Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 65


__ADS_3

Dua minggu kemudian.


Hari ini gadis manis yang masih belum bisa berjalan itu memilih keluar rumah sakit lebih awal dan berencana menjalankan rawat jalan. Jhon sudah membawa Rika ke dalam mobil, yang saat ini mereka berdua tengah dalam perjalanan pulang.


Rika tampak termenung di kursinya, menatap ke arah luar jendela. Aneh, kenapa Mama, Papa, Annisa, bahkan si Ray tidak berkunjung sejak kemarin. Ada apa dengan mereka?


"Gadis bodoh." Panggil Jhon tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.


"Iya Jojo." Menoleh cepat ke arah samping, dimana pria itu tengah mengemudi.


"Apa yang kau pikirkan? Sedari tadi kau hanya diam saja."


"Aku hanya kepikiran Mama saja. Apa aku pulang hari ini, mereka mengetahuinya? Tapi mereka tak ada yang mengunjungi ku sejak kemarin."


Jhon tersenyum, mengusap puncuk kepala gadis manis itu sambil melirik sekilas. "Jelas mereka mengetahuinya."


"Benarkah? Tapi kenapa mereka-"


"Kau akan tahu nanti setelah sampai di tempat yang akan kita kunjungi sekarang."


Alis Rika tertaut bingung menatap tanya. "Kamu mau membawa ku kemana? Bukannya kamu akan langsung membawa ku pulang?"


Jemari tangan Jhon turun mengusap lembut pipi putih sedikit kemerahan itu. "Tidak, kita akan berkunjung ke tempat yang akan mengikat kita terlebih dahulu baru setelahnya kita pulang kerumah kita."


Alis Rika semakin berkerut dalam, ia mengalihkan tatapannya ke arah lain dengan sorot mata terlihat termenung berpikir. Rumah kita? Mengikat kita?


Setelah sekian detik ia mencerna kata-kata itu, sontak Rika kembali menoleh cepat pada pria di sampingnya. "Ma-ma-maksud nya, kita... kita-"


Jhon tersenyum misterius, melambatkan kecepatan laju mobil kala mobil yang di kendarainya memasuki area gedung yang penuh dengan hiasan rangkaian bunga.


Rika menolehkan kepala ke arah jendela melihat sekitar luar mobil. Ini gedung, tapi kenapa seperti ada pesta pernikahan? Apa maksudnya kita akan menghadiri pernikahan? Tapi...


Gadis manis itu melihat penampilannya yang hanya memakai baju terusan biasa. Aku belum siap-siap, di tambah kaki ku yang masih harus memakai kursi roda. Apa Jojo tidak malu membawa ku kemari?


"J-Jojo. Kenapa kamu membawa ku kemari? Dan gedung ini sepertinya sedang ada pesta pernikahan?"


"Hmm." Gumam Jhon menyahuti.


"Terus acara pesta pernikahan siapa ini? Aku masih belum bisa berjalan, akan membuat mu malu nantinya. Jadi lebih baik bawa aku pulang saja Joe."


Jhon melepaskan seat belt saat mobilnya telah berhenti di area parkiran khusus gedung tersebut. Dia keluar mobil tanpa menjawab pertanyaan dari gadis manis itu, dan mengeluarkan kursi roda dari bagasi. Lalu membukakan pintu mobil kursi penumpang depan.


"Jojo, aku lagi nanya loh. Jawab dulu," Rajuk Rika yang tak mau turun dari mobil.


"Turun dulu, bodoh. Nanti kau akan tahu sendiri." Jhon merunduk setengah badannya masuk ke dalam mobil untuk melepaskan seat belt yang melingkar di tubuh gadis manis itu.


"Kamu... kamu sedang apa Jojo? Aku... aku tidak akan keluar dari mobil ini." Gagapnya dengan wajah sudah memerah merona.


"Gadis bodoh, turunlah." Pria tampan itu menegakkan kembali punggungnya, berdiri di lawang pintu terbuka.


Rika melipat kedua tangan di depan, membuang muka. "Gak mau, sebelum kamu jawab dulu pertanyaan ku. Kita mau ngapain kesini? Dan ini pernikahan siapa?"


Hah... menghela napas panjang, dan secara tiba-tiba Jhon membungkuk menyelipkan kedua lengan di antara tubuh Rika lalu menggendong tubuh mungil itu.


"Jojo. Jangan gendong aku! Turunkan aku!" Memberontak dari gendongan dengan pandangan melihat sekitar area parkir yang terlihat hanya beberapa pria berjas rapih berkacamata hitam saja di sekelilingnya.


Jhon tak memperdulikan rontaan dari gadis yang di gendongnya, ia mendudukkan tubuh gadis tersebut ke atas kursi roda. Dan...


Grep.


Memegang kedua lengan kursi untuk menghadapkan tubuh Rika ke arahnya. Pria tampan itu berjongkok menatap serius. "Oke aku akan menjawabnya, ini... adalah hari bahagia, hari pernikahan kita."


"Hah!" Kaget Rika dengan mata terbelalak tak berkedip dan bibir ternganga. Pe-pernik...ahan ki...ta?


Dengan lembut Jhon menangkup kedua sisi wajah Rika dengan kedua tangannya. "Kenapa ekspresi wajah mu seperti ini? Kau tak bersedia menikah dengan ku? Kau ingin membatalkannya?"


Namun tak mendapat tanggapan apa pun dari Rika yang masih shock terpaku diam membisu. Apa... apa aku sedang bermimpi? Menikah? Jojo...

__ADS_1


Menghembuskan napas pelan, ibu jari tangan Jhon mengusap lembut pipi gadisnya. "Aku sudah pernah bilang pada mu, aku adalah orang pemaksa yang tak suka di tolak. Jadi meskipun kau bilang tidak bersedia atau tak menyukai ku, kau harus tetap menjadi milik ku dan tetap begitu. Karena hati ku telah memilih mu, gadis bodoh."


Rika masih saja membatu dengan mata tak berkedip terpaku diam, pikirannya blank linglung tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Ini... ini nyata kah?


Jhon kembali menghela napas pelan saat tak mendapat respon apa pun dari gadis manis yang membatu itu, ia bangkit dari duduknya memberikan isyarat gerakan kepala pada beberapa bodyguard yang berdiri di sekitarnya.


Dan dua pria berjas hitam rapih, menghadap padanya.


"Antarkan calon istri ku, ke ruang rias."


"Baik tuan Jhon." Serempak keduanya lalu mengambil alih pegangan kursi roda dan mendorongnya ke arah pintu lift yang tidak jauh dari sana.


Rika masih diam membeku tampak termenung linglung, sadar tak sadar jika dirinya sedang di dorong oleh pria berjas menjauh dari Jhon.


-------------------------


Kata sah telah menggema di aula utama gedung yang menjadi acara sakral Rika dan Jhon. Senyuman kebahagiaan terus mengembang dari semua orang yang hadir di sana, dan tiba saatnya sang mempelai wanita yang berada di ruang rias di persilahkan untuk memasuki aula agar naik dan bersatu bersama sang pria yang telah sah menjadi suaminya. Namun setelah acara ijab kabul di ucapkan, Jhon langsung beranjak pergi meninggalkan pesta menuju ruangan lain.


"Ibu mertua, bolehkan saya sendiri yang menjemput Rika?" tanya Jhon saat dirinya telah berdiri di depan pintu kembar ruangan rias.


Ibu Asih yang baru saja menutup pintu ruangan itu, membalikkan badannya, ada kilatan keraguan. "Kenapa Nak Jhonathan bisa ada di sini? Seharusnya kan menunggu di pelaminan."


"Saya ingin menjemput ratu ku." Ucapnya tersenyum.


"Tapi tidak ba-"


"Mah, sudah biarkan saja. Kita menunggu mereka di aula." Suara Pak Adi yang baru datang bergabung, menghentikan bantahan Ibu Asih.


Hah... menghela napas pelan dan mengangguk kecil. "Baiklah, kami tunggu kalian di aula." Ucap Ibu Asih sambil lalu menggaet lengan suaminya.


Pria tampan dengan setelan tuxedo putih itu tersenyum senang, tangannya terulur mendorong pintu kembar di hadapannya dengan pelan.


Sreet.


Pintu tersebut terbuka lebar, ia memasuki ruangan lalu menutup kembali pintu itu dengan rapat dan tak lupa mengunci nya.


Jhon berbalik, mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan untuk mencari gadis manis yang telah sah menjadi istrinya. "Gadis bodoh ku," gumam Jhon tersenyum, saat pandangan matanya jatuh pada sesosok gadis bergaun pengantin warna putih dengan rok mengembang indah terduduk di kursi depan kaca rias. Dia melangkah pelan menghampiri Rika. Lalu...


Grep.


"J-jojo." Rika terhenyak melirik malu pada pria yang memeluknya. Suara jantungnya begitu kencang terdengar oleh gendang telinganya sendiri menciptakan rasa panas menjalar di sertai pipi merah merona, perlahan kedua tangannya yang gemetar terangkat memegang lengan yang melingkar di bahu. "Kamu... kamu... apa ini?"


Pria tampan berjas tuxedo itu melepaskan pelukannya, beralih melangkah setengah memutari tubuh yang terduduk di kursi. Lalu ia berlutut di hadapan Rika. "Gadis bodoh...," terjeda sejenak menghela napas pelan sebelum meneruskan ucapannya. "Apa kau masih tak mau menerima, karena aku menikahi mu."


Rika menggeleng cepat, sebelah tangannya terulur menyentuh pipi Jhon. "Be-benarkah ki-kita sudah menik-kah? Ma-ma bilang begitu."


Jhon merangkul dan melingkarkan tangannya di pinggang Rika. "Benar sweety, kau sekarang adalah istri ku."


Air mata haru perlahan mengalir di kedua sudut mata Rika, tatapannya sayu dengan tangan masih menangkup wajah Jhon. "Kau suamiku, Jojo?"


"Hemm, mulai sekarang dan selamanya aku Imam mu." Mengangguk mantap untuk meyakinkan dan mengusap air mata di pipi Rika.


"Kalo gitu... aku... aku,"


harus melakukan ini untuk meyakinkan diriku sendiri.


Rika merundukkan kepala dengan gerakan pelan mendekatkan wajahnya pada wajah pria tampan itu, sehingga jarak wajah mereka hanya beberapa cm membuat terpaan hembusan napas keduanya bertemu. Perlahan Rika memejamkan mata nya saat jarak wajahnya semakin terkikis mendekat. Lalu...


Cup.


Dia melabuhkan bibirnya di bibir Jhon, membuat pria yang di ciumnya terbelalak terkejut. Gadis bodoh? Dia... dia mencium ku!


Seperkian detik bibir mereka menyatu hanya menempel saja, dengan di iringi air mata haru yang terus mengalir di pipi Rika.


Rika menjauhkan wajahnya masih menangkup wajah Jhon, ia menatap sayu penuh kebahagiaan. "Kau tidak menolak? Itu... itu artinya, ini nyata. Kau sudah jadi... suamiku."


"Bo-bodoh." Gagap Jhon tertegun menatap kaku sejenak, ada rona merah menghiasi kedua pipinya. Kemudian dengan gerakan cepat, ia menangkup sebelah sisi wajah Rika dengan tangan lainnya menekan tenguk leher gadis manis itu agar merunduk hingga...

__ADS_1


Cup.


Bibir mereka kembali menyatu, kali ini Jhon dengan lembut penuh perasaan ia melahap ******* bibir merah gadis manis itu untuk meluapkan perasaan yang membara bergejolak oleh kebahagiaan tak terkira dalam hatinya.


Selang beberapa lama.


Tok...tok...tok.


Sebuah ketukan dari pintu, membuat Rika terperanjat membuka mata. Dia memukul bahu Jhon agar menghentikan kegiatannya.


Dan dengan enggan Jhon melepaskan pagutan di bibir gadis manis yang sudah sah menjadi istrinya dua jam yang lalu. "Aarrgh, ganggu aja." Geramnya menjatuhkan kepala dalam pangkuan Rika.


"Maaak... Bang Jhon. Kalian berdua lagi pada napa di dalem? Lama amat dah. Para tamu sudah pada lumutan tuh berdiri nungguin mempelai ke pelaminan." Suara Ray di selingi oleh ketukan di pintu.


"Jojo... kita harus segera kesana." Rika mengusap pelan rambut Jhon.


Jhon menghela napas panjang, mengangkat kepala menatap mendongak. "Baiklah, kita kesana sekarang."


"Maaak... Bang Jhon, cepetan woy. Lagi pada ngapain sih? Inget acara pesta belum selesai tapi udah mojok indehoy aja nih pengantin." Celoteh Ray lagi.


"Iya, iya bentar banci. Berisik amat dah." Sahut Rika sebal.


Jhon tersenyum, mengusap bibir merah Rika yang warna lipstiknya sudah berantakan akibat ulahnya. "Kau sangat cantik sweety." Kembali menghadiahkan kecupan bertubi di bibir merah itu.


Sweety... Rika merona parah, menundukkan kepalanya tersipu. "Jojo, ambilkan kursi roda ku." Cicitnya malu-malu.


Terkekeh geli, Jhon mengecup puncuk kepala yang terbalut kerudung itu. Lalu ia membungkuk merangkul pinggang Rika, juga menyelipkan lengan ke bawah tengkuk lutut dan...


Grep.


Dia menggendong ala bridal style pengantinnya.


"Jojo!" Pekik Rika reflek memegang bahu Jhon.


Jhon tersenyum mempererat pelukan di pinggang gadis manis itu sehingga wajah mereka berdekatan. "Kau tak perlu kursi roda, sweety. Karena aku siap menggendong mu kemana pun kamu mau."


Puk...puk.


Rika memukul pelan bahu Jhon, semakin tersipu merona. "Jojo ku, jadi bermulut manis gini yah."


Tertawa pelan, Jhon mulai melangkah ke arah pintu keluar dengan sesekali melihat wajah gadis manis dalam gendongannya.


kreet.


Pintu kembar itu di tarik oleh Rika dan terbuka lebar.


Mereka berdua langsung di sambut oleh Ray, Egi dan Annisa menyerbunya dengan godaan.


"Bang ini mau kepelaminan bukan ke ranjang, napa si Mak di gendong segala? Kagak malu di lihatin banyak mata, bang." Goda Ray yang mengimbangi langkah kaki pengantin pria itu.


"Kenapa harus malu? kita kan sudah sah." Sahut Jhon dengan tatapan tak teralihkan pada gadis manis di gendongannya.


"Bancii dieem." Cicit Rika menyembunyikan wajahnya di dada Jhon.


Puk...Puk.


Egi yang berjalan sambil merangkul pinggang Annisa, menepuk pelan bahu Ray. "Bilang aja lo panas, and ngiri."


Ray melambatkan langkah kakinya, beralih mengimbangi langkah Egi. "Ck, lo tahu aja isi hati gue brother."


Annisa tersenyum senang, merapatkan diri ke rangkulan Egi. "Ray, Asyila nungguin kamu terus loh di aula."


"Hah, kok jadi Lala sih." Membuang muka ke arah lain. "Udah ah, gue mau balik dulu ke habitat." ucapnya sambil lalu yang di sambut kekehan geli dari sepasang suami istri itu.


Annisa beralih menatap ke arah depan hanya berjarak beberapa langkah darinya yang dimana Jhon terlihat tersenyum bahagia berbincang dengan Rika yang ada dalam gendongannya. Kemudian ia beralih melirik sang suami, sebelah tangannya melingkar ke pinggang Egi. "Terimakasih, Egi sayang. Kamu sudah menyatukan mereka."


Egi tersenyum mengecup puncuk kepala Annisa dan membelainya. "Kau juga sudah bekerja keras, sayang."

__ADS_1


THE END.


Jangan Lupa LIKE Yaaa 😊.


__ADS_2