Pejuang Move On

Pejuang Move On
Undangan


__ADS_3

Inggris.


Di dalam sebuah mobil mewah warna hitam.


Jhon yang tengah menyetir, mengambil sesuatu dari tas kantor di kursi sebelah nya, lalu menyodorkannya ke belakang. "Tuan Egi, lihatlah undangan ini."


"Undangan apa lagi? Aku tak mau jika undangan untuk pesta atau sejenisnya, kau kan biasa yang mewakilkan?" Sahut Egi, tanpa mengalihkan pandangan mata nya yang sedang fokus pada Ipad melihat video hasil rekaman pengawasan Annisa selama beberapa jam hari ini.


Jhon menghela napas pelan, menaruh selembar undangan itu di dashbord tengah. "Tapi untuk undangan kali ini, di harapkan tuan Egi mau datang ke pesta nya, karena seperti nya nona Annisa juga akan datang."


Mendengar nama Annisa yang di sebut Jhon, Egi sontak mempause video Annisa, dan melirik ke depan. "Annisa! Memang pesta apa sehingga aku bisa bertemu dengan istri ku?" Seloroh Egi girang bagai mendapat lotre.


Jhon tertawa menutup bibirnya, dan menggerakkan kepala melirik sekilas ke arah lembar undangan berada. "Lihat saja dulu, tuan Egi akan paham."


Egi mengambil selembar undangan itu, dan melihat cover depan nya yang tertera dua nama yang sangat di kenal nya. Alis Egi tertaut setelah membaca dua nama itu, Ia menengadahkan pandangan melihat ke depan. "Si Tang akan menikah?" Seru Egi seakan tidak percaya.


Jhon mengangguk. "Lusa pagi sekitar jam 10 pesta nya, tuan Egi akan datang tidak? Sepertinya nona Annisa pun dapat undangan nya dan akan datang," Jhon menjawab, dengan mata fokus ke jalanan.


Egi melempar undangan itu ke depan, dan tersenyum miring. "Kau tahu, lusa aku lagi sibuk sibuk nya, dan juga Annisa tidak akan datang jika aku melarang nya," ucap Egi sambil kembali memutar video Annisa yang sempat di pause nya tadi.


"Sepertinya nona Annisa akan saya dampingi saja, melihat pekerjaan saya telah beres dan banyak waktu luang," Jhon mulai memprovokasi Egi.


Egi mendelik tajam ke depan. "Jhon," menghembuskan napas kasar. "Coba saja jika kau berani melakukan nya, akan ku kirim kau ke kutub utara untuk jadi santapan beruang," Ancam Egi kesal.


Jhon tertawa puas. "Sudah dari dulu tuan mengirim saya ke sana jika tuan Egi tidak membutuhkan saya," saut Jhon dengan santai.


"Benar sudah dari dulu ku kirim kau ke sana jika aku tidak membutuhkan otak dan otot mu, Jhon," Egi membenarkan, dan kembali fokus menatap wajah Annisa di layar Ipad.


"Jadi bagaimana keputusannya, pergi atau tidak?" Jhon bertanya kembali untuk memastikan.


"Tidak," jawab Egi cepat.


"Tuan Egi tidak pergi, tapi nona Annisa pasti akan pergi bersama keluarga besar."


"Aku tidak mengizinkan dia ke sana. Pasti akan banyak pria yang melihat wajah cantiknya."


Jhon menghela napas pelan. "Sangat di sayangkan. Padahal saya bisa membantu pekerjaan tuan Egi, dan mengatur jadwal yang tepat jika tuan Egi ingin pergi," tawar Jhon di akhiri senyuman dan lirikkan ke kaca depan melihat Egi.


Terulas senyuman bahagia dari bibir Egi. "Hemm... atur saja jadwalnya, aku sudah sangat merindukan Annisa ku, dan jangan beritahukan kepulangan ku pada keluarga terutama Annisa ku," gumam Egi mengusap gambaran wajah Annisa di layar Ipad.


Jhon melirik sekilas ke kaca depan, dan tersenyum kecil.


"Si Tang lebih cepat dari mu ternyata Jhon, kau sudah di kalahkan oleh si Tang soal perempuan. Sampai kapan kau menanam wanita itu di hatimu Jhon?" Pertanyaan Egi membuat Jhon diam seketika, raut wajah nya berubah dingin.


Melihat reaksi Jhon yang diam membisu, Egi menghembuskan napas panjang.


Dia selalu mengabaikan soal ini... aku hanya kasihan saja pada nya, yang usianya paling tua di antara mereka berempat tapi si Jhon sendiri yang kalah saing.


Egi menengadahkan tangan ke depan. "Kemarikan ponsel ku, aku ingin mendengar suara istriku," pinta nya menggerakkan tangan.


"Tuan Egi, kita akan sampai dalam waktu satu menit lagi di restoran untuk bertemu klien, jika tuan menelpon nona Annisa pasti akan memakan waktu sangat lama. Dan juga, bukannya jadwal video call dengan nona Annisa masih ada sekitar 2 jam lagi." Jhon membelokkan stir mobil, untuk memasuki area parkir restoran mewah.


Egi mendengus sebal. "Kau orang tengil yang menyebalkan Jhon." Umpat Egi menjatuhkan punggung nya ke senderan kursi.


Jhon tersenyum kecil. "Tuan Egi terlalu memuji saya," saut Jhon sambil memutar stir mobil nya.


------------------------------


Indonesia.


Annisa baru selesai dari pekerjaan nya sebagai bidan, Ia berjalan di sekitar koridor rumah sakit di ikuti dua bodyguard yang berjas rapih, untuk menuju pintu keluar.


Kriing...kriing.


Ponsel Annisa berdering. Annisa merogoh ponsel nya dari saku jas putih yang di kenakan.

__ADS_1


"Assalamualaikum Rik," sapa Annisa menempelkan benda pipih itu ke telinga.


"Walaikumsalam. Nis, udah beres tugas nya?" Suara Rika bertanya.


"Hemm...," sahut Annisa sambil terus berjalan.


"Temenin aku belanja yuk Nis, aku sudah ada di depan gerbang."


Belanja? Apa bisa aku melewati mereka berdua tanpa banyak bertanya?


Annisa menjauhkan sejenak ponsel dari telinga, melirik dua bodyguard di belakang nya. "Baiklah, kau tunggu aku." Bisik Annisa, lalu mematikan panggilan setelah Rika menjawab iya.


"Ada apa nona?" tanya salah satu bodyguard di belakangnya karena melihat hal mencurigakan dari annisa.


Annisa tersenyum. "Tidak ada." Jawab Annisa melangkah keluar dari pintu yang di buka kan oleh satu bodyguard nya.


Di luar rumah sakit.


"Annisa," seru Rika yang tidak jauh darinya melambaikan tangan.


Annisa membalas melambaikan tangan, dan hendak melangkah menghampiri Rika.


"Nona Annisa, mobil nya sebelah sana," cegah bodyguard nya menghalangi jalan Annisa, dan menunjuk ke mobil yang terparkir dari arah berlawanan tempat Annisa berdiri.


Sepertinya akan sulit untuk dapat keluar dari zona mereka.


Annisa menghela napas panjang, menatap Rika agar mendekat ke arah nya, lalu beralih menatap dua bodyguard di hadapannya.


Rika yang mengerti arti tatapan Annisa dan situasi, segera Ia berlari menghampiri Annisa.


"Maaf pak, bolehkah saya meminjam nona kalian untuk beberapa jam kedepan?" tanya Rika yang sudah berdiri di antara ketiga nya.


"Maaf, tuan Egi tidak mengizinkan nona Annisa untuk berpergian, dan sekarang jadwal nya nona Annisa untuk pulang," Instruksi bodyguard itu menghadang tubuh Annisa dari pandangan Rika.


Annisa menggelengkan kepala beberapa kali.


"Kami hanya berbelanja sebentar, dan kalian juga mengetahui jika saya adalah teman baiknya nona Annisa," ucap Rika.


"Saya hanya mematuhi perintah dari tuan Egi, dan melihat jadwal Nona Annisa saat ini, tidak ada jadwal untuk berbelanja."


Dan terjadilah perdebatan di antara Rika dan dua bodyguard Annisa.


Sementara Annisa berusaha untuk menghubungi Egi, namun sudah beberapa kali menelpon nya, tidak satu pun panggilannya di angkat oleh Egi. Ia melihat layar ponsel nya yang terus berkedip tengah memanggil Egi.


"Sepertinya dia lagi sibuk, baiklah mengirim pesan saja pada nya." Gumam Annisa mengetik pesan ke Egi.


Setelahnya, Annisa kembali bergabung pada ketiga orang yang masih bersitegang berdebat.


"Pak Tio, saya sudah memberi kabar pada suami saya untuk pergi menemani teman saya, jadi sudah jangan ada perdebatan lagi," tegas Annisa menghentikan perdebatan di antara nya.


"Tapi belum ada konfirmasinya pada saya Nona, bisakah Nona tunjukkan pesan itu?" tanya Pak Tio menatap menyelidik ke Annisa.


Entah sudah berapa kali Annisa menghela napas, Ia menyalakan layar ponsel nya dan menunjukkan pesan yang belum di balas Egi. "Sudah lihat!" Kesal Annisa lalu melirik Rika. "Yuk Rik, kita berangkat."


Rika tersenyum girang, dan hendak berhambur mendekat ke Annisa, namun pergerakan nya terhenti karena di hadang kembali oleh dua bodyguard tadi.


"Jangan menyentuh nona Annisa!" tegas pak Tio salah satu bodyguard Annisa.


"Pak Tio!" Seru Annisa kesal.


Menundukkan kepala hormat. "Maaf nona, tapi ini perintah dari tuan Egi agar memberikan jarak antara orang asing dengan nona."


Alis Annisa terangkat satu. "Orang asing?" Geram Annisa, melirik tajam ke Pak tio. "Dia sahabat saya, dia bukan orang asing bagi saya. Dan kalian sudah tentu nya tahu, karena kami sering bertemu."


"Sahabat bukan keluarga, jadi saya hanya memastikan kewaspadaan untuk keselamatan nona Annisa." Sahut Pak Tio masih menundukkan pandangan.

__ADS_1


Annisa menghembuskan napas kasar. "Terserah kalian sajalah," kesal Annisa, lalu dengan cepat melewati tubuh Pak Tio dan menarik tangan Rika untuk mengikuti jalannya ke arah mobil.


"Nis, bodyguard mu tidak akan melaporkan aku menyulik mu kan?" Bisik Rika mengimbangi langkah Annisa.


"Tenang saja, aku udah izin ke si Egi. Jadi kita mau ke mall atau kemana?" tanya Annisa melirik Rika.


"Mall sajalah," sahut Rika menunduk.


"Pak Tarjo, kita ke mall," Instruksi Annisa pada supir yang tengah membuka kan pintu mobil penumpang.


"Baik nona Annisa," sahut pak supir, sambil mempersilahkan Annisa masuk ke mobil.


Annisa dan Rika memasuki mobil.


Di dalam mobil.


Ting...ting.


Suara notifikasi pesan dari ponsel Annisa, segera Annisa merogoh dan melihat isi pesan itu.


Romisa : "Assalamualaikum. An an. Kamu udah pulang belum dari tugas nya?"


Annisa : "Walaikumsalam. Udah mbak, sekarang lagi di jalan."


Romisa : "An an, bisakah mbak minta tolong untuk jemput Fatih di tempat les nya? Asyila masih ada kelas di kampus nya, soalnya sekarang mbak masih di butik memilih gaun pengantin."


Alis Annisa tertaut penasaran melihat isi pesan yang ada kata pengantin, karena selama ini Romisa jarang di perbolehkan keluar rumah kecuali antar jemput Fatih dan ada hal yang sangat penting.


Annisa : "Bisa mbak. Tapi ngomong ngomong siapa yang mau Nikah? Sampai sampai mbak ikut memilihkan gaunnya?"


Romisa : "Cesa mau menikah besok, apa An an tidak lihat undangan di atas meja belajar kamar mu An? Mbak taruh di sana kemarin malam loh."


Annisa termenung sejenak, melihat nama cesa di layar ponsel.


Annisa : "Kemarin malam Annisa belum sempat ke ruang belajar. Itu yang nikah mbak Cesa pengawal pribadi mbak?"


Romisa : "Iya An an, mbak cesa."


Jiwa penasaran Annisa semakin menjadi untuk mengetahui siapa mempelai pria yang akan menikah dengan Cesa.


Annisa : "Sama siapa nikahnya mbak?"


Romisa : "Sama sekertaris Tang."


Annisa terlongo, dengan mulut sedikit terbuka tertutup sebelah tangan dan mata melebar terkejut. Se...sekertaris Tang.


Puk.


Rika menepuk pundak Annisa. Membuat Annisa terlonjak dan tersadar dari keterkejutannya.


"Ada apa Nis? Kelihatannya kaget banget," tanya Rika yang bingung melihat ekspresi Annisa.


Annisa menggelengkan kepala pelan, dan tersenyum. "Tidak ada apa apa Rik." Sangkal Annisa.


Mata Rika menyipit curiga. "Serius?"


Annisa mengangguk mengiyakan, kemudian menatap ke depan. "Pak tarjo, ke tempat les nya dek fatih dulu." Instruksi Annisa.


"Baik nona."


"Tidak apa kan aku mengajak keponakan ku juga untuk belanja, soalnya mbak ku bilang tidak bisa menjemput anak nya?" tanya Annisa menatap Rika.


"Boleh, sekalian aku pengen tahu keponakan mu yang selalu kamu ceritain pada ku."


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Sempatkan Klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...


__ADS_2