Pejuang Move On

Pejuang Move On
Cemburu


__ADS_3

Sementara di luar kamar arga di depan pintu tunggal.


Tang tengah berdiri sendiri dekat pintu, sedang cesa berjaga di dalam ruangan luar dekat pintu kembar yang menghubungkan ke kamar arga.


Sekertaris Tang tampak sibuk dengan ponsel nya, dan menyender dengan kaki di tekuk satu ke dinding dekat pintu tunggal, tanpa memperhatikan sekitar nya.


"Ekhem.." dehem Annisa yang baru datang.


Tidak mengalihkan pandangan dari layar ponsel, "ada apa nona Annisa datang ke pintu kamar ini, bukankah kamar nona sebelah sana?" Tanya Tang dengan pandangan tetap fokus ke ponsel.


Annisa mendekati dan berdiri di hadapan Tang. "Saya ingin bertemu dengan mbak misa, bisakah saya masuk ke dalam kamar untuk melihat nya?" Tanya Annisa.


Tang melirik sekilas ke arah Annisa lalu kembali lagi menatap layar ponsel, "nona sedang tidak boleh di ganggu, karena tengah ada pemeriksaan kondisi nya. Jadi, lebih baik nona Annisa lain kali saja bertemu nya," tegas Tang.


Menghela napas pelan, "padahal saya hanya ingin bertemu sebentaar saja, hanya ingin memastikan keadaan mbak baik baik saja, agar hati saya tenang," tutur Annisa dengan nada kecewa.


Sekertaris Tang mematikan layar ponsel dan memasukkan ponsel ke saku jas nya.


Menegakkan tubuh nya dan menatap annisa dengan tatapan dingin, "tenang saja nona Annisa, nona romisa akan baik baik saja. Sekarang dalam pemeriksaan, apa anda tidak percaya dengan dokter terbaik yang saya bawa kemari untuk memeriksa keadaan nona romisa?" Ucap Tang dengan nada tegas.


Annisa mendongak membalas tatapan Tang, "tentu saja saya percaya pada anda, sekertaris Tang. Anda tidak akan merekomendasikan sembarang dokter untuk mbak misa." Ucap Annisa yakin kemudian tersenyum.


"Hmm... baiklah, jika saat ini saya tidak bisa melihat nya, bisa lain kali saya menemui mbak." Sambung Annisa dan menunduk hendak berjalan ke arah pintu kamar nya.


Namun pandangan Annisa jatuh ke dasi hitam yang di pakai sekertaris Tang, alis Annisa terangkat sebelah lalu tersenyum mengejek. Dan hal itu tidak luput dari pandangan mata Tang.


Alis nya berkerut heran, "kenapa anda tersenyum seperti itu?" Tanya Tang.


Annisa masih tersenyum dan mengedikkan dagu ke arah dasi yang di pakai Tang, "sepertinya anda sangat terburu buru datang kemari, sampai sampai penampilan anda yang selalu sempurna, terlihat sedikit kacau hanya karena sebuah simpul dasi yang tidak rapih," tutur Annisa.


Pandangan mata Tang turun melihat ke arah kerah kemeja yang dimana di sana ada dasi yang terikat, Tang mencoba merapihkan dasi nya. Namun, tiba tiba terlintas ide gila dalam otak Tang, Ia menatap Annisa dan tersenyum kecil.


"Nona Annisa bisakah anda merapihkan dasi saya? Saya tidak bisa melakukan nya, karena biasa yang mengikat dasi saya adalah asisten di rumah," pinta Tang.

__ADS_1


Seketika senyuman di bibir Annisa meredup dan memicingkan mata menatap Tang menyelidik, "benarkah yang anda katakan sekertaris Tang, anda tidak sedang merencanakan niat jahat untuk saya kan?" Tanya Annisa kemudian tersenyum meledek.


Tang terkekeh pelan, "tidak nona, saya berkata jujur. Jadi bisakah anda melakukan nya? Saya janji tidak akan menyentuh seinci pun kulit nona," ucap Tang sembari mengangkat kedua tangan ke samping badan nya, yang sejajar dengan bahu.


Menghela napas pelan, "baiklah, sini anda menunduk sedikit, karena badan anda begitu tinggi jadi saya perlu mengimbangi tinggi leher anda," pinta Annisa dengan gerakan mengibas kedua tangan nya agar Tang menunduk.


Sekertaris Tang menurut menundukkan kepala nya sedikit dan menatap lekat wajah annisa.


Nona annisa, andai saja kau belum di persunting oleh s egi. Mungkin kau sekarang akan menjadi milik ku.


Dan annisa menarik dasi Tang kemudian membongkar nya untuk membuat simpul dasi baru. Dan baru saja annisa membongkar simpul dasi Tang, tiba tiba sebuah teriakan yang sangat keras, menggema di lorong itu.


"Brandall.." teriak egi yang baru datang dan berdiri tidak jauh dari kedua nya.


Membuat Annisa terperanjat, dan langsung menoleh ke arah nya. "Egi.." celetuk Annisa dan reflek melepaskan pegangan tangan pada dasi Tang.


Egi menatap tajam ke arah kedua nya, dan menghampiri Annisa.


Pengacau umpat Tang.


"Kenapa kau malah berdiri di sini, bukannya kau bilang pada ku akan mengambil tas," tegas egi menatap dingin ke annisa yang menunduk kan pandangan nya.


"Aku..aku hanya bertanya, apa aku bisa menjenguk mbak misa. Tapi ternyata tidak bisa, jadi...jadi.. aku .." ucapan annisa tergantung karena egi dengan tegas nya memotong ucapan annisa.


"Sekarang kau ke kamar, ambil tas." Tegas egi pada annisa tanpa menoleh ke arah nya.


"I..i..iya, a..aku ke kamar," gagap Annisa dan berlalu meninggalkan kedua nya yang tampak mulai bersitegang.


Sepeninggalan Annisa.


Sekertaris Tang tersenyum kecil dan menatap kepergian annisa yang sudah hilang di balik pintu kamar egi.


Egi segera menarik kerah jas Tang dan mencengkram nya kuat. "Kau masih bisa tersenyum seperti itu Tang. Sedang yang kau lakukan adalah kesalahan, berani nya kau mendekati istri ku," ucap egi geram.

__ADS_1


Tang tersenyum mengejek dan mengangkat kedua tangan nya di depan, "hey..tenanglah tuan egi, kenapa anda marah? Saya tidak melakukan kesalahan apa pun, kita hanya tengah membenarkan dasi saja," tutur Tang membuat egi semakin kesal.


"Kau.." geram nya, "jangan panggil kita untuk istri ku, aku tidak mengizinkan siapa pun mendekati istri ku, termasuk kau, Tang." Tegas nya lalu melepaskan cengkraman di kerah jas.


Terkekeh pelan, "kenapa? Anda saja begitu terhadap tuan arga, yang ingin mendekati nona romisa sampai memaksa tuan arga untuk membiarkan anda agar bisa tetap di sisi nya. Kenapa saya tidak bisa melakukan hal yang sama pada nona Annisa, yang merupakan wanita pengganti untuk di ajak sandiwara oleh anda, bukan begitu tuan egi yang terhormat?" Tutur Tang.


"Diam!!" Bentak egi.


"Tahu dari mana kau, jika aku dan dia hanya bersandiwara. Jangan ngasal kalau bicara, dia istri ku dan tetap akan menjadi istri ku. Jadi kau tidak berhak mendekati nya, selangkah pun tidak berhak." Tegas egi dengan tatapan tajam.


Mendengus dan tersenyum miring, "apa yang tidak saya ketahui mengenai keluarga ini, tuan egi. Semua nya saya mengetahui nya hingga ke hal yang terkecil sedikit pun, dan soal berhak dan tidak berhak saya mendekati nya. Nona Annisa yang berhak memutuskan nya, kau sebagai pria yang mengajak nya kerja sama, tidak ada berhak melarang saya, tuan egi." Ucap Tang dengan nada menantang.


"Kau.." geramnya mengepalkan tangan kuat.


Annisa yang baru keluar dari kamar, berdiri mematung melihat kedua nya yang tampak bersitegang dan bersitatap tajam.


"Egi.." panggil annisa, berjalan menghampiri kedua nya.


Egi menoleh sejenak dan menghembuskan napas kasar.


Ada apa dengan mereka. Padahal kan aku hanya membenarkan dasi nya s Tang linggis. Tapi tadi s egi terlihat sangat marah begitu, apa s egi salah paham lagi terhadap ku, seperti waktu aku cukup dekat dengan Ray teman nya itu.


Annisa telah berdiri di samping egi dan meraih sebelah lengan nya, "Egi.. ayo kita berangkat, nanti kamu telat datang ke sekolah nya." Ucap Annisa memutus tatapan tajam egi ke Tang.


Beralih menatap Annisa yang ada di samping nya, kemudian beralih mencekal lengan Annisa.


Kembali menatap Tang. "Milik ku tidak akan ku biarkan orang lain menyentuhnya apalagi merebutnya. Ingat itu Tang," tegas egi penuh ancaman.


Lalu egi berjalan ke arah lain sembari menarik sebelah lengan Annisa.


Sekertaris Tang tersenyum kecil, "sepertinya dia telah menyukai nona annisa, dan sepertinya mengasyikkan juga jika ikut bermain memanasi mu egi," gumam Tang, kemudian melirik dasi yang mengalung di leher nya yang belum terikat.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2