandal." Ucap egi.
Annisa terdiam tidak menjawab ucapan egi lagi dan memilih memfokuskan pandangan nya ke luar jendela.
Tentu aku sangat mengingat nya egi. saat kau membiarkan ku pergi begitu saja karena tidak di anggap istri oleh mu, dan bahkan mencurigai ku seakan akan aku itu adalah seorang pencuri di rumah mu.
"Pak tarjo, matikan AC di kursi belakang." Titah egi.
"Baik tuan egi." Mematikan AC.
Egi menggeser duduk nya agar berdekatan dengan annisa lalu dengan gerakan perlahan egi menyenderkan kepala nya di bahu annisa.
Terlonjak dan menoleh."Egi.. apa yang kau lakukan?" Tanya annisa kaget atas perlakuan egi.
Annisa sedikit mengedikkan bahu agar orang yang menyender di bahu nya tersadar jika diri nya merasa risih.
"Egi di sini ada pak supir, jangan seperti ini." Bisik annisa pelan sedikit memiringkan kepala nya ke arah egi yang ada di bahu nya.
Dengan bersedekap tangan di depan dada. Egi mendusel dusel kepala nya mencari posisi yang nyaman di bahu annisa.
"Diamlah. Brandal." Gumam egi pelan.
Menghela napas pelan. "Ekhem.." dehem annisa.
"Egi, bisakan kau duduk nya tegak, Kepala mu itu berat tau." Ucap annisa mengedikkan bahu nya.
"Heemm.." gumam egi lemah di sela pejaman mata nya.
"Hemm itu, iya kan? Jika iya, bangun kek. Jangan begini terus. Bahu ku pegal tau, kepala mu berat egi." Gerutu annisa.
"Brandal diam .. aku pusing." Gumam egi lagi dengan suara pelan namun jelas terdengar oleh annisa.
Alis annisa berkerut heran.
"Pusing? Bukannya tadi kamu menarik lengan ku saja sangat kuat dan terlihat sehat sehat saja. Kenapa sekarang bilang nya pusing, jangan alesan deh. Cepat bangun egi." Tutur annisa.
Namun egi tidak mengindahkan ucapan annisa malah merangkulkan sebelah lengan ke badan annisa.
Terperanjat dengan lengan egi yang tibi tiba memeluk nya. "Egii!!"
__ADS_1
Mengedikkan bahu dan mencoba memberontak dari pelukan egi. "Egi.. aku minta bangun bukan malah semakin menjadi begini. Lepaskan lengan mu, dan bangun dari bahu ku. Kita di sini tidak berdua, ada pak supir di depan." Tegas annisa dengan setengah berbisik.
Egi mencari posisi yang nyaman di bahu annisa dan semakin mempererat pelukan nya di tubuh annisa.
"Pak tarjo." Panggil egi.
Pak tarjo melirik kaca depan. "Iya tuan egi." Sahutnya.
"Tetap fokus ke depan jangan hiraukan yang di belakang."
"Baik tuan egi." Mengangguk kecil dan tersenyum.
"Kau sudah dengar, jadi diamlah. Rasa nya badan ku dingin sekali." Ucap egi ke annisa dan kembali mencari posisi nyaman di pelukan nya.
Annisa terdiam dan melirik wajah egi yang saat itu sangat dekat dengan nya.
Benarkah yang Ia katakan. Tapi di lihat dari wajah nya memang iya anak ini terlihat pucat sekali dan bibir nya kering. Apa Iya dia sedang sakit?
Dengan gerakan ragu ragu annisa mengangkat sebelah tangan nya untuk menyentuh dahi egi.
Setelah telapak tangan annisa bersentuhan kulit dengan dahi egi. Mata annisa membelalak lebar.
"Egi, kau demam? Kenapa kau bisa seperti ini egi?" Tanya annisa sambil memeriksa kembali dahi egi dan kedua pipi nya.
Egi masih memejamkan mata nya. "Heemm.. brandal." Gumam egi pelan.
"Demam mu seperti nya sangat tinggi egi. Pak supir tolong percepat laju nya untuk ke rumah sakit!!" Pinta annisa pada pak tarjo.
"Baik nona."
Lalu pak tarjo menaikkan kecepatan mobil dengan kecepatan cukup tinggi.
Egi semakin mempererat pelukan di tubuh annisa. "Pelankan laju nya. Aku tidak mau ke rumah sakit." Ucap egi.
"Tapi..tapi tuan egi."
"Pelankan, aku menyuruh mu pelankan laju nya." Teriak egi.
"Kau masih saja bisa berteriak seperti itu di saat sakit begini. Bukannya kau sedang sakit, jadi kita harus segera ke rumah sakit egi." Ucap annisa sambil mengusap dahi dan pipi egi.
"Kau yang periksa aku." Ucap egi.
Menurunkan telapak tangan dari pipi egi namun egi menarik dan menekan nya agar tetap berada di pipi nya.
"Kenapa harus aku egi? Aku bukan dokter yang tahu tentang kondisi mu saat ini." Tukas annisa.
"Jika kau tidak memeriksa, aku tidak ingin kembali ke rumah." Kekeh egi.
Menghela napas pelan, dan melirik egi yang masih ada di bahu nya.
"Tapi egi, aku takut salah dalam memeriksa. Contohnya waktu itu aku memeriksa ayah mu, pemeriksaan ku salah semua terhadap ayah dan aku takut mengulangi hal yang salah lagi egi." Ujar annisa menolak.
"Periksalah brandal. Aku bilang periksa ya periksa." Kekeh Egi tidak mau permintaan nya di tolak.
Menghembuskan napas panjang dan melirik kembali wajah egi. "Baiklah aku akan memeriksa mu. Tapi jika aku melakukan kesalahan dalam pemeriksaan jangan salahkan aku. Karena aku bukan dokter." Ucap annisa.
"Heemm." Gumam egi mengiyakan.
Annisa segera menghalau tubuh egi agar bersender ke punggung kursi.
Namun egi kembali memeluk tubuh annisa. "Aku dingin brandall jangan jauh jauh dari ku." Gumam egi memeluk annisa.
"Hey bocah, bukannya kau ingin di periksa keadaan mu, jadi tolong diam dan menurut lah, bersender sebentar egi." Pinta annisa melepaskan pelukan lengan egi di perut nya.
Karena tenaga nya lemah egi menurut untuk di senderkan tubuh nya di punggung kursi.
Dengan tergesa Annisa membuka tas gendong yang ada di punggung nya dan mengeluarkan alat alat medis dari kotak.
__ADS_1
"Untung aku selalu membawa alat alat medis ku kemana pun. Jadi aku bisa memeriksa mu, meskipun hanya untuk sementara saja."
Annisa membuka jas almamater dan mengendorkan dasi yang di pakai egi, dan ketika annisa hendak membuka kancing atas kemeja egi, gerakan nya terhenti karena egi mencekal tangan annisa.
"Apa yang kau lakukan brandal?" Tanya egi dengan suara serak dan lemah.
"Aku akan memeriksa mu di area dada dan perut jadi diamlah. Sebentar saja." Titah annisa.
"Tidak brandal. Aku dingin, kau mau menelanjangi ku di saat aku merasa dingin begini." Sanggah egi.
Menyentil kening egi pelan. "Haish.. kau ini yah. Di saat situasi seperti ini masih saja berpikiran negatif tentang ku. Sudah diam saja kau." Gerutu Annisa.
Egi sedikit mengangkat kepala, membuka mata nya dan menatap annisa. "Kau berani menyentil ku. Hah kau kali ini ku bebaskan, karena keadaan ku seperti ini." Ucap egi lalu menyenderkan kembali dan memejamkan mata nya.
Annisa menggeleng kecil beberapa kali. "Ckckck..." lalu Ia mulai membuka kancing atas kemeja egi untuk memeriksa nya di area dada dan perut egi.
Selain itu annisa juga memeriksa tensi darah, juga memeriksa area wajah egi seperti mata dan mulut.
Sementara pak tarjo yang melihat tuan nya lemah sakit, Ia segera menelpon pihak rumah memberitahukan nya pada Ayah putra.
"Egi apa daerah sini sakit?" Tanya annisa sambil menekan pelan area perut.
Meringis mengernyitkan dahi dan mengangguk. "Brandal sudah belum. Aku dingin brandal." Ucap egi pelan.
"Bentar, pakai termometer ini." Memakai kan termometer di area ketiak egi.
Sambil menunggu termometer berbunyi, Annisa mengancingkan kembali kemeja egi dan menyampirkan kan jas nya menyelimuti tubuh atas egi.
Selang beberapa lama termometer itu berbunyi dan annisa langsung mengambil kembali.
Mata annisa melebar kembali melihat demam egi yang tinggi.
"Demam mu tinggi sekali egi sampai 39°. Dan menurut perkiraan ku, sepertinya kau terkena dehidrasi dan penyakit maag mu kambuh egi sehingga demam tinggi begini. Kenapa kau bisa seperti ini egi?" Ucap annisa mengusap lembut rambut di dahi egi.
Membuka mata nya dan menarik tangan annisa lalu membawa annisa agar berada dalam pelukan nya.
Terlonjak kaget dan hendak memberontak. "Hey bocah." Pekik annisa.
"Diam aku dingin." Gumam egi dan mempererat pelukan nya.
Degh...degh..degh. Jantung annisa dan egi saling bersahutan karena posisi mereka tengah berpelukan.
Kenapa jantung ku berdegup seperti ini yah?
'Glekk' Annisa menelan ludah nya kasar, lalu Ia melirik ke depan yang ternyata pak tarjo tengah melihat kedua nya dari kaca depan.
"Hey bocah, supir mu melihat kita. Bisakah kau lepaskan aku. Aku malu bocah." Cicit annisa menyembunyikan wajah nya di dada egi.
"Pak tarjo, sudah saya bilang jangan melihat ke kursi belakang, jika masih ingin bekerja dengan keluarga saya."
"Baik tuan egi. Maaf atas kelancangan saya."
Keheningan membentang sejenak suasana di dalam mobil.
kruuk..kruuk..
Bunyi perut egi yang jelas terdengar di telinga annisa yang saat ini kepala nya berada di dada egi.
Annisa mendongak melirik wajah egi yang terlihat hanya bagian dagu nya saja.
"Egi. Apakah kau belum sarapan?" Tanya annisa memecah keheningan.
"Hemm.." gumam egi.
"Kau harus banyak minum dulu egi untuk mengatasi dehidrasi mu, dan memakan sesuatu terlebih dahulu agar perut mu tidak sakit lagi. Bagaimana jika pak supir berhenti sebentar di sebuah kedai atau pusat perbelanjaan untuk membeli air mineral atau roti." Tutur annisa dalam dekapan egi.
"Di rumah saja."
__ADS_1
Menghela napas pelan. "Baiklah. Jika itu mau mu."
BERSAMBUNG...