
Suara adzan subuh berkumandang sangat indah di masjid terdekat. Perlahan mata Annisa mengerjap dan menggeliatkan tubuh. Lalu bangkit dari tidur nya, meregangkan otot otot tangan yang kaku dengan gerakan ke kiri dan ke kanan. Dan pada saat diri nya meregangkan otot tangan menengok ke sebelah kanan, Ia baru tersadar melihat ke atas kasur yang kosong yang ternyata hanya diri nya saja.
"Eh, Apa si Egi sudah bangun lebih dulu? Kenapa dia tidak membangunkan aku sih, menyebalkan," gerutu Annisa turun dari ranjang dan berjalan pelan ke arah pintu kamar mandi.
Ia melihat sekeliling walk in closet yang terlihat sedikit ada perubahan. "Kenapa tampak lenggang gini yah, dan apa dia tidak mandi? kenapa tidak terlihat ada pakaian nya yang kotor di keranjang?" Oceh Annisa, sambil mengusak rambut panjang nya, mengambil handuk kimono dari lemari handuk.
"Hoaam...," menguap menutup mulut terbuka dengan telapak tangan. "Mending aku segera membersihkan diri untuk subuh berjamaah dengan nya." Annisa memasuki kamar mandi sambil menyampirkan sebuah handuk kimono di bahu nya.
Selang beberapa waktu kemudian.
Annisa telah selesai membersihkan diri, sambil mengusak rambut basah nya dengan handuk kecil, Ia berjalan ke arah karpet tempat dia biasa shalat berjamaah dengan Egi. Alis Annisa tertaut bingung melihat sekeliling kamar nya yang kosong, sepi dan sunyi.
"Kemana dia? Kenapa tidak menyiapkan alat shalat? Apa dia berpindah kamar saat aku tertidur?" Pertanyaan beruntun yang keluar dari mulut Annisa, dan berjalan ke lemari untuk mengambil alat shalat dua sejadah, sarung, kopiah dan mukena.
Annisa yang sudah mengenakan mukena masih terduduk di sisi ranjang menunggu Egi, berharap untuk subuh berjamaah.
10 menit kemudian.
Ia menghela napas panjang. Melirik jam waker di meja nakas. "Sepertinya dia sudah subuh, rasanya tidak biasa dia melewatkan subuh tepat waktu, dan setelah shalat mungkin dia pergi ke Ayah mertua atau bisa jadi dia tidur lagi tapi dimana dia menyambung tidur nya." Bingung Annisa, lalu pandangan nya melihat pintu ruang belajar.
"Nanti saja aku cek, untuk sekarang aku segera shalat saja dari pada waktu subuh habis," Annisa beranjak berdiri di salah satu sejadah yang telah terhampar, lalu Ia mulai menggerakkan anggota tubuh nya untuk menjalankan shalat subuh secara munfarid (sendiri).
Kriing...kriiing..
Suara ponsel Annisa berbunyi yang berada di atas meja nakas. Ia yang tengah memegang butiran tasbih untuk wirid selesai shalat, Annisa beranjak mengambil ponsel dan duduk di sisi ranjang. Lagi lagi alis Annisa berkerut menatap bingung dengan nama pemanggil yang mengajak video call itu adalah nama Egi. Lalu dengan gerakan ragu, Annisa menggeser kursor di layar untuk mengangkat panggilan tersebut.
Terpampang jelas di layar ponsel, wajah tampan Egi yang menggunakan baju piama tidur. "Assalamualaikum, pagi sayang," sapa nya.
"Walaikumsalam, Pag...pagi," gagap Annisa yang masih bingung dan terheran.
Dia tidak terlihat seperti baru bangun tidur? Dan baju piama itu, kenapa dia masih memakai baju piama padahal hari sudah pagi? Apa benar dia tidak mandi?
"Kenapa kau memasang wajah ceria seperti itu sayang? Apakah kau mendapatkan berita bahagia?" tanya Egi membangunkan Annisa dari kebingungan nya.
__ADS_1
Mata Annisa memicing sebal. "Aku memasang wajah bingung dan heran, kenapa kau bisa mengartikan nya dengan keceriaan? Dasar aneh."
Lalu, Annisa menelisik wajah Egi dan background di sekitar belakang Egi yang tampak asing di mata nya. Lagi lagi alis Annisa berkerut bingung.
Itu bukan ruang belajar kamar ini, tapi tampak seperti tempat tidur.
"Kau ada dimana? Kenapa pakai video call segala? Padahal kita kan satu rumah, dan kau tidak mengajak ku subuh berjamaah, sungguh terlalu," omel Annisa memberenggut sebal.
Egi menunduk menghela napas pelan. "Di sini waktu subuh masih beberapa jam lagi sayang," sahut Egi memeluk bantal guling menyembunyikan sebelah wajah nya.
Benar dia berada di kamar, tapi kamar mana? Dan kenapa harus berpindah kamar?
"Kau masih bermimpi yah, atau kau baru terbangun tidur? Cepat kau bangun dan subuh dulu! Bahkan pakaian mu masih mengenakan piama, dimana kau biar aku gebrak," kesal Annisa menatap sebal ke Egi.
"Aku tertidur juga belum sayang, dan aku ada dimana kau bisa lihat sendiri." Egi mengganti posisi kamera menjadi kamera belakang untuk menunjukkan dimana diri nya berada.
Annisa yang melihat, ruangan kamar yang asing di mata nya, segera mengajukan tanya lagi ke Egi. "Kenapa ruangan kamar mu sangat asing? Itu bukan di rumah ini, apa kau berada di kamar ayah atau kamar tamu yang belum pernah aku masuki di rumah ini?"
Egi kembali mengganti posisi kamera sehingga menampilkan wajah nya yang tertekuk muram. "Aku bukan di rumah Ayah, juga bukan di rumah kita sayang...," terjeda sejenak menatap ragu ke Annisa.
Annisa menyengir kuda, tidak percaya menatap Egi. "Ka...kau pasti bercanda kan Egi? Jelas jelas kau semalam masih dalam pelukan ku, kapan kau kesana nya? Jangan becanda deh Egi, gak lucu. Apa karena kau masih di ambang mimpi jadinya ngelantur gitu. Maka nya cepat bangun, mandi dan subuh dulu."
"Aku serius sayang, aku pergi saat kau tertidur. Dan... jika kau tidak percaya, tanyakan pada Ayah yang akan menjelaskan lebih jelas nya," imbuh Egi mempertegas ucapan nya.
Tangan Annisa sedikit bergetar memegang ponsel karena kesal, dan mengalihkan pandangan ke sekeliling kamar. "Aku tidak ngerti maksud mu Egi, sudahlah cepat kau bangun! Atau tunjukkan aku, dimana kau tertidur? Dikamar tamu atau dimana?" ucap Annisa masih tidak percaya.
"Aku serius sayang, ini kenyataan aku sekarang ada di inggris. Lihat wajah ku, apa aku terlihat sedang becanda." Tegas Egi lagi.
Annisa menatap wajah dan sorot mata Egi yang terlihat sangat serius. Sejenak Annisa menatap diam, mencerna keadaan, lalu kembali tertawa pelan. "Kau bohong! Mana ada kau bisa ada di sana dalam waktu beberapa jam! Cepat katakan dimana kau sebenarnya!"
"Annisa!" Sentak Egi keras.
Annisa terperanjat dengan sentakan Egi, walaupun di telpon tapi suara keras dan tajam khas Egi terdengar sangat jelas oleh telinga Annisa. "Ke...kenapa kau menyentakku?" gagap Annisa.
__ADS_1
Terlihat jelas Egi mengusap kasar wajah nya, dan menghembuskan napas beberapa kali, Ia menatap serius ke Annisa. "Maafkan aku telah membentak mu sayang, tapi...," terjeda menghembuskan napas kasar.
"Aku serius dengan ucapan ku, jika sekarang aku ada di inggris," ucap Egi dengan raut wajah dan nada suara yang terdengar frustasi.
Seketika Annisa terpaku diam, menatap tanpa berkedip pada layar ponsel, mendengar kata serius yang di lontarkan Egi secara ulang, dan tatapan sorot mata Egi yang menandakan ucapan nya tidak ada kebohongan.
Dia berkata serius...
Annisa menggelengkan kepala beberapa kali. "Ini tidak mungkin, kau masih di sini kan Egi? Jangan membohongi ku! Becanda mu nggak lucu!"
Egi menunduk merasa bersalah. "Maafkan aku Annisa, aku terpaksa melakukan ini untuk masa depan kita," tutur Egi dengan nada rendah.
Aku tidak percaya ini semua.
Annisa tertawa pahit. "Aku akan mencarimu, kau bohong! Awas saja jika kau ketemu, akan ku tinju kau karena becanda mu nggak lucu," mematikan panggilan video call dari Egi secara sepihak.
"Aku yakin dia masih di sekitar kamar, dia pasti bersembunyi di salah satu ruangan kamar ini," oceh Annisa menaruh ponsel dengan kasar ke meja nakas.
Kemudian dengan cepat Annisa melepaskan mukena, dan berjalan mencari ke setiap sudut ruangan kamar, Ia berlarian kesana kemari mencari dari balkon, ke walk in closet memeriksa setiap lemari perlengkapan Egi yang sudah hilang sebagian, dan terakhir ke ruang belajar yang tampak tenang dengan rak rak buku masih tersusun rapih di tempat nya.
"Dia tidak ada di ruangan kamar, pasti dia berada di salah satu kamar tamu rumah ini." Ucap Annisa sambil berjalan gontai mendekat ke meja belajar,
Namun tiba tiba tatapan mata Annisa terjatuh pada sebuah buku dan secarik kertas di atas meja. Ia meraih secarik kertas itu, lalu melihat isi nya.
Ini tulisan tangan Egi... aku pernah melihat tulisan dia saat itu, aku yakin ini tulisan nya.
Dengan tangan sedikit gemetar, Annisa mulai membaca tiap baris tulisan yang Egi tulis di atas kertas itu. Seketika tubuh Annisa merosot jatuh ke bawah samping meja belajar, mata nya melebar tidak percaya, bibirnya sedikit menganga tertutup sebelah telapak tangan, Ia menggenggam kertas yang tengah di pegang nya. "Dia...dia benar pergi," celetuk nya tidak percaya dengan yang di baca.
Ia menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan. "Dia meninggalkan aku...hiks.. kenapa dia pergi tanpa pamit pada ku?" Oceh Annisa di sela tangisan nya yang sudah tidak terbendung.
"Inggris itu sangat jauh...dan..dan dia akan menggantung ku selama bertahun tahun, Egiii... kau tega. Setidaknya kau berpamitan pada ku...hiks.."
Annisa melihat kembali tulisan Egi di kertas yang di genggam nya. "Pantas saja semalam dia bersikap aneh, rupa nya dia akan meninggalkan aku..., Egiii seharusnya kau berpamitan terlebih dahulu pada ku, jangan seperti ini...hiks.. rasa nya menyakitkan," mengusap air mata nya dengan kasar.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Sempatkan Klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa....