Pejuang Move On

Pejuang Move On
Izin untuk Jhon


__ADS_3

"Jadi jelaskan," ucap Egi yang duduk santai di sofa panjang menatap tajam ke Jhon yang duduk di sebrang nya.


"Tuan besar memerintahkan saya untuk tinggal di sini, agar bisa leluasa mengajarkan tentang perusahaan pada tuan Egi," jelas Jhon tenang.


Alis Egi terangkat sebelah mendengar penjelasan Jhon. "Lalu," ucap nya meminta kejelasan lebih.


"Tuan Egi harus menerima saya di sini," ucap Jhon.


Egi menyenderkan sebelah lengan ke senderan sofa. "Kau pikir aku akan percaya dengan ucapan mu ...," tukas Egi menatap tajam dan tersenyum miring. "Pasti hanya akal akalan busuk mu saja yang ingin serumah dengan istri ku."


"Itu alasan ke dua saya menerima tinggal bersama di sini, untuk menjaga nona Annisa dari hal yang akan menyakiti nya... juga dari tuan Egi yang takut nya akan melanggar kesepakatan dari tuan besar," jawab Jhon masih dengan nada santai dan tersenyum tipis.


Mata Egi memicing tajam menatap ke Jhon. "Kau pikir kau siapa, berhak mengatur. Suka suka aku akan melanggar atau pun tidak. Dia istri ku jadi aku bebas melakukan apa pun pada nya," ucap Egi sinis.


"Saya siapa? Tuan Egi sudah mengetahui nya jika saya adalah kakak angkat nya nona Annisa," jawab Jhon dan mengulas senyuman. "Dan soal melanggar atau pun tidak. Tuan Egi sudah mengetahui konsekuensi nya, jadi itu terserah anda."


"Jhon!" Bentak Egi menggertak. Kemudian Menghela napas kesal. "Baiklah, tapi sebelum aku menerima mu. Apa yang akan kau buktikan jika kau tinggal di sini adalah perintah ayah!"


"Sepertinya tuan Egi masih belum percaya juga, jika anda masih belum percaya, tinggal telpon tuan besar dan bertanya pada nya," ucap Jhon terjeda sejenak dan menghela napas pelan. "Yang jelas mau tuan Egi mengizinkan atau pun tidak, saya akan tetap tinggal di sini sebelum tuan besar sendiri yang mencabut perintah nya."


Tangan Egi mengepal kuat dan tatapan nya semakin tajam menatap Jhon. Lalu menghembuskan napas kasar. "Kau selalu bisa memancing emosi ku, Jhon," ucap Egi geram.


Jhon terkekeh senang. "Itu kesenangan saya tuan Egi," sahut Jhon.


Bersamaan dengan ucapan Jhon. Annisa memasuki ruang utama dengan memegang sebuah nampan yang berisi dua cangkir kopi Latte dan satu piring cupcake cokelat.


"Kak Jhon," celetuk Annisa yang sudah berdiri di antara guci besar samping pilar.


Serempak Jhon dan Egi menoleh ke arah suara.


"Hai nona Annisa, selamat malam," sapa Jhon tersenyum ramah.


Annisa melangkah mendekati meja tengah dan meletakkan nampan ke atas meja. Ia berjongkok di samping meja. "Malam juga kak Jhon. Jadi tamu nya kak Jhon? Ada apa kak Jhon malam malam kemari?" tanya Annisa sambil memindahkan cangkir kopi dan piring dari nampan ke atas meja.


"Bertemu dengan nona, karena rindu," gurau Jhon.


Alis annisa menaut lalu melirik Egi yang tampak menatap tajam ke arah Jhon. "Eh, kak jhon memang suka becanda yah," tanggap Annisa kemudian bangkit dari posisi jongkok nya sambil memegang nampan. "Saya buatkan kopi dan cupcake, maaf tidak bertanya minuman kesukaan kak Jhon dulu, saya menyamakan dengan kopi latte kesukaan Egi."


"Tidak apa nona. Apa pun yang nona buatkan saya akan tetap memakan dan meminum nya, meskipun saya tidak menyukai nya," jawab Jhon mulai memprovokasi Egi.

__ADS_1


"Ekhem...," dehem Egi membuat Annisa menoleh ke arah nya. "Annisa, kemari," titah Egi mengisyaratkan dengan lirikkan mata agar Annisa duduk di samping nya.


Sebenarnya pekerjaan ku di dapur masih belum selesai. Tapi ya sudahlah, ikuti perintah nya saja, melihat lirikan mata nya cukup menakutkan juga.


Annisa menaruh nampan ke atas meja, lalu berjalan menghampiri Egi dan menurut duduk di samping nya. "Egi aku masih belum selesai masak," bisik Annisa mendekatkan diri ke Egi.


Egi merangkul pinggang annisa dengan sebelah tangan agar merapat ke diri nya. "Sebentar saja," balas Egi.


Annisa melirik lengan Egi yang bertengger di pinggang nya. "Baiklah. Tapi bisakah tangan mu jangan di taruh di situ, aku malu ada kak Jhon di sini," ucap nya setengah berbisik.


Egi semakin mempererat rangkulan nya dan tersenyum kecil. "Jangan peduli kan dia, anggap saja dia pajangan dinding dalam ruangan ini," ucap Egi sengaja dengan nada suara jelas dan agak keras, agar terdengar oleh Jhon lalu egi beralih melirik jhon dan tersenyum miring.


Jhon yang tengah meminum kopi membalas senyuman Egi dengan senyuman ramah. "Tuan Egi terlalu memuji saya, sehingga saya di samakan dengan pajangan dinding yang indah dan mewah di ruangan ini," sahut Jhon sambil meletakkan cangkir kopi ke meja. "Tapi tentu saja, saya pajangan dinding yang sangat istimewa karena saya bisa mendengar, berkata dan melihat tuan Egi." Sambung Jhon sambil mengambil cupcake.


"Dan bisa makan juga minum," tambah Egi tersenyum mengejek. "Jhon, taruh kembali kue itu! Sebelum kau menjelaskan dan dapat izin tentang kedatangan kau kemari dari annisa," tegas Egi dengan nada tajam menunjuk cupcake yang ada di tangan Jhon belum tergigit.


Annisa menarik baju Egi dan mendongak menatap. "Kau tidak boleh seperti itu pada tamu, apalagi kak Jhon adalah orang terdekat keluarga kita," tegur Annisa. Lalu beralih menatap Jhon. "Jangan peduli kan dia kak Jhon, silahkan di cicipi kue nya sembari membahas yang di maksud Egi," ucap Annisa ramah.


"Tentu nona Annisa, karena saya sudah tidak sabar menikmati kue buatan nona," jawab nya lalu menggigit cupcake dan mengunyah mencecap rasa makanan di mulut nya. "Sangat enak, rasa nya sempurna," puji Jhon di sela kunyahan.


"Terimakasih pujian nya kak Jhon."


"Uhuk...uhuk...," Jhon terbatuk akibat bentak an dari Egi.


"Kak Jhon, kau tidak apa apa? Mau saya ambilkan air putih?" tawar Annisa karena sedikit panik melihat Jhon tersedak.


Jhon yang masih terbatuk menepuk pelan dada nya. Ia menjulurkan sebelah tangan ke arah Annisa sebagai jawaban tidak perlu. Lalu mengambil cangkir kopi dan meminum nya untuk mereda kan tenggorokan nya yang panas dan kering akibat tersedak.


Annisa melirik kesal ke Egi dan mencubit kecil di pinggang Egi. "Kau jangan bersuara keras seperti itu Egi, kalau dia tersedak parah dan sesak napas bagaimana kau akan bertanggung jawab," geram Annisa.


Egi memegang tangan Annisa yang ada di pinggang nya, lalu menarik membawa ke bibir nya untuk di kecup. "Salah dia sendiri membuat ku kesal," jawab nya setelah mencium punggung tangan Annisa.


Salegi benar benar... dasar bocah.


Annisa menarik tangan yang ada di pegangan tangan Egi. "Jangan lakukan hal seperti tadi di depan orang, aku malu tau."


Egi tersenyum senang melihat pipi Annisa merona malu. Lalu beralih menatap Jhon. "Kau minta izin pada annisa, jika kau dapat izin dari nya. Aku akan mengizinkan mu," titah nya.


"Ekhem...," dehem Jhon menetralkan tenggorokan nya, dan setelah meminum air kopi beberapa teguk jhon menaruh kembali cangkir nya ke meja. "Nona Annisa, mulai malam ini dan seterusnya saya akan tinggal di sini. Apa nona Annisa mengizinkan saya?" tanya Jhon to the point.

__ADS_1


Annisa melirik Egi yang mendapat isyarat kedipan sebelah mata dari egi.


Apa artinya itu, aku tidak mengerti... hah mungkin izinkan saja.


Lalu annisa beralih menatap Jhon. "Boleh, untuk meramaikan rumah ini. Kamar juga banyak yang kosong," ucap Annisa membuat Jhon tersenyum senang.


Namun tidak dengan Egi yang seketika raut wajah nya muram, dan menatap sebal ke annisa.


"Terimakasih atas izin nya nona annisa."


"Hemm...," gumam Annisa mengangguk mengiyakan. "Egi, aku akan meneruskan memasak. Tidak apakan aku tinggal," tutur Annisa menatap Egi.


Egi mengangguk kecil. "Pergilah, biar aku yang mengurus soal kamar untuk Jhon," ucap nya sambil melepaskan rangkulan di pinggang Annisa.


Annisa beranjak dari duduk nya. "Maaf saya tinggal dulu kak Jhon," pamit Annisa ramah.


"Iya silahkan nona Annisa."


Sepeninggalan Annisa.


Egi mengambil cangkir kopi nya, lalu meminum menyesap beberapa tegukkan hingga habis seperempat. "Kau tidur di kamar tamu lantai bawah saja, karena di lantai atas hanya ada tiga kamar itu pun sudah di tempati Annisa dan satu oleh ku," tutur Egi sambil mengambil cupcake lalu menggigit nya.


"Bukannya masih tersisa satu kamar di lantai atas, jadi saya akan tidur di kamar kosong itu," sanggah Jhon dan menyesap kopi nya.


Egi mendelik tajam. "Kau pikir rumah ini milik mu. Seenaknya memilih kamar, sudah untung kau ku izinkan tinggal di sini. Jadi kau turuti saja aturan rumah ini," sewot Egi.


Jhon berdecak sebal. "Tuan egi masih bersikeras saja pada tamu. Pernahkah tuan Egi mendengar pepatah, tamu adalah raja. Jelas saya tamu rumah ini jadi saya juga punya hak untuk meminta keinginan dan kenyamanan dalam rumah ini," tutur Jhon dan hendak mengambil cupcake dari piring.


Plakk.


Egi menepis cepat tangan Jhon sebelum cupcake terambil. "Kau sudah memakan 3 kue, sekarang ini semua milik ku," ucap nya mengambil dan menjauhkan piring dari jangkauan Jhon. "Karena kau merupakan tamu yang tidak tahu malu, aku izinkan kau tinggal satu lantai. Tapi kau bereskan sendiri kamar mu, yang paling pojok terpisah dari dua kamar sebelah kanan."


Jhon bangkit dari duduk nya. "Baiklah, saya akan langsung membereskan barang barang bawaan ke kamar," ucap Jhon menarik koper. "Saya tinggal dulu tuan Egi," sambung nya mengedipkan sebelah mata lalu berjalan dengan menyeret koper menuju tangga.


"Cih!" Decih Egi. "Tamu tak tahu malu, serasa rumah sendiri saja... hah ayah kenapa dia mengirimkan orang tengil ini ke rumah ku, ternyata ayah sungguh tidak main main dengan kesepakatan itu, jika sudah begini semakin kurang waktu ku berduaan dengan Annisa...," oceh Egi kesal, mengusak rambut kasar. Lalu kembali mengambil cupcake dan menggigit nya.


BERSAMBUNG...


Setelah Membaca Budayakan Tekan Tombol LIKE dan Tinggalkan JEJAK yaaa. Biar tambah semangat Author nya.

__ADS_1


__ADS_2