Pejuang Move On

Pejuang Move On
Pernyataan Alan


__ADS_3

Pulau Cemara yang terletak cukup jauh dari kota tinggal nya Egi, untuk sampai ke pulau itu egi sengaja menggunakan pesawat jet pribadi, agar sampai lebih cepat ke tempat Annisa berada.


Setelah melewati perjalanan yang memakan waktu setengah jam dalam pesawat jet pribadi, kini egi yang di supiri Jhon tengah membuntuti mobil yang di tumpangi tuan Atmadja yang akan membawa nya ke villa dimana Annisa berada.


Sementara bodyguard ayah putra mengikuti mereka dari belakang mobil Egi.


"Jhon. Apa yang ayah diskusikan dengan tuan Atmadja itu?" tanya Egi memecah keheningan setelah lama dari tadi saling diam membisu merapatkan bibir dan sibuk dengan pikiran masing masing.


"Saya tidak tahu tuan Egi. Hanya pesan tuan besar, anda bebas melakukan apa pun terhadap laki laki itu kecuali membunuhnya. Karena tuan Atmadja tidak akan melarang nya mengenai tindakan anda di sana," tutur Jhon dengan pandangan fokus ke jalanan.


Egi yang semula melirik ke luar jendela, ia mengalihkan pandangan menatap ke depan ke arah jhon yang ada di kursi kemudi kemudian tersenyum tipis. "Tadi nya aku berniat menjatuhkan laki laki itu sampai ke titik terrendah sehingga di pandang jijik oleh semua orang yang melirik nya. Tapi niatan ku terputus, mengingat Annisa pasti tidak ingin mempunyai suami yang menggunakan hal keji membalaskan perbuatan laki laki gila itu. Meskipun tindakan laki laki sialan itu sangat keterlaluan dan sudah melanggar batas kewajaran."


"Sepertinya karena hal ini juga, tuan besar segera bertindak langsung ke tuan Atmadja," Jhon menyahuti ucapan Egi.


Menautkan Alis menatap tajam. "Maksud mu?" tanya Egi.


"Bertindak langsung dan melakukan perundingan dua belah pihak agar tidak ada pihak yang merasa berat dan di rugikan, tuan besar mengambil langkah ini, untuk menetralkan tanpa ada nya permusuhan berkelanjut di masa nanti, jadi menurut saya langkah tuan besar sangat efektif dalam mengambil keputusan," jelas Jhon.


Egi mengangguk paham dan tersenyum kecil, mengalihkan kembali pandangannya ke jendela mobil, untuk melihat keluar.


-------------


Di sebuah villa berlantai dua yang di kelilingi pohon pohon tinggi, karena di belakang dan sisi kiri villa itu terhampar hutan hijau.


Annisa yang masih terbaring di atas kasur, perlahan mengerjapkan mata yang terasa berat dan perih, dan dengan gerakan pelan ia menggerakkan tangan nya yang terasa kaku untuk memijat pelipis, karena kepala nya terasa sangat berdenyut pusing.


"Dek Annisa, akhirnya kau sadar juga...," suara tegas penuh nada ramah yang tidak terdengar asing di telinga Annisa.


Annisa mencoba menarik diri nya ke kesadaran yang nyata karena ia masih di ambang sakit akibat limbung di kepala nya membuatnya sedikit tersiksa untuk membuka mata nya penuh.


"Biar kakak bantu untuk bangun dek Annisa," suara itu lagi menarik perhatian Annisa untuk segera sadar ke kehidupan nyata nya.

__ADS_1


Memaksakan melebarkan mata penuh dan melirik ke arah orang yang sedari tadi bersuara. Seketika mata Annisa memicing alis nya berkerut bingung. "Kak Alan...," ucap Annisa dengan suara serak dan lemah karena tenggorokan nya terasa kering.


Kenapa dia ada di sini? Dimana aku sekarang?


Mengedarkan pandangan nya ke segala penjuru kamar tempat nya terbaring. Mata annisa benar benar melebar kaget dengan lingkungan yang asing di mata nya, dan langsung tersadar dengan situasi nya saat ini. Dengan gerakan waspada Annisa memeriksa keadaan diri nya untuk menengok ke bawah selimut dan meraba kepala nya.


Syukurlah... aku masih berpakaian lengkap, tapi kenapa aku bisa berada di kamar ini bersama kak Alan? Apa yang terjadi pada ku?


Annisa masih mengedarkan pandangan nya. "Ini...ini dimana? Dan sudah jam berapa sekarang?" tanya Annisa bingung.


Alan yang duduk di kursi samping ranjang. Terkekeh pelan melihat kebingungan Annisa. "Kita tengah ada di villa kakak, dan sekarang telah memasuki malam hari," ucap Alan menyahuti dengan nada ramah yang biasa di gunakan jika mengobrol dengan Annisa.


Seketika Annisa menoleh ke arah nya dengan mata sedikit melebar terkejut. "Vi..vi..villa? Dan Ma..malam? Apa yang terjadi, dan kenapa Annis ada di sini?" Pertanyaan beruntun meluncur dari bibir annisa karena bingung.


Tersenyum senang. "Berlibur... kakak sengaja mengajak dek Annisa kemari untuk berlibur, dan hanya kita berdua," sahutnya tenang.


"Berdua? berlibur? Annisa tidak butuh itu semua. Dan kenapa kak Alan membawa annisa seenak nya kemari, ingat kita bukan mahrom kak!" teriak Annisa kemudian mengedarkan kembali melihat sekeliling kamar yang ternyata benar benar hanya berdua di sana. "Dan bahkan kak Alan membiarkan kita sekamar, annisa ingin pulang," lanjut Annisa.


Alan tetap mengembangkan senyuman ramah nya dan menatap annisa. "Tenang saja dek Annisa. Kita hanya berlibur beberapa hari, dan lagian Kakak tidak akan melakukan hal bejat seperti itu pada mu, karena bagaimana pun kau adalah wanita yang harus kakak jaga dan cintai," tutur nya.


Diam menatap lekat ke wajah Annisa. "Kakak mencintaimu dek Annisa, jadilah istri kakak dan tinggalkan bocah brengsek itu," tutur Alan dengan nada serius.


Terkejut dengan mata sedikit melebar menatap tidak percaya ke Alan. "Dari mana... kak Alan tahu jika... jika annisa telah bersuami?" terbata Annisa.


"Tidak perlu tahu, kakak tahu dari mana tentang itu dek annisa... yang terpenting jawaban mu adalah bersedia meninggalkan bocah brengsek itu dan hidup bersama ku," ucap Alan lalu sedikit memajukan tubuh nya mendekat ke Annisa.


Apa jadi itu artinya! Ini semua telah terencana oleh nya...


Reflek Annisa memundurkan diri hingga mentok ke kepala ranjang, dan meraih bantal yang ada di samping tubuh nya untuk di jadikan penghalang di antara Alan dengan diri nya. "Jangan mendekat kak... dan apa alasan aku untuk meninggalkan suami ku, dan menerima mu. Sementara aku sama sekali tidak punya perasaan yang sama seperti mu!" tegas Annisa.


Alan memundurkan kembali kepala nya dan membenarkan posisi duduk nya ke semula, lalu mengambil sebuah map putih dari atas meja nakas dekat ranjang. Ia meletakkan map putih itu ke hadapan Annisa di atas selimut yang di pakai annisa.

__ADS_1


Mengedikkan dagu ke arah Annisa. "Bukalah, setelah melihat itu semua. Dek Annisa akan tahu siapa sebenarnya wanita yang sangat di cintai bocah brengsek itu," titah Alan.


Dengan gerakan ragu annisa menurunkan bantal yang sedari tadi jadi penghadang wajah nya, lalu melirik map yang ada di pangkuan nya.


Apa itu?


Alan telah memasang senyuman misterius dan menatap annisa dengan penuh percaya diri. "Lihatlah dek Annisa."


Menghela napas pelan lalu dengan gerakan pelan Annisa meraih map putih itu, dan membuka nya untuk mengeluarkan isi map tersebut.


Mata annisa melebar terkejut dengan apa yang ada di pegangan nya. Dalam foto itu terlihat di setiap lembaran yang annisa buka, terpampang wajah wajah yang Annisa amat kenal yaitu wajah egi dan Romisa yang tampak sangat dekat, dan akrab. Meskipun tidak terlihat kemesraan yang adanya kontak fisik di antara kedua nya. Namun terlihat jelas dari tatapan mata egi terhadap romisa tersirat tatapan ketertarikan yang annisa pernah melihat nya langsung waktu itu.


Apa? Jadi benar dugaan ku, jika mbak adalah wanita yang membuat egi susah move on. Apakah mereka pernah saling cinta?


Annisa menerawang mengingat perkataan romisa yang pernah menceritakan tentang wanita yang di cintai egi, terlihat jelas romisa saat menceritakan pada nya. Bahwa di antara romisa dan egi tidak pernah ada hubungan asmara.


Tidak mungkin mbak misa seperti itu, aku tahu tentang mbak semua nya, dan mbak misa adalah wanita lugu dan lembut.


Alan tersenyum senang melihat ekspresi wajah Annisa yang tampak terkejut dengan apa yang di berikan nya. "Bagaimana dek Annisa. Kau sudah percaya jika bocah itu benar benar brengsek... dimana lagi sifat nya itu yang tidak akan di bilang brengsek, sedangkan kakak ipar nya sendiri dia embat untuk selingkuh di belakang kakak nya," ucap Alan memanasi Annisa.


"Dan asal dek annisa tahu... mereka berdua menjalin hubungan sudah hampir beberapa tahun lama nya dari ketika mbak angkat mu belum menjadi kakak ipar nya, hingga sekarang dia menjadi kakak ipar nya namun masih setia berselingkuh di belakang kakak nya," sambung Alan kembali memanasi annisa.


Mendengar alan yang merendahkan romisa, seketika darah annisa menaik mendidih sampai ke otak nya, mata nya mendelik tajam dan dengan sekuat tenaga yang masih tersisa, annisa mengangkat sebelah tangan nya lalu...


Plakk...


Annisa menampar keras wajah Alan sehingga terdengar nyaring suara tamparan itu di kamar nya.


Memegang pipi nya yang terasa panas dan berdenyut, lalu dengan gerakan kaku menoleh kan kembali kepala nya ke arah Annisa dan tersenyum miring.


Annisa menahan gejolak mual dan muak dari dalam diri nya terhadap laki laki yang saat ini ada di hadapannya, lalu dengan gigi mengkerat geram dan menatap tajam fokus ke Alan. "Jangan pernah kau memfitnah mbak ku yang tidak tahu apa apa. Aku yang lebih tahu tentang nya, sementara kau hanya orang baru yang melihat sekilas, berani sekali langsung menilai mbak misa dengan tuduhan rendah seperti itu..." cerocos Annisa menggebu dengan napas yang memburu. "Tapi baguslah dengan kejadian ini aku jadi bisa melihat warna kau itu seperti apa," lanjut Annisa.

__ADS_1


Tersenyum miring dan dengan gerakan pelan mengusap darah di sudut bibir nya yang perih. "Jika kau sudah tahu.. aku tidak akan sungkan lagi menunjukkan diri ku yang sebenarnya," ucap Alan dengan nada tajam.


BERSAMBUNG...


__ADS_2