Pejuang Move On

Pejuang Move On
Pesta Telah Berakhir


__ADS_3

Hari mulai gelap, memasuki malam hari. Annisa di dandani kembali bak dewi begitu pun Egi memakai setelan jas pengantin yang senada dengan gaun yang Annisa kenakan. Kedua nya kembali menyambut para tamu di aula yang berbeda dengan suasana pesta lebih tenang dan hanya alunan nada indah dari pertunjukkan para musikal, yang menemani mereka menikmati jamuan malam.


Sekitar pukul. 10 malam pesta resepsi pernikahan Annisa dan Egi selesai, para tamu undangan satu persatu mulai undur diri pergi meninggalkan pesta memasuki alat transportasi laut yaitu kapal pesiar yang muat ribuan orang. Kapal itu di sediakan dari keluarga putra untuk mengantarkan para tamu undangan dari pulau pribadi tempat resepsi ke pelabuhan kota besar. Karena untuk sampai ke pulau pribadi itu para tamu undangan harus melewati lautan yang luas.


Sementara untuk keluarga besar putra, sebagian memilih tinggal di gedung penginapan sebelah gedung resepsi, dan sebagian memilih pulang ke rumah karena aktivitas yang tidak bisa di tinggalkan esok hari.


Setelah mengantar kepergian para tamu, Egi dan Annisa yang masih menggunakan pakaian pesta. Keduanya tengah berjalan menuju ke gedung penginapan khusus pengantin dengan di giring para bodyguard dari belakang.


Dari ujung koridor tampak sepasang suami istri dengan seorang anak kecil dalam gendongan ibu nya, tengah berjalan berlawanan arah dari Egi dan Annisa.


"Ateu cantik, Ateu cantik," teriak Fatih melambaikan tangan ke arah Annisa.


Annisa tersenyum menyambut dengan lambaian tangan juga.


Fatih beralih menatap Romisa. "Mama cepat jalannya, Atih ingin peluk Ateu cantik," girang Fatih melingkarkan tangan ke leher Romisa.


"Hemm... mama kan udah cepat jalannya, sayang."


"Kau jangan menyusahkan mama mu, makhluk kecil!" Seru Arga sebal.


Fatih beralih melirik Arga. "Atih bicara sama mama, bukan sama papa, huh."


"Makhluk kecil!" Geram Arga.


Annisa dan Egi berhenti tepat di hadapan mereka bertiga.


"Mbak mau nginap di sini kan?" tanya Annisa yang sudah berdiri di hadapan mereka bertiga.


"Iya An, sudah malam. Nggak baik perjalanan nya untuk Fatih."


"Ateu cantik, Atih tidur sama Ateu cantik kan?" Ucap Fatih menatap ceria ke Annisa.


"Eh...," Annisa melirik Egi yang tengah menatap geram ke Fatih. Bagaimana ini?


"Fatih, malam ini kamu tidur sama mama. Jangan ganggu mereka," ucap Romisa setengah berbisik.


Arga yang merangkul pinggang Romisa, mendelik sebal. "Romisa, kenapa harus tidur dengan si makhluk kecil? Aku tidak mau!"


"Apalagi aku kak. Masa malam penantian ku akan di ganggu bocah kecil, serahkan saja pada pengasuhnya!" tegas Egi, menatap sebal ke Fatih yang tengah menatap nya juga.


"Atih nggak mau sama bibi asuh, nggak mau sama mama. Mau nya sama Ateu cantik, istri Atih!" Ujar Fatih, dan memberontak dari gendongan Romisa mengulurkan kedua tangan ke depan ingin berhambur memeluk Annisa.


"Iya, iya sama Ateu sini." Annisa hendak menerima uluran tangan Fatih.

__ADS_1


Namun dengan sigap Egi merangkul pinggang Annisa dan menjauhkannya. "Aku tidak mengizinkannya!" Tegas Egi membuat Annisa diam seketika.


Sudah tahu bakal seperti ini, jika si Egi bertemu dek Fatih.


Kemudian Egi menatap geram ke Fatih. "Dan kau bocah kecil, minta tidurkan diri mu pada bibi pengasuh. Karena Ateu cantik akan menidurkan Om Egi."


Bibir Fatih memberenggut, mata nya memerah dan akhirnya menangis. "Huwaa... mama, Om Egi merebut Ateu cantik dari Atih, kirim lagi Om Egi jauh jauh dari Ateu," Rengek Fatih di sela tangisannya.


Annisa menoleh ke Egi dan mengusap tangan Egi yang ada di pinggang nya. "Egi... biarkan aku meni...,"


"Tidak Annisa!" Sentak Egi cepat, kemudian melangkah membelok ke koridor lain untuk menuju lift. "Jauhkan bocah kecil itu dari Istri ku kak, untuk malam ini dan seterusnya," ucap Egi sambil lalu pada Arga.


Arga menghela napas pelan. "Kau dengar itu makhluk kecil, jadi sekarang kau tidur di temani bibi Asuh mu," tutur Arga mengusap puncuk rambut Fatih.


Fatih masih sesenggukkan menangis memeluk leher Romisa sambil melihat kepergian Egi dan Annisa. "Papa sama Om Egi sama saja, mau pisahin Atih sama Ateu cantik. Atih kan belum bilang cerai sama Ateu, kenapa Om Egi merebut Ateu dari Atih...huwaa," Oceh Fatih mengucek kedua mata nya.


Romisa tertawa pelan, menepuk pelan punggung Fatih. "Anak kecil, kenapa sudah tahu suami istri sampai kata cerai segala, tahu dari mana sayang?" tanya Romisa mulai melangkahkan kaki di koridor untuk menuju kamar.


Tangisan Fatih terhenti, melepaskan rangkulannya di leher Romisa dan menatap wajah Romisa. "Atih tahu cerai itu berpisah antara suami dan istri, Atih tahu dari tv, banyak suami berteriak 'cerai' gitu mama, terus akhirnya tidak bisa tidur bersama lagi," tutur Fatih polos.


Arga terkekeh, mengusak rambut Fatih gemas. "Anak kecil jangan nonton tv dengan siaran seperti itu, siapa yang memperbolehkan mu melihat siaran seperti itu?"


Fatih beralih menatap Arga dan memberenggut sebal. "Bibi Asuh suka nonton tv di kamar Atih. Dan kenapa Atih tidak boleh nonton? Atih kan jadi tahu kalau Atih dan Ateu cantik suami istri."


"Hanya berlutut seperti itu Atih bisa, Atih lihat suami istri itu yang tidur bersama, mama, jadi Atih tetap suami nya Ateu cantik. Mama jangan menjauhkan Atih dari Ateu!" Kekeh Fatih menatap geram ke Romisa.


Arga menggelengkan kepala beberapa kali. "Makhluk kecil, tumbuh besar dulu baru kau akan mengerti suami istri itu seperti apa. Badan kecil begini bagaimana bisa kau mempunyai istri," Ejek Arga.


"Atih udah ngerti, dan Atih sudah besar!" Teriak Fatih dengan suara sedikit meninggi.


Seketika langkah kaki Arga melambat, tatapannya menatap tajam ke Fatih, namun tidak membuat takut bagi Fatih yang membalas dengan tatapan sengit.


Romisa mengusap pipi Fatih. "Sayang jangan meninggikan suara mu di depan papa mu, Fatih kan tahu sendiri papa akan menghukum mu jika bersuara keras di depannya." Bisik Romisa di telinga Fatih.


Fatih melingkarkan lengannya di leher Romisa namun tatapan masih menatap Arga yang masih memberikannya tatapan tajam. "Mama kenapa mama mau nikah sama papa seperti singa?" Celetuk Fatih pelan di telinga Romisa namun tertangkap jelas oleh Arga.


Arga masih membiarkan ucapan kedua nya, untuk di dengar.


"Memang papa mu seperti singa jantan tapi sangat imut kan?" Jawab Romisa.


"Imut apa nya, papa galak kayak singa yang kelaparan mama," sangkal Fatih.


Seketika langkah kaki Arga terhenti di ikuti kedua nya. "Kau bilang apa tadi? Senang sekali kau panggil papa mu singa, hah?" Geram Arga.

__ADS_1


Fatih semakin memeluk erat leher Romisa dan menyembunyikan wajahnya. "Memang papa seperti singa. Mata nya galak!"


"Kau makhluk kecil," kesal Arga. Kemudian dengan cepat, merangkul pinggang Romisa dan menggendong ala bridal style.


"Suamiku!" Pekik Romisa kaget mempererat pelukannya di tubuh Fatih.


"Papa pantas di panggil singa, papa hebat, mengangkat kita," ujar Fatih girang dalam gendongan Arga dan pelukan Romisa.


"Diam kau makhluk kecil! Papa akan hukum kalian berdua karena berani mengatai papa singa!" Sentak Arga memasang wajah geram dan melangkah kan kaki sambil menggendong mereka berdua.


"Mama, jangan takut biar Atih lawan papa jika sampai papa lukai mama," Bisik Fatih ke telinga Romisa.


Romisa tersenyum dan mengangguk, mengusap sayang rambut Fatih. "Mama percaya sama Fatih," ucap nya.


Arga menunduk melihat kedua nya dengan Alis terangkat sebelah. "Apa yang kalian bisikkan!"


Seketika kedua nya terkikik saling peluk. "Kami bilang papa sangat mirip singa," bohong Fatih.


"Makhluk kecil!"


"Iya papa, Atih hadir!"


"Kalian benar benar," gumam Arga tersenyum kecil, dan fokus ke jalanan membawa mereka berdua.


"Suamiku, tidak berat mengangkat kami berdua?" tanya Romisa mendongak menatap Arga.


Arga menunduk mengecup pelipis Romisa. "Tidak Romisa, kalian sangat ringan."


"Papa Atih mau di sayang seperti mama tadi," pinta Fatih menunjuk pipi nya minta di cium.


Arga mendengus memalingkan mengangkat wajah nya melihat lurus ke depan. "Tidak mau."


"Ya sudah Atih juga nggak mau, biar Atih sayang mama aja," ucap Fatih lalu menghujani wajah Romisa dengan ciuman.


Romisa tertawa geli saat di hujani ciuman oleh Fatih.


"Makhluk kecil kau mengambil kesempatan ternyata."


BERSAMBUNG...


Sempatkan klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...


Eps. menuju Akhir.

__ADS_1


__ADS_2