
Pagi telah tiba. Dengan di tandai nya adzan subuh menggema sangat indah di masjid rumah sakit.
Perlahan Egi mengerjapkan mata nya, dan menggerakkan tangan yang kerasa pegal. Pandangan pertama yang egi lihat saat terbangun dari tidur nya, adalah wajah lelap Annisa yang tepat di hadapan nya karena diri nya memakai bantal yang sama dengan Annisa.
Terbesit senyuman bahagia dari bibir Egi melihat wajah tenang Annisa berada dalam pelukan tangan nya, dan dengan gerakan pelan tangan nya terulur menyentuh permukaan kulit pipi mulus Annisa, egi mendekatkan wajah nya dengan wajah Annisa yang akhirnya melabuhkan kecupan lembut di pipi Annisa.
"Hemm," igau Annisa merasa terusik dengan apa yang di lakukan Egi.
Tersenyum, mengusap kembali pipi dan bibir Annisa. "Istirahatlah Annisa, aku akan subuh dulu." Ucap Egi menarik tangan yang berada di bawah leher Annisa. Lalu bangkit dari tidur nya.
Setelah kejadian semalam, yang di penuhi kesalah pahaman akibat ada noda darah di atas kasur. Annisa menjelaskan secara rinci duduk perkara nya pada dokter Erika, dan akhirnya di mengerti. Dua perawat di tugaskan mengganti sprei kasur, dan Annisa di beri baju ganti pasien. Kemudian berakhir Jhon tidur kembali ke sofa, sementara Annisa dan Egi tidur satu kasur karena waktu malam saat itu sudah menunjukkan pukul 2 pagi.
Egi berdiri di samping ranjang, menyelimuti tubuh Annisa sampai bahu dan kembali mengecup lembut kening Annisa cukup lama. "Dia pasti kelelahan gara gara kejadian semalam, sampai tidur nya lelap sekali." Gumam Egi menatap wajah Annisa.
Kemudian Ia berbalik berjalan menuju sofa yang dimana Jhon masih terbaring tertidur di atas sofa.
Enak sekali dia tertidur mengawasi ku dengan Annisa...
Melihat Jhon yang tampak damai dalam tidur, egi dengan jahil mencomot bibir dan mengapit dengan jemari hidung Jhon.
Jhon yang merasa sesak napas akibat jalan untuk bernapas nya di tutup oleh egi, seketika mata Jhon terbuka lebar melirik sebal ke Egi yang tampak puas masih menutup jalan bernapas nya.
"Emm...emm...mm," berontak Jhon dan dengan cepat mencekal tangan Egi.
"Tuan Egi! Mau bikin saya mati, sampai menutup jalan napas saya," ujar Jhon sebal sambil megap megap menghirup udara sebanyak nya karena sempat kosong.
Egi tertawa pelan dan bangkit dari duduk nya. "Ingat Jhon aku masih kesal dengan ketengilan mu semalam, sampai aku dan Annisa bertengkar." Lalu Egi berjalan ke arah pintu. "Hitungan 5 kau sudah keluar ruangan ini, kita subuh di masjid," instruksi nya sambil membuka pintu.
Jhon menghela napas panjang, dan dengan malas menyibak selimut untuk turun dari sofa.
__ADS_1
"Jhon!" Teriak Egi dari luar kamar.
"Akhirnya dia berteriak." Beranjak dari sofa dan menggerak kan leher nya ke kiri, ke kanan yang kerasa pegal. "Ah, karena tidur di sofa badan ku serasa sakit semua dan mungkin efek telat tidur juga," oceh Jhon berjalan ke arah pintu keluar menyusul Egi.
-------------------------------
Selesai shalat subuh berjamaah di masjid. Egi mengajak Jhon ke ruangan privasi untuk membahas mengenai kasus Annisa yang terperangkap di lift. Kini kedua nya tengah duduk di sofa yang saling berserong bersebrangan.
"Tunjukkan hasil penyelidikan mu Jhon, siapa yang telah membuat Annisa ku terluka seperti itu." Instruksi Egi menatap tajam.
Jhon mengeluarkan tablet yang layar nya cukup besar, juga beberapa berkas dari dalam tas kotak ke atas meja hadapan Egi. Menyalakan tablet dan mulai memutar beberapa rekaman cctv pada saat windi berkomunikasi dengan seorang pria.
"Wanita itu, seperti pernah melihat wajah nya. Tapi entah dimana aku tidak ingat," gumam Egi pelan ketika melihat tampilan wajah windi di layar.
"Wanita ini bernama Windiasari, dia merupakan rekan dinas nona Annisa yang berbeda fakultas." Tutur Jhon, lalu mengklik memutar rekaman cctv yang menampilkan ketika Annisa di dorong ke dalam lift secara kasar.
Seketika mata Egi menajam, menggertakkan gigi geram, dengan tangan terkepal kuat di lengan sofa.
Mata Egi masih menajam, gigi nya mengkerat geram melihat adegan saat Annisa di dorong kasar ke dalam lift. Tangan egi yang ada di lengan sofa bergetar terkepal kuat.
Jhon yang melihat nya, terhenti sejenak menatap Egi. "Apa mau di teruskan penjelasan saya tuan Egi?" tanya nya.
Egi menghela napas kasar, dan menggerakkan jemari sebagai isyarat teruskan.
Jhon membuka berkas dan menunjukkan nya ke hadapan Egi. "Ini tentang wanita itu. Setelah saya menyelidiki penyebab dia bisa bertindak seperti itu terhadap nona Annisa. Menurut info mata mata yang menggali secara pribadi, dia sepertinya merasa Iri hati dan dengki, akibat nona Annisa selalu di spesial kan oleh dosen pembimbing, dan para senior rumah sakit, karena prestasi nona yang selalu mendapat nilai A juga pekerjaan nona yang selalu beres dengan cepat dan rapih, jadi dia merasa tersaingi... selain itu, yang membuat nya bertindak bebas melakukan kriminal," menatap Egi dengan serius. "Dia lahir dari keluarga yang cukup berpengaruh di kota ini, dia adalah anak ketiga dari bapak wali kota."
Bugh.
Egi memukul keras lengan sofa dan menghembuskan napas kasar, lalu tersenyum sinis. "Memang kenapa jika anak nya wali kota? Dia pikir karena kekuasaan bisa melakukan rencana selicik itu untuk membunuh istri ku! Wanita gila berani bermain licik maka aku tak akan sungkan lagi untuk bermain licik terhadap nya! Sekarang wanita gila itu dimana?"
__ADS_1
"Saya telah memasukkan dia dalam sel penjara sebagai tersangka dan menunjukkan rekaman cctv ini ke pihak berwajib, mungkin sekarang dalam proses masa sidang untuk menentukan hukuman nya."
Tersenyum miring penuh arti. "Bagaimana pun cara nya, gugat dia sampai mendapat hukuman seumur hidup atau... paling kecil 20 tahun, namun di tempat tahanan yang paling rendah penuh siksaan, agar dia merasakan penyiksaan saat Annisa ku terkurung berjuang antara hidup dan mati di dalam lift." Ucap Egi tajam, mengalihkan pandangan menatap tajam ke berkas. "Aku ingin wanita gila itu, hidup segan mati pun tak mau." Seringai menakutkan dari bibir Egi setelah mengucapkan kata kata itu.
Jhon terpaku dalam duduk nya bergidik ngeri, menatap beku ke Egi.
Benar keputusan tuan besar, jika saya harus menyembunyikan dokter frans dari si Egi. Bisa bisa tidak mempunyai masa depan lagi dokter frans, jika saya memberitahukan bahwa sebagian wanita ini bertindak seperti itu, karena menyukai dokter frans. Namun karena gosip jika nona Annisa menjadi pasangan dokter frans jadi nya nona yang kena sasaran wanita itu.
"Jhon bisakah kau lakukan itu? Buat dia sengsara seumur hidup dan hancurkan nama baik nya? Dan untuk laki laki yang berkerja sama dengan nya, beri hukuman yang setimpal namun jangan terlalu berat, melihat dari usia nya sepertinya dia kepala keluarga," tanya Egi menyadarkan Jhon kembali ke dunia nyata.
"Ah, i...iya," gelagap Jhon. Menghembuskan napas pelan. "Dengan kekuatan yang di miliki keluarga tuan besar putra, sangat mudah melakukan hal ini."
Egi tersenyum puas lalu melirik berkas lain nya. "Berkas apa itu?" tanya nya karena Jhon belum menjelaskan.
"Oh, ini...," meletakkan berkas yang di tunjuk egi tadi ke hadapan nya. "Tentang kesehatan nona Annisa. Hasil pemeriksaan jika nona terkena cedera ringan dan tidak perlu cemas karena tidak ada yang bermasalah dalam saraf otak nya. Mungkin dokter Erika akan menjelaskan secara detail nya ke tuan Egi." Lalu Jhon membuka perlembar.
"Dokter Erika juga merekomendasikan agar nona di lakukan Hipnoterapi untuk menghilangkan Nyctophobia nya. Menurut tuan Egi bagaimana?"
Egi bernapas lega mendengar kesehatan Annisa yang baik baik saja. Kemudian Egi bangkit dari duduk nya, berdiri menatap Jhon.
"Soal hipnoterapi, aku akan bicarakan hal ini pada Annisa ku," tutur Egi lalu melangkah menuju pintu keluar.
Berbalik kembali menatap Jhon. Egi tersenyum penuh arti. "Dan soal hukuman mu karena berani meracuni otak istri ku. Ku serahkan semua pekerjaan kantor selama seminggu kau yang handle termasuk pekerjaan dari kafe." Ucap nya lalu melanjutkan melangkah meninggalkan Jhon yang terlongo menatap pintu yang sudah tertutup rapat.
"Kenapa dia setega itu," desah nya sebal sambil membereskan berkas dan tablet untuk di masukkan kembali ke dalam tas. "Padahal dia juga mendapat keuntungan dari situasi kemarin karena dengan begitu, terlihat jelas nona Annisa begitu mencintai nya dan mendapat pernyataan secara langsung...," gerutu Jhon, kemudian ikut beranjak dari duduk nya berjalan ke arah pintu keluar.
"Melihat keharmonisan mereka, di lihat usia ku. Kapan aku berkeluarga, semoga ada gadis seperti nona Annisa yang di kirim Tuhan untuk ku," gumam nya sambil lalu.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Sempatkan klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...