
Acara pernikahan Egi dan Annisa telah usai, Para Tamu undangan telah di antarkan ke teras depan untuk memasuki mobil mereka masing masing dan meninggalkan rumah Putra.
Para Pelayan dan Para Pengawal kembali pada tugas mereka masing masing untuk membersihkan rumah bekas pesta kecil, dan kembali menjaga keamanan rumah.
Sementara Romisa telah di giring oleh Arga dengan bujukan dari Annisa akhirnya mau memasuki kamar nya. Begitu pun dengan Asyila sudah kembali ke kamar nya, kini hanya tersisa Annisa, Egi, dan Ayah Putra yang tengah terduduk di sofa ruangan keluarga.
Ayah Putra menatap kedua sejoli yang sudah Sah menjadi suami istri yang duduk di hadapan nya.
"Nak Annisa, mulai malam ini kau tidurlah di kamar Egi. Anggap saja kamar Egi adalah kamar mu, karena kalian sudah menjadi suami istri. Untuk keperluan mu, Ayah telah menyuruh Pelayan mempersiapkan nya," Tutur Putra.
"Iya Tuan," ucap Annisa menunduk.
Alis Putra terangkat sebelah."Panggil lah aku Ayah seperti mana Egi memanggil ku, karena kau sudah menjadi menantu ku, jadi panggil Ayah saja," titah Putra.
"Iya A..yah," ucap Annisa membuat Putra terkekeh pelan.
Annisa menundukkan pandangan, tidak berani menatap orang di hadapan nya.
Aku, tidur sekamar dengan dia. Apakah ini awal aku menjalankan kewajiban sebagai istri nya? Tp akankah dia menerima ku di kamar nya, melihat diri nya dari tadi hanya terdiam dan membisu tanpa mengeluarkan sepatah kata.
"Egi, kau berbaik baiklah pada istrimu. Dan jaga Nak Annisa dengan baik," ucap Putra.
Menghela napas pelan."Baik Ayah," jawab Egi singkat dan menatap Putra.
"Baiklah, kalian pergilah istirahat karena usai acara pernikahaan meskipun kecil kecilan, kalian pasti capek," titah Putra.
__ADS_1
"Baik Ayah, dan Ayah juga jangan lupa cepatlah istirahat, dan menjaga kondisi Ayah yang masih kurang sehat. Egi dan Annisa permisi dulu," pamit Egi bangkit dari duduk nya di ikuti Annisa.
Lalu mereka berdua menunduk hormat ke Putra dan beranjak melangkah menjauh dari ruangan keluarga untuk menuju kamar nya.
Ada senyuman terbit di bibir tipis Putra melihat kepergian dua sejoli yang hendak ke kamar, lalu setelah kedua nya menghilang dari pandangan mata nya, Putra bangkit dari duduk nya dan ikut berlalu untuk menuju kamar nya.
"Hari yang melegakkan," gumam Putra sambil berbalik berlalu.
------------------
Egi dan Annisa telah memasuki kamar, begitu memasuki kamar Egi langsung merebahkan tubuh nya di atas ranjang dengan kedua tangan menjadi bantalan kepala dan menatap lurus kedepan tanpa menghiraukan ada Annisa yang masih berdiri mematung di dekat sofa ruangan.
Menghela napas panjang."Kau jangan menduduki sofa dan ranjang. Jadi jika kau ingin tidur, tidurlah di karpet. Aku tak suka barangku di sentuh dan di pakai orang lain," tutur Egi tanpa menoleh pada Annisa.
"Hey..bukannya kau sudah mengikat ku dengan tali pernikahan, kenapa masih menganggap ku sebagai orang lain. Dan lagian kata Ayah, kamar mu juga kamar ku, jadi bebas lah mau melakukan apa pun sesuka ku," sanggah Annisa dan menduduki sofa panjang.
Menatap tajam ke Egi."Emang kau pikir aku juga menginginkan pernikahan ini, jelas tidak. Dan membawa ku ke tali yang terikat seperti ini, bukannya adalah kau hah. Jadi jelas kau harus tanggung jawab terhadap ku," ucap Annisa dengan nada kesal.
Egi tersenyum miring dan bangkit dari tiduran nya untuk duduk di sisi ranjang."Tanggung jawab. Cih!! Bukannya dengan diadakan nya pernikahan ini aku sudah tanggung jawab," ucap nya sinis.
Annisa mengepalkan tangan nya geram."Hey..bocah maksud tanggung jawab di sini, kau jalankan tugas mu sebagai suami ku untuk melindungi juga menjaga ku. Karena bagaimana pun kau sudah menjadi suami ku," jelas Annisa.
Mendecih sinis."Cih!! Mimpi saja kau, aku tidak menganggap mu sebagai istri. Mana mungkin akan menjalankan tugas sebagai suami, tak sudi," ucap Egi lalu beranjak hendak ke ruangan belajar.
Annisa bangkit dari duduk nya."Bocah..mau kemana kau, aku belum selesai berbicara dengan mu, tp lihat saja meskipun kau tidak menerima ku sebagai istrimu, aku akan tetap menjalankan kewajiban sebagai istri mu yang baik. Bocah sialan," seloroh Annisa dengan nada cukup tinggi.
__ADS_1
Egi menghentikan langkah kaki nya."Kau bilang istri yang baik? Nada berbicara harus meninggi di atas suara suami. Juga mengumpat suami, apakah itu termasuk sikap mu yang ingin menjadi istri yang baik. Jika wanita brandal tetaplah brandal tidak pantas bagi mu menjadi istri yang baik," ucap Egi dan melangkah kan kembali kaki nya.
Annisa teridam membisu dan masih menatap geram ke Egi.
Menghentikan kembali langkah nya."Ingat jika kau ingin menjadi istri yang baik, turutilah perintah dan Taatilah kemauan ku. Dan perintah ku, mulai malam ini dan untuk seterusnya kau hanya boleh tidur di atas karpet dan jangan mencampuri urusan pribadi ku," tutur Egi lalu melangkah kan kaki nya dan masuk ke dalam ruangan belajar.
Brakk.. Pintu ruangan belajar tertutup kasar oleh Egi.
"Sialan kau bocah, jika saja kau bukan suami ku sekarang. Sudah ku tinju kau dan ku umpat dengan umpatan kasar," teriak Annisa geram.
"Eh, bukannya sekarang aku sedang mengumpat nya. Ya tuhaan. Malaikat malaikat yang baik jangan kau tuliskan dosa ku karena telah mengumpat bocah itu, bagaimana pun dia yang memulai ucapan kasar terhadap ku jadi kau harus adil, jika menuliskan dosa di buku ku, kau juga tuliskan dosa di buku nya," ucap Annisa sambil menangkup kedua tangan di dada menengadah ke atas.
"Sabar...sabar Annisa. Menghadapai bocah sinting memang harus sabar. Dari pada di sini terus membuat ku mengumpat nggak jelas, lebih baik membersihkan diri dulu," gumam Annisa dan beranjak mencari pintu kamar mandi.
Annisa melihat ada satu pintu yang cukup tinggi yang menghadap ke ranjang, lalu Annisa memasuki pintu itu yang ternyata kamar mandi, lengkap dengan walk in closet.
Mata Annisa berbinar takjub dengan ruangan itu yang menurut Annisa mewah dan lengkap dengan segala macam barang dari pakaian, sampai perlengkapan lainnya sudah terdapat di dalam ruangan tersebut.
Annisa mendekati lemari lemari kaca yang berjejer untuk memeriksa apakah pakaian wanita itu untuk di diri nya, dan seperti yang di katakan oleh Ayah Putra semua keperluan Annisa telah tertata rapih di antara lemari lemari yang berjejer itu.
Ternyata Ayah Putra benar benar sudah menyiapkan semua nya, lemari ini sangat lengkap dengan semua yang aku perlukan, dan bahkan pakaian pakaian ini sangat indah dan berbahan adem jika di pakai.
Seperti nya, barang barang ini pasti bernilai dengan harga yang mahal, melihat kualitas nya sangat bagus. Memang yah orang kaya jadi bebas membeli apapun dan dengan mudah langsung bertengger di tempatnya ketika di inginkan seketika itu juga.
Annisa mengambil jubah mandi dan menyiapkan pakaian tidur untuk diri nya ke atas sofa di ruangan itu, lalu annisa memasuki pintu yang menuju kamar mandi.
__ADS_1
Lagi lagi mata Annisa di buat takjub dengan dekorasi isi kamar mandi, yang menurutnya cukup luas dan lengkap. Tidak mau berlama lama di kamar mandi, Annisa mulai membersihkan diri nya.
BERSAMBUNG...