Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 57


__ADS_3

Egi, Farhan dan Ray tengah berjalan di koridor untuk menuju ke ruangan pasien. Raut wajah mereka terlihat muram dengan bibir saling terbungkam diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.


Ray mengusap rahangnya dan melambatkan langkah kakinya. "Memang baik rencana lo dengan menyuruh bang Ezi datang ke indo. Tapi napa gue kagak tahu apa-apa soal rencana lo hah?"


Egi menoleh ke arah samping kiri dimana Ray berada. "Karena lo mulutnya ember. Dan lagi, gue agak kecewa dengan mu, Ezi." Melirik Farhan di samping Ray.


"Aku." Menunjuk dirinya, alis Farhan terangkat sebelah. "Kenapa?"


"Kamu tugasnya hanya sebagai pengganti sementara, tapi kenapa malah menaruh hati terhadapnya. Bahkan... sampai mau melamar."


Langkah kaki ketiga nya terhenti di depan pintu kamar inap Annisa.


Farhan menghembuskan napas pelan, tersenyum miring. "Itu karena hati ku menyukainya sejak bertemu pada pandangan pertama, bisa di bilang aku jatuh cinta padanya."


Egi berjalan ke arah pintu, meraih pegangan tangan di daun pintu untuk membukanya.


"Sekarang dia sudah akan menjadi milik Jhon seutuhnya, aku tak mau ada pemberontakan lagi dari mu, Ezi. Jadi... lupakanlah perasaan itu, demi Kakak sepupu mu." Ujar Egi menasehati, sejenak ia memberikan tatapan dingin ke arah Farhan dan melirik Ray tajam. Lalu Egi masuk ke dalam kamar inap Annisa meninggalkan kedua pria yang terbengong termenung.


Si Egi nyindir gue... "Ekhem." Dehem Ray, sambil melangkah maju ke arah ruang ICU.


Farhan ikut menyusul membuntuti Ray dari belakang dengan kepala menunduk ia memikirkan ucapan Egi.


"Om." Panggil Ray yang sudah memasuki area koridor ruang ICU, ia menghampiri pria yang terduduk di sofa panjang yang menghadap ke kaca dinding transparan menyorot Rika di dalam ruangan.


Kepala Pak Adi yang semula tertekuk lesu, menengadah melihat ke arah suara.


Ray dan Farhan duduk di sofa panjang setiap sisi pria paruh baya itu.


"Kak Jhon kemana?" Tanya Farhan melirik ke pintu kaca transparan ruangan yang hanya melihat Rika terbaring.


"Dia pergi, dia amat terguncang." Pak Adi melirik kedua pria tampan itu secara bergantian. "Kalian saling kenal?"


"Iya, Bang Ezi kan adik sepupu nya Bang Jhon." Sahut Ray.


Pak Adi menatap Farhan. "Apa Nak Ray juga sudah tahu mengenai rencana keluarga?"


Farhan mengangguk. "Egi memberitahukannya semua."


"Tante tidak datang?" Ray celingak celinguk melihat sekitar.


Pak Adi terdiam muram. "Jangan beritahukan tante untuk sementara waktu mengenai kondisi si Neng. Karena jika tahu... mungkin...," ucapnya tergantung.


"Kenapa begitu Om?" Heran Ray dengan alis berkerut.


"Sudah setahun lebih jantung tante semakin memburuk, jadi jangan sampai mengalami syok." Timpal Farhan.


Jantung? Kenapa si Mak tak pernah cerita apa-apa soal keluarganya sama gue. Rayhan menatap lurus kedepan dimana Rika terbaring di dalam ruangan dari balik kaca.


"Bantulah Om, untuk berbohong selama beberapa waktu pada tante. Katakanlah saja si Neng sedang ikut berlibur bersama Nak Annisa ke luar kota atau kemana, asal jangan sampai dia mengetahui hal ini dulu. Om takut...," terjeda sejenak, Pak Adi menundukkan kepala mengusap air mata nya yang akan jatuh.


"Aku paham, Om. Aku akan membantunya." Ray memegang sebelah tangan Pak Adi. Kemudian ia melirik Farhan yang sama-sama tengah menatap gadis manis di dalam ruangan itu.


"Bang, apa lo juga datang kemari untuk mengobati tante?"

__ADS_1


Farhan mengangguk mengiyakan. "Benar, selama ini aku yang menangani penyakit tante."


----------------------------------


Sementara di Rumah Jhon.


Brak.


Jhon membanting pintu mobil dengan keras membuat mobilnya itu sedikit bergoyang. Ia berjalan lemas menuju pintu masuk rumahnya.


Kreet.


Dia mendorong pintu kembar utama rumahnya dengan serampangan, dan memasuki rumah tanpa salam atau seucap kata pun.


Ibu Lily yang tengah menyulam di ruang keluarga, mendengar suara langkah sepatu yang menggema menaiki anak tangga. Ia meletakkan sulamannya ke atas meja lalu beranjak dari duduknya, menghampiri ke arah ruang utama untuk melihat siapa yang datang.


"Atan." Panggil Ibu Lily melihat anaknya menaiki tangga dengan langkah pelan dan kepala tertunduk.


Alisnya tertaut melihat sikap aneh pada Jhon. "Atan, kau tidak menyapa Ibu? Ada apa masuk rumah sampai lupa salam?" Ibu Lily berjalan mendekat ke arah tangga.


Namun lagi-lagi Jhon tak menggubris panggilan atau pertanyaan Ibu Lily, dia seakan tuli oleh suara sekitar. Dan tetap melangkah menaiki anak tangga yang tujuannya menuju kamar.


Semakin penasaran dengan sikap anaknya, Ibu Lily ikut menaiki anak tangga dan meraih sebelah tangan Jhon hingga langkah kakinya terhenti. "Atan. Ibu sedang bicara dengan mu. Ada apa dengan sikap mu hari ini?"


Dan Jhon tidak berbalik atau menoleh. Ia masih menundukkan kepala lunglai.


Ada yang tidak beres dengannya... Ibu Lily menaiki dua anak tangga agar bisa berhadapan dengan putranya itu, alisnya semakin tertaut menyatu menelisik penampilan Jhon dari atas sampai bawah yang terlihat berantakan dengan kemeja sudah keluar celana sebagian serta dasi mengendor tak beraturan. Dia tidak pernah sekacau ini dalam penampilannya... bahkan tingkahnya aneh.


Dengan gerakan perlahan dan kaku sebelah tangan Jhon terangkat memegang tangan Ibunya yang ada di pipi. "Ibu." Ucapnya parau dan lemah.


Ibu Lily memberanikan diri untuk menggerakkan wajah anaknya agar menatap kearahnya. "A-Atan." Kaget Ibu Lily saat melihat wajah Jhon yang sudah pucat pasi dengan mata memerah berkaca-kaca.


"Apa... Apa yang terjadi Nak? Kenapa kau seperti ini?"


Jhon kembali menundukkan kepala dan melepaskan kedua tangan Ibu Lily di wajahnya. Lalu melangkah melewati sang Ibu begitu saja yang berdiri mematung terbengong.


"Atan. Ada apa dengan mu, Nak?" Tanya Ibu Lily berbalik menatap kepergian anaknya yang sudah melangkah di ujung tangga.


Namun Jhon tak menghiraukan, ia terus melangkahkan kaki berjalan ke arah pintu tunggal kamarnya.


Karena rasa penasaran dan cemas melihat tingkah tak biasa Jhon. Ibu Lily ikut menyusul menaiki anak tangga. "Atan."


Blam.


Jhon membanting pintu kamarnya dengan keras membuat Ibu Lily terperanjat di depan pintu.


Tok...tok...tok.


"Atan, ada apa dengan mu Nak? Ibu ingin bicara." Wanita paruh baya itu mengetuk dan memutar handle pintu yang tak terbuka yang memang di kunci dari dalam.


Namun tak mendapat tanggapan apa pun dari dalam. Ibu Lily menempelkan telinga ke daun pintu kali aja mendengar suara barang pecah. "Atan. Bukalah pintunya." Panggilnya sembari mengetuk pintu.


Dan pintu itu tetap tertutup rapat terkunci dari dalam.

__ADS_1


"Ada apa dengan anak ku? Kenapa dia terlihat sangat kacau? Pasti terjadi sesuatu yang buruk terhadapnya."


Dengan perasaan khawatir dan gusar. Kunci cadangan... ia berbalik melangkah ke arah bufet hias yang tidak jauh dari pintu kamar.


Di dalam kamar.


Ruangan kamar itu terlihat gelap temaram karena hari mulai gelap di tambah lampu kamar yang mati, hanya cahaya yang berasal dari luar jendela kaca besar yang kebetulan masih terbuka lebar gordennya.


Jhon melepaskan jas dan dasi lalu melemparnya dengan sembarang. Dia ambruk di bawah sofa panjang yang menghadap ke jendela kaca besar. Kepalanya tertunduk menghembuskan napas kasar beberapa kali, terlihat jelas perasaannya sangat kalut dan kacau dari penampilan juga deru napasnya yang terdengar gusar penuh kesedihan.


"Gadis bodoh." Gumamnya pelan di iringi pejaman mata.


Ceklek.


Ibu Lily membuka pintu kamar, ia menekan stop kontak lampu untuk menyalakan lampu ruangan kemudian ia mengedarkan pandangan mencari Jhon. Dan pandangannya jatuh pada sesosok pria yang terduduk lemah ambruk di lantai, bawah sofa panjang ujung ranjang.


"Atan." Panggilnya menghampiri, kemudian duduk di atas sofa yang jadi senderan Jhon sehingga kaki Ibu Lily bersentuhan dengan badan Jhon. "Ceritalah ada apa Nak?" Mengusap lembut rambutnya.


Jhon yang masih menundukkan kepala dengan tangan tertumpu di sebelah kaki yang di tekuk. Ia mendesah berat sebelum berucap. "Ibu... Rikaa...," lirih Jhon serak, air matanya telah berhasil tembus mengalir di kedua pipi.


Nak Rika... kedua mata Ibu Lily sedikit melebar saat mendengar suara sedih Jhon. "A-Ada apa dengan Nak Rika? Katakanlah dengan jelas?"


Seperkian detik Jhon bungkam, hanya hembusan napas yang terdengar gusar darinya. "Apa aku pembawa sial bu? Apa... apa aku selamanya tidak akan bahagia? Apa aku tidak boleh mencintai wanita dan melamarnya?"


Ibu Lily terhenyak dengan apa yang di dengarnya, lalu dengan gerakan kaku perlahan ia memegang sebelah bahu Jhon. "Apa maksud mu Nak? Kenapa berkata seperti itu?"


Pria tampan itu menghela napas panjang, memejamkan mata sejenak. "Dia... dia kecelakaan mobil dan... dan sekarang...koma," tutur Jhon terbata dan lemah.


"Ko-koma!" Kaget Ibu Lily dengan mata melotot dan bibir ternganga.


Jhon mengangguk pelan, menempelkan kening ke tangan yang berada di atas lutut tertekuknya. "Dia kecelakaan setelah aku berencana menikahinya, seperti Sanny dulu."


Grep.


"Tidak Nak." Ibu Lily langsung merangkul bahu Jhon dan dengan reflek Jhon memeluk kedua lutut ibunya menyembunyikan wajah di pangkuan sang Ibu.


"Aku pembawa sial bu. Aku pembawa duka untuknya."


Degh... serasa pukulan keras terhadap hati Ibu Lily saat merasakan tetesan demi tetesan air mata Jhon yang menyentuh kulitnya. "Atan, kamu tidak boleh berkata seperti itu Nak. Kamu bukan pembawa sial."


Bahu Jhon bergetar akibat goncangan oleh tangisan yang tersedu dan tertahan. "Dia terbaring bahkan tak bergerak sama sekali... aku... hiks...hiks... aku harus bagaimana bu?"


"Atan." Tanpa sadar air mata Ibu Lily ikut mengalir, ia mengusap rambut anaknya dengan pelan. Hatinya serasa remuk redam menyaksikan kesedihan Jhon yang begitu terpuruk dan terguncang.


Tuhan kenapa harus terulang kembali di saat anak ku mulai menemukan kembali kebahagiaannya?


"Ibu... aku harus bagaimana? Aku sungguh takut kehilangannya tapi aku pembawa sial untuk mendekatinya.... aku harus bagaimana bu? Katakanlah, aku harus bagaimana?" Ceracau Jhon serak nan berat.


Ibu Lily bungkam hanya bisa ikut menangis dan mengusap rambut anaknya mencoba menenangkan kesedihan Jhon. Nak Rika... setega inikah kamu Naak, setelah membuka hati anak ibu.


BERSAMBUNG...


Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...

__ADS_1


__ADS_2